← Back to list

Penilaian Etika, Subyektif atau Obyektif?

“Sebagai pendakwah, kita bukan menilai perilaku berdasarkan nilai subjektif kita, tapi kita nilai berdasarkan standar tertentu sesuai…

Adams · 2025-07-31 13:33 · 0 claps · 1.8 min read
#ethics #subjectivism #objectivity #relativism #ethical-values
Open on Medium ↗
Wiki topics: PHI · Philosophy

Penilaian Etika, Subyektif atau Obyektif?

“Sebagai pendakwah, kita bukan menilai perilaku berdasarkan nilai subjektif kita, tapi kita nilai berdasarkan standar tertentu sesuai kenyataannya” begitu nasihat dari dosen Mata Kuliah Etika. Sedari dulu saya memiliki pemikiran relativis-subjektifis yaitu semua orang memiliki kepentingan masing-masing sehingga standar nilai moral pun berdasarkan kepentingan masing-masing. Belakangan dengan berbagai dialektika yang dihadapi saya sadar bahwa ada satu standar kualitas yang universal untuk menilai perilaku. Fakta bahwa perilaku semakin berkembang baik secara individu atau kolektif menunjukan bahwa kita manusia terus berkembang mengembangkan standard nilai perilaku. Pada realitas individu itu dari yang tidak mengetahui baik dan buruk berkembang menjadi tahu. Begitu pula pada sebuah budaya pada konunitas tertentu. Sehingga kita terus mencapai kesempurnaan perilaku.

Ketika dihadapkan dengan kenyataan dimana ada perilaku tidak etis dituntut harus menerapkan penilaian yang pas. Disini permainannya, terkadang di lapangan itu terbentur dengan perasaan subjektif penilai atau pihak yang dinilai. Seringkali dibenturkan dengan rasa empati, menegur harus dibarengi merasa apa yang dirasakan dan bagaimana kondisi pihak yang kita dinilai. Supaya hasil putusan terkait teguran lebih pas karena kita mengerti apa yang terjadi dan membayangkan jika kita berada di posisi penuh dilema tersebut. Karena tidak bisa dipungkiri satu akibat itu bisa disebabkan oleh banyak sebab.

Kembali ke perbincangan saya dan kawan saya. Dengan pengalaman di lapangan terkait tegur-menegur itu saya ingin menekankan sesuatu. Bahwa selayaknya yang kita tegur adalah perilaku yang tidak sesuai standar universal, dan itu objektif sebagaimana adanya demikian. Kita menegur itu karena pihak yang dikenakan teguran perilakunya tidak sesuai dengan sistem nilai moral, bukan standar kita sebagai subjek. Dari sisi subjek penilai saya sering menemukan pihak yang menegur karena resah, tidak nyaman, atau kepentinganya diganggu. Ini akan jadi tidak akan konsisten bilamana objek yang dinilai tidak memenuhi standar subjektif penilai padahal kenyataanya sama tidak etisnya. Lain halnya jika dilandaskan pada nilai universal maka penilai akan konsisten dan pasti. Seperti mengukur dengan jengkal dan penggaris, bisa dibayangkan mana yang presisi dan pasti.

Kesimpulan.

Demi meluruskan nilai penting menegur secara objektif namun bisa tepat caranya disini saya menemukan hal mendasar terkait apa sih yang perlu ditegaskan dalam menilai perilaku. Berangkat dari pemikiran saya yang terdahulu yang relativis-subjektifis yang ternyata keliru, maka saya juga perlu melepaskan dari kecenderungan subjektif dalam menilai sebuah perilaku etis dan tidak etis. Pada tatanan yang lebih praktis ini sulit sekali jika belum reflek.

Namun ada perangkat yang dapat menunjang penegakan hal ini. Kultur atau Nilai-nilai. Ini bisa menjadi perangkat untuk menjaga agar bisa terus mencintai kebenaran yang ilmiah dan tetap berempati pada sesama rekan mahasiswa. Dengan elemen-elemen kultur yang diseimbangkan menjadi sebuah rumusan maka insyaallah bisa menghasilkan kemaslahatan. Saya berharap bisa terus mencintai kebijaksanaan, karena befilsafat berarti berpikir tanpa tendensi, berpikir tanpa tendensi berarti berpikir benar dan lurus. Terakhir ada kutipan dari tuan Aristoteles.

“Aku mencintai guruku (Plato), tetapi aku lebih mencintai kebenaran.” -Bapak-bapak penggagas penyebab pertama (Aristoteles).


메타데이터
post_id
4076a2eaa884
slug
penilaian-etika-subyektif-atau-obyektif-4076a2eaa884
url
https://medium.com/@adam_knight/penilaian-etika-subyektif-atau-obyektif-4076a2eaa884
canonical_url
https://medium.com/@adam_knight/penilaian-etika-subyektif-atau-obyektif-4076a2eaa884
author_url
https://medium.com/@adam_knight
status
ok
fetched_at
2026-08-24 01:57:08