Wibu?
Ada masa ketika dunia benar-benar diam.
Wibu?
Ada masa ketika dunia benar-benar diam.
Jalanan kosong. Sekolah berubah menjadi ikon aplikasi. Dan waktu terasa seperti tombol pause yang lupa ditekan kembali.
Tahun itu bukan sekadar pandemi.
Itu tahun ketika banyak orang kehilangan rutinitas — dan beberapa dari kami… menemukan diri sendiri.
COVID-19 membuat dunia mengecil menjadi satu ruang: rumah.
Tidak ada suara kelas. Tidak ada perjalanan pagi. Tidak ada obrolan acak di kantin.
Hanya layar. Tugas daring. Dan pikiran yang tiba-tiba punya terlalu banyak waktu untuk berbicara.
Kesunyian itu aneh.
Karena semakin lama aku di rumah, semakin terasa bahwa aku tidak benar-benar tahu harus menjadi siapa tanpa dunia luar.
Dan di tengah kekosongan itu, aku kembali pada sesuatu yang dulu hanya hiburan.
Anime.
Awalnya cuma pengisi waktu. Lalu berubah menjadi rutinitas. Lalu… menjadi kehidupan kedua.
Percaya atau tidak, masa pandemi justru menghadirkan salah satu kenangan paling hangat dalam hidupku.
Aku maraton anime bersama ayahku.
Bukan satu dua episode.
Kami benar-benar menyelam.
Dari episode pertama One Piece, mengikuti perjalanan Luffy sejak masih bocah karet yang bahkan belum punya kru… sampai episode terbaru yang terus bertambah seperti umur kami sendiri.
Hari berganti malam tanpa terasa.
Kadang kami berhenti hanya untuk makan. Kadang diskusi serius soal karakter — seolah strategi perang dunia nyata bergantung pada keputusan kru Topi Jerami.
Lalu berlanjut ke seluruh seri Dragon Ball.
Dari petualangan polos Goku kecil, pertarungan legendaris di Dragon Ball Z, sampai transformasi yang semakin absurd tapi tetap membuat kami duduk menatap layar seperti anak kecil.
Dan ya…
bahkan sampai anime yang sering dianggap “kurang” oleh banyak orang.
Boruto.
Kami tetap menontonnya.
Bukan karena sempurna. Tapi karena ada sesuatu yang lebih penting daripada kualitas cerita:
kebersamaan.
Saat dunia di luar penuh berita kematian dan angka statistik, ruang tamu rumahku dipenuhi tawa kecil, teori ngawur, dan komentar spontan setiap pertarungan dimulai.
Pandemi mungkin memisahkan banyak orang.
Tapi anehnya, ia justru mendekatkanku dengan ayahku lewat dunia fiksi.
Aku mulai sadar sesuatu.
Anime bukan hanya pelarian pribadi.
Ia bisa menjadi bahasa bersama.
Bahasa lintas generasi.
Tidak perlu formalitas. Tidak perlu topik berat.
Cukup duduk berdampingan dan berkata, “Episode satu lagi?”
Dan tiba-tiba waktu terasa ringan.
Di luar sana, kata wibu sering terdengar seperti label memalukan.
Seolah menyukai anime berarti gagal mencintai realita.
Tapi mereka tidak melihat sisi ini.
Mereka tidak melihat seorang anak dan ayah yang berbagi cerita petualangan bajak laut setiap malam. Tidak melihat diskusi tentang moralitas karakter villain. Tidak melihat bagaimana dunia fiksi bisa menjadi jembatan hubungan nyata.
Bagi sebagian orang, anime hanyalah tontonan.
Bagiku, itu menjadi memori keluarga.
Pada usia tiga belas atau empat belas tahun, aku membaca kisah tentang seorang pembaca yang hanya menyaksikan dunia berjalan dari jauh.
Dan selama pandemi, perasaan itu semakin nyata.
Aku seperti penonton hidup sendiri.
Namun ironisnya, melalui cerita-cerita fiksi itulah aku belajar bahwa bahkan penonton pun suatu saat bisa melangkah ke panggung.
Anime mengajarkanku konsistensi dari perjalanan panjang. Dragon Ball mengajarkanku bahwa berkembang itu proses tanpa akhir. One Piece mengajarkanku bahwa mimpi sering kali terdengar konyol sebelum menjadi nyata.
Bahkan Boruto — dengan segala kekurangannya — mengajarkanku sesuatu yang sederhana:
generasi berikutnya tetap harus mencoba, meski dibandingkan terus dengan masa lalu.
Dan mungkin… itu juga berlaku untuk diriku.
Sekarang dunia sudah kembali bergerak.
Sekolah ramai lagi. Kesibukan kembali mengambil waktu.
Tapi setiap kali mendengar opening lama atau melihat potongan episode tertentu, aku tidak hanya ingat ceritanya.
Aku ingat ruang tamu. Aku ingat malam panjang pandemi. Aku ingat duduk di samping ayahku, menonton dunia lain sambil tanpa sadar membangun kenangan di dunia nyata.
Jadi jika seseorang bertanya kenapa aku menjadi wibu—
jawabannya sederhana.
Karena di tahun ketika dunia berhenti berputar, anime tidak hanya mengisi waktu kosongku.
Ia mengisi rumahku dengan cerita, mengisi kesunyianku dengan suara, dan tanpa kusadari…
mengubah masa isolasi menjadi salah satu bab paling hidup dalam hidupku.
메타데이터
- post_id
- 3dffdcb42d0b
- slug
- wibu-3dffdcb42d0b
- url
- https://medium.com/@ancientdreamm/wibu-3dffdcb42d0b
- canonical_url
- https://medium.com/@ancientdreamm/wibu-3dffdcb42d0b
- author_url
- https://medium.com/@ancientdreamm
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49