Indonesia, Aku harus Bagaimana? Hidup Jadi WNI kok Beratnya Setengah Mati
Betapa berat hidup di zaman sekarang. Kesusahan bersumber dari mana-mana. Tidak ada yang menolong bahkan saat sekarat sekalipun. Semuanya…
Indonesia, Aku harus Bagaimana? Hidup Jadi WNI kok Beratnya Setengah Mati
Betapa berat hidup di zaman sekarang. Kesusahan bersumber dari mana-mana. Tidak ada yang menolong bahkan saat sekarat sekalipun. Semuanya hanya mengandalkan daya tubuh untuk terus menyambung hidup. Sungguh berat. Benar-benar berat beban yang harus ditanggung. Hak sebagai seorang manusia juga ikut tercabut rasanya. Berusaha berpikiran positif tapi seiring berjalannya waktu hanya ada ketidakpastian yang mematikan. Banyak hal tidak terkendali yang perlahan-lahan membunuh ‘kehidupan’ dari seorang manusia.
Kenapa sangat berat hidup disini?
Apa alasannya?
Apa yang harus dilakukan?
Harus minta bantuan kemana?
Siapa yang bisa menolong?
Kenapa semua jadi begini?
Dan…
Kenapa mereka sangat tidak tahu malu?
Masih banyak pertanyaan lain yang berputar dikepala. Pertanyaan yang didasarkan atas rasa ketidakpastian dan ketidakpuasan terhadap ruang hidup yang dihuni. Contohnya saja ketidakpastian mengenai lowongan pekerjaan. Sangat sulit bagi orang-orang yang tidak memiliki ‘akses’ untuk mendapatkan pekerjaan impian. Apresiasi tetap diberikan kepada orang yang berusaha mati-matian mewujudkan impiannya. Tapi, bukankah negara berkewajiban memenuhi hak warga negaranya salah satunya dalam hal menyediakan lapangan pekerjaan. Sekalipun lowongan kerja itu ada, banyak hal lain yang menghambat seperti terlalu banyak peraturan, syarat-syarat tidak masuk akal, biaya pengurusan berkas-berkas yang lumayan mahal, menguasai empat elemen, bisa terbang, dan umur maksimal 25 tahun misalnya. Dikiranya umur 25 keatas tidak butuh uang dan makan. Ataukah orang-orang umur seperempat abad lebih sedikit ini dianggap sudah tidak layak kerja lagi?
Seringnya jargon “hidup yang tidak perjuangkan tidak akan pernah dimenangkan” terdengar seolah-olah kita harus mengorbankan segalanya dalam hidup untuk mencapai tujuan. Tapi, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada orang yang memiliki kesempatan mencoba tanpa takut gagal sebab kalaupun jatuh, dia akan jatuh di ’kasur yang empuk’. Berbeda dengan orang yang harus mempertaruhkan semua yang dimilikinya dalam hidup pada percobaan pertamanya. Tapi apakah pengorbanan itu pasti akan berhasil? Mungkin balasan yang tepat dari jargon tersebut adalah “semua ingin memenangkan hidup tapi hanya penguasa yang hidup bahagia”.
Selain susahnya mendapat pekerjaan, harga berbagi macam kebutuhan juga semakin tidak terkontrol dan langka. Sekarang untuk mendapatkan minyak goreng saja harus berkeliling mencari dari toko ke toko. Harga yang hampir menembus Rp50.000 untuk dua liter dan stoknya pun jarang ada. Lucu ya, sekarang uang kertas biru itu seperti tidak terlalu bernilai lagi untuk belanja. Pajak kendaraan yang setiap tahun selalu naik, bahkan ketika dipikir kendaraan itu dibeli dengan uang kita sendiri, kalau ada yang rusak pun diperbaiki pakai dana pribadi tapi bayar pajaknya ke pemerintah. Pernah juga beberapa waktu lalu muncul berita ‘untuk menyelamatkan Indonesia maka pajak dari masyarakat harus digenjot naik’. Padahal negara tidak pernah benar-benar hadir memenuhi kebutuhan masyarakat. Giliran masalah pajak saja paling semangat bahasnya. Ada-ada saja idenya untuk membunuh rakyat. Kenapa bukan tunjanganmu aja yang dipotong?”
Sebenarnya WNI sepertiku harus bagaimana?
Ditengah susahnya mendapat pekerjaan, nilai rupiah yang makin anjlok, harga bahan pokok mahal dan langka, membuat angka kriminalitas juga meningkat. Seseorang pernah berkata “masyarakat desa tidak pakai dolar”. Entah atas dasar apa sehingga kata-kata itu keluar dari mulutnya. Agak konyol tapi mampu membuat kegaduhan yang luar biasa. Rasa bingung dan heran jadi satu. Sebenarnya saat dia berpidato apakah ada yang bertanggung jawab menyiapkan teks pidatonya atau hanya bicara semau-maunya tanpa memikirkan dampak yang akan ditimbulkan. Okelah, kita anggap rakyat desa tidak pakai dolar tapi dampak dari anjloknya nilai rupiah untuk satu dollar sangat memengaruhi kehidupan rakyat desa. Harga minyak naik, gula menjadi langka, kebutuhan dapur seperti lombok, bawang, dan lainnya juga naik drastis. Hal ini membuat penurunan daya beli masyarakat serta kerugian bagi pedagang karena banyak jualannya yang busuk karena tidak laku.
Jangankan dollar, rupiah saja kadang tak punya.
Sungguh berat tinggal di Indonesia. Sungguh berat menjadi WNI. Sungguh berat menjadi bagian dari masyarakat yang harus berjuang mati-matian untuk haknya. Katanya sudah merdeka tapi akses ke bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan masih susah. Katanya negara demokratis tapi giliran masyarakat memberikan aspirasi malah dicap ditunggangi ‘antek-antek asing’. Jujur, sebagai WNI banyak rasa ketidakpuasan yang dirasakan sampai sekarang. Mungkin ini juga dirasakan oleh masyarakat saat pemerintah selalu menutup telinga saat kita menyampaikan aspirasi. Padahal jika pemerintah itu bijak, suara-suara rakyat adalah bentuk evaluasi paling nyata untuk memperbaiki sistem pemerintahan. Sayangnya, pemerintah lebih suka angkat tangan pada apa yang merupakan tanggung jawabnya. Lebih memilih pura-pura tidak melihat padahal kerusakan negara sudah bagaikan gajah dipelupuk matanya. Semut disebrang pulau terlihat tapi gajah dipelupuk mata tidak terlihat.
Keikutsertaan Indonesia dalam menangani isu-isu internasional memang bagus tapi alangkah baiknya pemerintah juga fokus pada isu-isu yang terjadi di negeri sendiri. Fokus memberi solusi nyata atas apa yang terjadi hari ini dan kemarin-kemarin. Sudah terlalu banyak yang harus diperbaiki di Indonesia. Seharusnya pemerintah memiliki empati atas semua penderitaan yang rakyat rasakan. Bukankah sangat memalukan ketika sibuk mengurusi ‘dapur’ orang lain tapi ‘dapur’ sendiri belum selesai diberesi. Aku pernah melihat sebuah cuplikan video yang isinya kurang lebih seseorang berkata yang intinya tidak ada tempat berharap kecuali Allah. Seandainya pemerintah mampu berpikir, bukankah ini merupakan pukulan telak bagi pemerintah karena rakyat menganggap bahwa mereka tidak bisa diharapkan bahkan dikondisi kritis sekalipun. Rakyat langsung ke Sang Pencipta karena kalau ke pemerintah mana mungkin didengar sekalipun sudah teriak sampai kehilangan suara. Miris sekali jadi WNI. Sudah mati-matian untuk hidup eh ‘mereka’ malah mat-matian matiin kita.
Kalau kamu gimana perasaanmu jadi WNI?
메타데이터
- post_id
- 3d3b87730e91
- slug
- indonesia-aku-harus-bagaimana-hidup-jadi-wni-kok-beratnya-setengah-mati-3d3b87730e91
- url
- https://medium.com/@diah.ak/indonesia-aku-harus-bagaimana-hidup-jadi-wni-kok-beratnya-setengah-mati-3d3b87730e91
- canonical_url
- https://medium.com/@diah.ak/indonesia-aku-harus-bagaimana-hidup-jadi-wni-kok-beratnya-setengah-mati-3d3b87730e91
- author_url
- https://medium.com/@diah.ak
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 10:10:35