Sunyi Pukul Dua yang Aku Kenal Betul
Tidak ada yang menoleh ketika kau lewat, tidak ada yang berhenti dan bertanya, “Hei, bagaimana harimu?” Seolah-olah kehadiranmu adalah…
Sunyi Pukul Dua yang Aku Kenal Betul

Tidak ada yang menoleh ketika kau lewat, tidak ada yang berhenti dan bertanya, “Hei, bagaimana harimu?” Seolah-olah kehadiranmu adalah angin — terasa, namun tak pernah digenggam.
Kau berjalan di antara keramaian yang sibuk dengan dirinya sendiri, membawa beban yang tidak ada yang tahu beratnya. Senyummu? Selalu siap. lukamu? Tersimpan rapi di lipatan hati yang tidak ada yang membuka.
Tapi dengarkan — sunyi bukan hukuman. Ia adalah bukti bahwa kau cukup kuat untuk menanggung apa yang orang lain bahkan tidak sanggup untuk melihatnya.
Kau tidak perlu ditanya untuk tetap berjuang. Kau tidak perlu diperhatikan untuk tetap berdiri. Akarmu tumbuh bukan karena dipuji — tapi karena kau memilih bertahan di tanah yang bahkan tidak mengenalmu.
Dan suatu hari nanti, bukan dunia yang akan mengingat perjuanganmu — tapi kau sendiri, di malam yang tenang, akan tersenyum pelan pada bayanganmu di cermin dan berkata dengan lirih:
“Aku sudah melewatinya. Sendiri. Dan aku baik-baik saja.”
메타데이터
- post_id
- 40e24f3a95f8
- slug
- sunyi-pukul-dua-yang-aku-kenal-betul-40e24f3a95f8
- url
- https://medium.com/@Chrollocy/sunyi-pukul-dua-yang-aku-kenal-betul-40e24f3a95f8
- canonical_url
- https://medium.com/@Chrollocy/sunyi-pukul-dua-yang-aku-kenal-betul-40e24f3a95f8
- author_url
- https://medium.com/@Chrollocy
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-09 16:18:44