Ketika Kesederhanaan Yang Kemarin Perlahan Hilang
Pikiran melayang, badan penat, pendapatan menguap cepat. Lalu kesederhanaan yang kemarin, perlahan juga menghilang.
Photo by Ben White on Unsplash
Bagaimana Jika Kesederhanaan yang Kemarin Hilang?
Waktu-waktu ke belakang, rasanya tak hanya badan yang capek ketika pulang. Beberapa hari ke belakang, pikiran banyak orang tak lagi berhenti pada pertanyaan, apakah besok masih bisa makan? Tetapi lebih jauh pada, apakah masih ada harapan ketika aku memilih bertahan? Mirisnya, pertanyaan itu tak mungkin datang dari kalangan atas. Tak juga datang dari mereka yang dianggap kelompok rentan. Tapi lagi-lagi, dari mereka-mereka, yang terhimpit, yang di tengah.
Memilih, atau lebih tepatnya menjadi masyarakat pada posisi tengah di tanah ini sungguh tak enak. Bukan hanya karena tak mampu untuk hidup bergaya mewah maupun terlalu berpunya ketika hendak disebut miskin, tetapi juga karena hidup layaknya pada posisi netral. Hidup pada posisi netral berarti tak layak untuk menikmati sarimi, tetapi juga tak kebagian lapis legit ‘pembangunan’. Padahal, posisi netral adalah sebuah pilihan, yang tak selayaknya dihakimi terus-menerus sebagai sebuah pilihan karena diam.
Mereka, kami yang di tengah, justru tak pernah diam. Bahkan posisi tengah yang kami dapat sekarang adalah buah keputusan untuk bergerak, baik turun kelas atau justru yang seperti kebanyakan, naik dari posisi miskin atau bahkan rentan. Bagi mereka yang turun kelas, posisi tengah adalah hukuman. Ganjaran atas sebuah keputusan yang salah, atau mungkin sudah garis tangan. Sementara bagi mereka yang naik posisi, berada di tengah adalah harapan. Sayangnya, namanya harapan pasti lebih banyak yang tak sesuai kenyataan. Di awal mungkin adalah hadiah. Tapi menuju akhir, ini mungkin setara siksaan. Sudah tak layak menerima ‘bantuan’, juga tak ada harta untuk membeli kemewahan. Habis untuk mendongkrak ‘pendapatan’. Habis untuk bertahan.
Bertahan bagi masyarakat tengah adalah keharusan, kewajiban, hal yang harus dilakukan, dan sudah barang tentu bukan pilihan. Maka bagi masyarakat tengah, ‘hidup adalah pilihan’ adalah motivasi yang sudah usang, yang jauh dari kata relevan. Meski sedari belia selalu mendengar kata kewajiban bersanding dengan hak, realitanya tak demikian. Hak masyarakat tengah tak pernah diganjar setimpal. Mereka tulang punggung, penopang perputaran, yang terus dipaksa menopang beban berat ambisi kepala, yang duduk di atas sebagian kaki rapuh lima tahunan, yang sebagian darinya juga keropos dari dalam. Lalu dari mereka pelan-pelan akan hilang kesederhanaan.
Suami-istri yang tak lagi jalan-jalan pagi
Jalan kaki bukanlah keseharian masyarakat sini. Bahkan, dulu ada salah satu calon presiden yang di-bully karena bilang kaki adalah alat transportasi. Terlepas dari pilihan politik, jalan kaki adalah sarana murah yang tak ramah. Maka bagi beberapa orang, bagi beberapa pasangan, jalan kaki beralih menjadi jalan pagi. Bukan untuk berpindah dari satu titik ke sudut yang lain, tapi sekadar untuk berkeliling, mencari keringat, atau mencapai target langkah harian. Dari sanalah muncul percakapan, muncul pertanyaan dan jawaban, muncul juga kebahagiaan dan kemesraan. Sederhana, hanya butuh dua hati yang saling. Tapi rasanya itu akan semakin mahal, semakin mewah. Tak lagi sederhana. Karena menyempatkan jalan pagi, berarti memangkas waktu tidur, memangkas waktu kerja, menambah rasa penat, rasa lelah. Dua hati yang dulu memilih jalan pagi, terpaksa berdiam diri. Berangkat kerja, lalu pulang, beristirahat. Dapat uang, bayar pajak, hilang.
Seorang anak yang tak lagi membaca buku kesukaan
Membaca hari ini adalah buah dari kebiasaan yang dipupuk entah dari kapan. Karena membaca adalah membosankan, bukan sesuatu yang gampang untuk menjadi kegemaran. Lalu bayangkan, jika kemarin anak-anak mendapat buku sebagai hadiah, lalu meminta lagi karena rasa penasaran, dan berujung pada perjalanan ke toko buku bersama bapak ibu mereka, memilah, memilih, sesekali bertanya, “kok aku nggak boleh beli yang ini?” Lalu Ibunya mengalihkan perhatian, mengajaknya bercakap lain perihal buku bersampul ikan. Mereka tertawa, bercakap riang, senang, tapi pulang tanpa satu pun buku di tangan. Bukan karena bukunya mahal. Tapi karena uang yang mereka punya tak lagi cukup, bahkan untuk sebuah barang yang seharusnya ‘murah’. Sejak itu, tak lagi ada buku kesukaan, tak lagi candaan di toko buku, tak lagi ada perjalanan ke sana. Buat apa? Bahan bakar naik harga, uangnya turun tak terkira. Begitulah kiranya menjadi anak-anak, tak bisa memilih. Karena jika bisa memilih, tentu tak sudi rasanya memilih menjadi anak-anak di sini. Di keluarga menengah, di negara yang pongah lagi goyah.
Muda-mudi yang tak lagi mengharap akan papan
Seseorang bilang orang-orang sini tak ingin kaya raya, hanya ingin hidup cukup, katanya. Tapi muda-mudi bilang, ‘kerja buat apa kalau tak mau kaya?’. Seseorang tadi lupa, hidup cukup di masa dia sekarang sama dengan kekurangan. Dulu papan adalah kebutuhan, primer, sama seperti sandang dan (ketahanan) ‘pangan’. Sekarang, papan adalah kekayaan. Harganya melambung, yang punya segelintir, yang tak punya tak lantas jadi fakir. Kenapa? Karena mereka tetap berpengeluaran, walau entah untuk barang apa. Entah barang lucu, entah perang tiket, entah untuk barang sekunder atau mungkin tersier lainnya. Bukan salah mereka, mereka hanya tak mampu, banyak survei bilang tak akan mampu, memiliki barang sederhana bernama papan.
Bagi sebagian dari mereka, hidup cuma sekali, buat apa jika tak bahagia? Seharusnya sederhana, cukup sandang, ada pangan, punya papan. Tapi sekarang, papan bukan lagi harapan, papan bukan lagi simbol kesederhanaan, bukan kebutuhan. Maka nanti, permasalahan keluarga tak lagi hanya soal kekurangan peran ayah, tapi juga kehilangan rumah. Entah rumah dalam arti rumah, entah rumah dalam makna ‘rumah’.
Pada akhirnya, kesederhanaan mereka-mereka untuk bahagia adalah kemarin, yang kemudian berganti cara, menjadi lebih sederhana hari ini. Hanya untuk bertahan, untuk tetap waras, untuk tetap hidup, entah sampai kapan. Nantinya, kebahagiaan itu menjadi semakin sederhana, lalu hilang. Berganti hidup dengan ritme terukur, irama serempak, tapi tak berjejak, tak membekas.
메타데이터
- post_id
- 4061cd7060ea
- slug
- ketika-kesederhanaan-yang-kemarin-perlahan-hilang-4061cd7060ea
- url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/ketika-kesederhanaan-yang-kemarin-perlahan-hilang-4061cd7060ea
- canonical_url
- https://medium.com/berbagi-berdampak/ketika-kesederhanaan-yang-kemarin-perlahan-hilang-4061cd7060ea
- author_url
- https://medium.com/@alfianrizkiriansyah
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-16 19:09:56