← Back to list

Pada akhirnya, semua adalah salahku.

Aku juga tidak menginginkan ini.

Raa · 2026-06-06 14:41 · 1 claps · 1.6 min read
#writing #mental-breakdown #mental-health
Open on Medium ↗
Wiki topics: PSY · Mental Health & Psychiatry

Pada akhirnya, semua adalah salahku.

Aku juga tidak menginginkan ini.

Aku juga tidak menginginkan ini.

Hari ini sama seperti hari sebelumnya. Aku masih menatap cakrawala yang terbentang luas sembari terus bertanya-tanya pada Sang Pencipta. “Mengapa selalu aku yang mendapatkan kesengsaraan ini?” Namun setiap kali aku bertanya, kilat menyambar dengan kuat seolah langit pun tak mengizinkan ku untuk mempertanyakan hal yang sudah jelas jawabannya yaitu, “karena porsi kebahagiaan dan kesengsaraan manusia sudah tertulis di buku catatan-Nya. Manusia hanya perlu menerimanya.”

Aku hanya lelah — ah, tidak. Maksudku, aku sangat lelah. Jika takdir yang tertulis memang seperti ini, mengapa aku tidak kunjung menemukan jalan keluarnya? Kenapa aku masih terjebak di dalam kesengsaraan ini? Aku bersyukur, tentu saja bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bernapas. Tapi seringkali bernapas pun serasa seperti tercekat sesuatu yang tajam. Sakit. Sungguh, menyakitkan.

“Lihat wajahmu. Mengapa kamu memiliki jerawat seperti itu? Menjijikan!”

Oh.. menjijikan. jerawatku menjijikan.

Tidak, aku tahu jerawat bukanlah hal yang menjijikan, tapi rasanya tetap menyakitkan saat mendengar kalimat seperti itu. Seseorang, katakan padaku dengan lantang bahwa jerawat bukanlah hal yang menjijikan. Kumohon, katakan padaku dengan lantang! Berulangkali aku meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tetap terlihat indah walaupun ada jerawat yang memenuhi wajahku. Namun berulangkali juga seseorang memberikan kalimat yang membuatku.. kehilangan kepercayaan diri lagi dan lagi.

“Mengapa rambutmu sangat rontok seperti itu? Kamu masih muda bukan lansia. Apakah kamu tidak bisa menjaga dirimu sendiri?!”

Tidak bisa menjaga diriku sendiri..

Aku menjaga, selalu menjaga. Tapi tidak ada gunanya aku terus berusaha sehingga berdarah-darah jika memang ini sudah tertulis di catatan-Nya. Aku memang masih muda, tapi apa salahnya mempunyai rambut yang rontok? Apakah itu adalah sebuah perbuatan kriminal? Tidak, kan? Sekali lagi, aku akan selalu menjaga diriku sendiri dengan sebisaku.

Hanya dua kalimat. Hanya dua kalimat yang aku tuliskan di sini. Seandainya benar hanya dua kalimat, aku tidak akan sehancur hari ini. Kalimat yang dilontarkan mereka bukan hanya dua, tapi berjuta-juta. Terdengar dramatis, namun itulah kenyataannya.

Aku tidak ingin berjerawat, aku ingin memiliki wajah cantik yang mulus seperti gadis seusiaku pada umumnya. Aku juga tidak ingin memiliki rambut rontok, aku ingin memiliki rambut yang sehat dan indah seperti gadis seusiaku pada umumnya. Jadi kumohon.. berhentilah memberikan komentar yang hanya akan membuatku semakin kehilangan cahayaku. Jerawat, rambut rontok — aku juga tidak pernah menginginkan itu semua!


메타데이터
post_id
3dc561d12b59
slug
pada-akhirnya-semua-adalah-salahku-3dc561d12b59
url
https://medium.com/@raahyuckk/pada-akhirnya-semua-adalah-salahku-3dc561d12b59
canonical_url
https://medium.com/@raahyuckk/pada-akhirnya-semua-adalah-salahku-3dc561d12b59
author_url
https://medium.com/@raahyuckk
status
ok
fetched_at
2026-08-15 16:51:03