← Back to list

Kenapa ke Perpustakaan Harus Mengenakan Pakaian Berkerah?

Rinai Nisak · 2025-07-01 11:55 · 20 claps · 1.9 min read
#perpustakaan #aturan #belajar #pakaian
Open on Medium ↗

Kenapa ke Perpustakaan Harus Mengenakan Pakaian Berkerah?

Bagi kalian yang sering berkunjung ke perpustakaan kampus atau perpustakaan daerah pasti tak asing dengan peraturan masuk perpustakaan yang mengharuskan berpakaian sopan dan berkerah. Biasanya peraturan tersebut juga dilanjutkan dengan intruksi menggunakan alas kaki sepatu. Sebenarnya kenapa instansi perpustakaan mengharuskan pengunjungnya memakai pakaian berkerah dan bersepatu? Mungkin saja tujuannya agar menunjukan etika kesopanan dalam berpenampilan. Karena di beberapa instansi menganggap bahwa perpustakaan adalah ruang akademik formal, seperti halnya ruang kelas atau ruang dosen.

Ironisnya, aturan tersebut dapat menjadi beban untuk beberapa orang. Sering sekali saya temui di kampus ada beberapa mahasiswa yang mengenakan sweater dilarang masuk oleh para petugas perpustakaan di meja registrasi. “Ganti dulu bajunya sebelum masuk perpustakaan, itu bajumu tidak ada kerahnya”. Perbincangan singkat itu berhasil mengusir secara halus mahasiswa yang tak mengenakan baju berkerah yang akan memasuki perpustakaan. Sangat di sayangkan sekali. Padahal niatnya cuma mau baca atau belajar, eh ternyata harus terhalang pakain berkerah.

Kalau tujuan aturan berpakaian di perpustakaan untuk etika kesopanan, bukankah belajar tidak memandang pakaian? Hakikatnya ilmu juga tidak mengenal apakah seseorang datang dengan kemeja rapi atau kaus longgar maupun sweater. Selama ia datang dengan niat dan rasa ingin tahu, bukankah itu yang paling penting.

Pada realitanya mengenakan pakaian kemeja berkerah juga tidak menjamin seseorang belajar dengan serius dan mengenakan pakaian santai juga tidak otomatis menggambarkan sesorang yang malas belajar. Peraturan seperti itu kadang memicu orang berpikir dua kali untuk ke perpustakaan. Belum lagi aturan-aturan yang lain. Seolah perpustakan di setting begitu kaku dan penuh keseriusan. Hal tersebut mungkin menjadi salah satu faktor bahwa jumlah mahasiswa yang belajar di dalam perpustakaan lebih sedikit daripada yang di luar perpustakaan.

Saya sering mendapat ajakan dari teman kuliah saya, “Ayo ngerjaian tugas di perpus kampus, tapi di tempat duduk luar aja nggak usah masuk. Biar bisa sambil makan dan ngobrol.” Iya, tujuannya supaya bisa ngerjain tugas sambil makan dan ngobrol. Karena di dalam perpustakaan kita dilarang untuk makan dan berkegiatan berisik alias ngobrol.

Biasanya para mahasiswa akan mencari tempat yang nyaman untuk mengerjakan tugas dengan salah satu prasyarat tempatnya memiliki jaringan wifi gratis. Dan kampus pasti menyediakan itu. Mahasiswa dengan uang bulanan yang terbatas tentu akan memilih untuk mengerjakan di kampus daripada harus mengeluarkan uang lebih di coffee shop.

Andai saja ruang perpustakaan bisa se-fleksibel tempat nongkrong, saya yakin siapapun akan menjadikan perpustakaan sebagai tujuan tempat belajar setiap hari. Ya meskipun sepertinya akan sulit direalisasikan. Mungkin setidaknya perpustakaan selain menjadi ruang akademik formal juga dapat menyediakan ruang fleksibel. Ruang fleksibel yang dimaksud adalah ruang bebas untuk baca dan diskusi atau ruang baca santai yang bisa sambil nyemil. Dengan catatan tanpa aturan pakaian mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Karena minat belajar yang tinggi juga perlu diberikan ruang yang bisa mengerti. Bukan ruang yang menuntut untuk selalu tampil rapi.


메타데이터
post_id
3df4d0a4e6ae
slug
kenapa-ke-perpustakaan-harus-mengenakan-pakaian-berkerah-3df4d0a4e6ae
url
https://medium.com/@hainisakya/kenapa-ke-perpustakaan-harus-mengenakan-pakaian-berkerah-3df4d0a4e6ae
canonical_url
https://medium.com/@hainisakya/kenapa-ke-perpustakaan-harus-mengenakan-pakaian-berkerah-3df4d0a4e6ae
author_url
https://medium.com/@hainisakya
status
ok
fetched_at
2026-06-24 04:09:36