Bertemu Kembali
“Ra?” Suara panggilan ini sangatlah tidak asing di telinganya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati orang yang dikenalnya berdiri di situ.
Bertemu Kembali

“Ra?” Suara panggilan ini sangatlah tidak asing di telinganya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati orang yang dikenalnya berdiri di situ.
Nirmala, yang berdiri di sampingnya ikut menoleh dan berbisik, “Dia orang yang pernah kuceritakan kemarin.”
Ia tidak membalas bisikan Nirmala karena feelingnya benar, bahwa yang diceritakan sewaktu di kafe kemarin adalah Gavi dan Wira. Namun, saat ini yang berhadapat dengannya hanya Gavi. Tidak ada Wira di sana.
“Sendirian, Vi?” tanya Ara heran.
“Nggak, dong. Cari Wira, kan, pasti? Ada di kamar dia, nggak mau diajak keluar. Malas, katanya,” balas Gavi.
“Kalian dapat kamar nomor berapa? Ayo, kubantu bawa barangnya sekalian nunjukkin arah,” ajak Gavi yang terlihat sudah kedinginan dari gerak-geriknya.
Memang benar, sejak keluar dari stasiun tadi, suasana musim salju sangat terasa. Padahal, waktu masih berada di antara siang dan sore, tetapi suhu sudah berada di bawah -10 derajat. Untung saja, jaket yang dibawa sebelum sampai ke sini sudah berada di tangan.
Sembari berjalan menuju kamar yang sudah dipesan, mereka basa-basi karena lama tidak bertemu. Ara baru tahu kalau selama ia di Jepang kemarin, Wira sempat mencarinya, bahkan dia sampai beberapa kali ke fakultas untuk memastikan sendiri. Dia tidak tahu kalau Ara mengikuti program bersama dosennya ke Jepang selama sebulan.
“Oiya, Ra, kalau besok kita bareng ke Festivalnya aja gimana? Biar ramai aja gitu, kasian kalau kalian cuma berdua aja,” tawar Gavi saat mereka sudah sampai di depan kamar yang dipesan Ara dan Nirmala.
“Menarik. Gimana, Mal?” Sebelum menyetujuinya, ia harus meminta pendapat Nirmala. Ia tidak mau Nirmala merasa tidak nyaman dengan kehadiran teman yang belum dikenalnya.
“Boleh, deh. Pasti lebih seru kalau ramaian.” Mendengar persetujuan ini, Gavi langsung berbalik badan. Meninggalkan Ara dan Nirmala menuju kamarnya. Dia tidak sabar memberitahu kejutan ini pada Wira, tapi dia akan bilang besok saja.
— — — — —
Aroma parfum yang tidak asing mulai merasuk ke indera penciumanku. Aku menolehkan kepala ke sana-ke mari mencari sosok itu. Tak ada siapapun di sekeliling. Hanya ada aku sendiri di sini.
Aku melangkahkan kaki menuju arah asal aroma itu, berharap berjumpa dengan seseorang yang dirindukannya. Masih sama, tidak ada siapapun. Langkah kaki ini membawa tubuhku semakin menjauh dari tempat awal aku berdiri. Tanpa arah.
Ingatannya tidak akan pernah melupakan sosok itu. Walaupun keadaannya sudah pasti berbeda.
Aku menyerah untuk saat ini. Aku memutuskan untuk kembali ke tempat awal dan kembali berharap untuk segera bertemu dengannya. Semoga waktu berada di pihakku untuk kali ini. Sebab, jika Ia tidak berada di pihakku, aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Aku tidak akan pernah menemukan sosok itu di orang lain lagi.
Sejatinya, perjuanganku belum benar-benar berakhir walaupun kenyataan yang kuketahui waktu itu bisa saja memang benar. Tetapi, takdir bisa saja berubah. Semoga saja.
— — — — —
“Hai. Maaf, nunggu lama,” sapa Ara yang baru sampai di tempat perjanjiannya kemarin.
Wira yang merasa tidak salah mendengarnya, menolehkan ke arah asal suara. Dia ada ada di hadapannya sekarang. Harapannya secepat itu terkabul? Ia tidak percaya.
Ara melambaikan tangan di hadapan Wira yang terlihat melamun. Entah berapa kali ia melambaikan tangannya, mata Wira tak kunjung berkedip.
“Dijaga, tuh, mata. Nggak bakal ke mana-mana juga orangnya,” celetuk Gavi yang menyadari tatapan Wira dari tadi tertuju pada Ara. Ia tahu perihal perasaan yang dirasakan Wira selama ini.
Tubuhnya ingin memeluk raga yang sudah lama tidak dijumpai. Tangannya maju mundur ingin menggenggam tangan mungil yang pernah digenggam. Namun, perasaan senangnya tetap membuncah dan lengkungan di bibir ditahan sekuat mungkin agar tidak ketahuan.
Mereka berempat mulai berjalan menuju tempat tujuan dengan membiarkan Ara dan Wira berjalan di belakang. Gavi yang mencoba akrab dengan Nirmala mengajaknya untuk tidak mengganggu pasangan di belakang. Biarlah mereka melepas rindu yang terhalang sebelumnya.
“Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu,” tanya Wira memulai percakapan dengan Ara yang sejak tadi diam setelah menyapanya.
“Baik. Kamu sendiri gimana?” Ara bertanya balik sebagai keingintahuannya.
“Sedikit lebih baik dari sebelumnya. Oiya, habis dari sini langsung balik ke Indonesia, kah?” Wira berusaha membangun percakapan yang sudah lama tidak hadir di antara keduanya.
Ara menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Mau eksplor lebih ke Beijing lagi karena kemarin belum semua tempat yang direkomendasiin dikunjungi. Setelah dari situ, mau ke Shanghai ketemu Kakak bentar buat pamit, baru pulang ke Indonesia,” jelas Ara.
“Kakakmu kerja di sana?” Wira sudah pernah bertemu dengan Adhi, sewaktu mengerjakan tugas OSPEK. Tetapi dia tidak tahu lebih jelasnya.
“Iya. Sebenarnya, aku sama Nirmala awalnya di Shanghai dulu, baru ke Beijing. Karena katanya, jarak Beijing ke Harbin lebih dekat dibanding jarak Shanghai ke Harbin,” jelas Ara lagi.
“Kalau aku sama Gavi ikut kalian boleh? Sebenarnya, kami nggak punya tujuan mau ke mana selain ke Harbin. Andai kata kita nggak ketemu, mungkin kami bakal langsung pulang setelah dari festival ini. Terus, milih keliling sendiri di Semarang, Jogja, atau Surakarta.” Ide dadakan Wira ini entah kenapa langsung muncul. Padahal, dirinya masih canggung berjalan bersampingan dan ngobrol secara langsung lagi dengan Ara.
Tanpa pikir panjang, Ara menyetujuinya. Ia akan memberitahu Nirmala nanti ketika mereka kembali ke penginapan.
Dari pertemuan ini, sesuai ide Wira, mereka berempat selalu bersama. Selalu bebarengan ke manapun salah satu punya tujuan yang menarik. Mereka akan memanfaatkan waktu bersama ini sebaik mungkin. Karena, belum tentu takdir akan mempertemukan mereka kembali.
Sampai tiba di Bandara Ahmad Yani, mereka masih tetap bersama. Bahkan, perjalanan dari Harbin menuju Beijing, Beijing menuju Shanghai, dan Shanghai menuju Semarang, mereka memilih kursi yang berdekatan. Ara dan Wira. Nirmala dan Gavi. Mereka baru benar-benar berpisah ketika sudah sampai di rumah.
“Terima kasih sudah mengabulkan harapanku kali ini. Semoga setelahnya, takdir selalu mempertemukan kita secara sengaja sehingga ada banyak pertemuan antara kita.”
~ Januari, 2025
메타데이터
- post_id
- 3f1a4dfe2aeb
- slug
- bertemu-kembali-3f1a4dfe2aeb
- url
- https://medium.com/@Arlanalmrtz/bertemu-kembali-3f1a4dfe2aeb
- canonical_url
- https://medium.com/@Arlanalmrtz/bertemu-kembali-3f1a4dfe2aeb
- author_url
- https://medium.com/@Arlanalmrtz
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-29 01:02:39