← Back to list

Sang Pelantun di Tukang Bubur

Bagian kedelapan dari cerita Edgar dan Emma. Bagian pertama hingga ketujuh dapat dibaca di sini.

Senantiyasa · 2026-06-02 08:31 · 0 claps · 30.9 min read
#fiksi #asmara #cinta #romansa #kasih-sayang
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🥊 · Combat Sports

Sang Pelantun di Tukang Bubur

https://pin.it/4Okj7DSol

https://pin.it/4Okj7DSol

Bagian kedelapan dari cerita Edgar dan Emma. Bagian pertama hingga ketujuh dapat dibaca di sini.

Rekomendasi lantunan: It Ain’t Wrong Loving You (10 Years) — HONNE.

Content warning: harsh words, mention of kiss.

7.9+k words.

“Selamat, ya! Lagu terbaru kalian masuk Top 10 di YTM minggu ini.”

Gue cuma bisa melongo ketika mendengar informasi yang dituturkan Mbak Adin dengan sangat antusias itu.

The Clover ada di sepuluh besar tangga lagu nasional? Terdengar seperti mimpi indah saat tidur siang yang panjang.

Namun, ini kenyataan. Semua orang bertepuk tangan. Seruan syukur mengisi suasana. Wira dan Kahfi menepuk kedua pundak gue gembira. Wajah berseri kami berlima persis seperti orang yang baru saja memenangkan undian traveling gratis ke lima negara.

Gue beralih menatap Mbak Emma tak percaya. Perempuan itu mengulas senyum yang sarat dengan bangga, membuat kebahagiaan gue rasanya membesar berkali-kali lipat.

Sepuluh besar mungkin pencapaian yang biasa saja bagi penyanyi atau band papan atas, tapi untuk grup kemarin sore seperti kami, ini luar biasa. Belum lagi masih ada kemungkinan bahwa karya kami merangkak naik ke posisi lebih tinggi.

Jika ada daftar orang yang berjasa mengantarkan band ini mencapai prestasi demikian, gue pastikan nama Emma Sahira ada di urutan atas. Bukan. Bukan karena dia adalah salah satu perempuan yang paling gue sayang. Bukan pula karena dia setia menjadi manager, make up artist, dan hair stylist kami. Maksudnya, dua alasan itu memang merupakan bukti besarnya peran Mbak Emma pada karir kami. Namun, ada alasan penting lain yang bagi gue sangat berkesan.

Semua bermula di tenda Bubur Ayam Pak Mul yang terletak di sebuah kompleks perumahan dekat apartemen gue. Gue dan Mbak Emma senang makan bersama di sana. Buburnya lezat, penjualnya ramah, lingkungannya pun bersih. Suatu pagi, kami berdua sedang menikmati sarapan di lapak tersebut, semangkuk bubur ayam hangat untuk masing-masing.

Gue makan sembari menggulir ponsel yang menampilkan folder berisi foto-foto wisuda gue beberapa waktu lalu. Jari gue berulang kali menekan setiap foto dan memperhatikannya secara teliti, lalu membintanginya ketika foto itu gue rasa cocok untuk diunggah. Ya, gue tengah memilih foto yang rencananya akan gue unggah sebagai edisi late-post wisuda.

“Lagi milih foto?” Mbak Emma yang cantik bertanya. Gue meresponnya dengan anggukan.

Kunyahan gue terhenti begitu sampai pada deretan foto berisi figur perempuan di sebelah gue.

Gilaaa, cantik banget.

Gue bolak-balik memandang foto dan penampakan sosok aslinya. Di foto, Mbak Emma terlihat sangat anggun dengan make up menghiasi wajahnya. Di dunia nyata, gue terpukau akan wajah minim riasannya, bulu matanya yang hitam legam, garis hidungnya yang melengkung elok, pipinya yang bergerak aktif saat makan, serta semua hal tentang penampilannya. Begitu sederhana sekaligus begitu indah.

“Kamu ngapain ngeliatin aku gitu?” Observasi gue terhadap wajah Mbak Emma terinterupsi.

“Gapapa,” jawab gue seraya menggeleng.

“Makan dulu, Edgar. Aku udah makan setengah nih, kamu baru berapa sendok,” ucapnya mengingatkan. Gue menatap mangkuk gue dan menyadari kebenaran perkataannya.

Gue pun kembali menyuapkan sesendok bubur, mengunyahnya pelan. Tak lama, lagi-lagi aktivitas makan gue terjeda sebab gue sampai pada sebuah foto yang menurut gue … di luar nalar. Alias bagus sekali.

“Mbak, aku mau post foto kamu yang ini. Boleh, ya?” Ponsel gue terjulur ke arah Mbak Emma.

Foto tersebut adalah foto Mbak Emma yang sedang memegang buket bunga, diambil dari belakang. Jepretan fotografer itu tidak memperlihatkan wajahnya, malah hanya separuh bawah tubuhnya yang terlihat. Di mata gue, foto itu amat menggugah untuk di-post karena perempuan itu terlihat begitu cantik dan yang utama, karena foto itu tidak menunjukkan secara langsung wajah Mbak Emma. Sudah pasti dia akan menolak mentah-mentah diunggah parasnya.

“Ih! Jangan. Itu ada akunya,” tolaknya kemudian.

“Lho, memang foto kamu, Sayang. Makanya mau aku post.

Mbak Emma tersipu. Aduh, si cantik ini masih saja–gue tebak–malu tiap gue memanggilnya dengan panggilan itu. “Jangan ah,” tolaknya lagi. “Aku nggak mau mengundang kecurigaan orang. Mendingan foto kamu sama keluarga kamu aja, nggak usah ada akunya.”

Mendengar itu, gue menunduk. Bahu gue sontak terkulai. “Mau ada kamunya …,” ucap gue lirih. Bahkan di telinga sendiri, gue terdengar seperti anak kecil yang bersedih karena dilarang membeli mainan. Ponsel yang masih menyala terletak begitu saja di atas meja. Bubur di mangkuk gue aduk sembarangan. Bibir gue mengerucut kecewa.

“Makan dulu aja buburnya, keburu dingin.” Mbak Emma mengalihkan pembicaraan.

Gue kembali melahap makanan dengan wajah yang masih cemberut. Mbak Emma tertawa kecil sambil mengacak sekilas rambut gue. Gue pun makin merengut, menata kembali rambut sambil bersungut.

Tempo makan gue bisa dibilang super duper lambat, tapi Mbak Emma menunggu dengan sabar. Dia meraih ponsel gue, mungkin melihat-lihat galeri. Akhirnya, setelah sekitar empat pelanggan yang makan di sini keluar dan lima pelanggan lainnya pergi membawa kantong berisi bubur yang dibungkus, isi mangkuk gue pun tandas sempurna.

Sepertinya ada bubur yang tersisa di bibir gue karena Mbak Emma menyeka bagian itu menggunakan tisu. Dia lalu berkata, “Udahan dong, cemberutnya.”

Sebuah ide tiba-tiba melintas di kepala. “Please, aku post yang itu, ya? Nih!” Gue menegakkan tubuh semangat. Gerakan mendadak itu membuat Mbak Emma hampir terlonjak. Detik berikutnya, gue meletakkan kedua tangan di depan layaknya seseorang yang sedang melakukan presentasi.

“Selamat pagi, Mbak Emma Sahira tersayang. Pada kesempatan ini, saya akan menjelaskan alasan mengapa foto dirimu memegang buket bunga yang cantiiiiiik sekali seperti orangnya pada hari wisuda saya ini sangat layak diunggah di akun saya.”

Gue tersenyum lebar menyaksikan Mbak Emma tergelak.

Kemudian, gue kembali menampilkan raut serius untuk melanjutkan presentasi. “Pertama, karena foto ini adalah foto seseorang yang sangat saya sayangi. Kedua, karena fotonya bagus sekali. Ketiga, karena wanita dan buket bunga ini sama-sama cantik. Terlihat begitu serasi. Keempat, karena saya suka fotonya. Kelima, karena foto ini ingin saya unggah pada postingan yang didedikasikan untuk orang-orang penting dalam hidup saya yang mana tentu saja wanita ini adalah salah satu orang penting tersebut. Keenam, karena di foto ini ada Mbak Emma, tapi tidak ada wajahnya. Saya pikir, bahaya juga kan, kalau semua orang tahu betapa jelitanya seorang Emma Sahira?”

Mbak Emma tergelak lagi.

Pak Mul, pemilik lapak bubur ayam ini, juga ikut tertawa mendengar presentasi dadakan gue tersebut. Gue cengar-cengir bangga. Persembahan spontan itu berjalan dengan lancar rupanya.

Tawa Mbak Emma berhenti. “Terus kalo nanti banyak yang kepo, gimana? Wah, itu siapanya Edgar? Pacarnya, ya? Siapa tuh, ceweknya? Dan lain sebagainya?”

“Ah, itu sih, gampaaang. Tinggal nggak usah dijawab aja komennya.” Gue tertawa kecil saat menjawab.

Perempuan itu lalu tampak berpikir. “Iya, ya. Foto lain yang ada aku keliatan mukaku semua, ya?”

“Iya! Makanya. Aku kan, nggak mau berbagi. Udah paling bener itu fotonya. Cakep. Muka kamu juga nggak keliatan. Boleh, ya? Please, please, please. Boleh ya, Cantik?” pinta gue sepenuh hati.

Apakah gue harus memberikan janji manis? Janji yang sebenarnya–seharusnya–gue buat untuk diri gue sendiri?

“Kalo kamu izinin aku post fotonya, aku janji bakal tenis dengan rajin!”

Gue mendekat padanya, menangkupkan kedua tangan seraya berusaha memasang wajah memelas. Barangkali mirip anak kecil yang berjanji akan belajar dengan rajin jika orang tuanya setuju membelikan mainan.

Sebuah senyuman terbit di wajah Mbak Emma. Kedua alisnya terangkat dan tangannya iseng menjawil hidung gue. “Janji ya, tenis yang rajin?”

“Hehehe. Temenin ya, tapi?”

Sayang seribu sayang, respon yang diberikan si Sayang adalah sebuah jitakan yang mendarat dengan sukses di dahi gue. Spontan, gue meringis pedih.

“WAH, KDRT! Pak Mul, tolongin saya, Pak!!!”

Sayang seribu sayang pula, Pak Mul rupanya bukan seseorang yang bisa diajak bekerja sama pada situasi semacam ini. Pria peracik bubur lezat itu hanya tertawa, sedangkan pelaku kekerasannya sudah lebih dulu berdiri untuk membayar. Pekikan gue tadi mengundang pelanggan lain menoleh, membuat rasa malu menjadi tak terhindarkan. Gue cepat-cepat menyusul Mbak Emma meninggalkan lapak tersebut. Untungnya gue masih memiliki sedikit etika, sehingga gue tetap berterima kasih pada Pak Mul sebelum pergi.

“Halo, Mbak Emma? Jadi, boleh yaaa?” Gue kembali mencecar Mbak Emma di perjalanan kami kembali ke gedung apartemen.

Pada akhirnya, Mbak Emma mengalah. “Iya deh, boleh. Tapi dengan catatan aku nggak mau bales-balesin komen ya, in case pada kepo.”

YES!!!” Sebuah kepalan tangan gembira gue lemparkan ke udara. “Oke! Hari ini agenda utamaku bikin caption terus posting!”

“Hahaha. Semangat banget.” Tawa kecil Mbak Emma memperlebar senyum yang terbit di wajah gue.

Gue kemudian menyiapkan foto-foto yang gue gabungkan menjadi sebuah video beserta caption-NYA. Tidak perlu skill tingkat dewa untuk mengedit foto yang sudah bagus itu menjadi video singkat, sehingga gue dapat melakukannya dengan cepat. Namun, ada sesuatu yang terasa kurang. Oh, iya. Backsound-nya pakai lagu apa, ya?

Persiapan album The Clover hampir 100% selesai waktu itu. Sekitar seminggu sebelum tanggal rilis resminya. Entah dari mana datang idenya, gue terpikirkan untuk menggunakan audio lagu terbaru kami sebab ada potongan liriknya yang cocok dengan konteks postingan gue.

“Sayang, kalo aku pakai audio lagu baru kita gapapa nggak, ya?” tanya gue setengah bergumam pada Mbak Emma.

“Buat postingan kamu?” Gue mengangguk. “Aku sih gapapa aja, nanti kan otomatis keganti pake lagu asli pas udah rilis. Cuma yang lain mesti setuju dulu.”

“Bener juga. Aku tanya di grup kali, ya?”

“Iya coba.”

Gue lantas segera mengirim pesan ke grup. Seluruh tim persiapan album membolehkan. Kahfi bilang, hitung-hitung promosi awal. Dan Kahfi ternyata benar, sangat benar malah.

Postingan yang gue unggah di Instagram dan Tiktok dengan original audio itu memperoleh engagement yang bagus sekali di kedua platform tersebut. Gue kira ada dua faktor penyebab utama. Pertama, karena cuplikan kehidupan personal gue merupakan konten yang menarik. Kedua, karena potongan lagu yang mampu membuat baik penggemar maupun nonpenggemar penasaran akan karya terbaru kami.

Ada banyak komentar netizen yang masuk. Sebagian dari mereka kepo soal foto perempuan yang memegang buket bunga. Sebagian lain mengucapkan selamat wisuda. Mayoritas memberi tanggapan soal lagunya. Banyak yang bilang lagu itu bagus dan mereka akan menunggunya segera dirilis. Bahkan, tak sedikit user kedua aplikasi itu yang menggunakan audio postingan gue untuk postingan mereka sendiri. Bisa dibilang, lagu kami viral. Video musik lagu kami yang berjudul Tawa tersebut kemudian juga menerima respon yang amat baik.

Salah seorang Luckies–sebutan bagi teman atau pendengar The Clover–meninggalkan komentar yang memperoleh ribuan likes di YouTube.

Jarang banget loh, ada lagu yang belum rilis, tapi orang udah pada hafal sama liriknya. Sebagai Luckies, gue bangga banget! Good job, The Clover and team!

Gue tersenyum bangga. Kami memang tidak mengutamakan angka. Namun, apresiasi yang luar biasa seperti yang kami terima ini seolah mengingatkan kami bahwa sesungguhnya tiada proses yang sia-sia dalam berkarya. Ada semacam kepuasan tersendiri di dalam hati ketika gue membaca satu per satu tanggapan positif yang membanjiri laman resmi lagu kami.

Mbak Emma mengelak ketika gue berterima kasih padanya. Katanya, dia tak melakukan apa pun.

“Kalo kamu nggak ngizinin aku upload foto kamu waktu itu, aku rencananya batal nge-post tau. Karena kamu izinin, aku jadi nge-post dan orang-orang jadi tau lebih dulu deh, sama lagu kita. Kamulah pahlawan sesungguhnya di sini, Sayang.” Gue mengusap kepalanya. Malangnya, penjelasan gue tersebut malah disambut cubitan kecil pada pinggang.

“Nggak segitunya juga, kali.” Bukannya merasa pedih dicubit, gue justru tertawa menyadari semu yang menjalar di wajah Mbak Emma. Wajar rasanya biasa saja sebab cubitan itu berasal dari rasa malu rupanya, bukan rasa kesal. Hehehe.

Mbak Emma juga cepat-cepat menggeleng saat gue menyuruh semua anggota The Clover berterima kasih padanya. Gue bersama Alex, Wira, Kahfi, dan Bastian kemudian kompak membungkuk dan menyerukan TERIMA KASIH, MBAK EMMA! tanpa memedulikan Mbak Emma yang bersembunyi malu di belakang Mbak Adin.

“Beeeh, coba aja Mbak Emma tetep nolak di-post fotonya,” celetuk Kahfi santai. “Mungkin Top 10 hanya ada dalam angan-angan kita … atau butuh waktu lebih lama lah, buat sampe situ.”

“Setuju,” sahut Alex. “Walaupun kita nggak punya target apa-apa, tetep aja gue seneng, guys. Nggak bohong. Dulu pas lagu kita masuk Top 50 aja udah seneng banget gue. Asli, dah.”

Gue dan yang lain mengangguk-angguk sepakat.

Album terbaru kami yang mendapat respon hangat dari publik membuat kami amat bersyukur. Hal ini juga berarti satu hal, yaitu kesibukan yang meningkat intensitasnya untuk sementara waktu. Selama kurang lebih tiga minggu, jadwal kami padat dengan kegiatan promosi album Berumah Bahagia. Ada beberapa wawancara, podcast, penampilan live, serta satu pemotretan majalah. Jika The Clover sibuk, manajer kami tidak kalah sibuknya. Mbak Emma harus bekerja ekstra dibanding hari-hari nonpromosi. Ditambah lagi, Mbak Adin sedang hamil muda memasuki minggu keempatnya. Perempuan gue itu pun berperan lebih banyak demi membantu Mbak Adin meski itu artinya, beban kerjanya makin berat dari yang awalnya sudah cukup berat.

Gue menyemangati Mbak Emma, bilang kalau gue siap membantu jika dia memerlukan bantuan. Dia balas dengan balik menyemangati gue.

“Selamat siang, selamat datang. Mari, silakan masuk.” Suatu sapaan ramah kami dapatkan begitu tiba di studio Rona, sebuah majalah entertainment ternama. Seorang lelaki menyambut kami. Mungkin dia adalah staf redaksi Rona yang menjadi penanggung jawab wawancara hari ini.

Kami masuk ke sebuah ruangan yang telah disediakan. Gue dan empat anggota lainnya duduk di kursi, sedangkan Mbak Adin dan Mbak Emma tampak bercakap dengan laki-laki itu. Dia kemudian memperkenalkan diri sebagai Mas Putra. Kelihatannya dia sosok yang supel dan sudah sangat berpengalaman berkomunikasi dengan banyak orang. Pria itu lantas memberikan briefing kepada kami sebelum menyerahkan berjalannya interview kepada staf reporter yang bertugas.

Wawancara berlangsung selama satu jam. The Clover menjawab setiap pertanyaan yang diajukan secara bergantian. Mulai dari topik album baru, latar belakang musikalitas, hingga rekomendasi lagu, semuanya berhasil kami berlima jawab dengan baik. Sesekali, gue, Wira, dan Kahfi menyelipkan candaan di antara tanggapan kami, membuat seisi ruangan yang mendengarkan ikut tersenyum. Gue melihat Mbak Emma juga tertawa.

Sepanjang interview, sudut mata gue beberapa kali memperhatikan Mbak Emma berbincang akrab dengan Mbak Adin dan Mas Putra. Gue tidak tahu mereka membicarakan apa, yang pasti soal wawancara ini. Entah mengapa, muncul sebuah perasaan tak mengenakkan di hati melihat itu. Gue berusaha menepikan perasaan asing tersebut agar dapat memusatkan fokus pada wawancara yang tengah berlangsung. Tatapan gue sempat bertemu dengan milik Mbak Emma. Dia mengangkat alisnya seolah bertanya, tapi gue segera mengalihkan pandangan.

Sesi wawancara pun berakhir. Sekarang kami sedang beristirahat dengan berbagai kudapan yang disiapkan pihak Majalah Rona untuk kami nikmati.

Gue mendekati Mbak Emma. “Seru ya,” ucap gue sembari mengambil tempat duduk di sebelahnya.

Dia menoleh pada gue, tersenyum. “Interview-nya? Baguslah kalo seru,” responnya.

Gue mengeluarkan ponsel dan mengusap layarnya. “Bukan. Ngobrolnya.”

“Ngobrol apa? Aku atau kamu?” Mbak Emma terdengar bingung.

“Yaaa, ngobrolnya,” sahut gue sekenanya. Gue sendiri tidak mempunyai ide tentang apa maksud dan tujuan gue tiba-tiba berkata demikian.

“Ngobrol apa maksudnya?” tanya Mbak Emma lagi. Aduh, dia pasti bingung.

Percakapan kami terpotong sebab Mbak Adin menghampiri Mbak Emma untuk menyampaikan sesuatu. Hingga jadwal hari itu selesai, percakapan aneh tersebut tidak kami lanjutkan. Gue tidak mengungkitnya lagi. Mbak Emma juga mungkin lupa, teralihkan oleh tumpukan pekerjaan di depannya.

Akan tetapi, perasaan tak nyaman yang sama timbul lagi sewaktu dua orang staf Majalah Rona, Mas Putra dan rekannya, datang ke kantor VD Entertainment beberapa hari berselang. Mereka bermaksud menyampaikan hasil interview kemarin yang sudah diedit dalam bentuk tertulis serta video yang akan diunggah di kanal YouTube mereka. Rapat bersama seluruh anggota The Clover diperlukan karena bisa jadi ada beberapa pembahasan yang perlu dikurangi atau ditambahkan. Gue juga hadir dan mau tidak mau turut menyambut mereka dengan baik.

Pandangan gue kembali bertemu dengan Mbak Emma. Suasana di antara kami berdua jadi terasa janggal.

Gue cuma menggeleng ketika Mbak Emma bertanya, “Kenapa kayak gitu ngeliatnya?”

Sebuah gelengan gue berikan lagi saat pertanyaannya berganti, “Kalo yang kemarin di studio Rona, maksud kamu apa?”

“Edgar, aku nggak ngerti maksud kamu apa. Ditanya cuma geleng-geleng kepala. Padahal pasti ada sesuatu, orang tatapan kamu beda gitu.” Mbak Emma tampak sungguh kebingungan. Heran, bisa jadi.

“Gapapa, Mbak. Sorry.”

Maafin aku, Mbak Emma. Aku juga bingung ini aku kenapa.

Barangkali perempuan itu menjadi makin bingung sekarang. Hanya saja, gue tak bisa menjelaskan apa pun. Gue sendiri kesulitan mendeskripsikan apa yang sebenarnya gue rasakan.

Hal yang serupa kembali terulang sekitar seminggu setelahnya. Bukan hanya perasaan tak mengenakkan, kali ini gue benar-benar kesal. Bahkan kekesalan gue tampaknya sangat kentara bagi siapa pun yang memperhatikan. Gue menolak berbicara dengan Mbak Emma, berusaha menghindarinya. Tentu saja gue tidak bisa sepenuhnya menghindar sebab perempuan itu tahu semua hal tentang pekerjaan gue. Selain itu, masih ada beberapa jadwal promosi album baru yang perlu kami jalani bersama.

Kekesalan gue itu bukannya tanpa alasan. Begini ceritanya.

Di suatu siang yang terik, The Clover berkumpul di gedung perusahaan. Kami mempunyai agenda pertemuan dengan beberapa staf lainnya. Di waktu istirahat sebentar, Mbak Emma pergi membelikan kami semua minuman dari toko di seberang kantor. Sementara itu, gue memenuhi panggilan Papa ke ruangannya. Ruangan Papa terletak langsung menghadap jalan. Jendela kacanya memperlihatkan dengan jelas pemandangan jalan raya, gedung-gedung lain, serta keramaian kota. Ketika tengah melihat-lihat sembari menunggu Papa, mata gue tak sengaja menangkap sosok Mbak Emma di seberang sedang berbicara dengan seseorang. Gue spontan mendekat hingga tubuh gue menempel pada jendela untuk melihat lebih jeli, menerka-nerka siapakah orang yang mengobrol dengan Mbak Emma itu.

Posisi orang tersebut yang tidak membelakangi gue membuat sosoknya tak sulit dikenali.

Sial, laki-laki itu lagi.

Gue terpaksa menahan kesal selama berbicara dengan Papa. Begitu perbincangan berakhir, gue cepat-cepat kembali ke ruangan tempat kami berkumpul tadi. Gue menerima segelas smoothie yang Mbak Emma serahkan, tapi hanya berterima kasih sekadarnya. Agenda hari itu gue ikuti dengan setengah hati sebab setengahnya lagi sibuk bergulat dengan rasa kesal.

“Lo kenapa, dah?”

Itu suara Bastian yang rupanya mengikuti langkah gue ke parkiran di malam hari sesudah agenda kami selesai. Ah, gue lupa dia menebeng gue hari ini karena motornya sedang di bengkel. Kebetulan kafe yang dia kelola letaknya tak jauh dari apartemen gue, jadi gue mengiyakan permintaannya untuk ke kantor bersama.

“Kenapa apanya?” sahut gue malas sembari menyalakan mesin mobil.

Bastian duduk di sebelah gue. “Alah, keliatan banget tau. Lo kesel sama siapa?”

“Nggak.”

“Mbak Emma?” tembaknya.

Gue tak menjawab, mulai menjalankan mobil keluar area kantor. Mbak Emma sepertinya tidak langsung pulang. Sudah gue bilang kan, pekerjaannya sangat banyak belakangan ini.

“Oooh, Mbak Emma,” ucap Bastian meledek.

“Apa sih, nggak.” Gue berkilah.

“Artinya iya. Kenapa lo, cemburu?”

“Nggak.”

Cemburu?

“Udaaah, ngomong aja. Gini-gini gue pernah married tau.”

Jujur saja gue sedikit terkejut mendengar ucapannya. Ingatan gue kembali ke momen gue dan Mbak Emma bertemu Bastian di mal beberapa waktu lalu, saat dia sedang makan bersama keluarganya. Itu kali pertama gue melihat putrinya.

“Kok kaget, lo bahkan udah liat anak gue kan, kemaren.”

“Pernah married?” tanya gue, malah penasaran dengan kisah cinta Bastian. “Sorry … berarti lo cerai, Bas?”

“Hooh. Gue janji lain waktu gue cerita ke anak-anak pas waktunya tepat. Biarpun cerai, gue pernah ada di masa ketika separuh hidup gue adalah perempuan. Kadang-kadang gue ngerasa cemburu juga. Itu hal biasa. Jadi, lo cemburu kenapa?” Bastian balik bertanya, mengembalikan perbincangan ke topik semula.

Gue mengetuk-ngetuk setir. Lampu lalu lintas berwarna merah dan gue sedang berpikir apakah sebaiknya gue bercerita pada Bastian si drummer favorit Bi Murni atau tidak.

“Kalo lo belum bisa ngomong langsung ke Mbak Emma, seenggaknya cerita dulu ke orang lain. Andai ujungnya gue nggak bisa ngasih saran, gue tetep bisa kok, dengerin lo.”

Mendengar itu, gue pun memutuskan bercerita pada Bastian.

Dia benar. Gue menjadi lebih lega setelah mengungkapkan kekesalan atau lebih tepatnya kecemburuan gue kepadanya.

Besoknya, gue ke kantor pagi-pagi karena ada urusan dengan Papa, lalu siang hingga sorenya urusan The Clover lagi. Gue cuma memperhatikan Mbak Emma sesekali. Suatu waktu, gue duduk di sofa dan Mbak Emma terlihat berbisik-bisik dengan Bastian di sofa lainnya. Gue memergoki mereka melirik ke arah gue seolah sedang membicarakan gue. Mungkin memang guelah objek pembicaraannya. Biarlah, gue mempercayai Bastian. Lagi pula, gue belum bisa berbicara empat mata dan berterus terang pada Mbak Emma.

Di parkiran, gue merasakan tangan gue diraih seseorang. “Edgar,” panggilnya. Gue kenal betul itu suara siapa.

Langkah gue terhenti. Gue membalik badan dan menghadap Mbak Emma yang serta-merta menundukkan kepala kala pandangan kami bertemu. Apakah dia gugup?

“Besok pagi jadi mau tenis? Siangnya kamu ada les vokal kan,” katanya setelah beberapa detik ruang di antara kami hanya diisi keheningan.

Besok adalah hari … oh iya, Rabu. Pikiran gue sejujurnya sedang tidak berada dalam kondusivitas yang baik beberapa hari ini. Jika bukan karena Mbak Emma yang setia mengingatkan setiap malam soal jadwal gue hari berikutnya, bisa dipastikan gue akan linglung dan berakhir melewatkan banyak pekerjaan. “Iya.”

“Ng … mau ditemenin, tenisnya?” tanyanya ragu.

Pandangan kami bertemu lagi. Ah, aneh sekali. Biasanya, kami tidak secanggung ini.

“Boleh,” balas gue singkat. Harusnya gue jawab, Mauuu, mau banget, Sayang. Barangkali pengaruh mood yang sedang buruk, sehingga gue jadi bicara singkat-singkat begini.

“Aku ke kamu, ya?”

“Iya.”

“Um … aku ada salah, ya?”

Gue terdiam, menatap Mbak Emma selama beberapa saat. Kamu nggak salah. Gue menelisik rautnya yang terlihat lelah dihantam kesibukan yang padat. Seharusnya gue menyemangati dia, bukannya bertingkah kekanakan dengan menghindar dan menambah beban pikirannya.

Maaf.

Gue lantas menghela napas sebelum menjawab. “Nggak ada.”

“Terus … kenapa?” Entah sudah kenapa yang keberapa gue terima darinya. Gue jadi merasa bersalah membiarkan dia kebingungan seperti ini.

“Kenapa, ya?” Gue mengulas senyum tipis.

Masih belum muncul juga ide di kepala tentang bagaimana gue harus menjelaskan padanya. Tangan gue terangkat mengusap kepalanya hati-hati, berharap gerakan itu mampu menjadi tanda bahwa gue menyayanginya sekalipun hati gue sedang kacau.

“Nggak tau juga, Mbak,” ucap gue kemudian. “Kamu pasti capek. Aku juga capek. Nanti aku pikirin dulu gimana bilang ke kamunya, ya. Tapi kamu nggak salah apa-apa, kok.”

Biasanya, gue akan langsung meminta peluk padanya ketika sedang lelah. Namun, kali ini berbeda.

Mbak Emma lalu mengangguk paham. “Ya, udah. Hati-hati, ya. Selamat istirahat.”

“Makasih. Kamu juga hati-hati pulangnya ya, Mbak.”

“Aku balik ke dalem lagi, masih ada kerjaan,” tuturnya.

Hari sudah makin sore dan perempuan itu masih harus bekerja. Perasaan bersalah gue spontan membesar. Gue menelan ludah. “Oh, ya udah, nanti hati-hati baliknya.”

“Oke.” Dia seperti hendak mengatakan hal lain, tapi urung.

Gue mengusap kepalanya sekali lagi sebelum memperhatikan Mbak Emma kembali ke dalam.

Aaaargh!!!

Rasanya gue hampir sinting.

Gue sampai ke unit apartemen yang gue huni dengan selamat. Walaupun hampir gila, gue masih cukup waras untuk tidak menyetir secara ugal-ugalan. Gue menyalakan AC. Pikiran gue terasa kacau, makin kacau begitu gue menyadari betapa berantakannya apartemen ini sekarang. Gelas-gelas kotor yang tergeletak begitu saja di meja. Kabel yang semrawut di sudut alat musik. Tanaman di pot luar yang mulai layu. Bantal sofa yang letaknya tak menentu. Buku serta kertas-kertas yang berserakan di meja kecil dan seabrek ketidakteraturan lainnya yang terjadi. Ruangan lain termasuk kamar gue pun sama buruknya dengan ruang tengah. Gue lupa kapan terakhir kali mem-vacuum karpetnya. Gue bahkan lupa sudah berapa hari tidak mencuci pakaian.

Ini semua akibat ulah gue sendiri.

Gue berbaring di sofa seraya mengacak-acak rambut gelisah.

“Edgar bodoh!” maki gue kesal.

Gue tatap langit-langit ruang tengah yang heningnya mengundang gue untuk merenungkan kehidupan.

Ya, gue memang cemburu.

Gue cemburu Mbak Emma tampak begitu akrab dengan orang majalah Rona itu. Gue cemburu melihat Mbak Emma bertemu dengannya. Sengaja ataupun tidak sengaja. Sebelum perasaan aneh ini mengusik, gue masih sempat semobil dengan Mbak Emma, entah itu menuju lokasi pekerjaan atau ketika gue mengantarnya pulang ke rumah. Waktu itu gue belum sok-sokan menghindar, jadi komunikasi kami terbilang masih cukup baik. Gue ingat suatu kali di perjalanan, Mbak Emma bercerita banyak hal dan salah satu di antaranya adalah bahwa dia tanpa sengaja bertemu dengan orang Rona itu saat mampir ke sebuah tempat. Ceritanya membuat gue sedikit kesal, tapi untungnya kekesalan itu tak memanjang karena ada hal baik lain yang mengalihkan.

Mengenang momen tersebut membuat gue sadar sesuatu yaitu kami yang makin jarang menghabiskan waktu berdua. Lagi-lagi karena gue berusaha menghindar. Gue menolak setiap tawaran untuk dijemput di sini dengan dalih takut merepotkan dia yang pekerjaannya sudah banyak. Gue juga tidak pernah berinisiatif mencari waktu agar kami bisa melakukan hal menyenangkan seperti yang biasa kami lakukan, misalnya jalan-jalan atau sekadar makan bersama. Kami benar-benar hanya bertemu di tempat kerja tanpa interaksi lebih di luar pekerjaan.

Setiap pesan dari Mbak Emma pun gue balas seadanya. Oke, Mbak; Thank you, Mbak; Siap, bahkan hanya dengan reaction tanpa pesan tanggapan. Gue tahu Mbak Emma peduli. Perempuan itu selalu peduli. Pertanyaan-pertanyaan soal keseharian juga gue jawab sekadarnya. Dia meminta maaf tidak bisa sering quality time karena selain pekerjaan, dia juga sedang membantu persiapan pernikahan sepupunya. Gue menjawab dengan tidak apa-apa di saat seharusnya gue duluanlah yang memohon maaf.

Ya, gue memang salah. Gue mengakui itu.

Jauh di dalam hati, sejujurnya gue benci dengan bagaimana gue bereaksi atas perasaan cemburu ini. Gue paham kalau merasa cemburu adalah sesuatu yang wajar. Gue juga paham merasa cemburu tetap wajar ketika gue mempercayai Mbak Emma sepenuhnya. Gue percaya, sangat percaya dengan perempuan itu. Gue tahu betul dia tidak melakukan apa pun di luar tanggung jawabnya. Akan tetapi, gue tidak suka dengan bagaimana gue bersikap begitu kekanakan sebagai respon atas perasaan itu.

Mestinya gue mampu meredam ego pribadi gue. Mestinya gue dapat membicarakan semuanya baik-baik. Gue yakin Mbak Emma akan mendengarkan secara terbuka dan bila dia punya argumennya sendiri, dia pasti akan menyampaikannya secara jelas. Mengomunikasikannya dengan segera mungkin membuat masalah ini selesai jauh lebih cepat. Mestinya gue bisa berlaku dewasa.

Sayangnya, gue belum dewasa.

Gue membuat rambut sendiri makin berantakan. Gue benci sikap yang gue tunjukkan. Gue kecewa dengan tindakan yang gue ambil. Lihatlah dampaknya sekarang. Pikiran acak-acakan, rumah pun berantakan.

Kemarin, gue menghabiskan beberapa jam di waktu malam dengan nongkrong di kafe Bastian. Bercerita padanya soal keresahan gue dan mendengarkan pendapatnya yang surprisingly terasa masuk akal. Lalu entahlah gue melakukan apa lagi. Barangkali meratapi betapa menyedihkannya diri ini. Gue pulang menjelang tengah malam dan pagi-pagi tadi langsung ke kantor lagi bertemu Papa.

Tentang Papa.

Seolah gue tak cukup sibuk dengan jadwal The Clover belakangan ini, Papa membuat gue makin sibuk dengan permintaannya agar gue mulai serius belajar soal bisnis. Pagi tadi adalah pertemuan perdana gue dengan Bang Chiko yang akan menjadi guru gue ke depannya. Papa memperkenalkan dia sebagai seorang pengusaha muda yang sukses, gue bisa belajar banyak darinya. Gue bilang pada Bang Chiko bahwa untuk sementara waktu gue akan sibuk dengan agenda band, jadi pembelajaran sebaiknya dilaksanakan paling cepat minggu depan dan dia setuju. Pertemuan hari ini memang cuma perkenalan dan membahas rencana pembelajaran, tapi itu saja sudah berhasil mendatangkan kerumitan di kepala gue yang sudah awut-awutan ini.

Setelah melalui perenungan panjang, gue memutuskan bahwa gue tidak bisa diam saja. Harus ada sesuatu yang gue lakukan, paling tidak dimulai dari tempat tinggal gue.

Gue beranjak mengumpulkan gelas kotor dan mencucinya. Menyusun tumpukan alat makan ke rak. Mengembalikan bantal sofa ke tempatnya. Merapikan buku dan kertas yang berserakan. Membereskan tumpukan pakaian kotor dan membawanya ke mesin cuci. Gue baru hendak menyalakan vacuum cleaner ketika perut gue berbunyi nyaring.

Ponsel gue memperlihatkan waktu jam delapan lewat empat puluh malam dan gue belum makan malam. Lebih tepatnya, gue tidak berminat makan. Sepertinya lebih menarik mengerjakan antrean pekerjaan rumah yang menunggu diselesaikan. Namun, gue mendeteksi rasa tak nyaman pada tenggorokan.

Gawat, ini gejala flu.

Gue cepat-cepat meraih kotak obat dan mencari tolak angin. Setelah menemukan bungkusan kuning terang tersebut, gue lekas meneguk cairan itu langsung dari sasetnya, baru kemudian meminum segelas air hangat.

Bunyi notifikasi lalu mengalihkan perhatian gue dari rasa tolak angin yang menusuk. Itu pesan dari Mbak Emma.

**Emma Sahira **Edgar, udah makan malem? Mau dikirimin makanan? Aku harus langsung pulang tapi bisa sambil order buat kamu ini

Dan gue dengan gengsinya menjawab begini.

**Edgar Danuteja **Gapapa Mbak, makasih ya

**Emma Sahira **Beneran? Aku gabisa ke sana sekarang maaf ya

Gue mengusap wajah kasar. Tajamnya rasa tolak angin masih mengisi indra perasa dan penciuman gue.

Mbak Emma yang lembur, malah gue yang diperhatikan. Gue yang salah, malah Mbak Emma yang meminta maaf. Mestinya yang terjadi adalah kebalikannya. Gue mengirim sebuah kata tidak apa-apa lagi padanya. Gue malu. Gue merasa sangat egois dan kekanakan. Rasa-rasanya gue mau menangis saja saking malunya.

**Emma Sahira **Oke kalo gitu Sampai ketemu besok pagi ya Aku sayang kamu

Mendadak, kepala gue terasa pusing. Gue menekan-nekan pelipis. Rencana membersihkan ruang tengah gue tunda dulu. Gue menutup tirai, mematikan lampu, dan beringsut ke kamar. Selimut gue tarik hingga menutupi dada.

Gue tak membalas pesan terakhir Mbak Emma itu.

Gue memang bodoh dan pengecut.

Ketenangan malam seperti tak seimbang dengan isi kepala gue yang berisik. Gue menatap sebuah lego berbentuk Patrick di atas nakas. Hati gue makin tak karuan mengingat mainan itu merupakan pemberian Mbak Emma dulu. Dia membelikannya untuk gue. Kami merangkainya bersama.

Melihat lego itu, gue menyadari bahwa lebih daripada cemburu, kesal, kecewa, perasaan bersalah atau perasaan lainnya, gue merindukan Emma Sahira. Gue merindukan perempuan lembut pekerja keras yang hatinya entah terbuat dari apa hingga bisa seindah itu. Gue kangen ucapan-ucapan penuh perhatiannya, gestur sayangnya, peluk hangatnya. Di tengah ributnya kepala, ada satu suara yang seakan mengamini bahwa dialah orangnya. Harus dia. Suara yang terkesan asing sekaligus mencerahkan. Seolah ada sebuah jawaban besar terpampang di depan mata. Jawaban atas pertanyaan yang mana?

Ini gila. Gue hampir-hampir tidak bisa hidup dengan benar tanpa Mbak Emma.

Malam itu, gue tidur bersama kegelisahan dan setumpuk kangen yang meresahkan.

Gue terbangun kala matahari nyaris terbit dengan kepala yang terasa pusing sekali. Gue memaksa diri beranjak ke kamar mandi. Pusing, malah rasanya makin parah dari semalam. Tenggorokan gue sudah membaik, tapi kepala gue ….

Ketika gue kembali berbaring, gue teringat sesuatu.

Mbak Emma. Iya, gue harus menemuinya.

Sebuah erangan lolos dari mulut gue akibat sakit kepala yang begitu menyiksa. Gue tertatih mengganti celana pendek dengan celana panjang, menyambar ponsel yang untungnya semalam gue isi dayanya, lalu memakai sandal dan membuka pintu keluar.

Pusing.

“Edgar?”

Gue belum sempat melangkah keluar unit ketika suara familiar itu memanggil nama gue. Mbak Emma. Itu sungguhan dia.

Perempuan itu mempercepat jalannya kemari, bersuara panik. Mungkin dia menyadari gue yang memegang kepala seperti orang sakit.

“Edgar? Kamu kenapa? Sakit? Pucet bang–”

Kalimat Mbak Emma terpotong. Gue seketika menarik tangannya masuk. Gue bersandar pada dinding tepat di balik pintu, menatapnya dengan kepala yang pusing dan rindu yang menuntut untuk segera dituntaskan. Oh, juga tangis yang harus lekas ditumpahkan.

Mbak Emma memandang gue khawatir. Gue merasakan dingin dari kulitnya saat tangan gue berada dalam genggamannya.

Namun, alih-alih mengucapkan semua keluh-kesah yang memberatkan hati atau mencurahkan perasaan melalui air mata, otak gue yang agak konslet ini justru bertanya.

“May I kiss you?”

Raut wajah perempuan di depan gue itu sontak berubah mendengar ucapan bernada bicara lirih dan buru-buru di saat bersamaan. Tubuhnya sedikit menjauh dengan posisi yang tetap sama.

Edgar tolol.

Sudah terlambat kiranya jika gue ingin menarik ucapan kurang ajar tersebut. “Hah. Maa–”

“Di mana?” Mbak Emma balas bertanya.

“Hah? Enggak, enggak. Maa–”

“Kamu mau cium aku di mana?”

Gue yang semula hendak mengubah pembicaraan sebab jujur bukan itu yang mau gue katakan, terdiam. Gue menelan ludah. Fokus gue berganti dari rasa pening ke wajah jelitanya. Tidak. Gue tahu ciuman yang demi apa pun tidak ada di dalam rencana–walau mungkin ada di dalam benak gue–itu tak akan terjadi. Gue tahu mustahil kami membiarkan permintaan itu terwujud. Tapi gue tetap membawa ibu jari kanan gue menyentuh bibirnya sekejap sebelum menariknya kembali.

Halus.

Dan manis, mungkin.

Tidak. Tidak. Tidak. Keterlaluan. Gue adalah manusia paling brengsek saat ini.

“Di sini?” Mbak Emma menghadapi gue dengan begitu tenang. Dia menyentuh bibirnya sendiri dengan ibu jarinya. Gerakannya itu memaksa gue menunduk agar tidak terbuai memandangnya.

Tiada reaksi apa pun yang selanjutnya gue berikan selain kepala yang tertunduk. Namun, Mbak Emma mengangkat wajah gue hingga mata kami bertemu kembali. Gue pikir fakta bahwa gue belum menangis sekarang merupakan sebuah keajaiban.

Dia mengusap pipi gue perlahan.

“Edgar, dengerin aku.” Suaranya begitu menenteramkan. “Kamu lagi nggak baik-baik aja, Sayang. Kayaknya pikiran kamu lagi berantakan. Percaya deh, apa yang kamu mau itu, aku juga mau. Tapi kita belum boleh lakuin itu sekarang. Kenapa? Karena bahaya. Karena kalo kita lakuin itu, kita pasti mau sesuatu yang lebih dari itu. Sesuatu yang nantinya cuma bikin kita nyesel dan kecewa. Mama sama Papa kecewa, Ayah sama Bunda aku juga kecewa. Kamu mau itu kejadian, Sayang?”

Gue cepat-cepat menggeleng.

“Aku tau kamu paham maksudku.” Perempuan itu tersenyum, lantas menunjuk kembali bibirnya. “Kamu mau cium aku di sini, kan?”

Gue diam saja sebab dia tahu benar apa jawabannya.

“Ini,” gue memperhatikan gerak-geriknya, “hal paling jauh yang boleh kita lakuin sekarang.” Dia mengecup punggung tangan kanannya, kemudian mengulurkannya pada gue. Gue memeriksa netra Mbak Emma yang masih menampilkan sorot lembutnya. Dia mengangguk meyakinkan gue seakan berkata, Kiss it if you want to taste my lips.

Pikiran gue kabur, tapi mata gue mampu melihat jelas bentuk cetakan bibirnya yang berwarna merah muda di sana. Gue mengangkat pelan punggung tangan perempuan itu lantas menciumnya tepat di titik dia meninggalkan kecupannya.

Emma Sahira sungguh membuat gue tergila-gila.

Masih dengan bibir menempel pada punggung tangan Mbak Emma, gue merasakan pelupuk sendiri yang mulai basah.

“Mbak Emma ….” Setetes air mata jatuh tanpa gue minta. Satu tetes menjadi dua, tiga, hingga lepas hitungannya. Tubuh gue merosot, terduduk bergetar di lantai yang terasa lebih dingin dari biasanya.

“Edgar ….” Kedua pundak gue disentuhnya pelan.

Isakan gue makin lama makin nyaring memenuhi seisi ruangan. Mbak Emma tetap di depan gue. Dia tidak beranjak ke mana-mana. Dan akhirnya, dia membawa gue ke dalam pelukannya. Inilah yang gue tunggu-tunggu. Inilah yang sesungguhnya gue mau. Gue memeluknya erat sekali seolah takut dia pergi begitu saja.

Mungkin gue memang takut perempuan itu meninggalkan gue tanpa aba-aba.

“Hiks … hiks …. Huhuhu ….”

Gue tersedu dalam dekapan Mbak Emma. Punggung gue diusapnya perlahan. Usapan itu mengalirkan hangat yang nyaman. Hangat yang berbeda dengan hangat tubuh gue yang sedang demam. Kerudung yang dia kenakan sudah basah oleh air mata gue. Itu bisa menjadi jejak yang memalukan, tapi gue ingin membiarkan jejak itu menjadi bukti bahwa gue teramat merindukannya.

Tangis gue pelan-pelan mereda. Gue mempererat rengkuhan saat gue rasakan Mbak Emma hendak melonggarkannya.

“Sebentar, aku ambil tisu dulu, ya?” pintanya halus.

Gue menggeleng kuat pertanda tidak setuju. Dia diam sebagai respon, mempersilakan kami berpelukan sedikit lebih lama.

Gue tak yakin berapa lama persisnya kami sama-sama duduk berpelukan di lantai seperti ini. Setelah merasa lebih baik dan ajaibnya sakit kepala gue juga membaik, gue pun melepaskan pelukan kami.

Mbak Emma berdiri, meraih kotak tisu, menarik dua helai dari sana, lalu mengeringkan sisa air mata (dan ingus) di wajah gue dengan tisu tersebut Dia kemudian menyisir rambut gue yang berantakan ke belakang menggunakan tangannya. Kini dengan air mata yang telah kering dan rambut yang tidak lagi menutupi muka, gue bisa memperhatikan Mbak Emma dengan jelas.

“Mbak Emma …,” panggil gue lirih.

“Iya?”

“Aku … aku mau ngomong, aku minta maaf ….” Gue menundukkan kepala.

“Ssst. Gapapa. Mau istirahat dulu aja? Ngomongnya bisa nanti. Ya?”

Perempuan itu menangkup wajah gue dengan kedua tangannya. Gue menatapnya lamat-lamat. Dia tersenyum penuh kehangatan dan air mata gue nyaris jatuh lagi melihatnya.

“Sayang, mau sarapan apa?” Mbak Emma bertanya.

Gue menggeleng, tak berselera makan apa pun.

“Kamu harus makan. Semalem kamu makan nggak?”

Gue menggeleng lagi.

“Ya udah. Aku beliin bubur ayamnya Pak Mul, gimana?”

Gue mengangguk antusias, gue suka bubur itu. Namun, gue menggeleng lagi dua detik kemudian. “Nggak mau kamu pergi, kamu di sini aja.”

Mbak Emma masih tersenyum. “Iya. Aku di sini. Aku nitip buburnya sama Mbak Ovy, ya.”

Gue memandang Mbak Emma penuh perhatian. Asli deh, gue benar-benar jatuh cinta pada wanita ini.

Her presence feels so warm and tender.

Even after what I did to her, she stays the way she usually is, calm and loving.

I think I really love her.

Pintu kamar gue terbuka. Mbak Emma menyalakan AC ruang tengah dan membiarkan AC kamar gue dalam keadaan mati. Gue berbaring di kasur dengan Mbak Emma duduk di pinggirnya. Gue meminum segelas besar air putih kedua yang dia siapkan. Katanya, gue harus banyak minum air putih.

“Mbak Emma, aku kangen banget sama kamu,” ungkap gue padanya. Tangan kanannya gue genggam erat.

“Aku juga.”

“Mbak Emma, aku minta maaf.”

“Iya.”

“Mbak Emma, hari ini harusnya les vokal, ya?”

“Iya. Gapapa. Nanti aku kabarin Miss Rachelnya, bilang kamu lagi sakit.”

“Mbak Emma, besok gimana ya, bukannya kita ada shooting? Terus hari Minggu ada festival.”

“Yang penting kamu sehat, soal lain kita liat aja nanti gimana.”

Gue mengangguk, memainkan jemarinya.

“Mbak Emma, nanti nikah sama aku, yuk?”

Dia terkekeh. “Ini kamu ngelamar aku nih, ceritanya?”

“Iya, tapi belum. Aku nanya dulu. Nikah sama aku, yuk? Aku kayaknya nggak bisa kalo nggak sama kamu.”

“Nikah itu nggak semudah ngomong kayak gini, Sayang,” tuturnya memberi pengertian.

“Iya, aku tau.”

“Iya. Aku tau kamu tau,” balasnya masih dengan senyum terulas.

Bel terdengar, sepertinya ada seseorang yang datang. Gue melepaskan tangannya dengan berat hati. Sesuai dugaan, itu Mbak Ovy. Gue mendengar langkahnya masuk ke ruang tengah juga percakapan di antara kedua perempuan itu. Tak butuh waktu lama untuk Mbak Emma kembali dengan semangkuk bubur di tangannya.

“Tadi pas aku mau naik, aku ketemu Mbak Ovy. Katanya dia mau jalan pagi sekalian sarapan bubur. Kebetulan dia masih di tempat Pak Mul waktu aku telepon tadi, jadi bisa nitip.” Dia bercerita sembari telaten menyuapi gue.

“Makasih, Mbak Ovy.”

“Nanti aku sampein. Dia nunggu di ruang tengah. Gapapa, kan?”

“Gapapa, kok.”

Mbak Emma memeriksa ponselnya. “Oh iya, udah kasih tau Mama belum? Soal kamu sakit.”

“Males ah, Mbak. Nanti Mama ngomel,” balas gue.

“Kasih tau aja, nanti makin ngomel kalo tau kamu sakitnya pas udah sembuh.”

Perkataan Mbak Emma itu ada benarnya juga. Gue pun membuka ponsel dan mengirim pesan kepada Mama.

**Mama Riana **Mas Ed, minum air putih yang banyak, makannya yang bener Sama siapa di situ? Sendiri?

**Edgar Danuteja **Ada Mbak Emma

**Mama Riana **Ya, syukur ada Emma Sebentar lagi Mama ke sana Jangan macem2

Gue mendengus. Mana mungkin gue macam-macam dengan Mbak Emma. Walaupun hampir, sih.

“Mama bilang apa?” Mbak Emma bertanya.

“Nanti ke sini katanya, hehehe ….” jawab gue cengengesan.

Semangkuk bubur kemudian habis. Meskipun tidak senikmat biasanya karena tubuh gue sedang tidak dalam kondisi fit, gue tetap senang bisa makan Bubur Ayam Pak Mul lagi hari ini. Apalagi disuapi seseorang yang gue sayangi.

Ah, perihal ajakan menikah itu. Jujur, gue bukan bermaksud main-main. Gue paham itu adalah sesuatu yang serius nan sakral. Gue pun sadar betul bahwa masih ada banyak hal tentang diri gue yang perlu terlebih dahulu dibenahi. Hanya saja … entahlah. Gue terlampau menyayangi Mbak Emma, mungkin. Gue cuma tidak mau dia jauh dari gue. Di kepala gue, menikah membuat kata jauh ikut jauh dari hubungan kami. Beberapa waktu ke belakang ini membuat gue hampir gila rasanya. Barangkali gue akan jadi sungguhan gila kalau hari ini tak bersua dengannya.

Gue menghela napas.

Masalah di antara kami memang belum tuntas, tapi setidaknya hari ini gue belajar menerima kesalahan yang gue lakukan, lalu bertekad untuk belajar darinya.

Mbak Emma gue minta tetap tinggal di sini. Dia memberikan gue obat penurun demam. Setelah meminum obat itu, gue tertidur. Gue mendengar suara lain di luar saat terbangun. Itu pasti Mama.

Mama kemudian masuk ke kamar dan menciumi seluruh wajah gue. Sebenarnya gue tidak suka dicium begitu, tapi Mama selalu begitu. Ya sudah, gue pasrah saja. Mama kemudian, sesuai terkaan, mengomel. Tega sekali ya, padahal anaknya sedang sakit.

“Salah sendiri, makannya nggak bener, minum air putihnya kurang, olahraga juga jarang. Jadwal lagi sibuk-sibuknya, bukan? Pantes aja sakit,” seloroh Mama yang dalam hati gue benarkan. Toh, memang demikian kenyataannya.

Mama bilang dia yakin 100% kalau gue bukan mengidap penyakit serius, hanya efek kelelahan sekaligus gaya hidup yang tidak sehat. “Ada dua hal Mas, yang sejujurnya Mama bersyukur banget soal kamu. Mama beruntung.”

Gue mengangkat kedua alis ketika melihat ekspresi Mama, seperti betul-betul bersyukur. “Apa, Ma?”

“Nggak ngerokok, nggak minum.”

“Memangnya kenapa, Ma?” Gue bertanya lagi.

“Risiko meninggal lebih cepet, Mas.”

“Astaghfirullah, Mama!” Ih, Mama. “Takut.”

Pipi gue dicubit Mama.

“Jangan gitu ngomongnya Mama, Mas Ed masih mau hidup.”

“Makanya, Mama bersyukur. Umur memang nggak ada yang tau Mas, tapi jangan sampai kita sengaja ngerusak diri sendiri, ya.”

“Iya, Mama,” gue menelan ludah sebelum melanjutkan, “Mas Ed juga mau nikah dulu.”

“Apa?” Pelototan dari Mama membuat gue ciut sedikit.

“Ya iya … sama Mbak Emma. Boleh, kan?” tanya gue pelan.

Mama membalik badannya untuk melihat ke ruang tengah. Mungkin mencari keberadaan Mbak Emma di sudut pandangnya. Lalu Mama kembali menghadap gue dengan badan yang makin condong mendekat.

“Ngaku … kamu apain Emma, Mas?”

Gue mendelik. “Hah? Nggak ada, Ma. Mas Ed nggak ngapa-ngapain dia. Benerannn.”

Mama melirik curiga. Apanya yang perlu dicurigai, sih?

Kemudian gue nyengir. “Sebenernya tadi hampir, sih ….”

“Astaghfirullah, Mas Ed! Tuh kan, Mama udah feeling!” Mama berseru heboh, sedangkan gue berusaha berlindung dengan menutupi badan menggunakan selimut.

Beberapa saat berselang, Mama kembali berbicara.

“Mama khawatir banget kamu macem-macemin dia, Mas. Emma itu perempuan baik-baik. Pantes diperlakukan dengan baik, dijaga dengan baik, diayomi dengan baik. Perempuan itu … ah, susah Mama ngomongnya, Mas. Kamu juga lagi sakit. Mas Ed sembuh, sehat dulu. Pas udah luang nanti kita ngobrol, ya.”

Gue menatap Mama, mengiyakan ucapannya. Pancaran matanya yang semula seolah meragukan gue kini melembut. Pipi gue berganti diusapnya sayang.

Sebelum sore, Mbak Emma pamit pulang. Mama menginap, menemani gue hingga besok paginya gue merasa telah jauh lebih baik, hampir pulih sempurna. Gue pun melanjutkan aktivitas serta kesibukan bersama The Clover sesuai rencana. Gue tidak mau terlalu lama menunda pembicaraan dengan Mbak Emma sebab takut kami telanjur kehilangan momentum untuk menceritakan apa yang kami rasakan. Mbak Emma pasti juga mempunyai sesuatu yang ingin dia sampaikan. Sayang, jadwal kami benar-benar padat menjelang akhir pekan. Ada shooting video untuk salah satu lagu di album kami. Belum lagi persiapan festival.

“Gimana kalo kita atur waktu di minggu depan aja, Edgar? Harusnya jadwal kamu udah sedikit longgar sih,” kata Mbak Emma di perjalanan kami menuju kantor selesai dari lokasi shooting.

“Malem ini aja yuk, Sayang? Kita makan di mana gitu. Aku cuma takut kalo diomongin nanti, aku jadi ngerasa urgensinya berkurang karena udah lewat terlalu lama,” balas gue membujuk.

Mbak Emma tampak berpikir. “Nggak capek, Gar? Kamu juga baru aja sembuh.”

“Gapapa, Mbak. Mending hari ini daripada nunggu minggu depan.”

“Ya udah kalo gitu.” Dia mengecek jadwal gue hari ini. “Setelah kamu latihan vokal sama Miss Rachel deh, ya.”

Gue setuju.

Begitu kami selesai dengan pekerjaan masing-masing, gue membawanya makan malam bersama di sebuah restoran masakan Eropa. Kami berdua memilih tempat di rooftop agar dapat sekaligus menikmati pemandangan kota di malam hari.

Gue menyuapkan sesendok panna cotta kepada Mbak Emma. Biasanya yang terjadi adalah kebalikannya, dia yang menyuapi gue. Awalnya dia menolak, tapi kemudian dia setuju setelah gue memohon. Tangan kiri gue bertaut dengan tangan kanannya di bawah meja.

Sembari melahap menu terakhir makan malam kali ini, gue pun mengutarakan semuanya di hadapan Mbak Emma. Satu per satu, serunut yang gue bisa. Mulai dari alasan utama gue bersikap membingungkan kemarin, pengakuan bahwa gue cemburu dengan lelaki dari majalah Rona itu, hingga bagaimana hari-hari yang gue jalani tanpa banyak menghabiskan waktu dengannya terasa begitu menyiksa. Gue mengakhiri penjelasan yang tak sekalipun dia interupsi itu dengan permintaan maaf dan janji untuk menjadi lebih dewasa dalam menyikapi segalanya.

“Dan aku minta maaf kemarin lancang banget sama kamu ….” Makanan pencuci mulut kami telah habis. Gue mengelus jarinya yang gue genggam. “Aku kurang ajar. Aku bener-bener minta maaf, ya.”

Hari ini bukan merupakan pengecualian dari sibuknya jadwal gue dan Mbak Emma. Pasti dia sama lelahnya dengan gue. Akan tetapi, teduhnya tatapan perempuan itu mampu gue rasakan bahkan di bawah gelapnya langit malam ini.

“Udah, ceritanya?” Dia bertanya. Gue balas dengan anggukan. “Oke. Gantian aku yang ngomong ya, sekarang. Makasih banyak ya, udah jujur ke aku soal perasaan kamu kemarin-kemarin. Sebenernya aku ada kok, feeling kalo mungkin kamu lagi cemburu. Aku juga paham misal kamu sendiri bingung sama perasaan kamu, bingung cara ngungkapinnya. Tapi kayak yang kamu bilang, kita sama-sama sibuk. Kita jarang spend time bareng belakangan ini, jadi belum sempet ngelurusin semuanya sama sekali. Untuk itu, harusnya aku juga bisa lebih peka dan inisiatif buat bantu kamu.”

Gue mendengarkan penuturannya penuh perhatian sebelum kemudian sedikit merajuk sebab ‘dalang’ rasa cemburu gue disebut namanya.

“Tentang Mas Putra–”

“Ih, jangan disebut dong, namanya!” sela gue sambil menunjukkan ekspresi kesal. Setengah dibuat-buat, setengah sungguhan sebal.

“Hahaha … iya, sorry. Soal dia, aku beneran nggak ada urusan apa pun kok, selain kerjaan. Beberapa kali ketemu pun murni kebetulan,” lanjut Mbak Emma.

“Iya, aku percaya kamu. Aku bukannya curiga kamu ada sesuatu sama dia, aku cuma nggak suka aja kamu ketemu dia terus. Kalo dia masih single terus naksir kamu gimana?”

Mbak Emma menyentil hidung gue pelan, lalu melanjutkan ucapannya.

“Dan tentang kemarin di apartemen kamu … aku maafin. Nggak apa-apa. Aku pun kangen banget sama kamu, Edgar. Malah aku berterima kasih kamu nanya dulu dan mau dengerin aku di saat kamu punya pilihan untuk bertindak semau kamu. Kamu juga punya pilihan buat maksa aku kan, seandainya aku nolak. Tapi kamu nggak maksa. Aku jadi nggak ngerasa takut atau terancam.”

Gue terkekeh, tapi sungguh memahami perkataannya. Lega, lega sekali. Gue mengangguk mantap, berkomitmen untuk tidak lagi berniat macam-macam padanya. Sebenarnya yang kemarin itu juga bukan niat gue, kok. Asli.

Kemudian, Mbak Emma kembali bersuara.

“Kamu tau kan, sebenernya yang begini pun, kita belum boleh?” Dia mengangkat tangan kami yang masih saling berpadu. “Awalnya aku nggak mau kita banyak bersentuhan kayak gini. Pelukan hampir setiap hari. Tapi ya, kamu tuh, tipenya memang physical touch, sih. Makanya ….. Dan karena aku percaya sama kamu, Edgar. Aku harap kamu nggak bakal ngecewain aku. Katanya kamu mau nikahin aku kan, nanti?”

Gue tidak menampik apa pun yang dia ujarkan sebab memang benar demikian adanya. Gue mengangguk tegas sekali lagi.

“Iya, tungguin ya, Mbak.”

“Baiklah. Aku pegang janji kamu ya, Manis.”

Gue tersipu mendengar ujung kalimatnya. Gue sungguh-sungguh berjanji tak akan mengecewakannya.

Lucu juga ternyata kalau gue pikirkan lagi.

Masalah yang membuat gue pusing berhari-hari rupanya dapat selesai hanya dengan duduk berdua seperti ini. Gue menyampaikan perasaan gue, Mbak Emma mengutarakan perasaannya. Mendengarkan keseluruhan situasi dari dua sudut pandang rupanya benar membuat pandangan gue menjadi makin luas. Makin objektif dan makin mudah memahami.

Malam itu, kami sepakat untuk tetap meluangkan waktu khusus berdua tak peduli sesibuk apa pun agenda kami sehari-hari. Gue akan berupaya agar kami pergi bersama, pulang bersama, makan bersama. Tidak perlu kegiatan yang mewah, yang penting kehadiran kami lengkap berdua.

Seperti pagi ini di tenda Bubur Ayam Pak Mul.

Speaker kecil di sudut gerobak Pak Mul memperdengarkan lagu Ev (Rumah) dari The Clover sebagai latar aktivitas sarapan gue dan Mbak Emma. Ekhm, gue yang nyanyi, tuh. Perempuan itu beberapa kali menyenggol gue dan berbisik, Cieee. Gue tidak mau kalah, balik menyahut dengan, “Ini kan lagu buat kamu, Sayang,” yang membuat Mbak Emma memerah wajahnya.

Omong-omong soal The Clover, tampaknya lagu-lagu kami masih menjadi trending nasional. Bukan hanya title track-nya, melainkan juga lagu-lagu lain di dalam albumnya. Seperti lagu Ev (Rumah) yang pada akhirnya dirilis music video-nya sebagai respon atas antusiasme pendengar yang luar biasa. Lihat, bahkan pedagang seperti Pak Mul yang bukan berasal dari kalangan anak muda juga memutar lagu kami di lapak jualannya.

Tiada ungkapan lain yang mampu menggambarkan perasaan gue dan teman-teman selain kami bersyukur sekali atas segala hal baik yang terjadi.

Kami masih duduk membicarakan banyak hal walaupun mangkuk kami sudah kosong. Ini kebiasaan kami yang sudah dimaklumi Pak Mul sendiri.

Begitu gue dan Mbak Emma keluar dari tenda bubur tersebut, kami berpapasan dengan seseorang.

“Eh, Mas Edgar, Mbak Emma. Sarapan di sini juga?”

O-ow. Itu Mas Putra. Sinyal kesiapsiagaan gue menyala seketika.

Gue bertatapan dengan Mbak Emma sebelum perempuan itu beralih menyambut sapaan ramah dari Mas Putra.

“Eh, halo Mas Putra. Iya nih, kami sarapan di sini. Mas Putra sendirian?”

Lelaki itu menampakkan senyumnya. Sepertinya dia memang seseorang yang ramah sifatnya. “Iya, sendiri. Mau bungkus. Tuh,” dia menunjuk ujung jalan ini. “Kebetulan saya lagi nginep di rumah mertua yang di pojok itu. Udah biasa beli bubur di sini. Kalian juga rumahnya deket sini, ya?”

“Iya, Mas.” Kali ini, gue yang menjawab. “Kami juga sering sarapan di sini. Mampir Mas, saya tinggal di situ.” Gue menunjuk ke arah gedung apartemen yang terlihat dari tempat kami berbincang.

“Oalah, Mas Edgar tinggal di situ. Sip, sip. Saya mau pesen dulu, nih. Hati-hati ya, Mas dan Mbak.”

“Mari, Mas Putra.”

Kami pun berjalan beriringan.

“Tuh, udah nikah orangnya,” celetuk Mbak Emma menggoda. “Nggak mungkin naksir aku.”

“Ih, tetep mungkin tau!” Gue membantahnya lantas menunjukkan wajah cemberut. Tentu saja siapa pun tetap mungkin naksir perempuan secantik Emma Sahira.

“Hahaha. Iyaaa, jangan ngambek dong, Mas Tama.”

Deg.

“Kamu manggil aku apa, barusan?”

Mbak Emma tampak tertawa. Kakinya melangkah cepat mendahului gue. Dia meneriakkan panggilan tadi seolah berniat menggoda. “Mas Tama! Ayo kejar aku!”

Gue tersenyum lebar.

Baiklah, kalau itu panggilan sayang baru darinya. Gue juga punya. Gue berlari menyusul Mbak Emma yang sudah jauh beberapa meter di depan.

“Awas aku tangkep kamu ya, Ra!”

Senantiyasa, 2026.


메타데이터
post_id
3fc13d2b3f05
slug
sang-pelantun-di-tukang-bubur-3fc13d2b3f05
url
https://medium.com/@senantiyasa/sang-pelantun-di-tukang-bubur-3fc13d2b3f05
canonical_url
https://medium.com/@senantiyasa/sang-pelantun-di-tukang-bubur-3fc13d2b3f05
author_url
https://medium.com/@senantiyasa
status
ok
fetched_at
2026-07-10 07:28:19