Sebuah Pembacaan Singkat atas Buku “#Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia baru”
Mencari Ukuran Kemajuan: Ekspedisi Sungai Nusantara
Sebuah Pembacaan Singkat atas Buku “#Reset Indonesia: Gagasan tentang Indonesia baru”

Sumber Gambar:https://indonesiatera.com/product/resetindonesia/
Mencari Ukuran Kemajuan: Ekspedisi Sungai Nusantara
Saat membaca dua tulisan pertama oleh Dandhy dan Farid, saya seperti menemukan dua orang dengan latar profesi yang berbeda. Dandhy, misalnya, tampak seperti seorang akademisi. Ketat dengan data dan angka. Sedang Farid laiknya sang etnografer yang berupaya menangkap setiap denyut kehidupan orang-orang di pedalaman Indonesia lain yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
Mari kita lihat tulisan Dandhy. Pertama, ia memulainya dengan tiga paragraf pendek. Isinya cerita kecil, namun sering luput dari pengamatan orang Indonesia kebanyakan. Ia berangkat dari contoh kecil seperti stiker-stiker mubazir yang acap kali ditempel pada kamar mandi hotel-hotel di Indonesia: “Not Drinking Water!”. Saya pun tergelitik. Sebab, pesan stiker itu bak upaya seorang pemuda Madiun membuat tutorial cara memasak papeda yang benar untuk ditonton orang Papua. Sama-sama mubazir.
Sisanya adalah tinjauan berbagai riset penting yang menunjukkan bagaimana kebijakan tata kelola air bersih layak minum di berbagai negara. Kemampuan tulisan Dandhy ada pada data. Ia seolah ingin mengundang pembaca untuk langsung melihat kontras dari sistem tata kelola air bersih layak minum di negara ini. Negara yang luas perairannya nyaris mencapai 6 juta km².
Menariknya, ini sesuatu yang jamak kita jumpai pada hotel-hotel mewah di negara ini tanpa kita sendiri sadari atau minimal mau bertanya: untuk apa dan kepada siapa peringatan semacam itu di alamatkan? Padahal, justru dari pengamatan ini kita barangkali bisa menemukan semacam ‘kekacauan yang paling jujur’ dari negara ini dalam mengatur kebutuhan dasar warganya.
Tentu ini tidak akan mengejutkan bagi orang Indonesia. Namun, itu bisa bermasalah bagi warga negara asing jika tidak dipajang oleh pihak hotel. Bayangkan, tiba-tiba, dunia dihebohkan dengan berbagai headline surat kabar tentang sepuluh orang WNA nyaris meregang nyawa setelah mengonsumsi langsung air keran di Royal Ambarrukmo, Yogyakarta. Setidaknya, itulah yang saya bayangkan saat membaca ilustrasi singkat Dandhy dalam membuka cerita buku Reset Indonesia ini.
Dandhy seolah ingin membiarkan pembaca berpikir, membandingkan, dan menangkap ironi di balik setiap kebijakan politik negara ini—barangkali sambil diam-diam menyesal menjadi orang Indonesia. Singkatnya, jika membaca tulisan Dandhy, mungkin Anda akan melihat Indonesia dengan sangat skeptis. Seolah-olah Indonesia ini sudah tak bisa diselamatkan lagi perkara urusan air bersih. Bahkan, katanya, untuk urusan vital seperti air saja Indonesia masih jauh lebih buruk dari negara bekas jajahannya sendiri: Timor-Leste (p.4).
Lantas, apa sebetulnya penyebab Indonesia menjadi negara yang paling buruk soal urusan air bersih? Atau apa yang salah dengan negara yang konon katanya gemah ripah loh jinawi ini? Paling tidak, dalam buku ini saya menemukan dua kunci jawabannya. Pertama, kebiasaan yang kemudian menjadi budaya. Kedua adalah soal struktur kebijakan politik negara ini yang tidak pro-lingkungan.
Misalnya, soal kebiasaan mengelola sampah. Banyak orang Indonesia masih menjadikan sungai sebagai tempat berakhirnya sampah rumah tangga. Sialnya, sungai tersebut justru menjadi sumber penopang kebutuhan mereka sendiri akan air bersih. Kedua, disebabkan — dan yang paling utama — oleh limbah industri. Baik industri manufaktur, makanan, hingga logam. Ini terutama bisa kita jumpai pada beberapa kawasan padat industri seperti di Jawa ataupun Jakarta.
Tentu bukan berarti kondisi ini tak mungkin terjadi di tempat lain, Bung! Wilayah seperti Papua, NTT, NTB, Maluku, dan Kalimantan pun sudah dan sedang menuju arah sana. Salah satu contoh terang yang tak bisa dielak adalah pengalaman Dandhy dan Ucok saat mengunjungi Merauke, Papua. Mereka berdua cukup kaget saat melihat ada orang Papua yang rela menyeberangi Sungai Bian yang dalam demi bisa membeli air kemasan bermerek (p.9).
Namun bagi saya, ini fenomena yang sudah ‘umum’ terjadi di sana. Jangankan air kemasan, mereka juga kini tergantung pada beras, gula-kopi, supermi, dan sarden di saat pangan lokal masih berlimpah ruah.
Persoalan lain yang menyebabkan kebutuhan akan air bersih di negara ini menjadi makin sulit adalah privatisasi negara atas sumber mata air. Dengan kata lain, masalah selalu datang setelah negara memprivatisasi ruang hidup warganya. Dan bagi saya, ini fenomena yang umum terjadi di banyak negara. Bahkan rezim komunis seperti Tiongkok pun pernah melakukan swastanisasi sumber air baku di beberapa wilayahnya sejak 1990-an. Namun, keterlibatan swasta dengan pendekatan joint venture, misalnya, tetap ditopang oleh regulasi yang tepat sehingga akses terhadap air bersih bisa dimanfaatkan dengan baik untuk banyak orang.
Tentu ini perbandingan yang mungkin terlalu naif. Sebab perkara air bersih di Indonesia tak bisa diselesaikan dengan satu mekanisme ekonomi yang kapitalistik semacam itu. Ini persoalan paradigma yang membudaya di masyarakat kita. Karena itu, perlu dilatih sejak dini. Misalnya, melalui peran sekolah. Saya sepakat dengan apa yang disebut Dandhy, bahwa jika sistem pendidikan kita hanya masih hafalan dan doktrin, tanpa melatih metode membuka wawasan sejak usia dini, yang akan jadi korbannya adalah air dan ekosistemnya (p.10).
Persoalannya di Indonesia, air yang semula bisa diakses gratis secara kolektif dengan mudah, kini sekadar jadi urusan segelintir orang. Mulai dari Tirto Utomo (Aqua), Jogi Hendra Atmadja (Le Minerale), Anthoni Salim (Club) dan kawan-kawannya. Mereka inilah yang seolah menentukan mana air bersih dan layak Anda konsumsi. Padahal, konsumsi air kemasan bermerek tidak selalu linier dengan kesehatan sebagaimana dikampanyekan perusahaan-perusahaan air minum tersebut. Alih-alih ingin air bersih dan sehat, banyak orang Indonesia justru terpapar mikroplastik (p.8).
Sebuah ironi. Iya, inilah paradoks kita: air melimpah, tapi air bersih diserahkan kepada pasar. Dan rakyat menanggung risikonya.
Meraba Indonesia: Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa
Dalam cerita Farid, kita belajar bahwa laut tidak seseram yang dikisahkan orang atau sebagaimana laut selatan yang dimistifikasi oleh orang Yogya, misalnya.
Tulisan Farid ini mengingatkan saya pada perjalanan menuju Wamena di tahun 2020 silam. Takjub adalah perasaan pertama saya yang muncul saat tiba di tempat ini. Tapi bagaimana mungkin ada seorang anak Papua justru takjub dengan tempatnya sendiri? Persis, Anda bisa membayangkan perasaan saya saat menginjakan kaki untuk pertama kali di Lembah Baliem itu. Saya pun juga heran: mengapa tempat sebagus ini baru bisa saya kunjungi sekarang?
Saya sendiri lahir, tumbuh dan besar di wilayah Mappi. Kemudian Merauke dan kini menetap di Boven Digoel. Merauke, misalnya, secara geografis berbeda dengan Wamena. Begitu pula iklimnya. Lanskap Merauke cenderung datar. Suhu pun tak menentu. Terkadang bisa menjadi sangat dingin pada malam hari bila angin monsun Australia bertiup ke utara membawa udara kering dan lebih sejuk, terutama selama musim kemarau. Setelahnya, bisa berubah menjadi sangat panas. Sementara suhu di Wamena nyaris dingin secara konsisten. Kondisi ini kemudian memaksa saya untuk bisa beradaptasi selama di sana.
Mama Papua Pergi ke Pasar Sinakma
Pengalaman ruang Farid membuat saya teringat pada satu pagi di Sinakma. Hari masih terlalu pagi. Tampak mama-mama Papua berbondong-bondong menuju Pasar Sinakma yang letaknya tak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Mereka memikul noken besar di kepala berisi sayur hipere, pakis, kangkung, daging babi, serta umbi-umbian. Nyaris mencapai bahu. Saya menyadari kalau mereka sedang memikul harapan. Harapan supaya anak yang ditinggali pergi saat subuh bisa makan, bisa sekolah, dan asap dapur bisa terus mengepul besok hari. Kopi di tangan kanan saya sudah terlanjur dingin, sedang langkah kaki mama-mama Papua itu terus menjauh.
Menyublim ke Pengalaman Farid.
Dengan cara serupa, saya membaca tulisan Farid. Bagi saya, imajinasi Farid ini unik dan menarik. Ia berupaya mengikat pengalaman ruang di pegunungan Wonosobo dengan kehidupan masyarakat pesisir menjadi jembatan empati yang penting. Artinya, Anda tidak perlu menunggu jadi orang gunung dulu baru ngerti soal orang pantai yang hidupnya dari laut. Cukup dengan melahap tulisan Farid dengan sekali duduk.
Kejujuran Farid atas ketidaktahuannya tentang Zamrud Khatulistiwa itu kelihatan dari caranya membahasakan cara hidup orang pesisir. Mulai dari cerita tentang tari-tarian tradisional, arsitektur bangunan dan seterusnya. Misalnya Omo Hada, rumah adat orang Nias, yang seluruhnya terbuat dari kayu namun ampuh berdiri tegak sejak dihantam gempa 7,9 skala Richter pada 2005 silam. Atau bagaimana kita belajar konteks geografis dari dua wilayah pascakolonial di Indonesia: Banda Neira dan Boven Digoel? Bagi saya, ekspedisi Zamrud Khatulistiwa bukan perjalanan biasa. Tapi pengetahuan lain yang hampir jarang dibicarakan dengan perspektif baru hari-hari ini.
Salah satu poin penting dari catatan Farid adalah kita belajar untuk bisa meragukan logika kecepatan pasar yang selalu mereduksi kehidupan kampung. Seolah semuanya bisa dijelaskan dalam kacamata pasar yang progresif. Semuanya harus dikonversi menjadi uang dahulu. Di titik inilah gagasan Farid kemudian bertemu dengan catatan Dandhy soal “Berburu Modal Ekonomi Tanding”. Dandhy menulis:
Logika yang umum kita gunakan setiap kali punya kebutuhan adalah bagaimana memenuhinya. Lalu manusia berlomba-lomba melakukan inovasi untuk memenuhi kebutuhan itu. Padahal inovasi juga bisa dilakukan untuk menekan kebutuhannya, bukan semata pemenuhannya (p.37).
Dengan cara itu, Farid dan Dandhy tidak hanya menggambarkan Zamrud Khatulistiwa, tetapi juga mengingatkan kita bahwa Indonesia yang kita kenal hari ini tidak tunggal. Ia retak, ia majemuk, dan ia selalu lebih besar daripada cerita-cerita yang kita dengar dari pusat. Itu!
*Esai ini bagian dari rangkuman Klub Baca Radio Buku dan pernah digunakan sebagai bahan diskusi pada acara “Pesta Buku Jogja 2025" di GIK UGM.
메타데이터
- post_id
- 3d6fe1c5fc24
- slug
- sebuah-pembacaan-atas-buku-reset-indonesia-gagasan-untuk-indonesia-baru-3d6fe1c5fc24
- url
- https://medium.com/@fsyokit/sebuah-pembacaan-atas-buku-reset-indonesia-gagasan-untuk-indonesia-baru-3d6fe1c5fc24
- canonical_url
- https://medium.com/@fsyokit/sebuah-pembacaan-atas-buku-reset-indonesia-gagasan-untuk-indonesia-baru-3d6fe1c5fc24
- author_url
- https://medium.com/@fsyokit
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-13 16:00:06