← Back to list

Ketika Intelektual Kehilangan Kejujuran

Tulisan ini merupakan opini kami, jika tulisan ini menarik bagi anda, mohon dukung kami. Dukungan anda sangat berarti bagi kami.

Achmad Miftachul Fawwaz · 2025-03-11 23:41 · 65 claps · 4.1 min read
#knowledge #keilmuan #intelektual #akademisi #jujur
Open on Medium ↗

Ketika Intelektual Kehilangan Kejujuran

“Sejarah mengatakan, tidak ada kehancuran bangsa disebabkan krisis intelektual. Kehancuran suatu bangsa selalu berawal dari melorotnya moral dan mental manusianya. Moral adalah akhlaq, dan mental menyangkut kepercayaan diri.” M. Naf’an Shalahuddin, Jiwa yang Merdeka

diskusi dini hari di warung kopi bersama penggiat ilmu dakwah dan psikologi masyarakat

diskusi dini hari di warung kopi bersama penggiat ilmu dakwah dan psikologi masyarakat

Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah berita tentang seorang yang disebut intelektual yang dengan penuh percaya diri membela sebuah kebijakan kontroversial. Argumennya terlihat rapi, dipenuhi istilah teknis dan data yang tampaknya ilmiah. Namun, semakin saya telusuri, semakin terasa ada sesuatu yang janggal, seakan ia bukan sedang menjelaskan kebenaran, melainkan merancang justifikasi. Beberapa hari kemudian, terungkap bahwa ia memiliki keterkaitan langsung dengan lembaga yang diuntungkan dari kebijakan tersebut.

Di sisi lain, saya melihat seorang nelayan tua berbicara dalam sebuah wawancara sederhana. Dengan kata-kata yang polos dan jujur, ia menjelaskan bagaimana kebijakan itu merugikan mata pencahariannya. Tidak ada istilah teknis, tidak ada data statistik, hanya logika sederhana yang masuk akal.

Aneh, bukan? Mengapa suara seorang akademisi yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran justru terasa seperti propaganda, sementara seorang nelayan yang tidak punya gelar tinggi justru terdengar lebih masuk akal? Inilah persoalan moral dan mental yang kini semakin sering kita temui: mereka yang seharusnya menjadi penjaga kebenaran justru tergoda oleh kepentingan, sementara mereka yang hidup dalam kesederhanaan justru menunjukkan keberanian untuk berkata jujur. Jika seorang intelektual kehilangan moral dan mental yang sehat, gelar dan ilmunya tak lebih dari sekadar aksesoris kosong.

Malam tadi, di warung kopi, saya berbincang dengan seorang teman, sesama mahasiswa magister. Saya dari jurusan Pendidikan Agama Islam, sedangkan dia dari Magister Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah. Kami membahas keresahan yang dipicu oleh tulisan M. Naf’an Shalahuddin dalam Jiwa yang Merdeka, kemudian melihat fenomena kaum intelektual yang saling berdebat. Ada yang membela dengan argumen yang terkesan dipaksakan, sementara yang lain berusaha membela kebenaran dengan logika yang lebih mudah diterima. Kasus pagar laut di Tangerang menjadi contoh nyata bagaimana kepentingan sering kali membelokkan intelektualitas. Di satu sisi, ada sekelompok akademisi yang membela kebijakan ini dengan justifikasi teknis yang dipertanyakan. Di sisi lain, warga yang terdampak langsung justru menunjukkan argumen berbasis pengalaman dan logika sederhana yang lebih masuk akal. Sungguh ironi yang menohok, bukan?.

Dalam bukunya, M. Naf’an Shalahuddin menekankan bahwa intelektual sejati harus berpihak pada kebenaran, bukan kepentingan. Namun, banyak intelektual justru memperumit hal sederhana demi status, pengaruh, atau keuntungan pribadi.

Fenomena ini mencerminkan krisis kejujuran intelektual yang kian mengkhawatirkan. Seharusnya, mereka berperan sebagai penjaga kebenaran, bukan alat pembela kepentingan. Namun, sering kali argumen dibelokkan demi ambisi pribadi, alih-alih mencari dan menyuarakan kebenaran.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di dunia akademik modern, tetapi juga telah dikenal dalam tradisi Islam dengan istilah ulama su’, yakni mereka yang menjual ilmu demi kepentingan duniawi. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali secara tegas mengingatkan tentang bahaya ulama su’ yang menjadikan ilmu sebagai sarana mencari kedudukan dan kehormatan.

Ihya Ulumuddin Kitab Ilmu bab keenam

Ihya Ulumuddin Kitab Ilmu bab keenam

Kemudian di kitabnya beliau mengutip beberapa hadis yang menunjukkan bahaya bagi ulama yang menyalahgunakan ilmunya:

قال ﷺ : إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

“Manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah seorang ‘alim yang mana Allah tidak memberi manfaat pada ilmunya.”

وعنه ﷺ : أنه ﷺ قال : لا يكون المرء عالما حتى يكون بعلمه عاملا

“Seseorang tidak dianggap ‘alim atau cendekiawan sehingga dia dapat mengimplementasikan ilmunya.”

Hadis di atas menegaskan bahwa ilmu tanpa amal bisa menjadi bumerang bagi pemiliknya. Hal ini membawa kita kembali pada satu hal mendasar: niat.

Niat adalah titik awal dari segala perbuatan, bahkan dalam aspek intelektual. Dalam Shahih Bukhari, hadis pertama yang tercatat adalah:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوُلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang diniatkannya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.”

Hadis ini menegaskan bahwa substansi dari sebuah tindakan bukan hanya pada apa yang tampak, tetapi pada niat yang mendasarinya. Seorang akademisi yang menulis jurnal ilmiah, seorang penulis yang menyusun esai, atau seorang pemikir yang mengutarakan gagasan.

semua itu harus dimulai dengan niat yang bersih. Jika niatnya adalah untuk kebaikan, ilmu itu akan membawa manfaat. Jika niatnya adalah untuk kepentingan pribadi, maka ilmu itu hanya akan menjadi alat untuk kepentingan sempit.

Lalu, bagaimana dengan kita?

Kita yang menulis, mengajar, dan berbagi pemikiran, apa niat kita? Apakah kita benar-benar ingin mencerdaskan, atau sekadar mencari pengakuan? Apakah kita menulis karena ingin menyalakan obor ilmu, atau hanya ingin mendapat tepuk tangan? Ini adalah pertanyaan yang perlu kita tanyakan kepada diri sendiri sebelum kita berbicara, sebelum kita menuliskan opini, sebelum kita menyampaikan gagasan.

Di tengah arus informasi yang deras, kita harus lebih kritis dalam menerima argumen, baik yang datang dari akademisi, politisi, maupun pemuka agama. Literasi dan integritas intelektual harus menjadi standar utama dalam diskursus publik. Karena itu, kita tidak boleh diam. Akademisi harus berani berbicara tanpa tunduk pada tekanan politik. Mahasiswa harus kritis, tidak sekadar menghafal teori. Dan masyarakat harus terus meningkatkan literasi agar tak mudah terseret opini yang bias.

Dari diskusi di warung kopi itu, saya dan teman saya menyimpulkan bahwa niat sangatlah penting, bukan hanya dalam konteks thalabul ilmi di pesantren, tetapi juga bagi semua penggiat keilmuan. Dengan niat yang kuat dan baik, kita akan terjaga dari tujuan-tujuan lain yang merugikan diri sendiri maupun orang di sekitar kita.

Di era banjir informasi, intelektual tidak bisa lagi bersembunyi di menara gading. Kejujuran dalam berpikir bukan sekadar kebajikan, melainkan keharusan. Jika kita membiarkan kepentingan pribadi menggerogoti nalar, yang tersisa hanyalah intelektual tanpa jiwa, dan itu lebih berbahaya dari sekadar kebodohan. Maka, apakah kita akan tetap diam, atau berani memilih keberpihakan pada kebenaran?.

Tulisan ini hanyalah bentuk opini penulis, yang belum tentu kebenarannya, maka penulis memohon koreksi, masukan, serta kritik dan saran, untuk menyempurnakan tulisan ini. ____ FWZ


메타데이터
post_id
401d7fbb2de9
slug
ketika-intelektual-kehilangan-kejujuran-401d7fbb2de9
url
https://medium.com/@miftachulfawwaz25/ketika-intelektual-kehilangan-kejujuran-401d7fbb2de9
canonical_url
https://medium.com/@miftachulfawwaz25/ketika-intelektual-kehilangan-kejujuran-401d7fbb2de9
author_url
https://medium.com/@miftachulfawwaz25
status
ok
fetched_at
2026-07-13 18:14:32