← Back to list

We Shall Never See Each Other Again

CeuNaya · 2023-07-08 12:02 · 1 claps · 5.8 min read
#violinist #cellist
Open on Medium ↗

We Shall Never See Each Other Again

Kalandra bertepuk tangan beberapa kali ketika pertunjukkan orkestra yang baru saja di tampilkan sudah menyelesaikan penutupan. Matanya sempat bertemu pandang dengan seseorang di atas panggung sana sebelum mengulas senyum tipis. Beberapa saat setelahnya ratusan pengunjung mulai berhamburan keluar dari ruangan itu. Kalandra masih terdiam sebentar, berusaha meninggalkan energi di salah satu tempat yang dia suka ini sebelum mengucapkan selamat tinggal. Setelah dia kira cukup, kakinya segera melangkah. Membawa kotak biolanya menjauh dari keramaian itu.

Bibir tipis itu mengeluarkan helaan napas sebelum melangkah sedikit lebih cepat keluar dari aula megah ini. Berusaha meninggalkan semuanya disini. Entah wibawanya di atas panggung, rasa nyaman yang dia terima beberapa waktu lalu, serta perasaan tak tersampaikan yang dipaksa usai.

Sempat melirik, seseorang yang tadi berada di atas panggung kini melambai ke arahnya di antara ribuan orang itu. Tubuh kecil mendesak keluar dari backstage yang mulai ramai staff.

Namun Kalandra tetap berjalan lurus. Tak menghiraukan apapun. Sudah seharusnya Kalandra meninggalkan semuanya disini. Sesuai dengan apa yang sudah dia janjikan dan dijanjikan padanya.

Panggilan samar itu tidak lagi membuat Kalandra berhenti.

Kalandra benar benar akan pergi.

“Kamu mau pergi gitu aja?! Tanpa berpamitan?”

Kalandra menghentikan langkahnya ketika merasakan lengan kirinya di tarik dari arah belakang. Membuat tubuhnya berputar ke belakang dan nyaris menjatuhkan kotak biolanya dari genggaman tangan. Shana berhasil mengejarnya

Tatapan tajam itu mengunci tatapannya beberapa saat sampai suara gesekan kertas dan udara mengusik keduanya. Si perempuan mulai menunduk karena napasnya yang tersenggal, Kalandra bahkan sudah tidak melihat eksistensi high heels berwarna putih gading yang beberapa saat lalu masih dipakai gadis ini di atas panggung. Menyisakan kaki yang menapak langsung di atas rumput yang mereka tapaki.

Sore itu, Kalandra dengan setelan rapinya siap meninggalkan semuanya disini. Entah Shana atau segala impiannya tentang violinist yang berkeliling dunia. Kalandra memutuskan hidup sederhana seperti sedia kala tanpa impian tinggi yang terasa akan segera menjatuhkannya. Dan Shana di hadapannya, terengah sembari menggenggam erat lengan kiri Kalandra yang masih mematung karena ulahnya. Di genggaman tangan kiri perempuan itu ada surat bukti persetujuan cerai mereka yang sudah diberi tanda tangan oleh Kalandra.

Kertas yang Kalandra tinggalkan di ruang persiapan yang dipakai Shana. Di dalam case selo yang dibawa Shana. Kalandra kini melihatnya dalam genggaman Shana.

Untuk apa lagi Shana menghentikannya?

“Mas? Beneran?”

Kalandra tidak merespon apapun ketika Shana memanggilnya. Matanya hanya menatap lurus pada kertas dalam genggaman Shana. Dengan itu, semuanya akan berakhir.

“Pastikan kamu tandatangani suratnya ya. Kirim ke pengadilan kalo udah beres semuanya. Maaf kamu harus ngurus sisanya sendiri.”

Kalandra memberanikan dirinya mengangkat tangan kanannya. Mengusap kepala yang masih tertunduk di depannya. Rambut hitam panjang itu terurai seperti biasa. Dan Kalandra tidak tau apa dia masih bisa mengusap lembut tiap helai rambut gadis itu lagi atau tidak. Karena menurut rencananya, setelah semuanya berakhir disini, Kalandra akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak bertemu dengan Shana lagi.

Hey? Let me see your face.

Shana membawa kepalanya terangkat. Memperlihatkan kembali wajahnya yang memerah nyaris kehabisan napas untuk berlari mengejar Kalandra. “Kenapa berniat pergi diam diam?”

Shana menipiskan bibirnya. Dia melepaskan lengan Kalandra yang semula dia genggam erat, ganti mendekap lelaki di hadapannya. Seseorang yang sangat berharga untuknya. Seseorang yang telah membuatnya tahu apa itu tujuan hidupnya. Seseorang yang telah menggenggamnya selama hampir tiga tahun terakhir. Seseorang yang tidak pernah menyesal setelah mengulurkan tangannya meski berkali kali telah ditepis oleh Shana sendiri. Kini lengannya melingkar erat di pinggang Kalandra. Menyembunyikan wajahnya di dada lelaki itu. “Apa gak bisa ditunda beberapa hari lagi?”

Kalandra memutuskan kembali ke negara asal ibunya di China setelah memikirkan segalanya dalam jangka waktu panjang. Meninggalkan Shana yang masih memiliki waktu satu tahun lagi di negara ini. “Menunda nunda cuma bakalan bikin semuanya jadi makin berat kan?” lengannya membalas pelukkan Shana. Mendekap bahu ringkih itu tak kalah erat. Hidungnya melesak di antara helai rambut hitam itu. Menghirup aroma manis dari sana untuk terakhir kalinya.

“Mas? Kita masih bisa ketemu?”

Kalandra terkekeh. “Kamu gak bakalan bahagia kalau ketemu aku lagi.”

Shana menghela napas. “Mas Kala gak benci sama aku kan?”

Kalandra mendengus geli. “Dulu, mungkin iya. Tapi sekarang, engga. Aku bakalan memulai hidup baru dengan orang orang baru. Dan tetap mengingat kamu sebagai salah satu bagian hidupku.”

Shana rasanya ingin menangis saat itu juga. Namun menangis hanya akan membuatnya terlihat aneh. Dan berpotensi memberatkan posisi Kalandra disini.

“Mas Kala…”

“Boleh aku minta satu hal ke kamu Shana?”

Shana mengangguk pelan dalam dekapan Kalandra.

Kalandra menghela napas. Kini pipinya dia tumpukan di atas kepala Shana. Berusaha sekuat mungkin menahan air mata yang berkali kali memburamkan pandangannya. “Boleh aku minta kamu buat gak pernah lupa sama apa yang pernah kita lakukan? Jangan pernah lupa siapa Kalandra di hidup kamu. Aku ingin kamu memulai hidup baru dimana kamu bisa kasih tempat di sisi manapun biar aku bisa tetap hidup disana. Aku bakalan melakukan hal yang sama buat kamu. Dengan begitu, aku gak bakalan khawatir biarin kamu sendirian lagi.”

Shana menganggukkan kepalanya tanpa ragu. Dia yakin bahwa entah sampai kapan, tidak akan ada yang mengambil tempat Kalandra. Shana mungkin akan memulai hidup barunya tanpa Kalandra. Namun menutup kisah asmaranya disini rasanya sudah lebih dari cukup. Shana tidak bisa membayangkan akan ada orang lain yang akan menempati posisi Kalandra di masa depan.

“Wow, jawabanmu yakin banget nih?”

Shana kini mengangkat kepalanya. Membuat Kalandra kehilangan sandaran kepalanya. “Lakuin hal yang sama buat aku. Kasih aku satu tempat dimana aku bisa nempatin tempat itu walaupun mungkin nanti ada tempat lain yang bakalan bersaing sama tempatku.”

Kalandra mengangguk. Tertawa kecil melihat gadis yang dahulu selalu menatapnya dengan sinis, kini tengah menatapnya penuh perasaan.

Can i kiss you?” Shana bertanya dengan ragu. Jemarinya menggenggam jas yang dipakai Kalandra. “For the last time.”

Kalandra menatap pendar mata itu. Tak dipungkiri kini dadanya terasa sangat sesak. Ternyata, mencintai Shana sama beratnya dengan kehidupan yang dia jalani sebelumnya. Ternyata, berusaha melepaskan gadis ini membuat Kalandra tau semua perasaan yang berusaha dia tepis selama ini memang nyata adanya dan entah sejak kapan menjadi sebesar ini.

Andai bisa mengulang waktu, keduanya akan memulai semuanya dengan lebih baik.

Kalandra meletakkan kotak biolanya di atas rerumputan jalur danau yang menjadi tempat keduanya bertemu pertama kali. Suasana sore ini mirip dengan suasana pagi dimana mereka bertemu untuk pertama kalinya. Angsa angsa itu masih bergerak dengan tenang di atas danau yang merefleksikan semburat arunika.

Kiss me then.”

Disana Shana mengangkat kakinya untuk berjinjit. Meraih leher Kalandra untuk dia dekap.

Benar benar sial, tidak ada ungkapan cinta sama sekali di antara keduanya. Tidak ada ungkapan perasaan yang mungkin saja bisa menahan mereka berdua untuk tetap bersama. Baik Shana maupun Kalandra, terjebak dalam belenggu perasaan terpendam mereka yang tidak terungkap.

Bahkan ketika kedua bilah bibir itu bersentuhan, tak ada satupun yang berniat untuk membuka mata atas perasaan yang mereka miliki. Ciuman yang sarat akan perpisahan itu hanya akan menjadi penutup satu bab di kehidupan mereka. Sebelum memulai bab lain kehidupan yang mungkin tidak akan menemukan eksistensi satu sama lain lagi.

Shana bisa mengecap perasaan getir Kalandra. Lumatan lelaki itu terasa lembut sama seperti ciuman pertama mereka di atas altar. Namun ciuman ini terasa berbeda, karena rasa hangat yang menjalari keduanya. Bukannya perasaan enggan seperti dahulu.

Dekapan Kalandra di pinggang Shana membantu gadis itu untuk mengangkat posisinya. Rasa manis yang diberikan oleh Shana sepadan dengan rasa nyaman yang diberikan Kalandra selama ini.

Kedua mata yang saling tertutup, hidung yang bersinggungan serta hembusan napas berat keduanya menutup semuanya di senja ini. Senja yang lagi lagi menjadi saksi perpisahan.

Shana mulai memahami kenapa beberapa orang mengutuk senja.

Kalandra melepaskan ciumannya setelah beberapa kali rematan Shana di bahunya. Dahinya bersandar di dahi Shana yang kini sudah kembali ke posisinya semula. Kemudian bergerak berikan kecupan di atas dahi gadis itu. “Kita mungkin gak bakalan bertemu lagi. Aku juga gak berharap kita bisa bertemu lagi. Jadi, tolong ucapin selamat tinggal.”

Shana mendengarnya. Kalandra menolak sampai jumpa lagi dan merasa lebih baik dengan selamat tinggal. Shana tidak masalah dengan itu, meskipun sejujurnya dia merasa keberatan. Namun dia tidak akan menahan Kalandra lagi disini. “Benar gak ada kata lain yang harus terucap, mas?”

Entah Shana berharap apa. Mungkin, nungkin saja- Kalandra memperjelas tentang perasaannya. Jika Kalandra mengucapkan kata yang dapat memperjelas perasaannya, Shana akan melakukan apapun agar lelaki itu tetap disini.

Kalandra menggeleng pelan. “Kamu sendiri?”

Jika Kalandra tidak akan memperjelas perasaannya. Untuk apa Shana melakukannya. Keputusan lelaki itu sudah bulat. Maka gelengan kepala yang kemudian didapatkan oleh Kalandra.

Lelaki itu kemudian mendorong pelan pinggang Shana, membuat tautan Shana di belakang kepalanya ikut terlepas.

Sudah saatnya-

“Aku pergi, Shana. Selamat tinggal,” Kalandra mengangkat kotak biolanya lagi.

Shana memberikan senyum terbaiknya. Kemudian menyelipkan lipatan kertas di saku jas yang dipakai Kalandra. “Itu hadiah dari aku. Selamat tinggal juga. Terimakasih untuk semuanya.”

Kalandra mengulas senyuman sebelum kembali membalik badannya. Meninggalkan tempat ini, meninggalkan Shana, meninggalkan segala yang dia dapatkan dan dia mulai di tempat ini.

Barulah ketika eksistensi Kalandra menghilang dari balik gedung fakultas yang menjulang, kedua kaki Shana lemas. Tubuhnya meluruh di atas rerumputan, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Semuanya sudah berakhir.

Farewell pt.2


메타데이터
post_id
3f6a2e2ecc0f
slug
we-shall-never-see-each-other-again-3f6a2e2ecc0f
url
https://medium.com/@nanayah/we-shall-never-see-each-other-again-3f6a2e2ecc0f
canonical_url
https://medium.com/@nanayah/we-shall-never-see-each-other-again-3f6a2e2ecc0f
author_url
https://medium.com/@nanayah
status
ok
fetched_at
2026-07-25 13:31:28