Dipandang Mata
Mata, mata, mata, mata, mata, mata memutar mata.
Dipandang Mata
Mata, mata, mata, mata, mata, mata memutar mata.
Dilihat terus-menerus oleh mata.
Di sana-sini terancam mata. Jangan melihat kepalaku dengan mata.
Aku dilihat buruk, dipandang tanah dan semut, bisa jadi seperti kotoran ayam.
Mata-mata itu meludahi kepalaku, mata itu ikut menginjak pula meski tak berkaki.
Mata mata mata mata aku benci dipandang miris.
Kalian yang menyedihkan bukan aku yang agung, jaga matamu di kantong.
Jangan seenaknya melihat dengan matamu itu, jelalatan.
Berkedip tidak mau, kelopaknya dilakban ke atas tepat di bawah alis.
Mata mata mata BERHENTI MELIHATKU DENGAN TATAPANMU.
Aku terintimidasi oleh pupil dan kornea matamu yang tak seberapa.
Ada banyak, ada banyak, ada banyak, mereka di mana-mana.
Tiada yang lucu bila ditanggapi “ini mataku, mata kiri, mata kanan”
Aku benar-benar gelisah dengan pandangan tak manusiawi.
Berhenti menatapku, aku transparan, aku transparan, aku menyatu dengan plafon.
Keparat konyol masih asik menatap, tunggu hingga dia balik ditatap.
Dipandang serendah tanah, tanah yang longsor hingga ke inti bumi.
메타데이터
- post_id
- 3d8361ff5a7d
- slug
- dipandang-mata-3d8361ff5a7d
- url
- https://medium.com/@sastrarusa/dipandang-mata-3d8361ff5a7d
- canonical_url
- https://medium.com/@sastrarusa/dipandang-mata-3d8361ff5a7d
- author_url
- https://medium.com/@sastrarusa
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-20 20:29:01