← Back to list

Atmosfer Pildun 2026 yang Berbeda dari Eropa

#119: Keriuhan pendukung yang menambah gairah.

Abdan Islah Trisnadi in Berbagi & Berdampak · 2026-06-19 05:01 · 113 claps · 1.6 min read
#world-cup #bahasa-indonesia #berbagi-dan-berdampak #refleksi #soccer
Open on Medium ↗
Wiki topics: 🔒 · Cybersecurity ⚽ · Football / Soccer

Atmosfer Pildun 2026 yang Berbeda dari Eropa

119: Keriuhan pendukung yang menambah gairah.

Foto oleh Nicholas Green di Unsplash

Foto oleh Nicholas Green di Unsplash

Kamis, 18 Juni 2026 adalah hari pertandingan (matchday) pertama terakhir di Piala Dunia 2026. Sembari menulis tulisan ini, saya menonton laga dari grup K antara Uzbekistan vs. Kolombia. Yang menarik selain jam tayangnya yang bersahabat, pildun tahun ini datang dengan format yang berbeda dari edisi sebelumnya. Kali ini, jumlah peserta terdiri dari 48 negara, bertambah 15 peserta dari edisi sebelumnya. Karena itu, peta kekuatan tim baru jadi terbuka, sekaligus membuat edisi kali ini terasa menarik.

Edisi 2026 sepertinya akan menjadi pildun yang paling saya ikuti. Bagaimana tidak, sebab banyak laga yang digelar di pagi hari waktu Indonesia barat. Waktu di mana manusia masih dalam keadaan segar dan berenergi setelah beristirahat.

Jika dibandingkan dengan dua edisi sebelumnya (2022 & 2018), saya hanya menonton laga yang mempertemukan dua tim besar atau ketika turnamen sudah memasuki fase gugur saja. Lagipula, jam tayangnya banyak di dini hari, khawatir pola tidur berantakan jika mengikuti tiap laganya.

Walau turnamen baru akan memulai hari pertandingan kedua, banyak laga yang sudah saya tonton. Itu mengingatkan saya dengan pengalaman Piala Dunia 2014 dan Copa America 2015 dan 2016. Seluruh laga di turnamen itu dapat diikuti dengan mudah karena jam tayangnya yang ramah.

Begitu pun dengan suasana pertandingannya yang selalu riuh. Keriuhan penonton selalu terjadi secara konstan dari awal laga hingga peluit akhir dibunyikan. Bagi saya, itu menambah keseruan tiap laga.

Berbeda dengan tipikal pendukung Eropa yang keriuhannya cenderung lebih teratur dan terkontrol. Jika tidak ada momen penting di lapangan, mereka lebih memilih diam dan menghemat suara untuk nyanyian (chants) selanjutnya.

Asumsi ini ada tanpa melupakan fanatisme penggemar sepakbola di Eropa. Hanya saja, keriuhan organik yang terjadi secara konstan sepanjang laga terasa lebih menggairahkan tidak hanya bagi pihak yang datang ke stadion, tetapi juga penonton layar kaca.

Situasi itu mirip dengan Indonesia. Para suporter di sini juga akan selalu riuh walau nyanyian sedang tidak digenderangkan. Suara-suara acak dari berbagai interaksi di stadion akan selalu menambah keseruan laga walau gaya permainan kedua tim pragmatis.

Aji mumpung, pildun kali ini diadakan di negara yang kuat di industri hiburannya. Lagipula, kultur masyarakat benua Amerika sangat kuat dengan sepakbola, menambah kemeriahan bumbu dapur Piala Dunia 2026.


메타데이터
post_id
40b4f46badfa
slug
atmosfer-pildun-2026-yang-berbeda-dari-eropa-40b4f46badfa
url
https://medium.com/berbagi-berdampak/atmosfer-pildun-2026-yang-berbeda-dari-eropa-40b4f46badfa
canonical_url
https://medium.com/berbagi-berdampak/atmosfer-pildun-2026-yang-berbeda-dari-eropa-40b4f46badfa
author_url
https://medium.com/@abdantrisnadi
status
ok
fetched_at
2026-06-20 20:29:01