← Back to list

Ombak, Dermaga, dan Babak yang Telah Usai

Bagian I: Senja di Ujung Dermaga

Modeusbook · 2026-07-04 22:24 · 23 claps · 2.1 min read
#personal-essay #life #life-lessons #relationships
Open on Medium ↗
Wiki topics: 💑 · Relationships ✍️ · Writing & Creative

Ombak, Dermaga, dan Babak yang Telah Usai

Bagian I: Senja di Ujung Dermaga

Matahari baru saja menggelincir ke garis cakrawala, meninggalkan rona lembayung jingga keunguan yang perlahan meredup di ufuk barat. Di ujung dermaga kecil ini, angin sore berhembus kencang, membawa aroma garam yang khas dan dingin yang mulai menusuk kulit. Aku duduk sendiri di atas kayu-kayu yang mulai melapuk, memandangi hamparan air asin yang tak pernah berhenti bergerak. Di tempat sunyi inilah, riuh di dalam kepala justru terdengar paling memekakkan.

Hari ini, sebuah kabar datang tanpa aba-aba. Kabar yang sebenarnya sudah lama kuantisipasi, namun tetap saja menyisakan sengatan tipis yang benar-benar terasa nyata. Seseorang yang pernah memegang kunci ingatanku kini telah melangkah ke sebuah gerbang baru. Sebuah lembaran yang mengikatnya secara permanen pada takdir yang lain. Ada rasa hangat yang aneh, sejenis kebanggaan karena bisa melihatnya tersenyum utuh, namun di balik itu, ada juga rasa sunyi yang mendadak runtuh.

Perasaan ini sungguh campur aduk, mirip dengan bagaimana laut di bawah dermaga ini bekerja. Di permukaan, ia tampak tenang dengan riak indahnya, namun di kedalaman, ada arus kuat yang saling berbenturan. Aku tidak sedih dalam arti meratap, tidak juga marah pada garis waktu yang keduluan. Ini, menurutku, hanyalah bentuk rasa kehilangan yang paling jujur. Kehilangan kesempatan untuk menjadi masa depannya, sekaligus menyadari bahwa peranku dalam hidupnya kini benar-benar telah selesai.

Mencintai terkadang memiliki bagian tersulitnya sendiri: merelakan tanpa harus membenci. Sangat mudah untuk berpura-pura lupa atau memaksa diri mencari cela agar proses melangkah terasa lebih ringan. Namun, aku memilih jalan yang berbeda. Aku memilih untuk tetap menghargai setiap tawa, janji, dan air mata yang pernah kami bagi di masa lalu sebagai bagian dari pendewasaan diri. Apa yang pernah ada di antara kami tetaplah indah pada masanya, dan keindahan itu tidak berkurang sedikitpun hanya karena jalannya telah beralih sisi.

Ombak besar menghantam tiang dermaga, memercikkan air dingin ke ujung kakiku, percikan yang menyadarkanku dari lamunan. Laut tidak pernah protes kemana angin membawanya pergi. Ia hanya terus mengalir, terkadang pasang, terkadang surut. Begitu pula dengan hati manusia. Mengetahui dia telah bahagia di seberang sana adalah sebuah epilog yang utuh, walau harus diakui, butuh kelapangan dada yang luas untuk menerima kenyataan bahwa bukan aku yang berdiri di sisinya di ujung sana.

Langit kini hampir sepenuhnya gelap. Lampu-lampu di ujung dermaga dan kelong-kelong nelayan di tengah laut mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya keemasan di atas air yang hitam. Aku menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pantai malam hari yang basah, lalu mengembuskannya perlahan bersama sisa-sisa rasa sesak yang masih mengganjal.

Menuliskan ini semua bukan untuk mengungkit, melainkan untuk memberi ruang bagi hati agar bisa bernapas kembali. Aku melepaskan genggaman yang memang sejak lama sudah longgar. Di ujung dermaga ini, bersama malam yang mulai menjemput, aku mendoakan kedamaian bagi jalan yang baru saja ia tempuh, sembari bersiap memutar kemudi untuk mengatur arah perjalananku sendiri.

Terima kasih karena telah menjadi bagian dari cerita terindah dalam petualanganku, dan selamat tinggal untukmu yang kini telah melepas jangkar di pelabuhan terakhirmu.


메타데이터
post_id
3fc10207161b
slug
ombak-dermaga-dan-babak-yang-telah-usai-3fc10207161b
url
https://medium.com/@yudhyo07/ombak-dermaga-dan-babak-yang-telah-usai-3fc10207161b
canonical_url
https://medium.com/@yudhyo07/ombak-dermaga-dan-babak-yang-telah-usai-3fc10207161b
author_url
https://medium.com/@yudhyo07
status
ok
fetched_at
2026-07-11 14:08:24