Rembang, Kota Kecil Implementasi Bhineka Tunggal Ika
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran saat mendengar nama kota Rembang? Kartini, Lasem, atau pantai Pantura?
Rembang, Kota Kecil Implementasi Bhineka Tunggal Ika

Museum Batik Tiga Negeri Lasem, Rembang (Dokumen Pribadi)
Apa yang pertama kali terlintas di pikiran saat mendengar nama kota Rembang? Kartini, Lasem, atau pantai Pantura?
Mungkin beberapa orang memikirkan ketiga hal tersebut saat mendengar nama kota Rembang. Tapi kalian tau ga sih banyak banget hal unik di Rembang yang bisa kalian jumpai, salah satunya adalah keberagaman kebudayaan dan adat istiadat.
Rembang sendiri berada di Provinsi Jawa Tengah yang tentunya memiliki banyak kebudayaan dan adat istiadat, hingga saat ini masyarakat Rembang pun tetap mempertahankan semua kebudayaan dan adat istiadat tersebut. Selain itu, sejarah kota ini pun menjadi salah satu alasan adanya beragamnya kebudayaan karena akulturasi budaya.
Emangnya ada kebudayaan apa aja sih di Rembang?
Sedekah Laut
Bagi sebagian masyarakat pesisir mungkin tidak asing dengan upacara yang satu ini, yaitu sedekah laut. Sedekah laut merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas melimpahnya hasil tangkapan laut. Pada umumnya acara ini diselenggrakan kurang lebih selama satu minggu dengan berbagai rangkaian acara.
Selama suasana sedekah laut para pemuda desa akan memainkan gong-gongan peringin Barongan, atau topeng singa perpaduan Barongsai dan Reog setiap harinya. Hal ini bertujuan untuk membangkitkan euforia sedekah laut. Berbagai perlombaan tradisional pun di selenggarakan untuk meriahkan acara, dan perlombaan ini bisa diikuti dari anak-anak hingga orang tua.
Pada hari puncak, acara akan dibuka dengan upacara buak julen atau membuang sesajen ke tengah laut. Berbeda dengan sesajen pada umumnya, julen atau sajen ini dibuatkan tempat khusus seperti rumah-rumahan atau kapan untuk tempat kepala kambing. Upacara ini sendiri berasal dari kebudayaan kejawen yang sengaja dipertahankan karena sudah menjadi kepercayaan warga setempat.
Setelah upacara buak julen, acara dilanjut dengan panjat pinang dan pagelaran Ketoprak atau sejenis wayang orang. Selain itu, ada penampilan menari dan menyanyi dari pemuda-pemudi setempat.
Sedekah Bumi
Sedekah Bumi tak jauh beda dengan sedekah laut, hanya saja sedekah bumi dilaksanakan karena hasil tani yang melimpah. Dari segi rangkaiannya, hampir sama dengan sedekah laut yang membedakan hanyalah tidak adanya upacara buak julen. Sebagai gantinya akan ada do’a bersama di tempat berdoa yang sudah ditetapkan oleh leluhur, dilanjut dengan makan bersama dan bagi-bagi hasil sayur, jagung, dan umbi-umbian.
Yang unik dari sedekah bumi adalah makanan-makanan yang disajikan saat hari puncak. Biasanya masyarakat luar desa akan berbondong-bondong berkunjung ke desa yang tengah menyelenggarakan sedekah bumi. Untuk menyambutnya, masyarakat setempat akan menyajikan jajanan pasar dan dumbek yang merupakan makanan khusus hari sedekah bumi. Dumbek merupakan kue basah yang terbuat dari tepung kanji, santan, dan gula merah dengan bungkus berupa daun lontar yang dibuat berbentuk terompet.
Bodho Kupat dan Lomban
Sudah menjadi tradisi turun-temurun di kota Rembang untuk memeriahkan suasana lebaran di Hari Raya Idul Fitri pada hari ke delapan. Masyarakat Rembang menyebut hari kedelapan lebaran dengan sebutan Bodho Kupat atau Kupatan yang berarti Hari Raya Ketupat. Hal ini merujuk ke makan khas lebaran yaitu ketupat yang masyarakat Rembang sendiri selalu menyajikannya tepat pada hari kedelapan.
Bodho Kupat ini sendiri menjadi ajang silaturahmi dan reuni bagi masyarakat Rembang, maka dari itu banyak yang mengadakan reuni ataupun silaturahmi keluarga besar saat hari tersebut.
Di hari tersebut pun akan ada kegiatan Lomban, yaitu beramai-ramai menaiki perahu yang sudah dihias hingga ke tengah laut. Setelahnya sampai ditengah laut masyarakat melakukan makan bersama di atas kapal. Ada juga yang berenang jika air laut tengah sedang tidak dalam. Untuk kegiatan ini sebagian besar diikuti oleh masyarakat luar desa dengan menyewa perahu milik warga setempat.
Heritage Lasem, Little Chinese Town
Memiliki sejarah yang panjang dengan kehadiran etnis Tionghoa menjadikan Lasem sebagai pusat kehidupan masyarakat Tioghoa di kota Rembang. Kehadiran etnis Tionghoa ini pun memberikan pengaruh terhadap budaya Rembang sehingga terciptanya akulturasi budaya Tiongkok dan Jawa.
Lasem memiliki tiga kelenteng bersejarah yaitu Kelenteng Cu An Kiong, Gie Yong Bio, dan Po An Bio yang merupakan tempat ibadah masyarakat Tionghoa Lasem sekaligus tempat wisata. Selain itu, sebagian bangun di Lasem terutama di wilayah Pecinan merupakan bangun bercorak Tiongkok.
Akulturasi Tiongkok-Jawa mempengaruhi berbagai aspek budaya, salah satunya adalah batik. Batik Tulis Lasem terkenal karena corak dan warnanya yang identik dengan corak Tiongkok. Na Li Ni yang merupakan sang pencipta Batik Lasem, memadukan batik corak Majapahit dengan corak Tiongkok. Jika batik biasanya memiliki corak tumbuh-tumbuhan atau bunga, Batik Lasem memiliki corak khas yaitu naga, burung Phoenix, dan latoh atau rumput laut yang menjadi makanan khas masyarakat pesisir Rembang. Selain itu, batik Lasem identik dengan warna merah terang sesuai dengan warna keberuntungan dalam kepercayaan Tionghoa.
Leang Leong
Setiap tahun baru Imlek, masyarakat Tionghoa Rembang menggelar pawai yang biasa disebut Lenang Leong. Leang leong adalah sebuah tarian naga. Dalam tarian ini naga-nagaan dilakukan oleh sekelompok orang yang terdiri dari lima hingga belasan orang dengan memegang tongkat penyangga. Adapun penari terdepan bertugas mengendalikan kepala naga sesuai dengan Gerakan yang telah ditentukan.
Biasanya pawai ini berawal dari Kelenteng Selatan, yaitu Klenteng Hok Tik Bio dan berakhir di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong. Pawai ini digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Samudra Makco Thian Siang Sing Boo, atau biasanya masyarakat Rembang menyebutnya dengan Makco.
Wisata Religi Tiga Agama
Meskipun Rembang merupakan kota kecil, masyarakat tidak akan kesulitan untuk menemukan tempat ibadah. Tempat ibadah mulai dari masjid, kelenteng, gereja Kristen maupun katholik, dan budha. Namun ada satu hal unik mengenai tempat ibadah di kecamatan Lasem, yaitu tiga wisata religi berbeda agama yang bisa dijangkau dengan jarak dekat dari masing-masing tempatnya.
Yang pertama adalah wisata religi Islam Pasujudan Sunan Bonang, yang berada di Desa Bonang. Tempat ini banyak dikunjungi para peziarah yang berasal dari kota-kota di luar Rembang, mereka datang bersama keluarga maupun kerabat.
Pasujudan Sunan Bonang berada di daerah perbukitan. Peziarah yang datang dapat menikmati udara sejuk di dalam kawasan karena banyak ditumbuhi pohon rindang serta cantiknya pemandangan laut dari atas bukit.
Wisata yang kedua adalah wisata religi budha ihara Ratanavana Arama Lasem, vihara ini disebut-sebut sebagai vihara tertua dan terbesar se-Asia Tenggara. Masuk di kawasan vihara ini, akan disuguhkan ratusan anak tangga. Di sepanjang anak tangga itu, terdapat berbagai spot menarik. Mulai dari beberapa patung ikonik Buddha, candi, hingga kata pesan moral Buddha.
Spot paling ikonik dari vihara ini, adalah patung-patung Budha Siddharta Gautama yang dibuat mulai dari momen kelahirannya, sampai wafatnya.
Yang terakhir adalah wisata religi kelenteng Cu An Kiong, Gie Yong Bio, dan Po An Bio. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, ketiga kelenteng ini merupakan kelenteng besar masyarakat Tionghoa Lasem. Di hari raya Imlek atau di hari-hari tertentu, kelenteng-klenteng ini akan dibuka untuk umum dengan berbagai penampilan.
메타데이터
- post_id
- 3ee1fdba2d13
- slug
- rembang-kota-kecil-implementasi-bhineka-tunggal-ika-3ee1fdba2d13
- url
- https://medium.com/@Arunaroom/rembang-kota-kecil-implementasi-bhineka-tunggal-ika-3ee1fdba2d13
- canonical_url
- https://medium.com/@Arunaroom/rembang-kota-kecil-implementasi-bhineka-tunggal-ika-3ee1fdba2d13
- author_url
- https://medium.com/@Arunaroom
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-23 11:43:23