Self Issuuesss
hmm. hai lagi teman-teman
Self Issuuesss
hmm. hai lagi teman-teman
Kali ini adalah part 2 dari self isues yang sebelumnya, dimana aku bercerita tentang self issues ku yang ternyata berakar dari mamaku
kali ini aku baru saja mengenal diriku, dan.. ini tentang bapakku.
Jadi.. Dari dulu itu, aku bisa dibilang punya ketertarikan yang lebih terhadap cowo yang kriterianya entah itu; lebih tua, lebih tinggi, pokoknya dari segi fisik nya seperti mendominasi tubuhku yang kecil mungil ini haha. Kalau ketemu atau berteman sama jenis cowo-cowo diatas, aku pasti akan mendadak suaranya kaya anak-anak, di imut-imut in, dan manjaa parah. Semua itu sama sekali bukan settingan, tapi ya keluar dengan sendirinya, udah hampir menyerupai alterego.
Aku suka di nasehatin. Aku ngerasa, kalo ada orang yang ceramahin, ditelingaku itu terdengar seperti ungkapan rasa sayang, bentuk perhatian. Ketika bahkan sekedar nanya makan, tidur, dan sebagainya. Aku sangat tersentuh ketika ada yang mengirimkan quotes bijak, ataupun ayat alkitab. Menurutku itu hal yang manis.
Oke, lalu.. aku juga senang jika seseorang (khususnya cowo) dapat bertutur kata yang rapi, dapat menyampaikan isi pikirannya dengan baik, lembut, dan bisa ngerti aku bahkan hanya dari tatapan mata atau suara ‘hai’ yang nadanya berbeda.
Dan hadirlah semuanya itu, datang dalam satu wujud manusia, laki-laki yang utuh haha.. Dia lebih tinggi, badannya lebih besar, umurnya.. hm hanya berbeda beberapa bulan, tapi sifatnya bener-bener jauh lebih tua daripada umur aslinya, dan bersama dia.. Aku merasa sangaaattt sangat sangat disayang :’) (bahkan aku nangis sambil ngetik ini)
Tapi ironisnya, kita beda agama, dan beda suku, dan LDR. :)
Setelah dari dia, aku punya banyaaak ‘abang-abang-an’ di berbagai tempat entah dimanapun itu. Aku senaaang banget jadi ‘sikecil’ yang polos dan lugu. Aku senang banget jadi ‘si bungsu’ dan ‘adik’. Padahal aku anak perempuan satu-satunya, dan aku anak pertama hehe.
Ini jadi pertanyaan menarik banget yang aku putar-putar dikepalaku. Semua hal doesn’t make sense. Dan hari ini, kayanya itu terjawab di kepalaku. Hidupku. Ternyata jawabannya.. Karena aku ga dapetin itu semua dari bapakku.
Kenapa aku baru sadarnya sekarang, karena dari dulu tuh.. Bapak emang udah terlahirnya cuek dan dingin, jadi ‘aku kira’, aku sudah terbiasa dengan sikap bapak. Aku kira, aku sudah bisa menerima kalau yaahh memang begitulah bapak. Aku ga butuh diperhatikan sama bapak, karena aku mendari dan mendapatkam cukup perhatian yang kubutuhkan dari semua orang lainnya. Gaada yang bisa cukup talented untuk komunikasi sama bapak, apalagi ngerti isi pikirannya. Terlebih, aku dibesarkan oleh orangtua yang suka berbicara sekasar-kasarnya kalau sedang marah — dari aku kecil. Jadi yah.. Aku pikir, aku baik-baik saja.
Sakin aku pikir aku baik-baik saja. Aku bahkan biasa aja ketika diperantauan, kurang lebih 2 tahun, tidak pernah berkomunikasi sekalipun sama bapakku. Tidak pernah telfonan, atau sekedar nanya kabar. Semua itu terasa sangat kaku dan aneh. Aneh. Aneh liat anak sama bapaknya akrab.
Sampai hari ini.. Hari dimana pernikahan orangtua ku berada diujung tanduk. Bapakku tiba-tiba pengen ngajak mamaku cerai, dan mamaku curhat nangis-nangisan padaku di telfon. Hari ini, hari dimana aku mintaa tolong se tolong tolongnya sama Tuhan, dan dengan sangat sangat sangat susahnya, aku turunkan ego aku buat mendekati bapak.
-Flashback sedikit- Dulu aku dan adikku melihat sosok bapak itu adalah figur yang menyeramkan. Kami gak berani minta jajan. Selalu minta apapun itu ke mamak. Ya lalu nanti mamak yang sampaikan ke bapak. Kami paling takut kalo liat bapak udah mukanya marah. Karena itu artinya mungkin akan ada barang yang hancur atau melayang didalam rumah (atau seseorang yang tersakiti). Pokoknya, kalau ada apa-apa, menjauh se jauh-jauh nya dari bapak, dan jangan coba-coba cari masalah. Kurasa, adikku yang laki-laki, memiliki trauma yang lebih dalam lagi ke bapak. Karena bapak lebih keras memperlakukannya daripadaku. Lebih ketus, dan lebih dingin. (wkwk air mataku menetes ga karuan kalo lagi nulis gini)
Nah, lanjut lagi tentang hari ini.. Kemarin aku udah curhat ke kakak (kakak-kakak an) tentang masalah keluargaku. Tips yang kudapat dari kakak adalah, selalu bilang ‘Tuhan tolong-Tuhan tolong’. Dan hari ini aku lakuin itu, bapak nge chat aku. Sebelum bales chat bapak, aku berdoa setegar-tegarnya.. Ya Tuhan, mampukan aku ya Tuhan.. Cuma aku satu-satunya jalan agar orangtuaku tidak becerai. Mampukan aku untuk membalas chat bapak. Pakai aku Tuhan. Tolong ya Tuhan.
Akhirnya aku dan bapak chatingan. Isinya keluhan bapak tentang betapa keras nya dan sulitnya menghadapi mamak (dimana baru kali ini juga bapak bisa cerita kayagitu) dan di akhir chatingan.. bapak bilang kayagini:

Disitu aku nangis sejadi-jadinya. Baru kali ini bapak bisa bilang kayagitu, dan itu adalah kata-kata paling menyentuh hati sepanjang perjalanan hidupku. Aku terharu sedalam-dalamnya dan serasa akhirnya mendapatkan sesuatu yang dari dulu hilang. Disitu baru aku sadar, ternyata selama ini aku tidak baik-baik saja :’)
Mendadak semua memori masa lalu ternagkat kembali. Memori dari anak-anak sampai tumbuh menjadi seorang gadis (yang ternyata otakku merekam semua kejadian pahit yang terjadi). Ternyata, ketika dicuekin itu ada rasa sakit yang terpendam dan tertimbun sekian tahun. Ternyata, aku butuh merasa dikasihi oleh Bapak.
Itu juga yang menjawab kenapa aku senaang sekali disekeliling orang-orang yang lebih tua dariku. Entah itu abang, kakak, bahkan kakek, nenek. Aku senang berada dekat mereka karena mereka memiliki banyak nasihat yang bisa kudengarkan. Dimana aku hanya akan duduk dan diam memperhatikan, sementara mereka bebas mengoceh panjang lebar tentang hidup mereka, tentang perjalanan pasang surut yang mereka lalui.
Dan itu adalah satu sisi yang akhirnya terkuak bagai balon yang diisi air lalu dikoyak dengan pisau. Tumpah dan meluber.
Aku gatau bagaimana kelanjutan kisah dari orangtua ku. Kalaupun pada akhirnya mereka akan bercerai, setidaknya melalui tulisan ini, ada sedikit rasa hatiku yang tercurahkan, dan kurasa aku sudah lebih tegar untuk menghadapi kabar kabar selanjutnya yang akan datang. Entah mereka akan lanjut atau udahan, kurasa aku akan mempersiapkan diri.
Well, sekarnag jam 3.42 pagi. dan aku udah nangis sejak sebelum chatingan sama bapakku dimana itu jam 11.46 malam.. Aku gabisa menghentikan air mataku setidaknya sampai kubuat tulisan ini dan makan sate yang udah kubeli dan nasi hangat dari ricecooker dari jam 10 tadi.
Setidaknya pesan yang bisa kusampaikan. Setiap dari kita akan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat, walau itu butuh membongkar ego yang sangat sangat tinggi dan teramat dalam sekalipun. Ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku yang aku sendiri ga sangka bisa merasakannya juga.
Terimakasih untuk satu lagi pengertian dan pelajaran berharga ini ya Tuhan.
dan terimakasih bagi kalian yang sudah membaca.
Tetap andalkan Tuhan dalam segala hal.
메타데이터
- post_id
- 40b5ce19ae64
- slug
- self-issuuesss-40b5ce19ae64
- url
- https://medium.com/@tiaralovitaginting/self-issuuesss-40b5ce19ae64
- canonical_url
- https://medium.com/@tiaralovitaginting/self-issuuesss-40b5ce19ae64
- author_url
- https://medium.com/@tiaralovitaginting
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-26 16:45:50