← Back to list

Saya Bisa Saja Punya Ajian Kebal, tetapi Tetap Akan Memilih Putar Balik jika Melihat Gerombolan…

— Kalau dihadapkan pada dua pilihan antara diboncengi Mbak Kunti atau bertemu gerombolan klitih, barangkali aku lebih memilih ditemani Mbak…

Biwara Nala Seta · 2026-06-17 04:09 · 4 claps · 4.9 min read
#yogyakarta #klitih #social-culture #malam #crime
Open on Medium ↗
Wiki topics: CUL · Culture & Media 🔒 · Cybersecurity

Saya Bisa Saja Punya Ajian Kebal, tetapi Tetap Akan Memilih Putar Balik jika Melihat Gerombolan Klitih.

— Kalau dihadapkan pada dua pilihan antara diboncengi Mbak Kunti atau bertemu gerombolan klitih, barangkali aku lebih memilih ditemani Mbak Kunti saja. Sebab, bertemu dia paling-paling hanya menguji seberapa hafal aku dengan Ayat Kursi. Sementara kalau bertemu klitih, bisa jadi sebelum sempat menyebut apa pun, aku sudah lebih dulu disabet belati.

Photo by curratedbydidi on Pinterest

Photo by curratedbydidi on Pinterest

Di atas jam dua belas malam, Jogja sebenarnya belum benar-benar tidur. Masih ada warung kopi yang menyala, angkringan yang dipenuhi obrolan, atau suara knalpot motor yang sesekali melintas memecah jalanan. Apalagi bagi orang yang bekerja shift malam sepertiku, jam segitu justru terasa seperti waktu pulang yang biasa saja.

Sudah berbulan-bulan rutinitasku seperti itu. Bekerja di daerah kota, lalu pulang ke arah utara dekat Jalan Magelang dengan motor tua yang, syukurlah, sampai hari ini masih mau diajak bekerja sama. Biasanya aku langsung pulang selepas shift selesai. Namun malam itu berbeda. Setelah kerja, aku ngobrol dulu dengan teman sampai sekitar jam satu malam sebelum akhirnya benar-benar pulang.

Sebenarnya ada jalan utama yang lebih aman dan terang untuk menuju rumah. Namun seperti kebanyakan warga Jogja yang hafal jalan tikus, aku memilih jalan pintas langgananku sendiri. Selisih waktunya memang tidak terlalu jauh, tetapi setidaknya bisa menghindari dua lampu merah yang kadang terasa terlalu lama untuk ditunggu.

Di bawah jam dua belas malam, daerah itu biasanya ramai. Ada semacam coffee street yang hampir setiap hari dipenuhi anak muda, motor berjajar, dan suara obrolan yang bertabrakan satu sama lain. Namun lewat tengah malam, tempat itu berubah drastis. Rolling door mulai tertutup, lampu-lampu dipadamkan, dan jalan yang tadinya hidup perlahan menjadi lengang.

Aku mengendarai motor dengan santai malam itu. Bahkan sebelum semuanya terjadi, tidak ada firasat apa pun. Aku cuma sempat mendahului satu mobil dan didahului satu motor yang melaju cukup kencang. Selebihnya biasa saja.

Sampai akhirnya aku melihat dua lampu motor dari kejauhan.

Awalnya kukira itu hanya dua orang yang berkendara berdampingan sambil mengobrol. Aku tetap santai. Namun semakin dekat jaraknya, tiba-tiba muncul dua motor lain dari belakang mereka. Jalan yang tidak terlalu lebar itu mendadak dipenuhi empat motor yang berjajar memenuhi ruang.

Dan di situlah detak jantungku rasanya langsung berantakan.

Dua dari empat motor itu menurunkan belati panjang ke aspal dan menggesekkannya sepanjang jalan hingga memunculkan percikan api. Sementara satu lainnya mengangkat belatinya ke atas, dan satu lagi berkendara dengan giwar-giwar atau ugal-ugalan.

Di momen itu, pikiranku kosong sekaligus penuh secara bersamaan.

Mataku langsung jelalatan mencari rumah yang lampunya masih terang. Barangkali ada angkringan yang belum tutup, pecel lele, warung madura, atau apa saja yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Aku mencoba tetap terlihat tenang sambil memepetkan motor ke pinggir jalan dan komat-kamit istigfar sepanjang berpapasan dengan mereka.

Untungnya kami hanya berpapasan begitu saja.

Mungkin mereka memang punya tujuan lain malam itu. Dan syukurnya, aku tidak sedang dipilih menjadi hiburan gabut mereka. Namun bahkan tanpa dikejar atau diserang pun, pengalaman itu sudah cukup membuat bulu kuduk berdiri lama setelahnya.

Begitu kulihat mereka mulai menjauh lewat spion, aku langsung menarik gas sedalam mungkin. Meski kalau dipikir-pikir sekarang, itu juga lucu. Empat motor mereka yang sekilas kulihat berjenis NMAX, PCX, dan Scoopy itu rasanya bahkan tidak perlu susah payah mengejarku. Sementara aku cuma mengendarai Honda Win 100 tua yang mungkin akan memilih turun mesin bahkan sebelum adegan kejar-kejaran dimulai.

Bertahun-tahun tinggal di Jogja dan berkali-kali mendengar kata “klitih” lewat berita atau cerita orang ternyata membuatku terlalu percaya diri. Kukira rasa takut itu cuma milik orang lain. Sampai akhirnya aku benar-benar berpapasan sendiri di jalan yang sepi dan gelap.

Dan malam itu aku sadar, bahkan kalau aku punya ajian kebal hasil bertapa di kawah Merapi sekalipun, rasanya tetap tidak akan banyak membantu kalau harus bertemu rombongan boncengan sambil membawa senjata tajam di tengah jalan malam.

Setelah kejadian itu, aku jadi penasaran. Sebenarnya apa yang ada di kepala orang-orang yang membawa senjata tajam keliling kota tengah malam seperti itu? Apa yang mereka cari? Musuh? Dendam? Atau sekadar hiburan?

Aku lalu mencoba mengajak berdiskusi dan bertanya kepada seorang kenalanku, sebut saja R (26), seorang anak asli Jogja yang masa sekolahnya dulu cukup dekat dengan kultur tawuran antar sekolah di Jogja. Bukan pelaku klitih, tetapi cukup mengenal bagaimana kultur kekerasan jalanan itu bekerja dari dalam.

Menurut R, tawuran dan klitih sebenarnya punya kultur yang berbeda meski kadang masih beririsan. Tawuran antar sekolah, dulu, katanya, masih membawa semacam identitas kolektif, nama sekolah, geng, harga diri, atau usaha mencari eksistensi bagi sekolah yang dianggap kurang punya nama. Bahkan di dalamnya terstruktur ada perjanjian antar kelompok, terus ada strategi, pembagian rute, sampai urusan patungan dana.

“Kalau menang ya paling ujung-ujungnya buat party atau mabuk,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun klitih yang sekarang sering muncul di berita terasa lebih liar. Bukan lagi sekadar bentrok antar kelompok yang sama-sama mencari lawan, melainkan aksi acak demi pengakuan dalam kelompok mereka sendiri.

“Pembacokan itu kadang bukan soal dendam,” kata R. “Tapi pembuktian kalau dia pantas diakui.”

Di titik itu, aku mulai merasa ngeri dengan cara yang berbeda.

Sebab artinya korban bisa siapa saja.

Menurut R, sebagian pelaku klitih bahkan tidak terlalu peduli apakah jalannya sepi atau ramai. Selama jalan itu cukup strategis untuk bermanuver dan kabur, maka semuanya bisa berubah menjadi arena. Tujuan mereka bukan merampok atau mengambil barang. Mereka hanya ingin melakukan pembuktian, lalu pergi meninggalkan ketakutan bagi orang lain. Ini yang membedakan klitih dengan kejahatan semacam perampokan.

Yang lebih mengerikan lagi, kata R, beberapa dari mereka justru menganggap tertangkap polisi atau masuk lapas sebagai semacam gelar tidak resmi. Ada kebanggaan aneh yang lahir dari kekerasan itu sendiri.

Dan mungkin di situlah letak rumitnya persoalan klitih di Jogja.

Masalahnya ternyata tidak sesederhana menyalahkan sekolah, keluarga, atau aparat semata. Sebab sekolah-sekolah di Jogja tetap melahirkan banyak prestasi. Kehidupan kampung juga sebenarnya masih berjalan hangat seperti biasa. Polisi pun bukan tidak bekerja. Patroli malam tetap ada, razia tetap dilakukan, mobil polisi tetap berputar di banyak sudut kota.

Namun anehnya, klitih tetap hidup di sela-sela semua itu.

Ia tumbuh dari pergaulan yang salah arah, kebutuhan akan pengakuan, lingkungan yang saling memengaruhi, alkohol, obat-obatan dan bisnis di dalamnya, serta entah kekosongan macam apa yang akhirnya membuat melukai orang asing terasa seperti pencapaian.

Mungkin itu sebabnya warga Jogja hari ini nyaris tak lagi benar-benar terkejut setiap mendengar berita klitih. Bukan karena sudah menerima, melainkan karena terlalu sering dipaksa hidup berdampingan dengannya.

Orang-orang mulai hafal jalan mana yang sebaiknya dihindari selepas tengah malam. Mulai memilih jalan besar meski lebih jauh. Mulai merasa lebih aman jika pulang bersama rombongan kendaraan lain.

Dan aku kini menjadi salah satunya.

Sekarang, kalau pulang di atas jam dua belas malam, aku lebih memilih kena beberapa lampu merah daripada harus memotong jalan itu lagi. Atau kalau memang terpaksa lewat sana, aku biasanya sengaja mencari rombongan motor atau mobil lain untuk diikuti dari belakang.

Setelah mengalami sendiri dan mendengar cerita-cerita dari R, sekarang aku mulai paham kenapa ada orang yang bercanda lebih baik bertemu penampakan di pinggir jalan atau bahkan dibonceng mbak kunti daripada berpapasan dengan klitih tengah malam.

Sebab kalau urusannya hantu, mungkin kita masih bisa membaca ayat kursi atau mengulang-ulang istighfar.

Namun kalau yang datang adalah gerombolan motor sambil membawa senjata tajam, urusannya bisa berbeda. Bisa-bisa orang pulang tinggal nama.

Dan kalau itu sampai terjadi lagi kepadaku, rasanya bukan cuma aku yang bakal gemeteran. Honda Win 100 tua yang kukendarai mungkin juga akan ikut istighfar sepanjang jalan.


메타데이터
post_id
3fa9fb17bacf
slug
saya-bisa-saja-punya-ajian-kebal-tetapi-tetap-akan-memilih-putar-balik-jika-melihat-gerombolan-3fa9fb17bacf
url
https://medium.com/@biwaranalas/saya-bisa-saja-punya-ajian-kebal-tetapi-tetap-akan-memilih-putar-balik-jika-melihat-gerombolan-3fa9fb17bacf
canonical_url
https://medium.com/@biwaranalas/saya-bisa-saja-punya-ajian-kebal-tetapi-tetap-akan-memilih-putar-balik-jika-melihat-gerombolan-3fa9fb17bacf
author_url
https://medium.com/@biwaranalas
status
ok
fetched_at
2026-06-25 12:15:08