JEDA YANG SEMOGA
Rokok, kopi dan asap adalah pemandangan yang biasa melekat padaku selain rambut yang sering terurai panjang selama 6 tahun terakhir. Aku…
JEDA YANG SEMOGA
Rokok, kopi dan asap adalah pemandangan yang biasa melekat padaku selain rambut yang sering terurai panjang selama 6 tahun terakhir. Aku masih ingat betul perjumpaan dan perkenalan rokok saat aku masih dibangku sekolah menengah kejuruan. Sekolah Menengah Kejuruan tempatku minim perempuan, satu angkatanku mungkin tidak sampai seperempatnya. Satu kelas berisi semua laki-laki terkecuali jurusan elektronika, listrik, komputer dan teknik audio video, untuk jurusan teknik sepeda motor dan teknik kendaraan ringan semua hampir didominasi oleh laki-laki. Aku merupakan orang yang beruntung karena pada saat itu masuk sekolah dengan jadwal yang berbeda dari sekolah lain, sekolah lain didaerahku umumnya masuk pagi hari dan pulang siang atau sore hari. Sedangkan aku masuk sekolah pada siang hari dan pulang pada sore hari, ini alasan kuatku untuk bisa bangun siang tentunya. Kalau ada yang bilang sekolah menengah kejuruan adalah masa hingar-bingar, bewarna dan penuh tawa, itu bisa dipastikan benar. Sekolahku yang letaknya dipinggiran kota dan dekat dengan salah satu perguruan tinggi yang cukup terkenal tingkat privinsi, Universitas Lampung. Teman-teman sering menjadikan kampus ini sebagai titik pertemuan, umumnya pertemuan itu terjadi pada saat pulang sekolah atau ingin berangkat sekolah, untuk lokasinya bisa dimana saja, tapi kami lebih sering memilih untuk didekat kolam renang atau dipojok fakultas kehutanan. Tidak ada harapan lagi untuk ingat rumah, kalau bisa lanjut sampai malam ya lanjut. Jam seperti terasa lama sekali. Kalau ditanya pulang, jangankan motor, kadang saja kita bawa pakaian yang nyaris tidak menyerupai anak sekolah. Hampir mirip dengan mahasiswa semester 1 yang bolos mata kuliah fisika karena tidak mengerjakan tugas.
Kalau sudah seperti ini, kegiatan yang paling sering dilakukan adalah merokok. Bagi sebagian teman, merokok sudah menjadi kegiatan sejak sekolah menengah pertama, bahkan beberapa ada yang sejak sekolah dasar. Kalau mendengar perbincangan mereka, seolah yang paling lama merokoklah yang paling keren. Karena kantong pas-pasan, merek rokok yang digunakan mereka pada waktu itu juga beragam;
- Esse Double Pop dengan rasa mangga, apel, anggur, stroberi, dan apel mint. Rokok ini digunakan oleh teman yang ingin merokok tapi takut ketahuan oleh orang tuanya karena bau rokok yang terlalu.
- Surya; ada yang menghisap merek surya 12, surya 16 sampai surya pro merah, untuk surya 12 paling banyak dihisap oleh temanku karena rasanya yang mantab dan awet walaupun terkena sepoi-sepoi angin. Untuk surya 16 ini katanya sama seperti surya 12 tapi versi besar dan bisa mudah ditemukan dikios eceran dekat dengan gerbang sekolah.
- Sampoerna mild adalah milik mereka yang sudah sejak awal memilih untuk merokok dan didukung oleh orang tuanya atau dirumahnya memiliki kios warung yang menjual bahan-bahan sembako 4 sehat 5 sempurna. Karena selain harganya yang mahal, rokok ini tidak ada rasanya. Apalagi bagi mereka yang sudah terbiasa terpapar Surya.
tingkatan-tingkatan ini biasanya keliahatan dari mana mereka berasal atau terkadang sedang ada rejeki yang lebih yang mereka dapatkan, judi misalanya. Semakin kesini belakangan kutau rasa-rasa pada rokok ini juga berfungsi ganda agar tidak terasa bau dibadan dan pakaian sehingga sang “bunda” tidak mencurigai saat sampai dirumah. Masa perkenalan rokokpun terjadi cukup lama sampai aku intens kembali saat kuliah.
Namun jauh setelah itu, Juni 2022 sewaktu aku tinggal di Jogja keinginan untuk berhenti merokok itu sudah muncul namun belum juga dapat terealisasi karena banyak faktor. Pilihanku waktu itu memutuskan untuk merokok tetapi yang non filter, merokok itu sudah membuat polusi jadi jangan membuat sampah lagi dibumi, pikirku waktu itu. Rokok jenis ini biasa orang-orang menyebutnya rokok kretek karena tanpa busa filter diujung atau orang lokal menyebutnya tingwe, akronim dari Linting Dewe yang merujuk pada aktifitas melinting rokok dengan gulungan tangan sendiri. Waktu itu ada beberapa jenis rokok kretek yang memang mudah untuk didapat dan harganya efisien seperti 76 madu, Teh Manis, Marlboro kretek warna biru dan beberapa pilihan rokok lokal yang sering aku dapatkan rekomendasi dari beberapa teman di Jogja. Tempat tinggalku tidak jauh dari pasar pakem, Sleman. Untuk keperluan dapur, beberapa kali aku dan teman belanja di pasar ini, intensitas bertemu penjual dipasar ini juga semakin sering, salah satunya adalah ibu penjual tembakau di pojok lorong menuju parkiran pasar pakem. Sebenarnya bukan hal baru melinting rokok, aku bisa melinting rokok sempurna berkat ajaran temanku saat kuliah semester awal-awal, Duli namanya. Harga tembakau dipasar pakem ini juga tergolong murah, tidak lebih dari 10 ribu saja sudah bisa dapat banyak, terkadang aku juga membeli seharga lima ribu rupiah lengkap dengan bonus kertas tembakaunya. Mulai dari tembakau lombok, temanggung jawa tengah, dharmawangi Jawa Barat sampai Bali pernah aku beli dan aku hisap saat aku berada di Jogja. Kebiasaan ini terus terpakai saat aku memutuskan untuk keluar dari Jogja, membeli tembakau murni dan kertas rokok merk buffallo adalah kewajibanku sebagai seorang perokok. Plastik hitam, tas anyaman isi tembakau dan kuku tangan kuning sudah menjadi pemandangan yang melekat padaku saat itu. Jika ditawarkan rokok filter, jawabanku selalu sama, “tidak usah ini saja”. Beberapa teman berbicara bahwa aku seperti orang dulu, kuno, ribet dan tidak tau selera rasa. Kalau sedang malas menjelaskan, terkadang aku diam saja.
Hari berganti hari, detik berganti jam dan minggu. Saat di Jambi, aku banyak beraktifitas dengan masyarakat dan banyak terlibat dengan pemuda yang hampir rata-rata semua perokok. Godaan untuk beralih merokok filter sangat kuat, bagaimana tidak ? semua yang terpampang didepan mata saat rokokku habis adalah rokok filter bergabus putih. Tidak ada tembakau kiloan, tidak ada rokok kretek dan jarang ditemui tembakau yang gampang dicari dikota dan kalaupun ada, pasti aku tidak cocok dengan rasanya. Sebenarnya ada untungnya ketika menghisap rokok kretek seperti ini, pertama jarang diminta oleh orang lain karena belum tentu orang lain ada waktu untuk melinting sendiri, yang kedua belum tentu orang suka akan rasanya, yang ketiga ketika merokok kretek buatan tangan sendiri pasti ada sebagian tembakau yang kadang terselip dan tersangkut dimulut. Padahal itu seni dan sensasi dari rokok kretek menurutku. Karena sulit mencari tembakau yang memiliki rasa yang pas, terkadang saya sesekali membeli rokok pabrikan berlabel sigaret kretek mesin lengkap dengan filternya. Alih-alih sebagai pengganti sementara, justru aku terbawa arus kedalam. Aku kembali terus-terusan membeli rokok kretek pabrikan dan semakin brutal dan tidak terkendali mengkonsumsinya, terkadang tidak menghiraukan merk dan yang penting berasap. Beberapa teman menyebutkan ini yang dinamakan salah satu gejala penyakit “mulut asbak” alias rokok apapun masuk ke mulut !

Tembakau Linting di Bhumi Bhuwana
2025 awal aku pernah melakukan gerakan “mogok tembakau” untuk diri sendiri. Berawal dari salah satu teman manawarkan untuk menghubungi layanan berhenti merokok yang nomor telponnya tertera hampir pada setiap bungkus rokok legal yang beredar di kios-kios pinggir jalan kabupaten. Setelah mencoba menghubungi nomernya, aku dijelaskan efek samping rokok dari A sampai Z dan terlibat percakapan intens dengan operator yang berada dalam jaringan. Layanan konsultasi ini ternyata bisa berlanjut secara daring, saat terhubung dengan operator layanan berhenti merokok, salah satu yang mereka sarankan adalah pengunduran jam merokok setiap hari. Maksudnya, ketika aku mulai merokok 1 jam setelah bangun tidur pagi hari, perlahan mulai diundur menjadi 2 jam setelah bangun pagi dihari berikutnya, lalu lanjut begitu terus sampai 1 jam sebelum tidur. Alternatif kedua adalah mengurangi rokok dengan menghitung batang, jadi diibaratkan kalau aku selama satu hari merokok sebanyak 20 batang, setiap hari harus dikurangi seminimalnya, terapi ini biasanya mengurangi setiap hari dengan 1 batang sampai pada masa dimana 1 batang per hari lalu kemudian tidak menghisap sama sekali. Dari 2 cara diatas yang disampaikan oleh operator layanan berhenti merokok, Aku sudah mencobanya semua, untuk percobaan yang pertama dalam waktu seminggu aku gagal, karena masih ada perasaan “ahh masih jam segini” atau alasan lain yang aku gunakan adalah “ah gapapa masih ada besok”. Sedangkan untuk percobaan cara kedua, aku mulai mengurangi intensitas jumlah batang rokok, aku yang waktu itu menghisap rokok dengan isi 16–20 bungkus perhari mulai pelan-pelan mengurangi intensitas merokok. Godaan muncul pada 7 hari setelah aku lakukan. Aku mulai lupa hitungan batang rokok karena tidak terasa beraktifitas seperti biasa dan kefokusan pada hal lain. Hal ini menyebabkan selalu ada pikiran “ahh masih 12 batang” atau “ahhh besok aja dikurangi 2 sekaligus” dan alasan lainnya sampai ujung-ujungnya tidak konsisten dan kembali merokok dan tidak menghubungi layanan berhenti merokok lagi.
Satu waktu ditahun lalu, terasa tidak enak dibadanku dan memang aku sempat terkena gejala batuk yang lama. Aku kembali mogok tembakau ! Tetapi, lagi-lagi kegiatan mogok itu hanya berlaku sekitar 1 minggu. Selebihnya, ya kembali seperti awal lagi. Bulan Oktober tahun lalu usaha ini semakin didukung dengan rekan kerjaku dilapangan, Jefri. Aku sadar godaan paling berat merokok adalah lingkungan dan ketidaksanggupan menahan diri, tetapi kami bersepakat untuk berhenti merokok. Meskipun awalnya hanya karena iseng, tapi rencana rencana kami bertahan 2 minggu, lagi -lagi semuanya Gagal Total ! Selain karena tergiur oleh rasa kecut dibibir, kami juga terpancing untuk kembali merokok karena banyak aktifitas yang menguras fisik dan bertemu dengan banyak orang yang aktif menghisap rokok.
Namun, upaya untuk berhenti terus muncul meski terkadang terselip rokok filter diantara telunjuk dan jari tengah atau perasaan yang muncul ingin merokok lainnya adalah ketika membuang air besar dikamar mandi dan setelah makan.
Aku jadi ingat hal melawan diri sendiri seperti ini juga pernah aku lakukan saat 2018, berangkat dari hal sederhana yaitu pantang daging menjelang hari raya dan berlanjut selama 1 tahun full aku tidak makan daging atau olahan daging sama sekali. Namun, bukan hidup katanyanya kalau tiap tahun tidak ada resolusi atau minimal sesuatu yang ingin dicapai, baik yang susah maupun yang mudah. Resolusiku tahun 2026 adalah berhenti merokok per 1 Januari, apapun yang terjadi aku harus bisa dan latihan pun terjadi. Sejak tanggal 25 Desember lalu rokok sudah kusingkirkan dari bibirku baik siang, malam maupun pagi. Lagi pula kupikir waktu 5 hari adalah waktu yang tepat untuk latihan atau kesempatan mencoba sebelum tanggal 1 Januari datang “ujian yang sebenarnya”. Aku masih ingat rokok terakhirku adalah gudang garam filter signature yang aku beli di kios pinggir jalan. Hari pertama dan kedua tidak terasa perbedaan yang terlalu, mulutku hanya terasa aneh ketika setelah makan, seperti ada yang kurang pas. Ada perasaan yang hilang, tapi aku tidak tahu apa yang hilang. Perasaan yang datang ketika malam sungguh tidak biasa, jantung berdebar, mulut terkadang komat-kamit dan air liur yang menumpuk setelah makan siang ataupun malam. Terkadang tanganku memegang pensil atau benda pendek untuk dijadikan rokok dan untuk sekadar main-mainan jari tangan saja. Ya, tentu ini tidak aku sadari. Dihari ketujuh berhenti total, saat bangun tidur dipagi hari, tenggorokanku seperti sakit dan untuk menelan rasanya tidak karuan. Meskipun merokok, aku masih mengkonsumsi kopi dipagi dan sore hari. Keanehan terjadi dihari ke 9 pasca berhenti menghisap rokok, aku terbangun dari tiduri sekitar jam 2 dini hari dan ketika aku berdeham sedikit saja tetiba keluar cairan kuning dan berlendir seperti orang yang terkena batuk berdahak dari dalam tenggorokan dan berakhir dengan pembuatan teh hangat dan mengkonsumsinya cukup banyak.
Perasaan untuk kembali merokok, bukan berarti hilang. Apalagi ketika bertemu dengan kawan yang memang merokok, tanggapan pun beragam. Beberapa pertanyaan mulai muncul, mulai dari “untuk apa Fo?”, “dari kapan Fo?” sampai “biar apasi Fo berhenti berhenti gitu! ”. Sejak tulisan ini terakhir dibuat, sudah 21 hari aku berhenti total merokok. Hari yang paling lama aku berhenti merokok tanpa pernah putus satu haripun. Bila rasa keinginan merokok itu muncul, maka yang bisa aku lakukan membeli snack atau makan-makanan ringan yang tidak biasaku makan. Bahkan, beberapa kios yang sering aku beli untuk membeli rokok mulai menanyakan “Kenapa kamu sering membeli permen ? Atau kenapa tidak beli rokok lagi ? biasanya membeli rokok eceran?” . Selama 21 hari pasca berhenti merokok, aktifitas yang banyak aku lakukan agar tidak merokok adalah mendengarkan musik, minum air putih banyak, menulis, scrolling, membaca atau bermain permainan angka dihandphone, kalau sudah jenuh biasanya jalan kesana-kesini atau membeli permen karet seharga 500 perak yang dapat aku temui dikios langganan.
메타데이터
- post_id
- 3e7bebd39e33
- slug
- jeda-yang-semoga-3e7bebd39e33
- url
- https://medium.com/@nefogok/jeda-yang-semoga-3e7bebd39e33
- canonical_url
- https://medium.com/@nefogok/jeda-yang-semoga-3e7bebd39e33
- author_url
- https://medium.com/@nefogok
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 19:39:34