← Back to list

Mengantuk? Sains dan Hikmah di baliknya

Dua hari terakhir, terutama Rabu (03/09), kemampuan berjaga di malam hari begitu rendah. Kantuk memaksa tidur lebih awal.

Dodi Kurniawan · 2025-09-04 00:12 · 0 claps · 3.2 min read
#kantuk
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Mengantuk? Sains dan Hikmah di Baliknya

Dua hari terakhir, terutama Rabu (03/09), kemampuan berjaga di malam hari begitu rendah. Kantuk memaksa tidur lebih awal.

First thing first. Begitu prinsip dasarnya. Saat beberapa tugas berderet lengkap berikut deadline, langkah bijaknya tentu menyelesaikannya sesuai skala prioritas. Sayangnya, saya tidak terlalu tertib. Dan kantuk termasuk tantangan tersendiri.

Tulisan ini saya dedikasikan untuk fenomena kantuk yang dengan mudahnya bisa mengalahkan saya.

https://sleepandlungcare.com.au/daytime-sleepiness/

https://sleepandlungcare.com.au/daytime-sleepiness/

Kita semua mengenal kantuk. Tuhan berkenaan dengan kantuk berfirman bahwa ia tidak bisa menyentuh-Nya (QS Al-Baqarah: 255).

Apa sebenarnya kantuk itu? Mengapa tubuh begitu gigih “memaksa” kita tidur, padahal pikiran masih ingin bekerja, membaca, atau sekadar terjaga?

Tubuh manusia ternyata menyimpan jam internal yang sangat presisi, disebut ritme sirkadian. Ia dikendalikan oleh sebuah pusat kecil di otak bernama suprachiasmatic nucleus (SCN).

Jam ini berpenandakan cahaya. Saat malam tiba dan langit gelap, SCN memberi sinyal ke kelenjar pineal untuk menghasilkan melatonin — hormon yang membuat kita merasa mengantuk (Arendt, 2005).

Di pagi hari, cahaya terang “mematikan” melatonin, membuat tubuh segar kembali. Maka tidak heran, layar gawai yang menyala biru di malam hari bisa mengacaukan jam biologis. Ia mengelabui otak seolah-olah masih siang, sehingga kantuk tertunda, dan tidur pun terganggu (Chang et al., 2015).

Selain jam biologis, ada sistem lain yang lebih sederhana: semakin lama kita terjaga, semakin besar dorongan untuk tidur. Mekanisme ini dijalankan oleh adenosin, molekul kecil yang menumpuk di otak sebagai sisa pembakaran energi. Semakin banyak adenosin, semakin berat rasa kantuk.

Saat akhirnya kita tidur, kadar adenosin turun, otak segar kembali. Inilah sebabnya kopi begitu populer: kafein menutupi reseptor adenosin, membuat kita merasa segar meski sebenarnya tubuh sudah kelelahan (Porkka-Heiskanen et al., 1997). Tapi itu hanya ilusi sementara — ibarat menutup alarm dengan bantal, bukan mematikan bunyinya.

Kantuk bukanlah saklar sederhana on-off. Ia adalah hasil tarik-menarik berbagai zat kimia di otak. Ada asam Gamma-Aminobutirat yang menenangkan saraf, mengajak otak beristirahat. Ada orexin, yang menjaga kita tetap waspada; ketika zat ini kurang, seseorang bisa tiba-tiba terlelap di tengah aktivitas, kondisi yang dikenal sebagai narkolepsi (Sakurai, 2007).

Ada juga serotonin dan dopamin, yang bukan hanya mengatur tidur, tapi juga warna emosi kita. Dan tentu saja kortisol, hormon yang membuat kita terjaga di pagi hari, lalu pelan-pelan surut menjelang malam.

Di luar faktor hormonal, kantuk juga sangat dipengaruhi gaya hidup. Perut kenyang penuh nasi sering membuat kita ingin rebahan. Secara biokimia, karbohidrat tinggi memicu insulin, yang meningkatkan aliran triptofan ke otak — bahan baku serotonin dan melatonin. Tak heran, tidur siang setelah makan besar terasa begitu nikmat.

Suhu tubuh pun ikut berperan. Menjelang malam, suhu inti tubuh kita sedikit turun. Sensasi ini memberi sinyal lembut: sudah waktunya beristirahat. Karena itu, kamar tidur yang terlalu panas sering membuat tidur gelisah.

Dari perspektif evolusi, kantuk adalah mekanisme penyelamat. Otak manusia, organ paling haus energi dalam tubuh, tidak bisa terus dipacu tanpa henti. Tidur memberi kesempatan bagi sel otak memperbaiki diri, memperkuat daya tahan tubuh, dan — ini yang menakjubkan — menyortir ingatan. Apa yang penting akan disimpan, yang tak perlu dibuang.

Michael Walker dan Robert Stickgold (2006) menyebut tidur sebagai “mesin pengolah memori” yang bekerja dalam diam.

Tanpa kantuk, mungkin kita akan terus bekerja, mencipta, berlari. Tapi dengan konsekuensi mengerikan: fungsi kognitif menurun, mood berantakan, imunitas rapuh, bahkan risiko penyakit kronis meningkat.

Sains modern telah menjelaskan kantuk hingga ke level molekul. Namun, ada sesuatu yang lebih halus di baliknya. Kantuk adalah pengingat bahwa manusia bukan mesin. Ia hadir sebagai bisikan tubuh agar kita berhenti, melepas beban, dan mengembalikan keseimbangan.

Di era yang memuja produktivitas, kita sering melawan kantuk dengan kopi atau scrolling gawai. Padahal, justru dalam tidur, otak kita bekerja menyusun ulang pengalaman, menumbuhkan kreativitas, bahkan menjaga kesehatan jiwa.

Kantuk, dengan demikian, bukan musuh. Ia adalah sahabat yang mengingatkan bahwa setiap perjalanan butuh jeda. Dan di luar ini semua, kantuk adalah penanda bahwa kita hanyalah makhluk. Sebab, hanya Al-Khaliq yang imun terhadapnya.

Saat menulis ini, sebuah insight didapatkan bahwa ternyata saya berhutang kepada rekasi kimiawi tubuh untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Sebuah keadaan yang membuktikan kemakhlukan saya melalui mahkluk Tuhan lainnya yang bernama kantuk. (*)

Bacaan lebih lanjut:

  1. Arendt, J. (2005). Melatonin: Characteristics, concerns, and prospects. Journal of Biological Rhythms, 20(4), 291–303.
  2. Porkka-Heiskanen, T., Strecker, R. E., Thakkar, M., Bjorkum, A. A., Greene, R. W., & McCarley, R. W. (1997). Adenosine: A mediator of the sleep-inducing effects of prolonged wakefulness. Science, 276(5316), 1265–1268.
  3. Sakurai, T. (2007). The role of orexin in motivated behaviours. Nature Reviews Neuroscience, 8(3), 171–181.
  4. Chang, A. M., Aeschbach, D., Duffy, J. F., & Czeisler, C. A. (2015). Evening use of light-emitting eReaders negatively affects sleep, circadian timing, and next-morning alertness. PNAS, 112(4), 1232–1237.
  5. Walker, M. P., & Stickgold, R. (2006). Sleep, memory, and plasticity. Annual Review of Psychology, 57, 139–166.

메타데이터
post_id
3dc53c141bc5
slug
mengantuk-sains-dan-hikmah-di-baliknya-3dc53c141bc5
url
https://medium.com/@dodikurniawan71/mengantuk-sains-dan-hikmah-di-baliknya-3dc53c141bc5
canonical_url
https://medium.com/@dodikurniawan71/mengantuk-sains-dan-hikmah-di-baliknya-3dc53c141bc5
author_url
https://medium.com/@dodikurniawan71
status
ok
fetched_at
2026-07-17 18:58:55