“Ironi Samsat: Di Bawah Spanduk Anti-Pungli, Calo Merajalela”
Pagi tadi, saya izin cuti kerja dan berangkat ke kantor samsat untuk mengurus pajak stnk saya yang sudah hampir habis masa berlakunya…

“Ironi Samsat: Di Bawah Spanduk Anti-Pungli, Calo Merajalela”
Pagi tadi, saya izin cuti kerja dan berangkat ke kantor samsat untuk mengurus pajak stnk saya yang sudah hampir habis masa berlakunya. Sesampainya di parkiran samsat, saya di sambut baik oleh seseorang yang awalnya saya pikir abang tukang parkir, dia dengan begitu akrabnya meminta saya untuk memindahkan parkir kendaraan saya karena kebetulan berada persis di bawah pohon sawit yang rawan jatuh dahan pohonnya yang kering.
Setelah memindahkan kendaraan, saya mengucapkan terimakasih kepadanya, kemudian dia menawarkan saya untuk jasa fotocopy stnk dan ktp. Saya sempat menolak halus sambil membatin apa orang ini seorang calo? lalu bilang dengan dia bahwa saya tidak perlu jasa calo perpanjangan stnk, saya bisa urus sendiri kok. Dia menimpali bahwa dia hanya mengarahkan saya ke tempat fotocopy-an dia, bukan sebagai calo. Akhirnya saya berpikir positif Kembali, dia kemudian memfoto-copy dan meminta uang jasa fotocopy ktp dan stnk saya 15 ribu, kemudian meminta lagi 5 ribu rupiah, katanya untuk mengantarkan berkas ke ruang samsat.
Saya sempat heran, untuk apa pakai jasa pengantaran berkas? Dia bilang ini hanya mengantarkan berkas saja kok pak, tidak lebih, bapak bayar 5 ribu dan selesai tinggal ikut antri. Ya sudahlah, saya pikir hitung-hitung sedekah karena sudah dibantu parkir tadi. Namun, kekagetan saya muncul kembali ketika saya mau masuk ke ruang samsat justru malah dicegah oleh orang tersebut, dia meminta saya menunggu saja di luar. Saya tanya, kenapa dia melarang saya? Bukankah berkas saya sudah di ruangan? Lalu, saya memilih abaikan dia dan terus saja masuk ke ruangan antrian. Berselang tidak lama, orang tersebut muncul kembali memanggil saya dan mengajak saya keluar ruangan antrian. Pikir saya, apa maksudnya ini?
Disinilah perdebatan mulai terjadi, salah satu kawan orang tersebut menyodorkan pada saya selembar kuitansi dengan jumlah nominal pajak yang harus saya bayarkan, senilai 3 juta 800 ribu lebih (Saya belum tahu persis berapa jumlah pajak kendaraan saya karena ini baru pajak pertama). Saya baru sadar ternyata memang betul orang tersebut dan kelompoknya adalah calo, dan saya langsung saja menolaknya. Saya bilang bahwa saya tidak mau menyerahkan uang apalagi dengan jumlah cukup besar kepada orang yang saya sama sekali tidak kenal. Saya hanya akan membayar pajak ke loket resmi, kalau perlu memakai via transfer pada nomor resmi. Dia menambahkan, “transfer juga nggak papa pak.” Saya tanya, “kemana?” “Ke rekening sayalah,” jawabnya. “Ohh, tidak bisa, tidak mau” saya menimpali.
Kawannya yang lain, muncul dan menyodorkan kepada saya uang ratusan ribu yang cukup banyak, sekitar 3 juta sepertinya, “Kalau bapak tidak percaya, nih pegang uang saya”, katanya. Dia juga mengeluarkan ktp dan meminta saya untuk memfoto wajahnya beserta ktp dia. Saya tetap menolak permintaannya, mungkin ada sekitar 4 sampai 6 orang tadi yang mengerubungi saya. Salah satu temannya dengan nada meninggi akhirnya berucap, “bapak tidak tahu ya? Dari tadi bapak itu sudah membuat saya tersinggung. Saya sudah bersabar dengan bapak, coba bapak lihat, itu ada dua orang bapak-bapak yang juga ikut dengan saya pakai jasa saya? Saya nggak mungkin berbohong pak,” Sambil menunjuk ke dua orang bapak-bapak tersebut dengan ekspresi wajah marah. “Kalau begini akhirnya, bagaimana solusinya? Berkas bapak sudah masuk mobil samsat, mobil entah kemana, sementara bapak nggak mau membayar uang ke kami”, tuduh dia.
Dengan tegas saya menjawab, “ya tidak ada Solusi, saya tidak kenal dengan anda dan kawan-kawan anda, juga dengan kedua orang bapak tersebut, bahkan saya juga tidak pernah ngomong sama sekali untuk meminta bantuan jasa anda. Kenapa anda marah?” “Saya sudah dirugikan waktu saya disini, dan sekarang saya malah diminta untuk menyerahkan uang kepada anda yang bahkan tidak saya kenal sama sekali, mending saya pulang saja”. setelah berdebat agak lama-meninggi dan mereka agak memaksa, akhirnya saya nekat saja tinggalkan kerumunan mereka.
Saya Kembali masuk ke ruangan samsat dan melaporkan masalah ini ke petugas. Alhamdulillah dengan dibantu salah satu polisi, saya diminta untuk menunjuk orang tersebut, akhirnya berkas saya Kembali, bahkan cukup satu jam selesai. Namun kagetnya lagi, ternyata pajak yang saya bayarkan ke samsat hanya sejumlah 3 juta 2 ratus ribu rupiah. Artinya selisih sekitar hampir 600 ribu rupiah jika saya bayar lewat calo tersebut, itu pun baru dari saya, seandainya saya bayar. Entah ada berapa banyak uang yang telah mereka terima dari orang lain, apalagi dikalikan dengan 25 hari kerja sebulan, di kali setahun. Rasanya uangnya cukup untuk membeli motor/mobil baru setiap tahun.
Peristiwa ini tentu menjadi satu kejadian memprihatinkan di antara sekian banyak rentetan kasus yang lain, entah sudah berapa lama saya pun tidak tahu persis. Apalagi di saat warga Masyarakat cukup ketar-ketir dengan adanya kebijakan baru opsen pajak sejumlah 66 persen di awal tahun. Malah ini ditambah dengan beban lagi, saya menyebutnya dengan Opplo dan Oppli (Oepah Calo dan Oepah Pungli) oleh oknum di seputaran lingkungan kantor samsat. Ini ibarat sudah jatuh ketimpa tangga sekaligus genteng-gentengnya. Bahkan, saya tadi pas mau berangkat sempat mikir, kira-kira cukup tidak ya uang saya untuk pajak. Eh, kok malah hampir kena palak.
Saya juga mikir tentang kedua bapak tadi dengan wajah lusuh, terlihat manut dan sepertinya orang dari jauh, sudah meninggalkan pekerjaan harian mereka, saya juga tidak tahu berapa jumlah uang yang mereka bawa, mungkin juga tidak banyak atau mungkin juga sebagian akan dipakai untuk membeli kebutuhan pokok keluarganya. Begitu sampai di kantor pajak, agar jadi orang taat pajak, eh malah kena palak. Saya kok agaknya yakin, kalau-pun sekiranya mereka mau pakai jasa calo pajak, rasanya kok ya nggak perlu deh datang jauh-jauh ke kantor samsat untuk sekedar bayar pajak. Banyak sabar ya pak, semoga hidupmu berkah.
Saya juga iseng tadi liat google maps Lokasi kantor pajak untuk sekedar mau beri ulasan dan rating, lah ternyata, ada cukup banyak yang memiliki pengalaman serupa dengan saya dan kedua bapak tadi. Bikin mirisnya, belum ada respon dari pihak admin, mungkin memang kekurangan tenaga admin kali ya,hehe. Supaya tidak terlalu panjang menulis, saya mau berpesan ke bupati Lamtim yang baru semoga persoalan ini segera ditangani lebih lanjut, dan menjadi perhatian seksama, tentunya ini sesuai dengan jargon yang cukup popular di telinga kita “Negara kuat, karena orang bijak taat pajak, kalau boleh saya tambahkan asalkan pelayanannya juga semakin di rumat, segala pungli juga disikat” (jawa=dirawat)”. Tentu akan jadi ironis Ketika banner tolak pungli terpampang begitu besar di kantor pajak, eh para calo pungli justru berseliweran disekitar kantornya. Semoga semakin baik ke depannya.
메타데이터
- post_id
- 3e25391aae20
- slug
- ironi-samsat-di-bawah-spanduk-anti-pungli-calo-merajalela-3e25391aae20
- url
- https://medium.com/@c.khaeroni/ironi-samsat-di-bawah-spanduk-anti-pungli-calo-merajalela-3e25391aae20
- canonical_url
- https://medium.com/@c.khaeroni/ironi-samsat-di-bawah-spanduk-anti-pungli-calo-merajalela-3e25391aae20
- author_url
- https://medium.com/@c.khaeroni
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-20 05:44:29