Ketika Matahari Bercerita Tentang Kampung Betawi
FLS3N 2026 JB 2
Ketika Matahari Bercerita Tentang Kampung Betawi

Kota Jakarta
Pernahkan matahari bercerita? Tentang bagaimana ia menyinari Kampung Betawi. Cahaya pertamanya selalu bersinar Di pelipir engsel jendela Mungkin ia menyukai Babeh yang selalu memainkan Musik tanjidor kebanggaannya. Pagi ini tidak ada habisnya Sayup-sayup kudengar Denting centil gelas teh Mak Dan teko bersiul, seirama. Bangunku disambut orkestra Babeh. Semua bersuka cita Tak ingin tertinggal menyambut matahari Yang sedang mampir kerumah kami. Kuberjalan ke pasar Diminta mencari bumbu terakhir Untuk ramuan semangat keluarga ciptaan Mak. Di pinggir jalan Kulihat matahari menari-nari Dengan ondel-ondel, Kata Mak dulu, "Ia memang suka sekali Menjadi bagian dari mereka." Aku telah berkawan dengan matahari, Hari ini akan kutagih cerita karangannya Tentang bagaimana kampungku. Kala dulu semua menyambut hangatnya, Setiap pagi pintu terbuka Membiarkan ia mendengarkan suara Tiap-tiap rumah. Sarapan hangat yang tersaji Bermacam ragam. Ada semangkuk kupat sayur Yang disandingi Dengan si cantik selendang mayang Seperti lezat sudah di ujung lidah. Sinarnya senantiasa Menjaga hangat kursi bale-bale di teras rumah. Nikmat rasanya sambil dipeluk Sapuan angin semilir. Semua ceritanya Hilir mudik di antara bunga-bunga flamboyan, Seindah kebaya kuning milik nenek Yang bersemayam di ingatan. Namun ia berucap mengakhir cerita, Bahwa sedih kini menghujani. Hangat tak lagi semanis madu jingga, Mungkin terbang ke ufuk selatan. Hilang sudah nama Betawi di kampungku. Tak lagi terukir gigi balang di tepi atapnya, Perhiasan apa yang menggantikan pasangan dedaunan sekarang? "Hanya rumahmu yang kukenal." Kucoba menghirup pagi yang lain Wanginya berbeda, Asing. Bukan seperti kampungku yang kemarin. Apa ini maksud ia? Sepi terdengar. Nyawanya hilang dilahap habis dunia, Kini ditancapkan gedung-gedung menjular Di ubun-ubun kampungku. Perpisahan satu malam Dengan karya para terdahulu. Tak tertulis lagi Musik yang berkawan dengan ondel-ondel Tak ada lagi undangan pestanya, Digantikannya roncean kebaya dengan Gaun jenjang dari tubuh ulat, Mungkin kelak sarapan kami Tak akan sehangat biasanya. Hampir tersulut hilang ingatan Cerita kampung kami di angan. Ingin kutatap panasnya, Sayangnya dingin yang kurasa. Kuajak matahari berkunjung Tuk melalap habis masakan Mak Bersenandung bersama Babeh dan jagoannya, Kelak siang mengusir semua hujan. Matahari memelukku. Tetap ditulis bagian-bagian esok Aku pun hadir, Menggenggam tangannya, Berjanji merangkai Kampung Betawi Agar hidup lebih lama lagi.
메타데이터
- post_id
- 3fa7605cfed2
- slug
- ketika-matahari-bercerita-tentang-kampung-betawi-3fa7605cfed2
- url
- https://medium.com/@holaleiy/ketika-matahari-bercerita-tentang-kampung-betawi-3fa7605cfed2
- canonical_url
- https://medium.com/@holaleiy/ketika-matahari-bercerita-tentang-kampung-betawi-3fa7605cfed2
- author_url
- https://medium.com/@holaleiy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 15:36:45