Kucing Rumah Kaca
Bersama seekor kucing, seorang gadis meninggalkan rumah kacanya, demi menemukan pohon terakhir.
Kucing Rumah Kaca


Illustrated by : @hewittdesteen
“Huushh.. Jangan ganggu. Hush.. Hush.”
Sekelompok orang mengelilingi mesin tua besar yang mereka sebut sebagai mesin microwave, karena bentuknya yang mirip microwave suara bising mengisi udara. Mereka yang berpakaian lusuh dengan hati-hati menaburkan isi karung berisi serbuk putih ke dalam pipa yang terpasang di atas mesin itu.
Bbbrrrmm… Suara mesin menderu semakin nyaring, mesin itu memuntahkan roti – roti di langit, tak berselang lama roti itu berjatuhan bagaikan hujan.
Katanya mesin ini sudah ada sejak ratusan tahun, di dalam mesin ini terprogram makanan dari berbagai zaman, tekan kombinasi kodenya dan taruh serbuk putih maka makanan apapun bisa diciptakan.
Seekor kucing oranye buru – buru berlari secara lincah menghindar satu persatu roti yang berjatuhan di tanah. Setelah terhindar, dia kembali mengorek – ngorek beberapa tumpukkan sampah seperti mencari sesuatu.
Kucing oranye ini memakai sebuah kalung terbuat dari tali tambang dengan gantungan lempengan kaleng kecil berbentuk persegi dengan ukiran tulisan “Libre”, kalung inilah yang membedakannya dari kucing – kucing lain.
Libre mengeong setelah menemukan apa yang ia cari, ia usap pelan dan sedikit bermain dengan benda tersebut sampai akhirnya ia menggigit benda itu kemudian berjalan pergi, menghindari kerumunan yang masih berebut roti.
Rumah – rumah kumuh dengan pipa besi untuk menopang atap menggunakan seng berkarat setiap sudutnya dikelilingi jalanan dangan tanah tandus. Serpihan – serpihan sampah seperti potongan plastik, besi berkarat, sampah apapun dikumpulkan dan digabung lalu ditempelkan satu sama lain membentuk sebuah dinding penahan angin yang siap melindungi isi rumah.
Walau terasa kumuh, kehidupan terus berjalan, ini adalah cara mereka bertahan hidup, ini adalah desa mereka. Libre berjalan melewati anak – anak yang berlarian tanpa alas kaki, bermain bola yang terbuat dari gabungan sampah basah yang ditekan dan dibentuk menjadi bola.
“Eh.. habis main gangguin cewek yang di rumah kaca itu yuk!” Ucap seorang anak kemudian menendang bola itu jauh.
“Harusnya kepala desa ngusir anak pembawa bencana itu, malah dikasih hidup enak di rumah kaca yang susah dibangun, buat apa coba.. Eh.. Hush.”
Perutnya Libre disenggol oleh kaki ibu - ibu yang larut dalam bergosip. Senggolan itu bukan karena marah, tapi sekedar mengusirnya dari langkah jalan.
Libre yang sempat tersungkur berdiri kembali, benda yang ia cari terus digigit dengan keras. Melewati desa yang bau dan padat penduduk itu.
“Sini, sini.” Ucap seorang pria sambil merobek roti kemudian membaginya kecil – kecil lalu dilempar ke tanah. Pria itu sedang beristirahat bersama temannya, pulang dari mencari material sampah untuk menambal atapnya yang rusak.
Beberapa kucing mendatangi roti itu dan memakannya, termasuk Libre yang melepaskan benda yang ia gigit sementara. Sepertinya ia sudah mulai lapar karena berjalan terus.
“Tau gadis yang ada di rumah kaca itu?”
“Tahu kok, katanya dia bisa menciptakan bencana ya?”
“Wah.. Nih aku ceritain. Aku ini salah satu orang yang liat langsung, aku termasuk sesepuh di sini, jangan lupa hormat habis aku cerita. Dulu banget gadis itu sempat keluar dari rumah kaca itu.”
“Terus, terus?”
“Pas kakinya nginjak tanah, tiba – tiba tanah disekeliling kakinya berubah dan mengeluarkan semacam plastik – plastik berbulu tipis gitu dan warnanya hijau, terus yang bikin kaget keluar semacam batang atau pipa hijau kecil, diatasnya seperti ada helai - helai plastik putih mengelilingi sebuah bulatan. Bentuknya enggak seperti sampah yang biasa kita temui, kayak hidup aja gitu.
“Hah itu apaan?”
“Kurang tau, masalahnya bukan cuma yang warna putih tapi ada juga yang warna merah dan ungu, dan berbagai macam ukuran. Aneh banget, seluruh orang di desa sama sekali tidak pernah lihat benda itu, jadi daripada takut ada bencana kita kurung gadis itu di rumah kaca persis di bukit belakang.”
Libre yang sudah kenyang mengeong sebentar selayaknya mengucapkan terima kasih kepada kedua pria itu. Terasa ada elusan di kepala Libre, ia mengeong lagi layaknya mengucapkan selamat tinggal. Mengigit kembali barang bawaannya kemudian berjalan menuju sebuah bukit gersang namun bersih karena tidak terlalu banyak sampah.
Setelah berjalan beberapa saat untuk menaiki bukit ada sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, dengan bagian kanannya terdapat sebuah gudang terbuat dari seng – seng karat yang lumayan besar namun tertutup.
Libre memilih untuk berjalan ke arah kiri, menuju sebuah rumah besar yang transparan, terbingkai cahaya matahari yang masuk dengan lembut. Rumah kaca yang tinggi, meski tak terlalu lebar, memancarkan keindahan dalam kesederhanaannya.
Terlihat seorang gadis yang duduk diantara sampah – sampah dan juga buku – buku yang tampak sangat tua.
Libre memasuki rumah kaca itu melalui salah satu panel kaca yang sudah pecah, meskipun pecahannya kecil tapi cukup lebar untuk dimasuki oleh Libre. Kemudian ia tidur dipangkuan gadis itu lalu melepaskan barang bawaannya yang ternyata adalah sebuah kompas berkarat.
Gadis bernama Rorin dengan rambut hitam tak teratur, baju merah yang compang camping dengan topi safarinya yang sudah berlubang tersenyum lalu mengelus Libre yang mulai mendengkur di pangkuannya.
“Bu lihat, Libre bawain apa.”
Seorang wanita dengan celana panjang dan baju hitamnya masuk ke dalam rumah kaca melalui rumah bagian tengah yang terhubung. Wajahnya tampak berdebu dan ada bekas oli disekitar hidungnya.
“Kompas? Emang mau kemana?” Tanya ibu.
“Ke utara, tempat kita bisa ketemu ama pohon.”
“Pohon ya.”
“Iyaa aneh tau ada pipa besar warna coklat dengan tekstur kasar nanti diatasnya ada cabangan pipa kecil lagi terus pipa – pipa kecil itu keluarin semacam lembaran plastik hijau yang banyakk banget. Sebenarnya pohon itu benda apaan ya?”
“Pasti karena baca buku itu lagi kan. Uda deh jangan kebanyakan ngayal, benda gituan enggak ada. Mending sekarang ibu ajarin soal mesin, nih ibu baru selesai bikin pembuat makanan yang kecil jadi bisa di bawa kemana – mana enggak perlu pakai mesin yang ada ditengah desa. Hemat serbuk putih juga loh nih.” Ibu menaruh tas selempang merah besar ke lantai memperlihatkan mesin inovatifnya sekaligus dua kantung plastik serbuk putih.
Libre berjalan menuju kearah tumpukan buku lalu tidur di atasnya, sepertinya dia tidak tertarik dengan percakapan anak dan ibu itu. Dia lebih suka terbaring dan memikirkan bahwa buku – buku itu adalah tumpukkan ikan sarden yang lezat, buktinya sekarang dia sudah mulai menjilat – jilat bukunya.
“Aku mau liat pohon, laut, anjing, air terjun. Pokoknya mau keluar dari desa ini,”
“Jangan donk, emang kamu rela ninggalin ibu disini? Jadi nenek – nenek mekanik yang masih bengkelan tiap hari gitu? Bawa dongkrak kemana – mana? makin bongkok deh Rin.”
Suara dentum kaki keras mengarah ke arah mereka.
“Gak boleh, kamu tau kan kalau kamu keluar orang – orang bakal celakain kamu? Udah di rumah aja belajar jadi mekanik tuh sama ibu kamu, biar rumah kaca ini nantinya jadi bengkel. Kalau kamu perbaiki barang mereka orang – orang jadi bakalan suka sama kamu.” Ucap seorang pria dengan kumis tebalnya hanya memakai sleting dan celana pendeknya.
Rorin melipat kaki di depan tubuh kemudian memeluk kakinya dengan tangan lalu menunduk.
“Ayah khawatir sama kamu, ayah dan ibu pasti akan berikan apa saja termasuk rumah kaca ini, agar kamu bisa tetap lihat langit dan dunia. Di luar sana tidak seindah yang kamu bayangkan, apalagi dengan kondisimu seperti ini, kita masih belum tahu apa yang dihasilkan oleh langkah kakimu itu dan juga… Kelingkingmu.” Tunjuk ibu.
Libre beranjak dari tidurnya kemudian melompat kemudian mengiggit kecil kelingking kiri yang terasa keras berwarna abu – abu.
“Jangan aneh – aneh Rin, dulu saat pertama kali seluruh benda itu keluar dari langkah kakimu, penduduk desa mulai menganggap kamu bencana dan ingin mencelakakanmu. Kamu ini menciptakan sesuatu yang tidak pernah orang lihat, bagaimana kalau itu memanglah sesuatu yang tidak baik?” Ucap ayah.
Ibu membelai Rorin, ada ekspresi kasihan terukir di wajahnya.
“Suatu saat ibu pasti bisa ciptain mesin yang bisa nyembuhin kamu kok.”
“Kapan bu? 20 tahun lagi? 50 tahun lagi? Mau aku pergi keluar atau tetap bertahan di dalam rumah kaca, aku tetap akan mati. Bedanya di luar aku mati puas.”
Sinar matahari sore menyusup melalui celah kaca, cahaya kuning ini bagai memeluk hangat seisi ruangan namun gagal mencairkan suasana yang mulai mendingin.
“Iya, tapi keadaan kamu seperti ini, kondisi yang memaksa kamu tidak bisa keluar.”
“Terus? Apa hubungannya dengan kondisi bu? Dulu ibu kan sehat, Ini kan semua bukunya ibu, ibu juga mau melihat dunia kan? Kenapa enggak jadi bu, padahal ibu enggak di kondisi seperti ini?” Ucap Rorin berdiri.
“Heh kamu makin ngelunjak ya!” Ucap ayah sambil berjalan kearah Rorin.
Libre yang merasa bahwa keadaan mulai berisik memilih berjalan melewati pecahan kaca lalu tidur di luar rumah kaca. Ia tidak ingin terlibat dalam konflik keluarga.
Suhu mulai menurun, langit sudah bermandikan bintang – bintang, merasa dingin Libre kembali memasuki rumah kaca. Di sana ia melihat Rorin yang sedang tidur terlentang, memandangi bintang.
Libre datang kemudian memijat – mijat perut Rorin.
“Mau lihat pohon enggak?” Tanya Rorin ke Libre.
Rorin memang bertanya kepada Libre tetapi ia juga tidak mengharapkan perhatiannya, karena di dunia ini Libre hanya memperhatikan ikan sarden.
Rorin berdiri kemudian membawa sebuah buku jadul yang sudah terkoyak – koyak, disana ada gambar sebuah pohon.
“Kalau menurut buku ini pohon terakhir itu ada di utara, yang buat dia masih tetap hidup sampai sekarang kayaknya karena ada sesuatu yang bernama bunga, sebenarnya aku sok tau aja sih hahahaha. Rorin tertawa.
Gadis itu dengan senyum menunjuk illustrasi pohon dengan rerumputan dan bunga dibawahnya, di dalam lukisan itu tidak terlalu banyak bunga karena ingin fokus pada illustrasi pohon.
“Soalnya kalau dari gambar, di bawah pohonnya ada keluar sesuatu yang mirip pas aku nginjak tanah. Bunga, namanya bunga, jadi mungkin yang bikin pohon ini hidup adalah bunga – bunga dibawahnya.”
Libre tidak peduli, bagi dirinya mencakar kaki meja adalah hal yang lebih menyenangkan.
“Aku mau keluar. Mau kabur, tapi gimana?”
Ssrrkk.. Sssrrkkk.. Suara cakaran Libre menggema.
“Berisik Lib… Tunggu.. Ide yang bagus!” Melihat Libre yang sedang mecakar kaki meja beroda membuat bola lampu di kepalanya menyala.
Rorin berdiri kemudian memungut beberapa roda yang berserakan di berbagai sudut rumah kaca, ia lalu mengambil sebuah lempengan besi berkarat.
Ia merakit dan memasang 4 roda itu di bawah lempengan besi. Merakitnya menjadi papan beroda.
“Kalau takut ninggalin jejak di tanah, ya enggak usah sentuh tanah!”
Rorin kegirangan mencoba – coba papan beroda barunya itu, sampai akhirnya dia baru sadar akan satu hal. Bagaimana cara dia bertahan hidup?
Ia melihat kesekelilingnya dan menemukan tas yang berisi penemuan ibunya, sepertinya ibu lupa membawanya kembali.
Rorin membukanya dan menemukan sebuah microwave kecil mirip yang ditemui Libre di tengah kota, tapi ini versi mininya. Kemudian ada 2 kantung plastik berisi serbuk putih sebagai bahan bakar untuk menghasilkan makanan.
Serbuk putih ini adalah penemuan dari generasi – generasi terdahulu ibu, dan resepnya selalu menjadi rahasia dan diturunkan kepada pewarisnya. Rorin sendiri belum diberi tahu rahasianya. Tapi dia tahu cara mengoperasikan mesin microwave.
Keluarga Rorin juga adalah pelindung serbuk putih, buktinya gudang yang menyambung di arah kanan rumah adalah persedian serbuk putih 5 tahun ke depan untuk para penduduk desa.
“Untung ibu lupain ini.”
Namun Senyumannya tak berselang lama. Dia tidak bisa keluar, hanya dua cara untuk keluar adalah melalui pintu keluar rumah utama yang tersambung atau dengan memecahkan kaca.
Memecahkan kaca adalah hal yang mustahil suaranya pasti akan menarik perhatian dan di jam segini ayahnya Rorin juga belum tidur.
“Aduh andai pintu rumah kaca bisa dibuka, kuncinya sama ibu lagi.”
Libre mendengar sesuatu telinga runcingnya berdiri, ia berjalan keluar dari pecahan kaca dan berlari kecil karena tepat di depannya ada ikan sarden, Libre menyantapnya sampai akhirnya dia menemukan sebuah jawaban untuk permasalahan Rorin. Walau begitu Libre tetap lebih peduli dengan makanannya.
“Gimana ya…”
Setengah jam berlalu, terdengar suara gemercik besi yang menghantam satu sama lain, Libre membawakan sebuah kunci.
“Loh kamu dapat darimana? Ini kan kunci rumah kaca!” Rorin yang bersemangat langsung mencoba membukanya. Pintu rumah kaca yang tertutup selama 15 tahun akhirnya terbuka.
Rorin segera berlutut di atas papan rodanya, lalu dengan gesit mendorong lantai agar papannya melaju. Tak lupa, ia meletakkan Libre dan barang-barang bawaannya di atas papan roda, siap untuk meluncur.
Papan rodanya melewati tanah, ajaibnya tidak ada satupun bunga yang keluar. Selama 14 tahun, akhirnya dia keluar. Dengan ragu tangannya menyentuh tanah. Tidak terjadi apa – apa, sepertinya hanya berlaku pada kakinya.
Rorin menatap lama ke arah rumah, gudang, dan yang terakhir rumah kacanya. Seluruh tempat yang menyimpan kenangan, ada perasaan enggan untuk pergi, namun ia telah memantapkan tekadnya. Dengan nafas yang berat, ia kubur pemandangan ini dalam – dalam di hatinya, berharap untuk tidak pernah lupa.
Rorin melihat kompasnya memastikan arah tujuannya pas ke arah utara, kemudian memperbaiki topi safarinya.
Ia siap melaju ke dunia luar.

Illustrated by : @hewittdesteen
Siang itu Rorin dan Libre berteduh di bawah pondok reyot, Rorin menabur serbuk ke arah pipa di atas microwave mini, kemudian memencet kode angka tertentu, cahaya birunya tiba – tiba bersinar menyilaukan mata kemudian mengeluarkan air yang deras. Buru – buru Rorin menampungnya ke dalam botol plastik.
Karena terlalu bersemangat, semalaman Rorin terus mendorong papan rodanya menuju utara dan akhirnya menemukan pondok reyot lalu tertidur dengan lelap sampai siang hari.
“Lihat Lib, desa pertama kita. Tuh belakangnya ada aliran air, tapi kecil sih kayaknya bukan lautan.” Ucap Rorin sambil meneguk air minum.
Libre mengeong melihat ke bawah, mereka sedang berada di bukit, sehingga mereka dapat melihat keseluruhan desa yang pada bagian belakangnya terdapat aliran air yang panjang mirip seperti ular, selain aliran air itu terlihat desanya mirip dengan desa tempat tinggal Rorin dan Libre.
“Kata ibu dan ayah dunia luar kejam, tapi rasanya enggak, mungkin aja mereka beda dengan orang yang ada di desa kita.”
Setelah beristirahat Rorin dan Libre melanjutkan perjalanan menuju desa itu, dengan berhati – hati mereka turun dari bukit secara perlahan karena takut papan roda tersangkut atau bahkan sampai rusak.
Perjalanan dengan rute yang tidak bersahabat akhirnya membuahkan hasil, mereka bertemu dengan penduduk setempat. Untungnya penduduk itu menerima Rorin dan memberikan rute yang pas untuk papan rodanya. Akhirnya dengan mudah mereka sampai di desa.
Desa ini tak jauh berbeda dari desa Rorin, hanya saja lebih kecil dan lebih kumuh.
Rorin yang menaiki papan roda menarik perhatian para penduduk, orang – orang mulai berkumpul.
“Kamu siapa?”
“Kamu darimana?”
“Kakimu kenapa?”
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, tetapi Rorin hanya diam tersenyum, dia belum pernah mendapatkan perhatian seperti ini.
“Halo salam kenal. Aku Rorin dan ini Libre, kami berasal dari desa sebelah. Aku kesusahan berdiri dan kami sedang mencari jalan menuju utara”
“Wah desa sebelah? Yang makanan mereka memakai serbuk putih itu?”
“Iya benar.” Ucap Rorin.
“Kalau begitu beristirahat dulu di rumah kepala desa.”
Rorin didorong oleh anak – anak kecil, dan diantar ramai – ramai menuju ke rumah kepala desa, semuanya tersenyum kepadanya.
“Tuh kan, ibu dan ayah bohong. Orang – orang di luar ramah kok.” Bisik Rorin kepada Libre.
Libre tidak peduli, matanya berbinar – binar melihat ikan – ikan yang sedang dijemur. Ia ingin mencurinya namun badannya di tahan oleh Rorin.
Begitu tiba di rumah kepala desa yang kecil dengan alas yang menggunakan alas terpal tenda plastik. Rorin tetap bertahan di atas papan rodanya. Ia sudah memberitahu bahwa dia sedang kesusahan berjalan, dalam hatinya ia tak sampai hati mengungkapkan bahwa dia berbohong setelah orang – orang desa baik kepadanya.
Selebihnya ia juga masih ragu untuk mengatakan bahwa jejak kakinya bisa menumbuhkan bunga di tanah.
Hanya 2 orang saja yang memasuki rumah kepala desa, sisa warga menunggu di depan sambil bergosip.
“Loh kalian juga memiliki mesin microwave ini?” Di tengah rumah ada sebuah microwave besar dengan lubang diatasnya, mirip seperti yang ada di desa Rorin.
“Wah kamu tau alat ini juga? Berarti kamu berasal dari desa tetangga kan?” Ucap seorang kepala desa yang botak dengan janggut putih panjangnya, ia tampak berwibawa.
“Benar.”
“Sedikit cerita.. Dulunya desa kami diberikan mesin ini termasuk bahan bakunya, sampai sesuatu terjadi. Kalau kamu bertemu lagi dengan kepala desa di sana, bilang kami ingin berdamai lagi.”
Wajah Rorin kebingungan.
“Ah.. Maaf tapi aku sedang kabur dari rumah, jadi aku belum ada niatan kembali.”
“Oh begitu ya…”
Ada jeda yang lumayan panjang sebelum kepala desa melanjutkan percakapannya.
“Kalau begitu minta Ela untuk menemaninya keliling desa.” Ucap kepala desa mempersilahkan Rorin untuk pergi.
Rorin mendorong papan rodanya keluar.
“Culik. Kemudian minta imbalan sama desa tetangga sialan itu, mentang – mentang punya teknologi hebat seperti itu langsung sombong minta ampun tidak mau berbagi teknologi.” Bisik kepala desa kepada orang disebelahnya..
“Maaf pak, kita dulu memang nyuri tapi enggak tau kalau butuh bahan baku serbuk putih itu.”
“Udah lupain, intinya kita tidak bisa hidup hanya memakan ikan. Pokoknya ambil serbuk putih gadis itu, terus culik.”
“Siap.”
“Heh kamu kemana aja Lib? Ikan siapa yang kamu curi?”
Libre menemukan Rorin yang dikerubungi oleh beberapa gadis sebaya-nya. Mereka terus menanyakan cerita tentang desanya.
“Wah lucu banget kucingnya, di desa ini agak jarang ada kucing.” Ucap salah satu gadis.
Kalau desa ini dipenuhi kucing seperti di desa Rorin, mungkin seluruh ikan di desa ini pasti akan habis. Omong – omong soal ikan, Rorin kembali mengingat microwave di rumah kepala desa, dia seakan melupakan sesuatu.
“Oh iya Rin, katanya di desa kamu ada pembawa masalah gitu ya? Katanya dia bisa mengeluarkan banyak sekali plastik hijau sama pipa hijau yang diatasnya ada helai – helai plastik mengelilingi bulatan dari jejak kakinya. Kamu tau itu apaan?”
“Eh kamu tau darimana Ela?” Tanya Rorin yang kaget bahwa kisahnya sampai ke desa ini.
“Papaku suka berpetualang jadi kalau pulang selalu ada cerita – cerita. Eh tapi uniknya si gadis tinggal di rumah kaca ya? Itu Beneran? Soalnya aku kadang enggak percaya sama papa.”
“Ohh itu beneran kok dia tinggal di rumah kaca, tapi kayaknya bukan pembawa masalah.” Ucap Rorin seakan membela diri.
“Tapi yang keluar dari dirinya aneh loh, di desa kamu sendiri juga belum tau kan itu apaan?”
Rorin sebenarnya tidak terlalu ingin membicarakan topik ini, dia ingin mengalihkan pembicaraan tapi tidak ada topik lain yang terlintas di benaknya.
“Itu.. Kalian di sini juga memakai toilet portable kan?”
“Toilet portable? Oh maksud kamu kotak tertutup tempat kita pipis ya, ada kok. Kalau ikutin jalan ini pasti ketemu tapi ukurannya kecil. Kamu mau dianterin sekalian dibantuin enggak?”
“Enggak gak usah, aku uda terbiasa sendiri kok, lagian malu. Kalian jagain kucingku dulu ya.” Ucap Rorin disusul tawaan.
Rorin mendorong papan rodanya mengikuti arahan Ela si gadis yang menjadi pemandu di desa meninggalkan Libre dengannya. Rorin melihat ke arah bawah melihat kompasnya, dia sedang mengarah ke utara.
“Berarti kalau aku menghadap ke arah jalan curam dan berjalan terus, itu tandanya aku ke arah utara ya.”
Mungkin lebih baik dia bermalam di desa ini, kemudian melanjutkan perjalanannya di esok hari. Toh orang – orangnya juga baik.
Di jalanan tanah tandus dari kejauhan Rorin melihat sebuah toilet portable, bentuknya kecil kumuh, di tutupi oleh seng – seng berkarat, kalau di desa Rorin setiap rumah memilikinya dan terletak di halaman belakang rumah, para penduduk pasti akan memilih besi atau seng lebih bersih karena ini termasuk menjaga kehigenisan.
Sepertinya di desa ini berbeda, yasudah la pikir Rorin daripada tidak ada sama sekali.
Pelan – pelan Rorin berdiri di atas papan rodanya menjaga keseimbangan kemudian melompat ke dalam toilet portable yang memiliki lantai kotor. Hal ini dilakukan agar Rorin tidak menimbulkan jejak bunga.
Setelah Rorin menyelesaikan bisnisnya, ia baru ingat.
“Benar juga, kan ibu pernah bilang kalau mesin microwave dan serbuk putih itu adalah warisan desa. Jadi tidak sembarang diberikan, apa benar diberikan ke desa ini?”
Saat Rorin sedang berada dalam pikirannya, dia membuka pintu toilet saat hendak mencoba menaiki papan rodanya….
“Rorin.”
Rorin yang kaget karena tiba – tiba ada suara, gagal menjaga keseimbangan di atas papan roda kemudian terjatuh, kakinya menyentuh tanah tandus. Seketika bunga – bunga mulai muncul dari tanah.
Ela yang datang dengan memeluk Libre memastikan apakah Rorin menemukan toilet-nya berakhir memasang muka kaget tidak hanya karena Rorin berdiri tetapi saat terjatuh di atas tanah tempat kakinya mendarat sesuatu yang aneh muncul.
“Hah…. Itu.. Itu kan…” Tanpa sempat menyelesaikan kata – katanya gadis itu menjatuhkan Libre kemudian berlari ketakutan.
Rorin langsung bergegas menaiki papan roda, memperbaiki posisi tas selempang merahnya, mengangkut Libre dan memastikan kembali apakah kompasnya menunjuk ke arah utara. Setelah semuanya sudah siap, Rorin langsung mendorong papan rodanya dengan tergesa – gesa.
Bukan hanya karena ketahuan Ela, tetapi dibelakangnya Rorin melihat sekumpulan penduduk berteriak sambil membawa pisau, tombak dan senjata lainnya datang kearahnya.
Oh tidak mereka melihat kakiku memunculkan bunga, mereka akan menangkapku. Pikir Rorin
Sore hari telah tiba, tetapi keberuntungan telah pergi, karena jalanan mulai terasa curam dengan banyak rintangan seperti batu besar, membuat papan roda Rorin sulit melaju, akhirnya papan roda Rorin mengenai beberapa batu krikil sehingga keseimbangannya menjadi rusak.
Rorin terjatuh dan terpental.
“Tidak.. Tidak.. Apa yang di bilang ibu benar, dunia luar menakutkan.”
“Menakutkan.” Gumam Rorin sekali lagi.
Seluruh barang bawaan Rorin terjatuh, ia dengan tergesa – gesa mengumpulkan barangnya kembali ke tas.
Saat Rorin mau memasukkan sebuah lempengan besi, dia tersadar lempengan besi ini memiliki tulisan di atasnya. Rorin sudah tidak ada hasrat membaca atau apapun dia hanya ingin cepat kabur, tapi dia melihat sepintas sebuah kata yang membuatnya berhenti kemudian memutuskan untuk membacanya. Kata itu adalah “Dari Ibu”
Dari ibu,
Ibu tahu kamu pasti akan kabur hari ini, jadi setelah selesai adu mulut, diam – diam ibu membantumu dengan menaruh kunci disebelah sarden di luar rumah kaca agar Libre dapat mengambilnya, Ibu takut kunci itu tidak akan ketemu kalau ibu asal taruh di dalam rumah kaca. Kemudian ibu menyelipkan surat besi ini di tas selempang, kebetulan tas ini sudah berisi persediaan makanan selama 2 tahun dan juga microwave mini inovasi ibu.
Dulu ibu juga suka membaca buku dan memiliki impian melihat dunia, tetapi ibu dilarang oleh kakekmu dan menurutinya untuk menjadi mekanik di desa. Dan aku tidak mau hal itu terjadi pada dirimu karena hal tersebut sangat menyakitkan. Kenapa ibu bisa tau? Karena ibu masih merasa menyesal sampai saat ini.
Ibu harap setelah perjalananmu selesai kamu akan kembali pulang, atau bila di tengah perjalanan kamu tidak kuat, rumah kaca pasti selalu akan menyambutmu.
Rorin mendekap surat itu erat – erat di dadanya, lalu menangis.
“Aku takut… Atau aku pulang saja? Mungkin dengan berlari mereka pasti akan mengikuti jejak bunga yang kutinggalkan, tapi setidaknya aku bisa sampai rumah dengan cepat.” Ucap Rorin sambil mengusap ingusnya.
Terdengar seperti gemuruh yang tak pernah berhenti, deras, dalam, dan berirama. Rorin baru saja sadar, dari tadi dia panik sampai lupa dengan hal di sekitarnya, saat dia menghadap ke belakang… Sebuah air terjun menyapanya.
Rorin melihat pemandangan itu dengan terkesima melupakan apapun yang terjadi, perasaan sedihnya, ketakutan, panik, semuanya. Dia sedang melihat air terjun yang menjadi salah satu impiannya.
Cahaya sore yang menyentuh air terjun membuat suasananya terasa makin magis dan indah sulit dilukiskan dengan kata-kata. Air terjun ini sebenarnya lanjutan sungai di atasnya kemudian terus mengalir kebawah, lalu bergabung dengan sungai yang mengelilingi desa.
Terdengar suara penduduk yang semakin mendekat membuat Rorin tersadar kemudian menaiki papan rodanya lagi, dan bergerak menuju ke arah utara. Rorin menerobos jalanan curam yang dihadang batu – batuan besar.
“Aduh!”
Rorin kembali terjatuh, kali ini seluruh isian tasnya jatuh berserakan. Kepanikan mulai merasuki Rorin kembali. Ia mencoba untuk bangkit dan mengambil papan roda, tetapi papan rodanya sudah hancur berantakan.
Rorin langsung bangkit dan berlari, kemudian membentuk jejak bunga setiap kali ia melangkah.
Selama berlari seluruh ketakutannya hilang, dia lebih takut hidup penuh penyesalan seperti ibunya. Ia tahu bahwa dunia luar memang tidak seindah di pikirannya, tapi setelah melihat air terjun dia tahu bahwa dibalik kejelekan dunia selalu ada keindahan walau sekecil apapun itu. Dia ingin melihatnya.
Libre tidak terlihat. Rorin mengharapkan agar kucingnya itu bisa selamat dari kejaran.
Namun setiap kali melangkah dan berlari Rorin merasakan hal yang janggal.
Efek batu pada kelingkingnya menyebar. Setiap kali dia melangkah, efeknya menguat.
Sedikit jauh dari tempat Rorin terjatuh. Libre berlari dengan kencang, telinga runcingnya berdiri, dia merasa bahwa suara kumpulan manusia di belakangnya makin lama makin keras.
Sebenarnya saat Rorin terjatuh untuk kedua kalinya Libre sempat melompat dari papan roda dan melihat sebuah kantung serbuk putih terjatuh. Libre tahu bahwa serbuk putih itu dapat menciptakan ikan sarden yang lezat, jadi Libre berusaha menyelamatkan makanannya.
Sekarang Libre berlari sambil mengigit kantung plastik serbuk putih yang robek sedikit, sehingga meninggalkan jejak serbuk putih.
Libre sempat bingung kenapa manusia itu mengejarnya, mungkin mereka ingin merampas serbuk putih miliknya. Enak saja pikirnya.
Saat sudah berhasil kabur, Libre melepaskan gigitannya, kantung plastik serbuk putih itu kosong, hanya tersisa koyakan plastik.
Libre kecewa.
Libre berjalan tak tentu arah. Ia tak dapat menemukan Rorin. Ia sendiri.
Selama beberapa hari Libre berburu tikus dan juga ikan, kadang bila dia menemukan rumah penduduk, dia akan mencuri ikan asin mereka.
Sampai akhirnya dia menemukan papan roda Rorin yang sudah hancur dekat air terjun, Libre melihat ke sekelilingnya. Dia melihat barang – barang berserakan, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatiannya, Ia mengigitnya, kemudian membawanya dalam perjalanan.
Libre kemudian melihat sesuatu yang tidak pernah ia temui, plastik hijau halus dengan pipa hijau yang di atasnya ada sebuah helaian plastik mengelilingi sebuah bulatan. Libre merasa pernah melihatnya, kalau tidak salah ini disebut rumput dan bunga, tapi bodo amat Libre lebih memilih bermain dengan benda yang tak pernah ia temui itu sebentar.
Seluruh benda aneh ini tumbuh memanjang layaknya sebuah jejak untuk diikuti.
Libre yang penasaran mengikuti jejak ini.
Selama berhari – hari mengikuti jejak bunga, Libre berhenti karena pola jejaknya agak aneh biasa jejak bunganya itu memanjang berderet, tetapi kali ini bunganya tersebar di mana – mana seperti tak beraturan.
“Gukk.. Gukk..”
Kumpulan Anjing.
Libre kaget bukan main, dia mengigit barang bawaannya dengan erat kemudian berlari – lari dengan lincah. Ia dikejar anjing.
Ia tak pernah melihat hewan ini, tapi entah kenapa ada tanda bahaya di kepalanya. Libre terus berlari sampai akhirnya menemukan jejak bunga kembali.
Setelah lepas dari kejaran anjing, beberapa hari kemudian saat Libre mengecek kumpulan serangga dekat jejak bunga. Ia melihat taman bunga yang besar di antara tanah tandus.
Ia berjalan menyisiri taman bunga.
Kepalanya menoleh ke kiri, Libre melihat pemandangan yang penuh dengan warna biru dari tempatnya.
Laut.
Tepat dibawah tebing Libre berada, terdapat tanah putih yang luas, Libre mengeong kebingungan. Tetapi entah mengapa saat melihat tanah putih itu dia seperti ingin buang air besar.
Libre bermain di taman bunga, kemudian menemukan jejak bunga kembali, dia kembali mengikutinya.
Cahaya pagi datang menyinari, kemarin malam Libre sempat tersesat karena mencari sumber mata air, untungnya dia menemukan jejak bunga kembali.
Kali ini jejak bunga membawa Libre menuju taman yang sangat amat luas, besar sekali. Di tengah taman bunga itu ada sebuah benda yang mencuri perhatiannya.
Pipa besar berwarna coklat dengan tekstur kasar, di atasnya ada cabangan pipa - pipa kecil lagi, pipa – pipa kecil itu mengeluarkan semacam lembaran plastik hijau yang banyak sekali.
Libre pernah melihatnya di buku. Rorin juga pernah menyebutnya.
Pohon.
Di bawah pohon itu ada batu.
Libre berjalan menuju batu itu kemudian tidur di pangkuannya. Batu itu mirip seorang gadis yang ia tau, rambutnya tak teratur di atasnya ada topi safari berlubang.
Tapi batu ini sedikit kurus, ah sudahlah yang penting dia tersenyum bahagia pikir Libre.
Libre melepas benda yang digigitnya.
Sebuah kompas berkarat yang menunjuk arah utara.
메타데이터
- post_id
- 3e4142ec90a0
- slug
- kucing-rumah-kaca-3e4142ec90a0
- url
- https://medium.com/@DiaryCemen/kucing-rumah-kaca-3e4142ec90a0
- canonical_url
- https://medium.com/@DiaryCemen/kucing-rumah-kaca-3e4142ec90a0
- author_url
- https://medium.com/@DiaryCemen
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-08-10 16:49:34