Penderitaan dan Wabah Covid-19
Ditulis waktu masih kuliah, April 2020.
Penderitaan dan Wabah Covid-19
Ditulis waktu masih kuliah, April 2020.
Pretty sure covid makes us believe that pain could bring pleasure to some people.

Hold on, we still stare the same sky
Hidup tidaklah lepas dari penderitaan, Jika penderitaan bukanlah tujuan utama dari kehidupan, eksistensi kita pastilah telah sepenuhnya gagal dalam mencapai tujuan hidup yang sesungguhnya (Schopenhauer, 2019). Boleh dikatakan bawasannya penderitaan adalah bagian dari kehidupan, sebagaimana sabda Schopenhauer tersebut, adapun penderitaan dan sesuatu yang bersifat negatif tidak lah selamanya bersifat negatif, terbentang sisi positif seperti dokter yang memberi obat yang pahit pada pasiennya.
Pemikiran yang mendasarkan hakikat kejahatan yang bersifat negatif merupakan pemikiran yang terbilang absurd, sebaliknya kejahatan itu sendiri bersifat negatif (Schopenhauer, 2019). Dalam pandngan bagaimana Arthur Schopenhauer memandang penderitaan sebagai hal positif ini selaras dan mempengaruhi pemikiran filusuf modern Nietzsche. Jika kita lihat kembali wabah covid-19 ini adalah sebuah kejahatan yang berujung pada penderitaan, bukan hanya “kejahatan” virus covid-19 ini yang merusak tubuh manusia namun kejahatan manusia sendiri yang memperlihatkan sifat asli manusia yang serakah, egois dan bodoh.
Pederitaan manusia dalam wabah ini nampaknya tidak hanya muncul karena virus, namun ke egoisan dan keserakahan yang diikuti dengan kebodohan membawa manusia pada perilaku yang menjijikan seperti penimbunan masker dan bahkan menaikan harga barang pada sektor yang sangat dibutuhkan berkali-kali lipat.
Bagaimanapun manusia mahluk yang tidak lebih daripada binatang selain dikutuk untuk bebas. Adalah sebuah penderitaan untuk menjadi bebas, kita dibuat bertanggung jawab pada eksistensi kita sendiri. Manusia hanyalah manifestasi dari kehendak yang ada, maka setelah kehendak itu tercapai manusia akan merasa jenuh dan mencari kehendak yang lain untuk mengisi kehidupannya.
Adapun dibalik penderitaan ini terdapat sisi positif, seperti hakikat kejahatan yang adalah positif. Meletusnya gunung berapi bukan hanya menghancurkan pemukiman dan terhambatnya ekonomi masyarakat, namun juga menyuburkan, muntahan gunung ini adalah rezeki dibalik hitamnya asap tebal yang menutupi. Akan terbentang sisi positif, bahkan para pengamat mengatakan akan terjadi perubahan radikal setelah tragedi covid-19 ini terjadi, bukan tidak mungkin jika perubahan radikat ini tidak hanya berdampak pada segi habit manusia yang akan lebih senantiasa menjaga kebersihan, juga pada pola pikir masyarakat kedepannya.
Terakhir, bawasannya penderitaan manusia bukanlah sesuatu yang negatif adanya, kita seakan lupa tentang apa yang terbaring dibalik suatu tragedi. Walaupun manusia dikutuk untuk bebas dan senantiasa menderita, agaknya kehendak tidak akan pernah berhenti selama kita hidup, maka keinginan untuk mati bukanlah pilihan karena itu hanyalah sebuah dari destinasi keinginan. Semoga kita bukanlah bagian dari drama tragis Sophocles, dan dapat melihat sisi positif penderitaan manusia dalam wabah covid-19 ini.
Daftar pustaka
Schopenhauer. 2019. Pesimisme, Kehendak Bebas dan Cinta. Bangkung Putih. Yogyakarta
메타데이터
- post_id
- 3d804b4e351f
- slug
- penderitaan-dan-wabah-covid-19-3d804b4e351f
- url
- https://medium.com/@Summerfinn/penderitaan-dan-wabah-covid-19-3d804b4e351f
- canonical_url
- https://medium.com/@Summerfinn/penderitaan-dan-wabah-covid-19-3d804b4e351f
- author_url
- https://medium.com/@Summerfinn
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 20:09:59