← Back to list

Setelah 3 Tahun Jadi “Ibu”, Gue Lupa Siapa “Gue”

Subjudul: Pelajaran tentang jadi diri sendiri buat ibu yang jeda karir.

Feni Lestari · 2026-05-14 00:35 · 1 claps · 2.7 min read
#careers #ibu-rumah-tangga #konservasi #diri-sendiri
Open on Medium ↗

Setelah 3 Tahun Jadi “Ibu”, Gue Lupa Siapa “Gue”

Subjudul: Pelajaran tentang jadi diri sendiri buat ibu yang jeda karir.


Waktu anak gue lahir, gue resign. Keputusan itu sengaja. Gue pengin hadir 100% buat dia.

Tapi yang nggak gue sadar: pelan-pelan, gue juga ikut “resign” dari diri gue sendiri.

Tiga tahun gue jawab semua pertanyaan dengan awalan “sebagai ibu…”. “Sebagai ibu, gue nggak bisa lembur.” “Sebagai ibu, gue nggak tertarik ikut pelatihan itu.” “Sebagai ibu, prioritas gue anak.”

Semua bener. Tapi lama-lama, kalimat “sebagai ibu” itu jadi tameng. Tameng biar gue nggak perlu jawab pertanyaan yang lebih susah: “Lalu kamu mau apa buat dirimu sendiri?”

  1. Gue Kira Jadi Ibu = Lupa Sama Diri Sendiri Itu Wajar

Di grup WA ibu-ibu, ceritanya semua sama. Kurang tidur, nggak sempet mandi, makan sambil berdiri. Dan kita saling bilang, “Gitu emang, namanya juga ibu.”

Gue nggak inget kapan terakhir kali gue nulis sesuatu yang bukan buat caption foto anak. Laptop gue? Rusak. Jarang dipake 3 tahun, pas dinyalain lagi udah nggak bisa nyala. Ironisnya, gue berhenti ngoding justru karena nggak punya alat buat ngoding.

  1. Puncaknya Pas Anak Menginjak Usia 3-4 Tahun

Pas anak gue umur 3 tahun, dia mulai lebih mandiri. Bisa main sendiri, bisa ikut playgroup 3 jam sehari. Waktu itu gue punya ruang kosong pertama kali sejak dia lahir.

Dan ruang kosong itu bikin panik. Gue nggak tau mau ngapain. Rasanya kayak gue berhenti jadi “ibu” beberapa jam, tapi gue juga nggak tau mau jadi apa.

Di situ gue mutusin: gue harus mulai nyari “gue” lagi. Meski nggak punya laptop, meski udah 3 tahun nggak ngoding.

  1. Gue Mulai dari Yang Bikin Gue Hidup Lagi: Lingkungan

Sebelum jadi ibu, gue aktif di organisasi konservasi. Gue pernah turun lapangan buat kegiatan penghijauan, ikut kampanye pengurangan plastik, ikut demo penolakan geotermal, diskusi panjang soal kebijakan lingkungan. Itu bagian dari gue yang paling hidup.

Pas jeda karir, gue kangen banget rasanya. Kangen ngerasa punya suara buat hal yang lebih besar dari urusan rumah tangga.

Jadi gue mulai dari situ. Gue ikut lomba esai tentang isu lingkungan. Nulisnya di HP, kirim lewat email. Topiknya tentang krisis ekologi, tentang hutan yang makin gundul, tentang kenapa perempuan juga harus ada di ruang kebijakan lingkungan.

Gue nggak menang. Tapi buat pertama kali dalam 3 tahun, gue ngerasa: “Ini gue.” Ini suara gue sebagai pemerhati lingkungan, bukan cuma sebagai ibu.

  1. “Jadi Diri Sendiri” Buat Ibu Itu Bukan Egois

Banyak yang bilang, “Ah ibu kok masih mikirin diri sendiri.” Tapi yang gue pelajari, anak nggak butuh ibu yang sempurna. Anak butuh ibu yang hidup.

Anak gue sekarang pulang playgroup suka nanya, “Mama ngapain aja hari ini?” Dan gue seneng bisa jawab, “Mama nulis soal laut yang kotor, Nak.” Bukan cuma “Mama nyuci, mama masak.”

Gue pengin dia lihat, perempuan boleh punya lebih dari satu peran. Dan nggak ada yang salah dari itu.

  1. Nggak Punya Alat Bukan Alasan Buat Nggak Mulai

Iya, gue belum punya laptop lagi. Tapi gue punya HP, punya waktu 2 jam pas anak main, punya internet di HP.

Kadang kita nunggu “siap 100%” baru mulai. Nunggu punya laptop baru, nunggu anak besar, nunggu waktu pas. Masalahnya, titik “siap” itu nggak pernah datang.

Jadi gue mulai dari yang ada. Dari HP ini, dari tulisan tentang lingkungan, dari suara gemetar pas public speaking. Pelan-pelan, tapi jalan.

Penutup: Pulang ke Diri Sendiri Itu Nggak Telat

Buat kamu yang sekarang merasa hilang, kangen sama versi dirimu yang dulu aktif, kritis, punya tujuan: Kamu boleh pulang.

Pulang ke hal-hal kecil yang bikin kamu merasa hidup lagi. Nulis di buku tulis kalau nggak ada laptop. Ngomong di depan kaca kalau nggak ada panggung. Ikut lomba esai tentang hal yang kamu peduliin, meski cuma lewat HP.

Jeda karir bukan berarti jeda hidup. Dan jadi diri sendiri bukan berarti kamu nggak sayang keluarga. Itu artinya kamu sayang sama diri sendiri juga.

Dan itu cukup. Bahkan lebih dari cukup.


메타데이터
post_id
3fe5e230bc8d
slug
setelah-3-tahun-jadi-ibu-gue-lupa-siapa-gue-3fe5e230bc8d
url
https://medium.com/@fenilestariy/setelah-3-tahun-jadi-ibu-gue-lupa-siapa-gue-3fe5e230bc8d
canonical_url
https://medium.com/@fenilestariy/setelah-3-tahun-jadi-ibu-gue-lupa-siapa-gue-3fe5e230bc8d
author_url
https://medium.com/@fenilestariy
status
ok
fetched_at
2026-08-25 19:41:40