← Back to list

TRADISI SASI LAUT DI MALUKU, STRATEGI ETNOKONSERVASI LAWAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

Oleh: Dianisa Rizkika

Dianisarizkika · 2024-12-08 09:33 · 0 claps · 5.9 min read
#ekosistem-laut #perubahan-iklim #sasi-laut #maluku #kehati
Open on Medium ↗
Wiki topics: ⚖️ · Law & Justice

TRADISI SASI LAUT DI MALUKU, STRATEGI ETNOKONSERVASI LAWAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM

Oleh:

Dianisa Rizkika

Gambar 1. Pelaksanaan Tradisi Sasi Laut (Sumber: news.republika.co.id)

Gambar 1. Pelaksanaan Tradisi Sasi Laut (Sumber: news.republika.co.id)

Lautan sebagai penyangga kehidupan, menyelimuti 70% permukaan tubuh bumi dan hampir 97% air di bumi semua ada di lautan. Lautan bagai pion penting dalam adaptasi menghadapi perubahan iklim yang kini membawa efek destruktif sekaligus ancaman bagi kehidupan di bumi. Hal ini sebagai wujud pertahanan alam terhadap dampak negatif perubahan iklim.

Laut berperan penting dalam menstabilkan sistem iklim Bumi dengan kemampuannya menyimpan dan melepaskan panas dalam jangka waktu yang lama. Terbukti, selama 50 tahun belakangan, lautan menjalankan peran penting menyerap lebih dari 90 persen kelebihan energi panas akibat efek gas rumah kaca. Imbasnya, resiko cuaca ekstrem yang dirasakan seluruh penduduk bumi dapat berkurang.

Di sisi lain, lautan juga ikut terdampak akibat perubahan iklim yang terjadi. Sebut saja terjadi peningkatan kandungan panas lautan yang menyebabkan naiknya muka air laut akibat mencairnya es di Greenland dan Antartika, pemutihan karang, hingga berdampak pada pengasaman air laut.

Lautan tidak sepenuhnya mampu menghentikan gejolak dampak perubahan iklim, yang terjadi akibat emisi gas rumah kaca yang disebabkan ulah manusia. Perubahan iklim sangat multifaktorial dan memiliki efek domino bagi manusia dan makhluk hidup lainnya. Dampak perubahan iklim dapat mengganggu ekosistem lautan yang berpengaruh pada perilaku, proses reproduksi, migrasi hingga menyebabkan kematian hewan laut. Sungguh mengerikan sekali.

Ujung-ujungnya pemanasan global menjadi permasalahan yang bersifat kompleks terkait dengan kesehatan, ekonomi, dan perilaku manusia hingga makhluk hidup lainnya. Sebab itu, diperlukan upaya adaptasi dan mitigasi sebagai upaya signifikan menghadapi dampak perubahan iklim yang terjadi terutama berkaitan dengan ketahanan pangan dan perikanan.

Potensi Laut di Pulau Maluku, Indonesia

Indonesia sebagai negara maritim memiliki potensi kekayaan laut luar biasa. Biota laut Indonesia sangat kaya dan menjadi surganya perikanan dunia nomor dua dunia setelah Cina. Terdapat 8.500 spesies ikan, 555 spesies rumput laut, dan 950 biota terumbu karang. Berbanggalah, karena Indonesia memasok 10% komoditas perikanan dunia. Bahkan, 54% sumber protein masyarakat Indonesia berasal dari lautan.

Salah satu daerah yang sedang marak didengungkan adalah Provinsi Maluku. Maluku memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup menjanjikan dan berlimpah. Maluku memiliki Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang besar dan berkontribusi hingga 37 persen terhadap sektor perikanan nasional. Setiap tahun, menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi ikan dari perairan Maluku di kisaran 3,9 juta ton dengan nilai mencapai Rp117 triliun. Jumlah yang fantastis, bukan?

Namun, praktik di lapangan sangat meresahkan. Penurunan populasi ikan dan kerusakan ekosistem laut menjadi momok bagi wilayah Maluku akibat penangkapan ikan berlebihan dan tidak berkelanjutan. Ketergantungan masyarakat Maluku terhadap hasil perikanan terus meningkat, namun berbanding terbalik dengan populasi ikan yang semakin menurun tiap tahunnya. Status Maluku yang selama ini dianggap sebagai “lumbung ikan” hampir lengser.

Mirisnya, penyebab terancamnya keragaman biota laut berasal dari aktivitas manusia yang tak bertanggung jawab. Biota laut unggulan Maluku seperti cumi-cumi, ikan karang, pelagis besar, lobster, rajungan, dan udang penaeid bahkan telah berstatus over-exploited atau telah dieksploitasi secara berlebihan. Dilansir dari artikel Kehati, ciri-ciri terjadinya penangkapan ikan berlebihan di suatu wilayah perairan adalah jumlah tangkapan ikan yang semakin sedikit, ukuran ikan dan mata jaring yang semakin kecil dan waktu melaut lebih lama.

Praktik penyalahgunaan kapal cantrang dan pukat harimau yang membuat bibit ikan ikut terambil yang marak terjadi paling disorot. Ditambah pemakaian bahan peledak dan bahan kimia berbahaya menambah resiko kerusakan ekosistem bawah laut Maluku. Kealpaan harmonisasi aturan dan pengawasan kebijakan yang mengatur hal ini memperburuk kondisi eksploitasi berlebihan dan tidak berkelanjutan.

Di bawah bayang-bayang dampak perubahan iklim dan status over-exploited di laut Maluku, harus ada tindakan tegas untuk menyelamatkan ekosistem bawah laut Maluku. Jika tidak, nelayan dan penduduk lokal jadi pihak yang paling dirugikan. Kondisi ini membuat penghasilan nelayan menurun drastis, karena mereka harus mencari ke laut dalam dengan resiko dan biaya yang tinggi.

Dampak utama terjadinya hal tersebut mempengaruhi pasokan ikan untuk pangan warga lokal yang semakin terbatas. Lalu, bagaimana cara mengatasinya? Adakah kearifan lokal yang mampu menjaga keberlanjutan sumber daya laut di Maluku? Jawabannya, tentu ada! Namanya tradisi Sasi Laut.

Tradisi Sasi laut, Jaga Alam Bawah Laut Tetap Lestari

Tradisi sasi Laut merupakan praktik adat sekaligus konservasi tradisional yang diterapkan oleh masyarakat di Maluku sejak tahun 1600-an. Sasi sendiri berasal dari kata “sanksi” yang artinya larangan. Hadirnya tradisi ini menekankan upaya untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut di Maluku.

Mengutip Artikel Kehati, konservasi di Indonesia mencakup tiga unsur (berdasarkan UU No.5 Tahun 1990 pasal 5 konservasi sumber daya alam) yaitu unsur perlindungan, unsur pengawetan, dan unsur pemanfaatan berkelanjutan. Program Sasi mendukung terwujudnya pengelolaan wilayah MPA (Marine Protected Area) yang lebih baik. MPA atau Kawasan Konservasi Laut ini merupakan ruang yang dikelola sesuai peraturan yang berlaku dan bertujuan untuk mencapai konservasi alam dalam waktu yang panjang.

Sasi memiliki nilai hukum karena memiliki norma atau aturan yang berhubungan dengan cara, kebiasaan, tata kelakuan, dan adat yang di dalamnya memuat unsur norma dan etika. Di dalam tradisi ini memuat larangan atau pembatasan terhadap aktivitas penangkapan ikan dan pengambilan sumber daya laut lainnya di suatu wilayah perairan tertentu untuk jangka waktu tertentu.

Di sisi lain, Sasi Laut juga mencerminkan nilai-nilai budaya dan spiritualitas masyarakat yang terikat dengan alam sekitarnya. Penerapan tradisi Sasi Laut turut mewujudkan keberlanjutan sumber daya laut yang dieksploitasi masyarakat hingga mampu memenuhi kebutuhan generasi penerus. Serta berdampak pada waktu pemulihan bagi ekosistem yang dieksploitasi seperti sedia kala.

Serba-Serbi Wewenang dan Struktur Kelembagaan Sasi Laut

Sama halnya dengan hukum formal, wewenang penetapan keputusan pelaksanaan sasi dipegang oleh lembaga adat yang disebut Saniri atau dengan Kerapatan Dewan Adat. Saniri juga bertugas memberi pengawasan dan mengkoordinir aturan dan keputusan.

Di Maluku, terdapat pula struktur kelembagaan sasi pada umumnya yang terdiri dari Raja Negeri (kepala desa), Kepala Kewang, Kepala Soa (kelompok masyarakat) dan terakhir masyarakat. Masing-masing memiliki peran menjaga lingkungan sekaligus mengatur perekonomian wilayah tempat sasi diberlakukan. Pengelolaan Sasi Laut oleh masyarakat sendiri bergantung pada status sosial yang menempel pada dirinya.

Perwakilan dari masing-masing soa yang memiliki tugas dan wewenang disebut Kewang. Kewang mengemban tugas penting dalam hal mengawasi dan menjaga wilayah adat yang disasi. Cara atau sistem pengangkatan jabatan Kepala Kewang dan Kepala Soa dilihat dari garis keturunan (ascribed status), sedangkan anggota kewang dipilih dari soa atau marga masing-masing di desa.

Berlakunya Sasi Laut atas hasil musyawarah mufakat antara tokoh adat, pemimpin lokal, dan anggota masyarakat. Setelah capai kesepakatan, larangan penangkapan ikan dan biota laut lainnya diumumkan kepada seluruh warga. Dalam pengumuman diberitahukan pula ancaman sanksi adat bagi pelanggar.

Penerapan Sasi Laut biasanya didasarkan pada siklus alam atau aturan adat setempat. Pelaksanaannya memperhatikan musim kawin ikan atau waktu tertentu dalam tahun adat. Beberapa hewan laut yang masuk ke dalam Sasi Laut ada lobster, lola, dan teripang. Penerapan Sasi Laut yang dikenal luas contohnya Sasi Ikan Lompa (Thryssa baelama), ikan sarden kecil yang ditangkap oleh suku Haruku. Tradisi ini melarang penangkapan ikan lompa di sekitar sungai Learisa Kayeli — di muara, pada jarak tertentu ke arah hulu dan ke arah laut.

Bayi lompa mulai muncul dari bulan April hingga Mei. Terdapat larangan menangkap atau sasi lompa ketika lompa berusia 2–3 bulan, atau saat mereka beranjak dewasa. Mereka baru boleh ditangkap setelah berusia 5–7 bulan. Kewang secara rutin memantau Sasi lompa dan kemudian memutuskan kapan harus melakukan melakukan ritual Upacara Tutup Sasi dan melakukan Buka Sasi.

Pada intinya, Sasi Laut dibuka kembali dengan tujuan agar biota laut tersebut dapat ditangkap kembali demi kesejahteraan masyarakat setempat. Dan Tutup Sasi dilakukan saat hewan laut memasuki masa reproduksi atau saat beranjak dewasa, agar tercipta keseimbangan populasi di bawah laut setelah ditangkap nelayan.

Tantangan Zaman Menggerus Tradisi Sasi Laut

Adanya arus modernisasi perlahan menggeser tradisi Sasi. Semangat generasi penerus untuk berperan dalam konservasi alam dengan menjadi Kewang berkurang. Banyak daerah di Maluku sudah tidak ada Kewang. Pendapatan nelayan pun berangsur menurun, lantaran tidak ada pengawasan dan tindak tegas pelanggar Sasi yang kebanyakan dilakukan pendatang maupun perusahaan. Banyak pihak luar tidak mengakui dan tidak terikat instrumen hukum Sasi, sehingga mereka enggan mentaati tradisi ini.

Di sinilah pentingnya partisipasi aktif semua pihak untuk menghormati tradisi Sasi dan menjaga kepatuhan akan larangan yang termuat di dalamnya. Melindungi ekosistem lautan Maluku sekaligus melestarikan warisan budaya Maluku adalah tugas bersama.

Sasi Laut membuktikan bahwa konservasi laut untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim yang efektif, berasal dari kearifan lokal yang bertahan dari generasi ke generasi.

Dengan menjunjung tinggi ikatan sosial dan budaya dalam masyarakat Maluku, Sasi Laut terus mengupayakan keseimbangan ekosistem laut yang berkelanjutan hingga di masa depan. Sumber daya yang berkelanjutan menjadi solusi unggul menghadapi perubahan iklim yang berpengaruh pada hajat hidup masyarakat adat di Maluku. Sumber daya yang berkelanjutan menjadi keuntungan bagi masyarakat setempat dalam memenuhi kebutuhan kini dan nanti.


BWKEHATI #EKOSISTEM #PERUBAHANIKLIM

REFERENSI

Asrul, Rindarjono M. G., Sarwono. 2017. Eksistensi sasi dalam pengelolaan lingkungan hidup dan peran serta masyarakat di negeri Haruku kabupaten Maluku Tengah provinsi Maluku tahun 2013. Jurnal EcoGeo. 3(1), 69–81.

https://www.climate.gov/news-features/understanding-climate/climate-change-ocean-heat-content

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2022/01/21/eksistensi-kekayaan-sumber-daya-laut-indonesia-di-tengah-pandemi

https://greennetwork.id/kabar/menjaga-tradisi-sasi-laut-untuk-dukung-perikanan-berkelanjutan-di-maluku/

https://indonesia.go.id/kategori/budaya/8260/cara-sasi-menjaga-ikan-ikan-di-maluku?lang=1

https://kehati.or.id/konservasi-perairan-perlu-dikelola-secara-efektif/

https://kehati.or.id/problem-konservasi-di-perairan-laut-indonesia/

https://oceanservice.noaa.gov/facts/oceanwater.html

Judge, Z., & Nurizka, M. (2008). Peranan Hukum Adat Sasi Laut Dalam Melindungi Kelestarian di Desa Eti Kecamatan Seram Barat Kabupaten Seram Bagian Barat. Lex Jurnalica, 6(1), 30–46.


메타데이터
post_id
3ec1378c0b17
slug
tradisi-sasi-laut-di-maluku-strategi-etnokonservasi-lawan-dampak-perubahan-iklim-3ec1378c0b17
url
https://medium.com/@dianisarizkika/tradisi-sasi-laut-di-maluku-strategi-etnokonservasi-lawan-dampak-perubahan-iklim-3ec1378c0b17
canonical_url
https://medium.com/@dianisarizkika/tradisi-sasi-laut-di-maluku-strategi-etnokonservasi-lawan-dampak-perubahan-iklim-3ec1378c0b17
author_url
https://medium.com/@dianisarizkika
status
ok
fetched_at
2026-07-21 19:05:56