Belajar Menerima Pujian
Belajar Menerima Pujian

Selama masa sekolah, khususnya saat saya masih duduk di bangku SD, SMP, dan SMA, saya beberapa kali mendapatkan pujian tentang karya seni yang saya buat, seperti gambar, lukisan, atau kerajinan plastisin. Biasanya teman-teman saya mengatakan, “Bagus banget,” atau “Keren banget gambarnya.” Seharusnya itu menjadi hal yang menyenangkan. Namun, saya justru sering merasa bingung harus merespons seperti apa.
Kebingungan itu muncul karena saya sendiri sering merasa belum puas dengan hasil karya saya. Terkadang setelah saya selesai menggambar, yang pertama kali saya lihat adalah bagian yang kurang rapi, proporsi yang meleset, atau detail yang menurut saya masih bisa diperbaiki. Karena itu, ketika ada yang memuji, terkadang respons saya adalah, “Nggak ah, nggak bagus.”
Jawaban itu sebenarnya jujur. Saya memang merasa karya tersebut belum sesuai dengan standar pribadi saya. Namun setelah beberapa kali melakukannya, saya mulai menyadari sesuatu. Respons seperti itu bisa saja terdengar seperti saya menolak apresiasi orang lain. Bahkan saya sempat khawatir terlihat seperti orang yang merendah agar dipuji lagi, khususnya saat seorang teman saya berkata, “Haus ya?”. Padahal bukan itu maksud saya.
Di kesempatan lain, saya mencoba merespons lebih singkat. Saya hanya mengatakan, “Makasih.” Saya pikir itu sudah cukup netral. Tetapi lagi-lagi saya merasa tidak nyaman. Dalam pikiran saya muncul kekhawatiran lain: apakah jawaban yang terlalu singkat justru terdengar seperti saya mengiyakan bahwa karya saya memang sudah sangat bagus? Saya tidak ingin terkesan sombong atau merasa paling bisa.
Dari situ saya sadar bahwa masalahnya bukan pada pujiannya, melainkan pada cara saya memaknai dan meresponsnya. Saya kesulitan menemukan posisi yang seimbang, yaitu tidak berlebihan dalam merendahkan diri, tetapi juga tidak terlihat terlalu percaya diri.
Akhirnya, suatu hari saya membicarakan hal ini dengan kakak saya. Saya mengatakan bahwa setiap dipuji, saya selalu merasa canggung dan overthinking. Kakak saya mengatakan bahwa menerima pujian bukan berarti menjadi sombong. Yang penting adalah bagaimana cara kita menyampaikannya.
Ia menyarankan agar saya membawanya dengan santai saja, berikan kesan asik dan juga ekspresif dengan menambahkan kata-kata Interjeksi (kata seru) seperti “Wah!” dan “Aww!”. Ia juga mengatakan bahwa kita boleh menyetujui pujian teman dengan menyampaikan usaha kita agar pujiannya tidak terkesan diterima mentah mentah, misalnya dengan mengatakan, “Wah masa iya? Hehe, aku pun niat banget ngerjainnya,”. Kalau saya sedang lelah, saya cukup menjawab “Makasih” dengan ekspresi yang ramah dan nada yang ringan. Dari situ saya baru benar-benar menyadari bahwa ekspresi wajah, nada bicara, dan bahasa tubuh ternyata sangat berpengaruh.
Dulu, ketika saya merasa gambar saya belum bagus, saya tetap mengatakan “Makasih.”, tetapi dengan senyum ragu dan nada yang datar. Mungkin itu yang membuat suasananya terasa canggung. Sekarang saya mencoba lebih sadar terhadap cara saya merespons. Saya tersenyum dengan lebih tulus, menjaga kontak mata, dan membawanya dengan suasana yang lebih playful. Jika sedang lelah atau malu karena karya saya yang jauh di bawah ekspektasi pribadi, saya tetap berusaha menunjukkan bahwa saya menghargai pendapat mereka.
Perubahan kecil itu ternyata berdampak besar. Saya tidak lagi merasa secanggung dulu setiap kali menerima pujian. Saya belajar bahwa rendah hati bukan berarti menyangkal usaha sendiri. Saya tetap tahu bahwa karya saya belum sempurna dan masih banyak ruang untuk berkembang, tetapi saya juga tidak perlu menolak apresiasi yang diberikan dengan tulus.
Pengalaman sederhana ini membuat saya lebih nyaman dengan diri saya sendiri. Saya belajar bahwa menerima pujian dengan sikap yang wajar adalah bagian dari proses bertumbuh. Rendah hati, bagi saya, adalah tentang tetap merendah tanpa harus mengecilkan diri.
Savina Aprilia NIM 17425080 Kelompok 30
메타데이터
- post_id
- 3e4843ce93bc
- slug
- belajar-menerima-pujian-3e4843ce93bc
- url
- https://medium.com/@savinaaprilia65/belajar-menerima-pujian-3e4843ce93bc
- canonical_url
- https://medium.com/@savinaaprilia65/belajar-menerima-pujian-3e4843ce93bc
- author_url
- https://medium.com/@savinaaprilia65
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-13 06:23:13