Jangan Salah Tafsir: Tanda Bintang di R dan Stata Ternyata Beda
Jika kita baru belajar ekonometrika, pasti sering melihat output regresi dengan simbol bintang-bintang, iya kan? Misalnya ada yang ***, ada…
Jangan Salah Tafsir: Tanda Bintang di R dan Stata Ternyata Beda
Jika kita baru belajar ekonometrika, pasti sering melihat output regresi dengan simbol bintang-bintang, iya kan? Misalnya ada yang , ada yang , dan juga . Biasanya dosen akan bilang, “Semakin banyak bintang, semakin signifikan”.
Nah, ternyata tanda bintang tidak sesederhana itu. Yang mungkin jarang diketahui mahasiswa adalah: aturan tanda bintang ini berbeda antara software yang satu dengan yang lain. Jadi kalau kita pakai R dan Stata untuk data yang sama, bisa jadi jumlah * yang muncul untuk tiap koefisien akan berbeda.
Di artikel ini, kita akan membahas kenapa hal itu bisa terjadi, dan apa yang sebaiknya kita lakukan supaya tidak salah tafsir, terutama pada dua software statistik yaitu R dan Stata.
Tanda Bintang dalam Output Regresi
Bintang (*) dipakai untuk menandai tingkat signifikansi statistik berdasarkan nilai p-value, dengan ketentuan:
- Jika p-value sangat kecil -> semakin banyak bintang
- Jika p-value agak besar -> sedikit bintang atau bahkan kosong
Tujuannya adalah memberi tanda cepat supaya peneliti bisa tahu variabel mana yang “signifikan”. Tapi masalahnya, setiap software punya konvensi sendiri untuk menentukan cut-off p-value vs jumlah bintang.
Aturan di R
Jika kita pakai fungsi summary(lm()) di R, maka aturan default bintang adalah sebagai berikut:

R lebih “ketat”, karena *** hanya diberikan kalau p-value sangat kecil (≤ 0.001)
Aturan di Stata
Stata memiliki aturan default yang sedikit berbeda, yaitu:

Di Stata, *** sudah muncul jika p-value < 0.01. Jadi cutoff-nya lebih longgar dibanding R.
Contoh Kasus


Jika kita lihat dua tabel estimasi diatas, kedua sebenarnya berasal dari data dan model regresi yang sama. Bedanya, yang atas dihasilkan oleh Stata, sedangkan yang bawah oleh R.
Jika dilihat secara sekilas, hasilnya mirip:
- Koefisien sama
- Standard error dan t-value juga identik.
- P-valuenya pun nilainya sama, hanya beda sedikit di pembulatan.
Tapi jika kita perhatikan kolom tanda bintang, ada perbedaan:
- Di Stata, variabel Constant dan Suhu rata-rata punya tanda ** (dua bintang)
- Di R, kedua variabel itu justru punya tanda * (satu bintang)
Apa Artinya Buat Kita? Apa yang Harus Kita Lakukan?
- Jangan terjebak hanya melihat bintang. Selalu cek nilai p-value numeriknya.
- Konsisten dengan software yang dipakai. Kalau kita biasa pakai R, biasakan dengan cutoff R. Kalau pakai Stata, ikuti aturan Stata.
- Jika presentasi atau laporan, lebih baik jelaskan pakai p-value, bukan jumlah bintang. Dengan begitu, pembaca tidak bingung karena beda software bisa beda jumlah bintang.
Penutup
Tanda bintang di output regresi memang praktis, tapi jangan sampai bikin kita salah tafsir. Ingat:
- R dan Stata punya aturan bintang yang berbeda.
- Yang penting bukan bintangnya, tapi nilai p-value dan bagaimana kita menginterpretasikan hasilnya.
Jadi mulai sekarang, kalau lihat output regresi, jangan langsung terpesona sama banyaknya bintang. Lihat dulu angka p-value-nya. Karena pada akhirnya, analisis yang tajam bukan ditentukan oleh bintang, tapi oleh pemahamanmu terhadap data dan model 😎.
메타데이터
- post_id
- 4068df6eb205
- slug
- jangan-salah-tafsir-tanda-bintang-di-r-dan-stata-ternyata-beda-4068df6eb205
- url
- https://medium.com/@wisnupo/jangan-salah-tafsir-tanda-bintang-di-r-dan-stata-ternyata-beda-4068df6eb205
- canonical_url
- https://medium.com/@wisnupo/jangan-salah-tafsir-tanda-bintang-di-r-dan-stata-ternyata-beda-4068df6eb205
- author_url
- https://medium.com/@wisnupo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-25 07:00:49