Rumah Untukmu (Cerpen #1)
Cinta aku kepada kamu itu berbeda. Seperti senin dan minggu. Sendu dan rindu. Malam dan Senja. Matahari dan Bulan. Namun entah bagaimana…
Rumah Untukmu (Cerpen #1)
Cinta aku kepada kamu itu berbeda. Seperti senin dan minggu. Sendu dan rindu. Malam dan Senja. Matahari dan Bulan. Namun entah bagaimana perasaan bisa berbisik. Bagaimana bisa sebuah perasaan yang sedang di ujung kerak bumi bisa mengubah pola pikir otak aku yang sedari lama tidak pernah bergerak.
Seorang perempuan seperti aku tidak pantas mendekati tubuhmu yang berlumuran rindu dari purnama bulan yang tak henti-hentinya menginginkan pulang. Tak ada yang bisa aku lakukan selain membantumu menjelma luka yang kau terus tenggelamkan dalam luasnya biru laut. Tak henti-hentinya kau isi lautan asin menjadi lautan rana. Anda ganti igauan debur ombak menjadi kencang tak mengerti kasar. Kau ubah senja menjulang oranye menjadi hitam pekat. Lebih pekat melebihi malam kota Jakarta.
Saya terus menjadi rumah setiamu. Tak mengerti arti kata singgah. Beberapa makian yang tertanam dalam dirimu, akucoba hilangkan. Dengan seluruh hasrat dan nafsu yang saya miliki. Akucoba menjadi rumah terbaik untukmu. Aku putarkan lagu jazz yang takkan pernah terpenggal di malam hari. Aku coba jadikan suhu ruangan menjadi hangat. Sehangat ciuman matahari menuju jidat saya. Atau sehangat tarian bunga matahari terbawa angin dari utara. Aku coba menjadi rumah yang kokoh. Walau angan-angan saya telah jauh tertebang. Harapan telah diraih oleh perempuan keji lainnya. Namun, saya tetap menjadi tempat pulangmu.
Hari ini, kau pergi dengan beberapa bunga ditanganmu. Mereka memiliki harum sama seperti gula jawa. Aku intip dari jendela rumah saya yang sudah beberapa kali belum saya bayar. Di hari Sabtu, ketika petang berkumandang. Kau terus saja keluar dari rumahmu. Tanganmu tak pernah kosong. Selalu ada hal yang bisa kau genggami untuk hal yang tak pernah saya ketahui. Mungkin. Atau bisa saja akumengetahuinya.
Sama seperti hari ini. Di hari sabtu. Wajahmu dibungai oleh beberapa girang yang kau suburi. Tadi siang saya lihat kau membawa pulang ayam geprek dari warung dekat kampus. Dayuh ada di punggungmu. Kau harus menangani beratnya dayuh itu.
Gerak gerikmu tampak gelisah. Mengapa tanganmu tak henti bergerak? Mereka semua berdetak dengan kencang. Bahkan waktu saja kagum melihat tanganmu bergerak. Mengapa kau menggigit bibirmu yang telah mati suri itu? Mereka semua telah retak dari tahun lalu. Lalu kau masih saja gigit bibir itu.
Sabtu ini. Aku pergi menuju tempat dimana seluruh cahaya meredup. Jiwa tak ada yang hidup. Namun, mimpi yang bergetar bisa mulai berbicara dan bertindak. Ditemani oleh secangkir teh hangat dengan asapnya yang melayang-layang menuju tempat tak terurus. Juga harum dari bibit tanam yang dijadikan teh itu mulai membabi buta menjadi hal yang lebih indah. Bahari. Memandangi gunung-gunung yang tertata dengan sangat rapih. Bertanya-tanya tentang tuhan seperti bagaimana ia berbicara. Atau bahkan mempertanyakan aku dan kamu.
Tepat ketika malam berkumandang. Bersorak-sorai menantikan bintang-bintang yang akan menyinari hangatnya malam sabtu ini. Menyerap seluruh rintik hujan yang tersisa ketika petang menangis. Bulan terselimuti oleh puisi-puisi seorang penyair.
Aku melihat kau bergelak-gelak dengan perempuan lain yang jauh lebih cantik daripada aku. Ada banyak hal yang ia miliki namun aku tidak. Apalagi kau terlihat sangat gembira bersamanya. Sudah kubilang. Barangkali jika rumah akan digumparkan dengan bencana alam. Bukankah lebih baik kau menyatakan dengan aku sedari awal bahwa kau sedang mencari rumah baru? Sebab bencana tidak akan terprediksi. Seperti tangisan serta gerimisnya langit. Seperti refrein dalam setiap lagu klasik. Seperti serangan dan pukulan dari seorang kekasih. Seperti tertabrak mobil di tengah jalan sunyi dan sepi.
Atau….
Seperti cinta aku kepada kamu?
Cinta aku ke kamu itu layaknya peluru yang menginginkan menembakinya ke sesuatu yang keras dan susah.
Aku lihat dirimu menyuapi perempuan itu dengan beberapa serpihan roti yang kau pisahi.
Bagaimana dengan aku?
Tsk! Bukankah aku sebuah rumah yang menjadi tempat pulangmu?!
Jika sabtu ini, aku rubuh dan tak bisa di bangun kembali.
Maka singgah lah dengan perempuan itu.
Aku bisa menjelma pulang. Supaya kau tak usah khawatir.
Atau kau tak pernah khawatir terhadap aku?
메타데이터
- post_id
- 3ecded4f4feb
- slug
- rumah-untukmu-cerpen-1-3ecded4f4feb
- url
- https://medium.com/@khairan.azwar/rumah-untukmu-cerpen-1-3ecded4f4feb
- canonical_url
- https://medium.com/@khairan.azwar/rumah-untukmu-cerpen-1-3ecded4f4feb
- author_url
- https://medium.com/@khairan.azwar
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-22 14:06:51