Jawaban Buruh Ketika Ditanya Prabowo, MBG Bermanfaat atau Tidak
Viral di media sosial, pada peringatan Hari Buruh Sedunia di lapangan Monumen Nasional, Presiden Prabowo menanyakan kepada lautan massa…
Jawaban Buruh Ketika Ditanya Prabowo, MBG Bermanfaat atau Tidak

Viral di media sosial, pada peringatan Hari Buruh Sedunia di lapangan Monumen Nasional, Presiden Prabowo menanyakan kepada lautan massa buruh: “Saya tanya ke saudara-saudara, MBG bermanfaat atau tidak?” Dinarasikan bahwa para buruh itu kompak menjawab, “Tidaaak!!!” Dilanjut dengan sorotan pada sosok pemimpin konfederasi buruh yang berdiri di belakang Prabowo. Mukanya tampak pucat, dan gerak bibirnya seperti mengucap, “Waduhhh…”
https://www.instagram.com/reels/DXyw4oLp0p2/
Semula saya mengabaikan postingan-postingan semacam itu yang seliweran, sampai ada teman baik saya yang membagikan lewat japri. Saya lalu penasaran membuka tautannya yang berupa video, dan mencoba mendengar bagaimana jawaban buruh ketika ditanya Prabowo itu. Yang saya dengar, suara jawaban itu bernada panjang, terlalu singkat untuk jawaban “Tidaaak”. Saya coba dengarkan berulang-ulang, apakah saya salah mendengar. Hasilnya sama.
Saya lalu googling berita-berita di media resmi. *Tempo *misalnya, memberitakan jawaban buruh justru tidak kompak, atau terpecah antara yang menjawab tidak setuju dan yang menyatakan setuju. Jelas tidak seperti narasi yang beredar luas tersebut.

*IDN Times* juga memberitakan dengan nada yang sama, buruh-buruh yang berada di dekat panggung menjawab “bermanfaat”, sedangkan yang berdiri di barisan belakang menjawab “tidak”. Prabowo disebut sempat terdiam mendengar jawaban para buruh yang tidak kompak, tetapi kemudian memutuskan melanjutkan pidatonya.

Sebaliknya, *Okezone *hanya mengutip jawaban buruh adalah “bermanfaat” dan dilakukan dengan nada kompak. Tidak diberitakan adanya massa buruh yang menjawab tidak setuju, atau sama sekali bertentangan dengan narasi yang viral.

Sementara Detikcom memberitakan pertanyaan Prabowo soal MBG itu disambut dengan sahutan oleh massa buruh. Tidak dituliskan apakah jawabannya “tidak” seperti narasi viral itu.

Saya coba periksa lagi, kebanyakan media-media non-mainstream yang memberitakan buruh serempak menjawab “tidak”, persis seperti yang viral di media sosial. Misalnya, *Herald yang membuat judul beritanya: “Momen Prabowo Bertanya MBG Bermanfaat atau Tidak? Buruh Kompak Jawab ‘Tidaaakkkk!’ ”. Lalu ada [SumbarKita](https://sumbarkita.id/prabowo-tanya-mbg-bermanfaat-atau-tidak-buruh-serentak-jawab-tidak/) juga judulnya serupa: “Prabowo Tanya ‘MBG Bermanfaat atau Tidak?’, Buruh Serentak Jawab: Tidak”. Sedangkan judul berita [GenPi](https://www.genpi.co/polhukam/279690/jawaban-buruh-ditanya-prabowo-subianto-soal-mbg-disebut-tamparan-paling-jujur) *mengutip komentar politisi PDIP Guntur Romli: “Jawaban Buruh Ditanya Prabowo Subianto Soal MBG, Disebut Tamparan Paling Jujur”.
Kembali saya memutar videonya, nada panjang dari para buruh memang terdengar seperti jawaban “bermanfaaaat”. Dilanjut sesaat dengan terjadinya keriuhan, mungkin karena ada yang menjawab “tidak”, walaupun tidak terdengar suaranya. Saya coba keraskan volumenya sampai maksimal, tetap tidak kedengaran. Mungkin hanya terdengar bagi yang berada di dekat massa buruh itu saja.
Saya pikir, pertanyaan Prabowo sendiri kurang tepat. Menggunakan diksi yang panjang secara ejaan (“bermanfaat”), massa buruh jadi terlihat sulit untuk kompak menjawab. Berbeda jika pertanyaannya “setuju atau tidak”, orang lebih mudah mengulangi karena pendek dan sudah sangat terbiasa ditanya seperti itu. Lalu, apakah benar jawaban “kompak” yang diucapkan itu adalah “Tidaaak!!”, atau justru “Bermanfaaaat!!”? Seperti saya tulis sebelumnya, jawaban buruh terdengar nadanya panjang, kurang tepat jika terdengar sebagai “tidak”. Secara bunyi, akhiran /at/ pada kata “bermanfaat” memang bisa terdengar seperti /ak/ pada kata “tidaaaak”.
Lalu bagaimana narasi viral itu diproduksi? Saya teringat konten-konten Tiktok yang memplesetkan lagu-lagu Barat, ditulis ulang liriknya dengan kata-kata dalam bahasa Indonesia yang menyerupai bunyi aslinya dalam bahasa Inggris. Saking mirip bunyinya, pendengar jadi kesulitan mengingat lirik asli lagu Barat itu seperti apa.
https://www.tiktok.com/@achmadrifai_vay/video/7294103144177421574
Pada versi yang lain, satu bunyi yang sama bisa terdengar menjadi banyak kata yang terdengar sangat berbeda satu sama lain. Bunyinya seperti berubah setiap kali membaca kata-kata yang tertulis. Kita ubah urutan atau membaca secara acak tulisannya, bunyi yang terdengar akan tetap mengikuti. Artinya, bunyi itu betul-betul sama, dan kita tidak tahu persis bunyi itu sebetulnya mengucapkan kata yang mana.
https://www.tiktok.com/@azmirpalu/video/7585428218795052296
Dalam psikologi kognitif, terdapat fenomena yang disebut sebagai efek McGurk, yaitu ketidaksesuaian persepsi antara pendengaran dan penglihatan dalam memroses bunyi yang sama. Penyebabnya bisa karena salah membaca gerak bibir ketika orang mengatakan /ga/, padahal yang dimaksud adalah /ba/. Ada pula fenomena pareidolia auditori, terjadi ketika orang mendengar bunyi-bunyi yang acak dan tidak bermakna, misalnya deru mesin, angin, atau kombinasi berbagai bunyi, menjadi kata-kata atau suara manusia. Waktu kecil, ketika sedang sendirian di teras rumah, saya mendengar suara kakak saya memanggil dari dalam kamar. Suara itu seperti terdengar jelas sekali di telinga. Kaget karena “ternyata” ada orang di rumah, saya segera masuk tapi tidak menemukan siapa-siapa. Tidak ada kakak saya di dalam. Saya sempat memeriksa ke sekeliling rumah juga tidak ada orang. Saat itu saya merasa seperti ada kehadiran “hantu” kakak saya yang sebetulnya sedang berada di tempat lain.
Pada 1921 psikoanalis Hermann Rorschach mengembangkan uji psikologis dengan menampilkan sejumlah gambar berupa bercak tinta. Subjek kemudian diminta menyebutkan gambar-gambar itu berbentuk seperti apa. Jawaban yang diberikan tidak ada yang bernilai benar atau salah, karena psikolog lebih tertarik pada bagaimana seseorang melihat gambar tersebut, bukan sekadar apa yang mereka lihat. Ketika diperlihatkan gambar bercak tinta yang tidak jelas, orang cenderung memproyeksikan kebutuhan, emosi, konflik bawah sadar, dan kepribadian mereka ke dalam gambar tersebut. Tes Rorschach ini kerap digunakan untuk memahami karakter dan emosional seseorang, dan masalah psikologis yang dihadapi ketika orang sulit untuk mengungkapkan secara terbuka.
Fenomena yang paling sederhana adalah mondegreen, yaitu salah mendengar atau menafsirkan kata-kata atau kalimat karena kemiripan bunyi, lalu diisi dengan arti baru yang sama sekali berbeda. Ini sering terjadi ketika orang mendengar puisi atau lirik lagu, atau memang sengaja untuk bahan plesetan.
Contoh konten-konten Tiktok tadi, dan jawaban buruh ketika ditanya Prabowo soal MBG (yang benar “bermanfaat” atau “tidak”) mencerminkan pola yang sama. Dalam suasana post-truth di era media sosial sekarang ini, orang cenderung mengalami bias kognitif: cenderung ingin melihat atau mendengar sesuai dengan keyakinan, bukan fakta yang objektif. Bagi penentang berbagai kebijakan pemerintah dan anti-Prabowo, hanya jawaban “tidak” yang terdengar dan selaras dengan narasi yang dituliskan. Tidak ada sama sekali bunyi “bermanfaat” yang terdengar.
Sebagai pendukung kritis Prabowo, tentu banyak masalah terkait program makan bergizi (MBG) yang harus dibenahi. Ketidaksetujuan sebagian massa buruh dalam acara yang dihelat di Monas dengan kehadiran Prabowo juga sangat wajar. Survei Poltracking pada awal Maret 2026 menunjukkan ada 35,8% responden yang merasa tidak puas dengan program MBG. Angkanya sedikit menurun pada awal April 2026, tecermin dari survei Cyrus Network di mana sebanyak 32,7% responden menyatakan tidak mendukung program MBG. Berbagai alasan penolakan terungkap, seperti pelaksanaannya dianggap kurang baik (30,1%), kualitas makanan diragukan (22,3%), anggarannya terlalu besar (16,7%), tidak tepat sasaran (11,7%), dan dinilai kurang prioritas dibanding program yang lain (9,2%). Tetapi di antara program-program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran, MBG masih dianggap yang paling bermanfaat (36,5%) dan tepat sasaran (32,1%). Angkanya jauh di atas program-program lain seperti bantuan subsidi upah (BSU) yang berkisar 9,1–11,0%, kartu Indonesia pintar (KIP) dan sehat (KIS) (7,2–10,4%), maupun layanan kesehatan gratis pada umumnya (8,5–9,6%).
Kaum buruh juga lebih fokus pada isu-isu klasik yang dihadapi seperti soal upah minimum, outsourcing, dan PHK. Prabowo sendiri menjanjikan untuk menyediakan rumah yang layak bagi buruh hingga daycare di kawasan industri dan permukiman buruh. Prabowo juga mengeluarkan Perpres No 27/2026 yang memangkas potongan aplikator dari 20% menjadi 8%, sehingga pendapatan pengemudi transportasi online bisa mencapai 92% dari tarif. Selain itu dibentuk satuan tugas (Satgas) untuk mitigasi PHK sebagai bentuk perlindungan negara terhadap buruh.
메타데이터
- post_id
- 3d41ea0f8da7
- slug
- jawaban-buruh-ketika-ditanya-prabowo-mbg-bermanfaat-atau-tidak-3d41ea0f8da7
- url
- https://medium.com/@cenayar/jawaban-buruh-ketika-ditanya-prabowo-mbg-bermanfaat-atau-tidak-3d41ea0f8da7
- canonical_url
- https://medium.com/@cenayar/jawaban-buruh-ketika-ditanya-prabowo-mbg-bermanfaat-atau-tidak-3d41ea0f8da7
- author_url
- https://medium.com/@cenayar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-23 03:48:11