← Back to list

Kota dan Matahari

Siang ini panas sekali rasanya — untuk aku yang lebih menyukai beraktivitas di bawah lampu jalan dibandingkan terik matahari. Akan tetapi…

muhamad kahar · 2026-05-22 19:01 · 0 claps · 3.0 min read
#cities #kapitalisme #class-consciousness
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🧘 · Spirituality

Kota dan Matahari

Siang ini panas sekali rasanya — untuk aku yang lebih menyukai beraktivitas di bawah lampu jalan dibandingkan terik matahari. Akan tetapi biarlah. sesekali merasakan seperti ini tak apa. Aku sedang di tepi jalan untuk menunggu bis yang akan mengantar ke tempat tujuanku. Aku melihat kota bekerja seperti biasa, tidak pernah diam dan tidak pernah benar-benar selesai dengan dirinya sendiri, seperti tren pada kehidupan remaja hari ini.

Di hadapanku terdapat pembangunan jalan yang menyebabkan kepadatan jalan. Beton-beton diangkat ke sana dan kemari. Truk proyek datang dan pergi membawa muatan yang entah akan berubah menjadi apa dalam beberapa bulan ke depan. Kota ini tak pernah lepas dari pembangunan yang menelan pepohonan satu per satu seperti raksasa yang kelaparan.

Pepohonan sebagai sumber oksigen untuk semua orang kini tak lagi menarik dan hanya menjadi kenangan yang tersimpan rapih dalam ingatan orang-orang. Pohon itu akan digantikan oleh beton dengan papan proyek berisi gambar dan janji “kemajuan” yang terlalu sempurna.

Aku menatap papan tersebut cukup lama dan merasa ragu

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan di kepalaku

Bagaimana nasib manusia ketika pohon sebagai kebutuhan dasar mereka direnggut?

Apakah memang manusia modern sudah tidak membutuhkan oksigen?

Aku mencoba mencari jawabannya. Pertanyaan itu terus mengganggu kepalaku.

Apakah karena persoalan ini merupakan persoalan besar umat manusia ke depannya?

Tetapi untuk persoalan ini, semakin aku berusaha menjawabnya, semakin yakin aku tidak bisa mengubah apa pun.

Aku bukanlah siapa-siapa, aku bukan orang nomor satu di negara maupun kota ini. Bahkan mungkin saja namaku tak pernah tercatat dalam daftar nama orang-orang yang boleh menentukan ke mana nasib kota ini harus dibawa.

Saat itulah aku hanya teringat pada Mark Fisher yang mengatakan bahwa lebih mudah membayangkan akhir dunia daripada akhir kapitalisme. Aku rasa ia benar. Sebab ketika aku ragu sekalipun pada pembangunan kota ini, aku tetap kesulitan untuk membayangkan bagaimana kota ini berhenti membangun dirinya sendiri. Gedung, kata mereka harus bertambah tinggi, jalan harus bertambah panjangnya, kendaraan harus bertambah jumlahnya, dan manusia dipaksa harus terus bergerak. Ini terasa seperti semua ini adalah hukum alam yang turun dari langit yang selalu kita amini.

Ah, aku merasa persoalan itu akan aku pikirkan nanti.

Toh kota ini akan tetap membangun dirinya sendiri.

Perhatianku kemudian teralihkan kepada jalanan.

Kerumunan pengendara berdesakan memenuhi jalan seperti air keran yang mengalir di bak yang sudah terisi penuh. Bunyi klakson bersahut-sahutan. Suaranya bertabrakan, pecah dan merangkai menjadi nada yang noise. Suara ini, jika ada produser nekat yang membawanya ke label rekaman akan tercipta satu lagu populer yang siap dijual sebagai lagu tentang kehidupan kota.

Aku memperhatikan mereka dari trotoar jalan yang penuh debu proyek. Debu ini beterbangan pelan dan menempel di baju, sepatu, dan wajahku yang sepertinya debu ini ingin ikut ke tempat tujuanku.

Lagi-lagi pertanyaan muncul dikepalaku secara diam-diam.

Matahari di atas kepala mereka, kenapa mereka begitu senang beraktivitas di siang hari di metropolitan ini?

Apakah mereka benar-benar senang beraktivitas di siang hari seperti ini?

Ataukah mereka hanya termakan janji yang telah dibuat kota atas nama mereka?

Entahlah.

Aku hanya teringat pada kalimat tua milik Karl Marx yang pernah kubaca entah di mana, mungkin dalam proyek besarnya bernama Das kapital itu? Katanya kapital sebagai kerja yang telah mati yang, seperti vampir, hidup dengan menghisap kerja yang hidup. Kalimat tersebut sebelumnya terasa aneh. Namun siang ini, di tengah kendaraan yang saling berhimpitan, kalimat tersebut sedikitnya mulai aku rasa tidak terlalu aneh. Aku melihat ribuan orang bergerak, berpindah dari satu tempat menuju tempat lain dengan tujuan yang sama, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menunggu tenaga mereka untuk tetap hidup hingga esok hari.

Ingin sekali rasanya pertanyaan ini ku tanyakan secara langsung kepada mereka. Tetapi aku membayangkan tatapan heran kepadaku atas pertanyaan yang kusampaikan kepada mereka. Dan, setidaknya untuk hari ini aku belum cukup berani menjadi orang aneh di sini.

Tapi-tapi, sebentar.

Sepertinya aku melewatkan satu hal.

Untuk mereka yang memiliki atap dikendaraannya bukankah matahari tidak menjadi persoalan?

Tapi aku rasa persoalan matahari ini hanyalah latar, seperti figuran yang berdiri jauh di belakang panggung.

Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang memainkan perannya.

Aku mengingat kembali pertanyaanku sebelumnya, perihal mereka yang senang beraktivitas di tengah matahari yang menyorot langsung di atas kepala mereka. Aku rasa ini bukanlah soal mengejar matahari, tetapi perihal besar yang tak menampakkan wujudnya. Sesuatu yang berjalan begitu cepat daripada langkah mereka, lebih cepat dari rasa lapar mereka, lebih cepat dari rasa lelah mereka, dan bahkan lebih cepat dari rasa kantuk sekalipun.

Ya begitulah pergerakan kota dengan ritmenya. Aku rasa ritme kota ini dapat melampaui konsep waktu yang sudah kita sepakati sebelumnya.


메타데이터
post_id
3e684e050e4d
slug
kota-dan-matahari-3e684e050e4d
url
https://medium.com/@k4hh4r/kota-dan-matahari-3e684e050e4d
canonical_url
https://medium.com/@k4hh4r/kota-dan-matahari-3e684e050e4d
author_url
https://medium.com/@k4hh4r
status
ok
fetched_at
2026-07-26 01:38:54