Memaafkan Kispol*
Kami memanggilnya Kispol. Saya mengenalnya sebagai orang paling edgy sekantor. Kata teman lain, “kispol” adalah akronim dari “Kisruh…
Memaafkan Kispol*
Kami memanggilnya Kispol. Saya mengenalnya sebagai orang paling edgy sekantor. Kata teman lain, “kispol” adalah akronim dari “Kisruh Politik”. Pasalnya ia hadir ke dunia tepat ketika eskalasi politik Jakarta memanas menuju reformasi. Tapi, Kispol sebetulnya lahir di tempat yang jauh dari Jakarta, sih. Dan, ya, akronim ini memang ngadi-ngadi doang.
Ini adalah tahun ketiga saya indekos di tempat yang sama dengan Kispol. Kispol teman yang menyenangkan dalam banyak hal, kecuali urusan makanan. Sebelum kenal dengan Kispol, kebiasaan dan selera makan saya baik-baik saja. Aman tentram dan tak ada masalah. Baru setelah bergaul lamalah Kispol mulai rajin mengkhotbahkan racun-racun ke-edgy-an dia soal kuliner. Saya pun jadi meragukan selera makan saya sendiri. Pernah dalam satu rentang waktu, Kispol gigih sekali mendorong saya untuk mencoba makan sushi. Katanya, saya dijamin suka karena toh saya suka makan sayur mentah. Satu malam ia membeli sushi (entahlah dia mendapatkan sushi dari mana) dan karena kebetulan saya ada di dekatnya, saya disuruh nyobain. Itu adalah sushi pertama saya. Rasanya? Fail! Hanya ada kombinasi ganjil dari rasa hambar dan asin yang disertai sebuah tekstur aneh yang sama sekali tidak nyaman di mulut. Selang beberapa hari Kispol mengaku bahawa sushi yang ia bawa waktu itu memang sushi gak jelas yang dibuat oleh resto tidak kompeten. Ia mencoba meyakinkan saya untuk mencoba lagi sushi dari tempat lain. Tapi, cukup, Kispol! Trauma saya! Sometimes mungkin saya akan makan sushi lagi, tapi tidak sushi yang kamu bawa!
Setahu saya tidak ada orang lain di kantor yang tidak suka sushi selain saya. Referensi makanan saya memang yang paling minim. Saya sering, tuh, tiba-tiba menginterupsi bertanya di sela-sela obrolan orang menyoal makanan, “eh, makanan apa lagi tuh?” Kispol pun (lagi-lagi) nyeletuk, “ah! emang alien lu Fir”.
Dorongan Memilih Makanan Tertentu Timeline saya bekerja di Pamflet adalah masa di mana saya mengeksplorasi banyak makanan baru. Teman-teman saya mengajak ke Pecinan, restoran Korea, dan restoran Jepang. Di kantor, seringkali ada yang beli aneka pizza, ice cream dengan segala variannya, coklat impor, dan berbagai makanan khas daerah. Beberapa makanan saya suka, sih. Tapi, lebih banyak dari makanan-makanan itu yang terasa ganjil. Saya kerap tersesat mencari “enak” dalam makanan-makanan itu. Di kepala seringkali muncul pertanyaan: kenapa orang-orang ini mau menyiksa diri mereka dengan semua makanan tidak enak itu?
Yap. Preferensi makanan. Classic memang jawabannya. Preferensi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pilihan, kecenderungan, minat atau kesukaan. Preferensi seseorang akan sesuatu menentukan tindakan yang diambil. Dalam soal makanan, preferensi mempengaruhi seseorang memilih bakso atau mie ayam. Chinese food atau korean food. Prefer beli es teh Indonesia atau buat teh sendiri. Dan sebagainya. Dan sebagainya.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang dalam memilih makanan; seperti kepedulian terhadap Kesehatan, kemudahan/kenyamanan (convenience), biaya, keakraban (familiarity), perasaan/mood, daya tarik sensorik seperti aroma, dan agama dan kepercayaan. Di kantor saya menemukan ragam kecenderungan itu. Ada yang tidak menyentuh olahan babi sama sekali. Satu teman menghindari kandungan terigu. Ada yang beli makan lebih banyak ketika lagi stres kerja. Kalau Kispol, tidak akan memilih jenis makan yang sama dalam satu minggu.
Comfort Food Kalau perihal preferensi Kispol, saya jadi mengetahui detailnya ketika kami terlibat obrolan cukup panjang soal comfort food di sebuah kedai kopi. Comfort food dalam pengertian sederhananya adalah makanan yang bisa menimbulkan kenyamanan bagi yang mengkonsumsinya. Biasanya dikaitkan dengan perasaan positif, tradisi, dan nostalgia. Dalam Kamus Oxford, comfort food didefinisikan sebagai “food that makes you feel better, often because it contains a lot of sugar, or because it reminds you of home.” Istilah comfort food sendiri dikenal luas oleh publik setelah muncul pada artikel Washington Post pada 1977 yang ditulis oleh seorang kritikus restoran untuk menggambarkan hidangan khas Amerika Selatan. Istilah ini kemudian dikenal luas seiring industri makanan yang berkembang di dunia.
Comfort food saya berasal dari masa kecil. Masakan yang dibuat oleh seorang ibu yang dihidangkan untuk makan sehari-hari. Makanya, tempat makan yang paling saya akrabi adalah warteg atau warung nasi. Saya merasa mengakrabi banyak hal di warteg–baik dari jenis menu yang dihidangkan, racikan bumbu yang dimasak, hingga pelayanan mbak-mbak atau teteh yang jual. Semuanya membuat saya merasa di rumah. Tetapi, definisi comfort food sebetulnya tidak kaku. Pengertian detailnya selalu menyesuaikan pada masing-masing kondisi. Prasyaratnya pun tidak melulu harus makanan yang mengingatkanmu akan rumah. Menurut saya, kaitan comfort food dengan masa lalu bisa menjadi problematik untuk beberapa situasi. Untuk beberapa orang, apa yang disebut “rumah” mungkin menjadi sesuatu yang rumit yang justru menimbulkan ketidaknyamanan.
Ini senada dengan apa yang disampaikan Julie L. Locher dalam buku Comfort Food Meaning and Memories yang menghadirkan pengertian beragam tentang comfort food. Locher misalnya mendefinisikan comfort food dengan titik tekan lain. Menurutnya comfort food adalah “any food consumed by individuals, often during periods of stress, that evokes positive emotions and is associated with significant social relationships.” Locher menambahkan unsur stress psikis dan social relationship sebagai faktor pendorong seseorang menentukan comfort food mereka.
Saya sering menjumpai teman yang beralih ke makanan tertentu ketika mengalami stres. Beberapa makanan seperti matcha dan coklat memang secara spesifik mempunyai kandungan yang bisa meredakan stress, sehingga cocok untuk dikonsumsi. Tetapi, nyatanya kecenderungan memilih makan ketika stres biasanya jatuh pada makanan yang tinggi lemak dan kalori. Dengan jenis dan jumlah konsumsi yang tidak terkontrol, kebiasaan untuk membantu stres ini malah akan menimbulkan masalah di kemudian hari.
Kispol tidak mendasarkan preferensi comfort food-nya pada situasi stres atau perasaan nostalgia masa kecil. Comfort food bagi Kispol adalah semua makanan yang mudah diakses, memiliki harga yang bersahabat, dan rasa yang cocok di lidah. Bagi saya, Kispol sangat mindblowing ketika memasukan akses sebagai preferensi comfort food-nya. Sejauh saya baca-baca literatur terkait, saya tidak menemukan literatur yang mengaitkan comfort food dengan isu infrastruktur. Padahal, kita mudah sekali sepakat untuk memasukan akses sebagai syarat mendapatkan kenyamanan. Mungkin riset literatur saya yang kurang jauh atau memang Kispol selalu berhasil menjadi edgy.
Memahami Makanan Orang Lain Pada akhirnya, saya memahami bahwa pilihan makan orang-orang di sekitar saya terpaut dengan realitas dan lapis-lapis pengalaman yang mereka jalani masing-masing. Jelas bahwa saya tidak mungkin bisa menangkap lapis-lapis realitas yang orang lain alami dengan utuh.
Terang sudah bahwa preferensi saya dan Kispol di level food default sudah sangat berbeda. Dulu, setiap kali saya dan Kispol akan makan, salah satu dari kami akan manut dan ikut membeli makanan yang sama. Intensitas itu sekarang berkurang. Mungkin karena banyak pada diri kami yang juga berubah. Namun, sesuatu yang saya pahami sekarang adalah kami berusaha menjadi lebih jujur dengan preferensi kami masing-masing. Beberapa hal memang sebaiknya tidak dipaksakan bukan?
Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan dalam Buletin Cetak Dalam Piring Kita*, Pamflet Generasi, Edisi Juli 2023.
메타데이터
- post_id
- 3eb4b48cd0d9
- slug
- memaafkan-kispol-3eb4b48cd0d9
- url
- https://medium.com/@Firdaushabiburohman/memaafkan-kispol-3eb4b48cd0d9
- canonical_url
- https://medium.com/@Firdaushabiburohman/memaafkan-kispol-3eb4b48cd0d9
- author_url
- https://medium.com/@Firdaushabiburohman
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-18 00:21:44