“Penjara itu bukan berupa tempat, tapi berupa Perspektif” — The Midnight Library, Matt Haig
Judul Buku: The Midnight Library | Penulis: Matt Haig | Rating: 8,8/10
“Penjara itu bukan berupa tempat, tapi berupa Perspektif” — The Midnight Library, Matt Haig

https://emmastravelswithbooks.wordpress.com
Judul Buku: The Midnight Library | Penulis: Matt Haig | Rating: 8,8/10
Buku karya penulis asal Inggris, Matt Haig. Genrenya fiksi, tapi didominasi oleh konflik batin (psikologi) yang dialami karakter utama, Nora Seed.
Antara Hidup dan Mati
Ceritanya diawali dengan flashback Nora sebelum dirinya memutuskan untuk bunuh diri karena merasa hidupnya itu enggak berguna buat siapapun, bahkan buat dirinya sendiri.
Keputusan itu membawa Nora ke suatu tempat yang disebut ‘PERPUSTAKAAN TENGAH MALAM’. Di sana, buku-bukunya berisi variasi Nora di kehidupan lain (universe lain) serta buku yang berisi penyesalan-penyesalan Nora selama hidup di “kehidupan akarnya” (kehidupan di mana dia memutuskan bunuh diri). Di sana dia bertemu dengan Mrs. Elm, pustakawati sekolah Nora dulu yang kini jadi pembimbingnya di ‘PERPUSTAKAAN TENGAH MALAM’ ini.
Kompleks tapi Ringan
Walaupun elemen ceritanya kompleks, tapi menurut aku ceritanya mudah dibaca dan sama sekali enggak berat. Kesan-kesan karakter yang ditemui Nora di berbagai versi kehidupannya juga luar biasa. Lewat karakter seperti Dan, Mr. Banerjee, Volts, Joe, Hugo, Ash, Noah, dll., Nora akhirnya sadar bahwa sebenarnya kehidupan dia sendiri itu membawa banyak manfaat buat orang-orang disekitarnya (mungkin Nora nya aja yang nggak sadar), bukan cuma itu, mereka juga membuat Nora menyadari bahwa Keinginan Nora untuk ‘Hidup’ itu jauh lebih besar dibandingkan dengan keinginannya untuk ‘Mati’.
Sosok Mrs. Elm:
Menurutku dia karakter yang menggambarkan sosok orang tua buat Nora. Dialog-dialognya sering bikin aku mikir, “Oh… oke, kata-kata yang mendalam ya…”. Mrs. Elm banyak kasih wejangan ke Nora dalam memilih kehidupan di mana penyesalan-penyesalannya diperbaiki di versi lain.
Pesan Moral & Pelajaran Hidup
Buku ini bikin kita lebih paham kalau dalam kehidupan, kita gak akan terhindar dari yang namanya penyesalan. Seringkali kita ingin merubah segalanya jadi sempurna (kayak Nora yang mengharapkan kehidupan sempurna di universe lain).
Terus gimana cara kita menerima penyesalan itu?
- Ikhlas: Menerima penyesalan itu, kemudian kita usahakan lagi untuk menjadi lebih baik.
- Bersyukur: Karena gak ada hidup yang sempurna.
- Optimis: Kita harus yakin ada lebih dari 1 triliun kemungkinan baik yang bisa terjadi dalam hidup kita.
⚠️ Warning & Catatan
Sedikit catatan seperti di awal, buku ini mengandung unsur bunuh diri (walaupun gak terlalu intens) dan ada unsur LGBT (kakaknya Nora, Joe). Jadi bagi yang kurang nyaman atau memang menghindari konten dengan unsur-unsur tersebut, bisa dijadikan bahan pertimbangan dulu sebelum baca.
Kesimpulan:
Keluar dari unsur sensitif di atas, buku ini bagus banget dan sangat amat pantas mendapatkan apresiasi dari orang-orang yang suka membaca!!
“Penjara itu bukan berupa tempat, tapi berupa Perspektif” — The Midnight Library, Matt Haig
메타데이터
- post_id
- 3da49262b2ed
- slug
- penjara-itu-bukan-berupa-tempat-tapi-berupa-perspektif-the-midnight-library-matt-haig-3da49262b2ed
- url
- https://medium.com/@savairarizqin153/penjara-itu-bukan-berupa-tempat-tapi-berupa-perspektif-the-midnight-library-matt-haig-3da49262b2ed
- canonical_url
- https://medium.com/@savairarizqin153/penjara-itu-bukan-berupa-tempat-tapi-berupa-perspektif-the-midnight-library-matt-haig-3da49262b2ed
- author_url
- https://medium.com/@savairarizqin153
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 08:45:44