Kita Sedang Hidup di Dalam Sejarah
Ada yang bilang, generasi kita beruntung. Kita hidup di era ketika segalanya terekam. Setiap momen, setiap peristiwa, setiap kebijakan yang…
Kita Sedang Hidup di Dalam Sejarah

Vanessa Solis/Education Week + Getty Images
Ada yang bilang, generasi kita beruntung. Kita hidup di era ketika segalanya terekam. Setiap momen, setiap peristiwa, setiap kebijakan yang lahir dan mati dalam satu siklus berita. Tidak ada yang bisa disembunyikan, katanya.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: kita akan dikenang sebagai apa?
Kita hidup di sejarah ketika pertama kali dolar menyentuh angka delapan belas ribu rupiah. Harga sembako naik, daya beli melemah, mimpi kelas menengah? retak sudah.
Kita hidup di sejarah ketika seorang presiden memilih membangun dapur daripada membangun ruang-ruang kelas. Sebuah prioritas yang, kalau mau jujur, lebih bicara soal citra dan kontrak politiknya daripada memikirkan masa depan. Apalagi Generasi Emas 2045, itu hanya impian fana. Ada yang percaya?
Kita hidup di sejarah, ketika jajaran istana sudah tidak peduli lagi dengan komunikasi publik, yang penting ngomong, menjawab atau tidaknya, sopan atau tidaknya, itu tidak penting.
Kita hidup di sejarah, di mana kecemasan berekspresi yang hanya kita baca di Sejarah 1998, mulai sedikit demi-sedikit kembali membuat kita berada dalam sejarah baru. Indonesia Cemas, 2026.
Kita hidup di sejarah, di mana konflik horizontal yang dipelihara. Mau kritik ke atas? Siap-siap, dikata “emang gue pikirin” atau nggak “ndasmu” atau nggak “goblok,” atau mungkin dianggap bagian dari antek-antek asing.
Kita hidup di sejarah ketika seragam coklat dan seragam hijau kembali masuk ke ruang-ruang sipil; ke sekolah, ke birokrasi, ke narasi “ketertiban” yang selalu menjadi pintu masuk otoriterisme.
Dan kita hidup di sejarah yang pernah kita pelajari, tapi rupanya belum cukup kita pahami.
Ada jebakan nyaman dalam frasa “kita sedang menyaksikan sejarah.” Jebakan itu bernama pasif. Menyaksikan berarti duduk, merekam, mengunggah, lalu melanjutkan hidup seolah yang terjadi di luar layar bukan urusan kita.

Itu slacktivisme. Ketika merasa sudah cukup berbuat hanya karena sudah ikutan add yours di Instagram, lalu kembali rebahan. Fenomena yang sudah lama kita tahu, tapi rupanya belum juga kita sembuhkan.
Yang lebih berbahaya: kita mulai mengira bahwa karena ini semua “sudah pernah terjadi sebelumnya,” maka ini hal yang wajar.
Bahwa militerisasi adalah kenormalan baru.
Bahwa dollar segitu memang sudah takdir ekonomi kita. Memang situasi dunia membuatnya seperti itu, katanya.
Bahwa makan adalah suatu hal yang paling genting. Bahwa tak penting memberdayakan mereka. Yang penting kenyang hari ini. Seolah masa depan bukan urusan negara.
Bahwa berpendapat adalah milik yang berani dan keberanian itu kini ada harganya.
Bahwa otoriterisme yang halus, yang datang bukan dengan tank, tapi dengan regulasi, dengan pembungkaman bertahap, dengan kelelahan publik, adalah harga yang harus dibayar demi stabilitas.
Tidak. Normalisasi bukan penerimaan. Pengulangan sejarah bukan takdir, itu kegagalan kolektif.
Perlawanan tidak selalu harus berwajah dramatik. Ia tidak harus selalu turun ke jalan, meski turun ke jalan tetap penting dan tetap harus ada yang melakukannya. Perlawanan juga bisa berbentuk tulisan yang menolak bungkam. Percakapan yang menolak mengalah pada tekanan sosial. Pilihan untuk tidak pura-pura bahwa semuanya baik-baik saja ketika semuanya jelas tidak baik-baik saja.
Tapi lebih dari itu, perlawanan yang berkelanjutan butuh struktur. Butuh orang-orang yang mau sadar, mau belajar, mau mengorganisir, mau membangun narasi tandingan yang tidak mudah dipatahkan oleh satu siklus berita.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah kita sedang hidup dalam sejarah?
Pertanyaannya adalah: sejarah seperti apa yang sedang kita tulis?
Sejarah yang kita baca dengan kepala tertunduk, malu atas diam kita? Atau sejarah yang kita ceritakan dengan suara tegak.
Bahwa di tengah semua ini, ada yang memilih untuk tidak diam, tidak tunduk, dan tidak lupa?
Bergeraklah. Bukan karena kamu tidak takut, tapi karena kamu tahu bahwa diam pun punya konsekuensi. Bicara, tulis, organisir, pilih dengan sadar. Karena sejarah tidak menunggu kita siap, ia sedang berjalan, dan kita sudah ada di dalamnya.
Pertanyaannya tinggal: ketika sejarah ini selesai ditulis, nama kita ada di pihak mana?
메타데이터
- post_id
- 40b9c2beffc4
- slug
- kita-sedang-hidup-di-dalam-sejarah-40b9c2beffc4
- url
- https://medium.com/@balqissaila/kita-sedang-hidup-di-dalam-sejarah-40b9c2beffc4
- canonical_url
- https://medium.com/@balqissaila/kita-sedang-hidup-di-dalam-sejarah-40b9c2beffc4
- author_url
- https://medium.com/@balqissaila
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-28 14:26:31