[Opini] Film Bid’ah Merusak Citra Islam?
Film Bid’ah produksian Malaysia menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Video-video pendek dan potongan-potongan scene dari film…
[Opini] Film Bid’ah Merusak Citra Islam?

Sumber: detik.com
Film Bid’ah produksian Malaysia menjadi perbincangan hangat belakangan ini. Video-video pendek dan potongan-potongan scene dari film tersebut juga kerap beredar di media sosial baik dalam bentuk reels instagram ataupun video tiktok. Fenomena ini bisa disimpulkan sebagai efek lanjutan dari antusiasme masyarakat Indonesia terhadap film tersebut.
Namun, dibalik antusiasme tersebut, tetap saja menimbulkan konflik tersendiri di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat merasa kontra karena merasa jika film tersebut justru merusak citra Islam. Namun sebagian lainnya mengapresiasi film ini dengan argumen bahwa film ini menunjukkan praktik keagamaan yang salah namun dianggap “benar” oleh sebagian kelompok.
Untuk mendudukkan posisi film tersebut, saya akan terlebih dahulu membahas mengenai makna dari “Bid’ah”. Kemudian akan saya lanjutkan dengan menampilkan beberapa “respon” dari masyarakat Indonesia terhadap film ini. Lalu, saya akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah “kesimpulan”.
Selamat membaca!
Bid’ah?
Tentu kata ini bukan suatu yang asing di telinga kita. Kata ini sendiri sering kali diucapkan dalam konteks keagamaan. Biasanya, kata ini sering kali berseliweran dalam bentuk klip-klip video singkat, terkadang juga dalam video yang lebih panjang dan bahkan tidak jarang juga terucap dalam kajian-kajian keagamaan Islam khususnya pada pembahasan akidah dan ibadah.
Kata “Bid’ah” ini kembali terdengar lantang setelah viralnya film “Bid’ah” besutan Negeri Jiran. Bid’ah dalam etimologi bermakna “suatu ciptaan baru yang belum pernah ada sebelumnya”. Secara terminologi, Bid’ah diartikan dengan “Setiap ibadah yang dilakukan manusia tanpa ada dasar yang jelas baik di dalam Al-Qur’an, Sunnah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, ataupun amalan yang dilakukan oleh khulafa ar-rasyidin”.
Dari makna terminologi itu, dapat dipahami bahwa seluruh ibadah yang dilakukan tanpa basis petunjuk dari Al-Qur’an, As-Sunnah ataupun dari khulafa ar-rasyidin maka tergolong ke dalam sebuah ke-bid’ah-an. Dapat dipahami pula bahwa bid’ah itu hanya dapat disematkan dalam hal-hal yang bersifat ibadah.
Jika kita kaitkan antara makna terminologi dari bid’ah dengan film “Bid’ah” tersebut, maka secara sederhana film tersebut memuat praktik-praktik ibadah yang tidak memiliki basis dalil dalam syariat Islam. Sehingga, apa yang ditampilkan di film tersebut adalah praktek ibadah yang dilakukan dengan tanpa adanya dalil yang memandu. Jika demikian, tentu tidak ada yang salah dengan film “Bid’ah” tersebut.
Respon Masyarakat terhadap Film “Bid’ah”
Setidaknya terdapat dua respon masyarakat akan film ini. Respon pertama adalah menolak keberadaan film tersebut. Sedangkan respon kedua menerima keberadaan film tersebut. Saya akan sedikit mengurai mengenai kedua respon ini.
Respon pertama atau penolakan terjadi kepada orang yang menganggap film ini memberikan citra buruk akan agama Islam. Sebut saja salah satu tokoh agama di suatu daerah menyampaikan bahwa film tersebut menggambarkan ajaran islam secara keliru dan dapat memicu kebencian terhadap ulama.
Saya sendiri sangat sepakat bahwa film “bid’ah” memanglah menggambarkan ajaran islam secara keliru. Namun, yang jadi pertanyaan apakah film tersebut benar ingin menjelekkan citra Islam? rasa-rasanya, jika film tersebut ingin mencoreng citra Islam, tentu tidak akan menggunakan terma “Bid’ah” sebagai judul dari film tersebut.
Mudahnya, dengan menggunakan terma tersebut, sang pembuat film ingin menyampaikan kepada masyarakat bahwa praktek ibadah yang terjadi dalam film ini adalah praktek yang tidak berbasis dalil dalam syariat Islam. Maka anda yang menonton film ini menjauhlah dari praktek semacam ini.
Respon kedua adalah orang-orang yang menerima film “bid’ah” ini dengan terbuka. Menurut mereka, justru film ini adalah suatu bentuk kritik sosial atas penyelewengan ajaran agama oleh oknum-oknum tertentu. Mereka sama sekali tidak menganggap film ini merusak citra Islam. Bahkan dibeberapa tempat seperti di NTB, film ini justru berhasil memotivasi santriwati untuk membongkar kedok pelecehan seksual yang terjadi di suatu pesantren.
Saya sendiri tidak menyalahkan respon yang menolak dan juga tidak membenarkan respon yang menerima. Setiap kelompok tentu berhak atas argumennya masing-masing. Hanya saja, menurut saya akan lebih baik ketika agar menilai sesuatu disaat informasi sudah terkumpul dengan cukup.
Drama Bidaah mengisahkan kisah tentang sekte sesat berkedok agama, cerita berfokus pada Walid (Faizal Hussein) seorang pemimpin sekte yang dikenal sebagai sosok karismatik, mampu menarik perhatian yang tulus dari pengikutnya. -Sinopsis Series Bid’ah-
Kesimpulan
Bagi saya, film ini tentu tidak merusak citra islam sama sekali. Bahkan, jika dilihat dari sinopsisnya saja sudah cukup jelas apa tujuan dari film ini. Menurut saya, kehadiran film ini justru dapat meningkatkan kesadaran akan praktik-praktik keagamaan islam yang dijalankan dengan tanpa adanya basis dalil dalam syariat Islam.
메타데이터
- post_id
- 3f3e9ec05b45
- slug
- opini-film-bidah-merusak-citra-islam-3f3e9ec05b45
- url
- https://medium.com/@mhmdaufaa23/opini-film-bidah-merusak-citra-islam-3f3e9ec05b45
- canonical_url
- https://medium.com/@mhmdaufaa23/opini-film-bidah-merusak-citra-islam-3f3e9ec05b45
- author_url
- https://medium.com/@mhmdaufaa23
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-26 03:39:16