← Back to list

Sebatang, Dua Batang

Di tempat berkesah dari lingkungan yang kerap mencipta kepayang.

Dimas Adytya · 2025-11-24 04:32 · 1 claps · 1.6 min read
#observasi
Open on Medium ↗

Sebatang, Dua Batang

Di tempat berkesah dari lingkungan yang kerap mencipta kepayang.

Meja sederhana menghadap ke jalan yang menjadi tempat geletak dari asbak bersimpah abu, ditambah dengan suasana berkebul asap adalah penjaga kewarasan yang sejati.

Semuanya izin minggat dari kenyataan untuk sejenak. Meruntut benang kusut dengan cara yang paling sederhana, dalam rentang sebatang, dua batang.

Foto sebagai ilustrasi

Foto sebagai ilustrasi

Kalau saya terlambat sampai sebentar saja, tentu konversasi sudah mencapai titik intens.

Para pelaku refleks menengok ke arah kedatangan dengan tatapan waspada, kalau saja yang hadir adalah sosok biang kerok yang sedari tadi habis diulik.

Bagi penghisap non-aktif, momen ini kerap kali mencipta canggung. Sebab, tiada yang dapat dilakukan oleh kami saat jeda percakapan terjadi. Si aktif masih bisa mempermainkan batang yang digenggamnya pada sela- sela gosip dan amarah. Kami tidak.

Tak apa. Dapat dilibatkan sebagai pemerhati di ruang pembuangan sampah sudah cukup membuat tersanjung. Apalagi kalau narator sudah bersilat lidah tanpa kenal rem dan tanpa menyortir perbendaharaan kata.

Tidak jarang di dalam hati, saya pun menolak setuju. Terpikir kalau sebenarnya semua ini berdasar pada komunikasi yang buruk. Atau dampak dari blokade mental bahwa tiada jalan tengah yang bisa dicapai dengan tabiat orang tertentu.

Lagian, saya juga kenal dekat dengan objek yang sedari tadi disebut paling banyak. Batin seperti menahan diri untuk ikut lebur demi menjaga perasaan bersalah akibat pengkhianatan mikro. Menjadi pengamat sudah cukup, sambil sedikit memuaskan rasa penasaran dengan pertanyaan konfirmasi.

Bapak pemilik warung yang kiosnya dijadikan latar berkeluh mungkin sudah kenyang dengan semua itu. Ia bahkan bisa seakan-akan begitu kenal erat dengan seseorang tanpa pernah sekalipun bertemu. Tidak sekadar nama, tetapi semuanya termasuk seluk-beluk latar belakang kecuali wajah.

Cara bercerita yang tulus dari hati membuat sebuah kasus yang biasa saja dapat terdengar begitu menegangkan. Sebuah bukti bahwa ‘mulut ke mulut’ masih belum mampu dikalahkan oleh cara penceritaan lainnya. Karena ia menawarkan kedalaman, tidak berhenti di permukaan saja.

Meski yang mereka alami terdengar sangat pelik bila diceritakan pada sesi sebat, tetapi saya amat ketagihan. Karena justru menjadi ajang untuk mengenal lapis demi lapis diri milik orang sekitar.

Semoga akses masuk ke sana dapat terus kita kantongi.

Dan sepertinya mereka juga tidak akan pernah berhenti karena sebatang, lanjut dua batang, masih menjadi rehat paling nikmat sejagad.


메타데이터
post_id
3f4e9dee91c0
slug
sebatang-dua-batang-3f4e9dee91c0
url
https://medium.com/@dimasadytya/sebatang-dua-batang-3f4e9dee91c0
canonical_url
https://medium.com/@dimasadytya/sebatang-dua-batang-3f4e9dee91c0
author_url
https://medium.com/@dimasadytya
status
ok
fetched_at
2026-08-18 04:11:49