Haruskah Jurusan Kuliah Menjadi Tiket Seumur Hidup untuk Sebuah Profesi?
Isu tentang kompetensi pejabat negara membuat saya bertanya, “Seberapa jauh jurusan kuliah seharusnya menentukan masa depan seseorang?”
Haruskah Jurusan Kuliah Menjadi Tiket Seumur Hidup untuk Sebuah Profesi?
Isu tentang kompetensi pejabat negara membuat saya bertanya, “Seberapa jauh jurusan kuliah seharusnya menentukan masa depan seseorang?”
Photo by Caleb Holden on Unsplash
Belakangan ini, banyak perdebatan mengenai latar belakang Kepala Badan Gizi Nasional yang baru. Sebagian orang mempertanyakan relevansi pengalaman sebagai jurnalis dengan bidang yang kini dipimpinnya. Sebagian lainnya berpendapat bahwa yang terpenting bukanlah profesi atau latar belakang pendidikan, melainkan kompetensi dan kemampuan menjalankan amanah yang diberikan.
Saya tidak ingin membahas benar atau salahnya pengangkatan seseorang pada jabatan tertentu. Namun, perdebatan tersebut membuat saya memikirkan sebuah pertanyaan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan jutaan generasi penerus bangsa, termasuk adik sepupu saya yang tahun ini baru akan masuk perguruan tinggi.
Jika seseorang dapat dipertanyakan karena latar belakangnya dianggap tidak sesuai dengan bidang yang dipimpinnya, lalu bagaimana dengan jutaan anak muda yang bahkan belum mengetahui akan menjadi apa ketika mereka memilih jurusan kuliah?
Bukankah sejak usia belasan tahun kita sudah dihadapkan pada pertanyaan besar yang jawabannya sering kali belum kita miliki?
“Mau jadi apa nanti?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, jika dipikirkan lebih dalam, tidak banyak orang yang benar-benar mampu menjawabnya dengan pasti pada usia 17 atau 18 tahun.
Pada usia tersebut, sebagian besar dari kita masih dalam proses mengenali diri sendiri. Kita belum sepenuhnya memahami kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Kita belum benar-benar tahu lingkungan kerja seperti apa yang cocok dengan karakter kita. Bahkan, tidak sedikit yang belum memahami pekerjaan-pekerjaan yang sebenarnya ada di dunia profesional.
Meski demikian, kita tetap diminta memilih jurusan yang konon akan menentukan masa depan.
Seolah-olah satu keputusan yang dibuat menjelang kelulusan sekolah menengah atas akan menjadi penentu arah hidup untuk puluhan tahun ke depan.
Padahal, realitas kehidupan sering kali jauh lebih kompleks daripada itu.
Dalam dunia kerja, tidak sulit menemukan orang-orang yang berkarier di luar bidang studi yang mereka pelajari saat kuliah. Ada lulusan teknik yang bekerja di bidang pemasaran. Ada lulusan hukum yang akhirnya berkecimpung di dunia bisnis. Ada lulusan psikologi yang menjadi wirausahawan. Ada pula mereka yang memulai karier di satu bidang, kemudian beralih ke bidang lain setelah menemukan minat dan potensi yang lebih sesuai.
Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang langka. Bahkan, bagi sebagian orang, perpindahan bidang menjadi bagian alami dari proses bertumbuh dan menemukan arah karier yang paling tepat.
Namun, di sinilah saya merasa ada satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.
Ketika melihat banyak orang sukses bekerja di luar jurusan mereka, sebagian orang kemudian menyimpulkan bahwa jurusan kuliah tidak penting. Menurut saya, kesimpulan tersebut juga tidak sepenuhnya tepat.
Ada profesi-profesi tertentu yang memang membutuhkan pendidikan formal yang spesifik. Kita tentu berharap seorang dokter memperoleh pendidikan kedokteran yang memadai sebelum menangani pasien. Kita ingin seorang insinyur memahami ilmu teknik sebelum merancang atau mengawasi pembangunan infrastruktur. Kita juga berharap seorang arsitek memiliki pemahaman yang mendalam mengenai arsitektur sebelum merancang bangunan yang akan digunakan banyak orang.
Dalam profesi-profesi seperti ini, pendidikan formal bukan sekadar formalitas. Ada pengetahuan teknis yang membutuhkan proses pembelajaran yang panjang dan terstruktur.
Namun, menariknya, perjalanan karier seseorang sering kali tidak berhenti pada kompetensi teknis semata.
Seorang insinyur yang telah berkarier selama puluhan tahun mungkin pada akhirnya lebih banyak memimpin tim daripada menghitung struktur bangunan. Seorang dokter yang menjadi direktur rumah sakit tidak lagi menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memeriksa pasien. Ia mengelola organisasi, menyusun kebijakan, mengatur sumber daya, dan mengambil keputusan strategis.
Artinya, seiring waktu, kompetensi yang dibutuhkan seseorang dapat berkembang melampaui disiplin ilmu yang dipelajarinya saat kuliah.
Mungkin karena itulah pertanyaan yang lebih penting bukan selalu, “Apakah pekerjaan ini sesuai dengan jurusannya?”
Melainkan,
“Apa yang membuat seseorang kompeten untuk berada di posisi tersebut?”
Pertanyaan inilah yang menurut saya sebenarnya menjadi inti dari banyak perdebatan publik, termasuk ketika masyarakat mempertanyakan latar belakang seorang pejabat negara.
Bukan semata-mata karena jurusannya berbeda.
Melainkan karena masyarakat ingin memahami dasar yang digunakan untuk menilai bahwa seseorang memiliki kompetensi yang cukup untuk memegang tanggung jawab yang besar.
Apalagi ketika jabatan tersebut berkaitan dengan kepentingan jutaan orang.
Ketika sebuah perusahaan swasta menunjuk pemimpin yang kurang tepat, dampaknya mungkin dirasakan oleh pemegang saham, investor, atau karyawannya. Namun, ketika negara menunjuk seseorang untuk mengelola pendidikan, kesehatan, gizi, atau pertahanan, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat dalam skala yang jauh lebih luas.
Karena itulah publik cenderung meminta standar pembuktian yang lebih tinggi. Dan menurut saya, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar.
Meski demikian, ada satu pelajaran lain yang menurut saya tidak kalah penting untuk dipetik dari hal yang berkaitan secara tidak langsung dengan perdebatan ini.
Bahwa memilih jurusan kuliah bukan berarti menentukan seluruh jalan hidup.
Dan bahwa kehidupan profesional tidak selalu berjalan dalam garis lurus sebagaimana yang kita bayangkan ketika masih duduk di bangku sekolah.
Jurusan kuliah tetap penting karena memberikan fondasi pengetahuan, cara berpikir, dan keterampilan tertentu. Akan tetapi, perjalanan setelahnya sering kali ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan kompetensinya.
Pada akhirnya, mungkin para generasi muda tidak perlu terlalu cemas jika hari ini belum memiliki gambaran yang sepenuhnya jelas tentang masa depan mereka.
Sebab memilih jurusan kuliah bukanlah kontrak mati yang menentukan arah hidup. Kita hanya sedang menentukan langkah pertama.
Sementara ke mana langkah berikutnya akan membawa kita, sering kali baru dapat dipahami setelah kita benar-benar menjalaninya.
Dan harus digarisbawahi bahwa itu tidak apa-apa.
메타데이터
- post_id
- 3dc82dfdbe81
- slug
- haruskah-jurusan-kuliah-menjadi-tiket-seumur-hidup-untuk-sebuah-profesi-3dc82dfdbe81
- url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/haruskah-jurusan-kuliah-menjadi-tiket-seumur-hidup-untuk-sebuah-profesi-3dc82dfdbe81
- canonical_url
- https://medium.com/komunitas-blogger-m/haruskah-jurusan-kuliah-menjadi-tiket-seumur-hidup-untuk-sebuah-profesi-3dc82dfdbe81
- author_url
- https://medium.com/@gebriepriagan
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 17:29:03