Arsitektur : Membahasakan Kelemahan hingga Ketamakan Manusia
Setelah akal, manusia juga mempunyai sesuatu yang diistilahkan dengan ‘potensi kehidupan’ yang membekali keberadaannya di bumi. Potensi…
Arsitektur : Membahasakan Kelemahan hingga Ketamakan Manusia
Setelah akal, manusia juga mempunyai sesuatu yang diistilahkan dengan ‘potensi kehidupan’ yang membekali keberadaannya di bumi. Potensi kehidupan terbagi menjadi kebutuhan jasmani dan naluri. Kebutuhan jasmani, selayaknya yang dimiliki makhluk hidup lain, yakni seperti makan, minum, bernafas, ekskresi; adalah hal-hal yang harus dipenuhi sehingga tidak menyebabkan kematian. Sedangkan naluri, yang dapat terbagi lagi setidaknya menjadi tiga yaitu : naluri bertuhan (NT), naluri eksistensi (NE), naluri seksual (NS), — jika tidak terpenuhi, paling buruk, hanya akan mendatangkan kegelisahan. Arsitektur dalam konteks sebagai objek rekaan manusia, mempunyai hubungan kompleks dengan baik akal maupun potensi kehidupan yang dimiliki manusia tersebut.
Kompleksitas hubungan yang dimaksud adalah, bahwa kita tidak dapat untuk serta merta mengetahui secara pasti berlandaskan salah satu hal yang manakah dari semua penjelasan tentang manusia di atas, ketika sebuah arsitektur dibuat. Hal ini dikarenakan, meskipun terklasifikasi sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, naluri manusia ini berjalan tidak dengan cara yang terpisah satu sama lain, melainkan sebuah kesatuan yang beriringan sepanjang manusia itu hidup. Yang jelas, akal manusialah yang kemudian sangat menentukan hadirnya arsitektur sebagai jawaban atas kebutuhan naluriahnya. Akal, yang merupakan kemampuan manusia untuk secara sadar memahami sesuatu, menetapkan dan memverifikasi fakta, menerapkan logika, dan kapasitas mengadaptasi atau membenarkan berdasarkan informasi baru atau yang telah ada, — hanyalah alat; sedang justru dari nalurilah kebutuhan manusia atas arsitektur sebenarnya muncul.
Pada bahasan kesejarahan, kebutuhan akan rumah tempat tinggal banyak diyakini merupakan awal mula berjalannya penerapan arsitektur sebagai metode manusia dalam menjawab kebutuhan naluriahnya. Secara metodis, arsitektur menjadi semacam “senjata” adaptasi manusia terhadap alam, dan dengan akal lah semua itu berlangsung. Akal manusia, membenarkan fakta bahwa tidak bisa manusia hanya dengan secara “telanjang”, kemudian menjalankan logika untuk berlindung menggunakan arsitektur; untuk meninggali bumi. Namun kemudian sekali lagi, semua ini kompleks. Belum ada informasi yang dapat membuat yakin sepenuhnya, sekalipun jika kemudian itu benar-benar hanyalah rumah (sebagai awal mula persentuhan manusia dengan arsitektur), maka artinya hanya atas dasar seperti mempertahankan diri dari binatang buas dan cuaca buruklah (NE) satu-satunya dorongan yang mempengaruhi sebuah penerapan adaptasi melalui arsitektur tersebut.
Arsitektur dan naluri lebih semacam bahasa yang universal; sebagaimana semisal ketika manusia berusaha menjaga hartanya di dalam rumah (NE), di saat yang sama, disadari atau tidak, berjalan pula perwujudan naluri lain. Katakanlah dengan harta tersebut manusia kemudian bisa membelikan makanan untuk keluarganya (NS), hingga sebuah kesadaran awal yang mendorong kesadaran berikutnya untuk menjaga hartanya dan membaginya dengan keluarganya (NT). Naluri bagaikan “kelemahan” manusia yang memerlukan pertolongan akal untuk mencari cara pemenuhannya, yang dalam banyak kasus, salah satunya melalui arsitektur.
Seiring waktu, arsitektur yang digunakan sebagai metode itu pun berkembang. Setiap jengkal wilayah di bumi memiliki caranya sendiri-sendiri menggunakan arsitektur untuk beradaptasi. Berkembanglah kemudian beragam teknologi dan langgam yang membuat kekhasan arsitektural yang menjadi identitas dan kebanggan masing-masing. Pun mengangungkan Sang Pencipta, artinya juga membangun puja-puji pada-Nya melalui bahasa ruang dan bentuk, bagaimanapun caranya, yang dapat menstimulus manusia untuk merasa semakin tunduk pada nilai-nilai kebenaran yang diajarkan dan diyakini.
Sampai ditemukanlah pula agrikultur untuk mempermudah produksi makanan hasil pertanian, beserta bangunan lumbung penyimpanan dan kebutuhan lainnya. Irigasi juga ditemukan untuk mendukungnya, beserta kanal, jembatan, dan sarana lainnya. Pun komunitas antar manusia terbentuk; desa, kota, kerajaan, negara, organisasi, dan beragam bentuk mempermudah-urusan-kehidupan-dengan-meyakini-dan-menyepakati-berbagai-nilai-dan-persoalan-secara-bersama lainnya, beserta segala kebutuhan ruang, bentuk, tatanan, hingga simbolnya seperti istana, kantor, bangunan ibadah, sekolah, pasar, pabrik, hingga tempat olahraga. Terus seperti itu. Sekalipun hingga markas-markas militer yang setiap waktu siap meluncurkan berbagai alat-alat penghancur apa saja termasuk arsitektur yang telah dibangun; atau tambang-tambang eksplorasi energi dari dalam bumi yang dengan penggunaan yang semau kuasa manusia semakin hari justru menurunkan kualitas lingkungan alamnya sendiri.
Jika sudah demikian; terlebih, sebagaimana seharusnya cara arsitektur Islam memiliki landasan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi beban untuk menjadi pemimpin dalam rangka penjagaan lingkungan alam, melalui arsitektur, apapun itu terminologi yang muncul kemudian (seperti jika belakangan ada arsitektur hijau, arsitektur berkelanjutan, dan sebagainya); maka, apa pun itu, selama yang manusia sadari adalah bahwa mereka memiliki kewajiban menjaga bumi tetap lestari demi kehidupan setiap generasi, dan bahwa manusia akan mati lalu menghadapi hari pertanggungjawaban, seharusnya itu sudah cukup mudah dipahami untuk sejak awal dijadikan pedoman utama dalam menggunakan akal dan berbuat.
Atas dasar segi landasan keyakinan tersebut, yang menjadi menarik pula akhirnya adalah kesimpulan bahwa sebenarnya tidak terlalu penting untuk mengatakan apakah naluri manusia yang seolah tidak ada habisnya itu adalah kelemahan atau justru ketamakan; yang jelas, anugerah berupa akal diberikan supaya digunakan untuk mencari sebaik-baik cara yang dapat ditempuh, — jika manusia memang masih ingin hidup lama, — untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah; kapan naluri harus dipenuhi dan kapan harus berhenti; kapan arsitektur menjadi jawaban dan kapan cukup untuk meninggalkan alam bekerja tanpa campur tangan.
메타데이터
- post_id
- 3dc56be7828
- slug
- arsitektur-membahasakan-kelemahan-hingga-ketamakan-manusia-3dc56be7828
- url
- https://medium.com/@mmarsaaa.accs/arsitektur-membahasakan-kelemahan-hingga-ketamakan-manusia-3dc56be7828
- canonical_url
- https://medium.com/@mmarsaaa.accs/arsitektur-membahasakan-kelemahan-hingga-ketamakan-manusia-3dc56be7828
- author_url
- https://medium.com/@mmarsaaa.accs
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-29 14:21:45