Tak Akan Pernah Kumaafkan, Sampai Kapanpun.
Di suatu hari yang gelap, awan berdatangan, abu bahkan hitam dikunjungi malam. Angin datang mendobrak-dobrak pintu rumah kami entah ingin…
Tak Akan Pernah Kumaafkan, Sampai Kapanpun.
Di suatu hari yang gelap, awan berdatangan, abu bahkan hitam dikunjungi malam. Angin datang mendobrak-dobrak pintu rumah kami entah ingin apa. Aku dan Sitha yang berbeda 10 tahun terdiam mendengar itu. Kami berada tepat di ruang tengah rumah ini, hangat karena terdapat perapian yang selalu dibakar tiap malam.
Aku selalu mencoba memahami karakter adikku, Sitha. Tapi, ia tak pernah menghargaiku dan lingkungan sekitar. Umurku sudah hampir kepala tiga bulan depan, tapi entah mengapa Sitha semakin dewasa seperti anak kecil. Aku seperti tidak percaya untuk meninggalkannya mengurus rumah dan Ibu, Bapak. Rasanya seperti rumah dan seisinya akan lenyap oleh tanah. Dari kecil ia selalu dimanja, aku kira setelah dewasa ia akan lebih mandiri, tapi nyatanya pikiranku salah besar.
Pikirannya yang dangkal, sifatnya yang serakah, dan kelakuannya yang sangat cuek cukup membuat kami di rumah naik pitam. Di malam yang dingin ini, tepat pada pukul 21.00 jam berbunyi kicauan burung yang keluar dari rumahnya, aku dan Sitha bertengkar habis-habisan. Sitha yang selalu merasa benar, istilahnya seperti “Dia yang menghutang, dia yang lebih galak”. Ya, adikku ini selalu memakai barang-barangku, selama ini aku selalu membiarkan sampai pada akhirnya banyak barangku yang rusak, entah ia apakan, geram tentu saja. Tapi dasar Sitha, aku seperti harus lebih sabar, tapi kali ini aku sudah tak tahan, aku keluarkan semua unek-unekku. Sampai akhirnya bapak melerai kami, aku pergi ke kamar untuk menenangkan diri.
Tak lama, kudengar suara ia mengadu kepada ibu di dapur, mendengar itu emosiku kembali memuncak, “Jangan playing victim!”, kataku berteriak. Dia menangis-nangis di depan ibu, sambil menunjuk-nunjuk aku yang sedang berusaha menjelaskan agar tidak salah paham, tapi ia selalu memotong pembicaraanku, aku kembali ke kamar, dan bersumpah tidak akan pernah memaafkannya.
Berhari-hari kami tak bertegur sapa, saling melihatpun tak sudi rasanya. Tapi, aku ini seorang kakak, kalau bukan aku yang harus selalu menjaganya lalu siapa lagi yang akan menjaga ia. Bapak dan ibu sudah semakin tua, kami berdua harus selalu akur dan terus saling menjaga, setelah tiga hari, aku mencabut kata-kata burukku untuk tidak memafkannya. Kami ini bersaudara, dari rahim yang sama, ibu yang sama, dan makanan yang sama. Bukannya sesama saudara selalu ada ruang untuk memaafkan bukan?
메타데이터
- post_id
- 3de6ba22fd89
- slug
- tak-akan-pernah-kumaafkan-sampai-kapanpun-3de6ba22fd89
- url
- https://medium.com/@salwasaliyah/tak-akan-pernah-kumaafkan-sampai-kapanpun-3de6ba22fd89
- canonical_url
- https://medium.com/@salwasaliyah/tak-akan-pernah-kumaafkan-sampai-kapanpun-3de6ba22fd89
- author_url
- https://medium.com/@salwasaliyah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-03 02:11:20