← Back to list

Interstellar Interregnum

(A Palimpsest of Stars)

Queensyii · 2026-06-01 11:22 · 0 claps · 1.6 min read
#relationships #semestaku #kakak #him
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships

Interstellar Interregnum

(A Palimpsest of Stars)

“Di konstelasi yang kautimpa berulang-ulang dengan harapan baru, jejak cahayanya tetap menjadi aksara paling abadi.”

“Di konstelasi yang kautimpa berulang-ulang dengan harapan baru, jejak cahayanya tetap menjadi aksara paling abadi.”

Aku hanyalah anabatik sementara dalam iklim dukacitamu… a transient weather between your storms and her horizon.

Kau singgah padaku seperti musafir yang kehausan meneguk fatamorgana, lalu menuduh gurun ketika dahaganya tak benar-benar reda. Sedang dia, perempuan itu, telah berurat-akar dalam palimpsest jiwamu; namanya tertera di bawah setiap halaman yang berusaha kau tulis ulang.

Maka segala yang kulakukan menjelma semacam mnemonic haunting; warna, bunga, tawa, bahkan diamku, bermetamorfosis menjadi gema yang mengembalikanmu pada altar lukamu sendiri (dia).

Mungkin, aku hanya vestibula sebelum kau kembali memasuki reruntuhan yang kau sebut rumah.

Namun kau terus mengajari langitku cara merasa tak terbatas, sehingga kubangun diriku menjadi semesta dari serpihan kata-katamu, kurangkai gugusan-gugusan cahaya dari setiap janji yang kau semaikan, kunyalakan setiap bintang yang kupunya agar layak kau sebut pulang, lalu terlampau lama hidup dalam keyakinan bahwa akulah galaksi yang akhirnya kau pilih setelah seluruh pengembaraanmu.

Selama 3 tahun, kau ulangi mantra-mantra yang sama hingga terdengar seperti kebenaran; bahwa cahayanya telah lama padam dari langitmu, bahwa tak ada lagi orbit yang mengikatmu padanya, bahwa aku telah menjadi konstelasi yang ingin kau lama-lamakan dan menjadi arah pulang.

Dan betapa jenakanya bahasa. Cukup diucapkan berulang-ulang, ia menjelma kebenaran yang tak pernah diuji. Lihai mengelabui nalar, menegakkan asa di atas reruntuhan putus asa, Dan tak perlu menjadi nyata untuk dipercaya.

Maka aku memercayainya, memercayai bahwa aku adalah galaksi baru yang kau temukan, padahal aku hanya nebula persinggahan, gumpal cahaya yang kau tafsir sebagai tujuan ketika sesungguhnya kau hanya kehilangan arah.

Sebab sejak awal, seluruh lintasanmu diam-diam masih mengarah kepadanya, mengarah pada jalan pulang yang kau rindukan, kepada konstelasi yang tak pernah benar-benar kautinggalkan.

Aku hanyalah meteor yang terbakar habis saat memasuki atmosfer tatapmu, sementara dia tetap menjadi galaksi yang tak pernah kau tinggalkan, tempat seluruh arahmu diam-diam bermuara, meski aku telah luruh menjadi debu cahaya di sepanjang perjalananmu pulang kepadanya.

“Barangkali aku memang ditakdirkan menjadi tinta yang kautimpa, sementara dia tetap menjadi tulisan yang tak pernah berhasil kauhapus; sebab bahkan setelah cahaya terakhirku padam, semestamu masih setia mengeja namanya dengan alfabet yang tak pernah kupahami.”

“Barangkali aku memang ditakdirkan menjadi tinta yang kautimpa, sementara dia tetap menjadi tulisan yang tak pernah berhasil kauhapus; sebab bahkan setelah cahaya terakhirku padam, semestamu masih setia mengeja namanya dengan alfabet yang tak pernah kupahami.”


메타데이터
post_id
3eed92bfa4f8
slug
interregnum-3eed92bfa4f8
url
https://medium.com/@queens99yii/interregnum-3eed92bfa4f8
canonical_url
https://medium.com/@queens99yii/interregnum-3eed92bfa4f8
author_url
https://medium.com/@queens99yii
status
ok
fetched_at
2026-06-24 16:30:55