Lima Tahun Membakar dan Terbakar
Lima Tahun Membakar dan Terbakar

Saat pertama kali menemukan kamera saku milik Mamah dan lembaran klise yang tersisa di laci lemari, ternyata klise itu berisi wajah kami di kontrakan lama. Mamah dengan potongan rambut pixie dan aku yang mungkin belum bisa naik sepeda roda dua.
Ketertarikan untuk mengarsipkan dan mengabadikan setiap moment yang ada, jadi pemicu untuk membeli roll film pertama. Ketika pandemi, tepatnya setelah menyelsaikan 3 tahun ku di bangku menengah, akhirnya untuk pertama kalinya aku membakar film.
Beberapa waktu berlalu, dan banyak hal tak lagi sama. Aku bahkan belum membakar satu pun film pada tahun ini, naiknya harga film yang terlampau tinggi, jadi alasan untuk menginjak rem atas kebutuhan-kebutuhan yang tidak terlalu urgent. Lagi pula isi dompet dicukupkan untuk menambah sedikit nafas di kota ini. Lab yang dulu kusambangi untuk mencuci gulungan pertama kini sudah tutup, juga teman-teman yang dulu kuracuni bermain analog sudah sejak lama tidak pernah menyentuh kamera saku miliknya.
2025 memasuki tahun ke-5 aku bermain analog, tulisan ini merupakan perayaan kecil untuk setengah dekade mengenal analog film, juga sekaligus mengingat memori yang ada pada foto-foto yang kujepret entah di mana.
Anak Analog 400
Film pertamaku adalah film lokal yang kubeli di Lab sekitar Bintaro. Anak Analog 400 kalau tidak salah saat itu harganya 60 ribu, dibeli sekitar akhir 2020. Dengan ilmu kesoktauan yang dipadukan dengan minimnya informasi yang kudapat, banyak kesalahan yang seharusnya tidak kulakukan di film pertamaku ini.
Foto ini diambil saat pandemi covid, malam itu perjalanan dari Pamulang menggunakan motor Beat menuju Alam Sutra, sebuah tempat yang cukup ramai karena banyak yang membahasnya di media sosial. Sepulangnya, karcis parkir yang seharusnya ada di kantong hilang entah ke mana, 25 ribu ternyata adalah harga yang harus dibayarkan atas kehilangan pada malam itu.

Anak Analog 400
Kodak Vision 3 500T
Sepertinya ini film kedua yang kubeli, lagi-lagi bulk film jadi pilihan. Sebab kondisi pas-pasan waktu itu membuatku terus-terusan membeli film murah. Anak 17 tahun yang baru lulus sekolah tanpa arah dan terus kebingungan mencari kesibukan barunya.
Di film Kodak Vision 3 500T banyak momen yang terabadikan, juga menurutku hasilnya lebih baik dari film pertama. Ada momen saat aku datang ke gigs underground dan mengabadikan unit musik senang-senang dari Tangerang, The Cat Police.

Kodak Vision 3 500T
Kodak ColorPlus 200 (1)
Kodak ColorPlus 200 jadi film C-41 pertamaku, namun sialnya waktu itu aku belum dapat memilih lab yang baik untuk memproses pencuciannya. Warna yang keluar cenderung gelap dan butek. Sejak saat itu aku memutuskan pindah Lab di daerah Jakarta Selatan.
Foto ini diambil di seberang kantor di Kebayoran Lama, karya seni ini sering dijumpai di berbagai sudut bangunan di kota. Melihat karyanya dari lensa kamera pocket seperti melihat gambaran Jakarta yang padat tapi tetap menyenangkan untuk terus disinggahi.

Kodak ColorPlus 200
Kodak Gold 200
Setelah pindah proses develop dan scan ke Lab di Jakarta Selatan, hasil yang ada pada film Kodak Gold 200 menjadi lebih baik dari film-film sebelumnya.
Saat itu sore di Bintaro, kami dengan matahari yang hampir tenggelam juga pemandangan sepasang kekasih yang kuabadikan dan kuunggah di Instagram dengan caption “could be us?”.

Kodak Gold 200
Kodak Vision 3 250D
Film ini sepertinya kubeli bersamaan dengan Kodak Vision 3 500T di Hungry For Film. Namun aku kurang menyukai tone warna yang keluar karena terlalu ungu.
Kami di rumah Yogi, berkumpul berenam yang tergabung di “Grup Multifungsi”. Aku bahkan tidak ingat hal apa yang membuat grup ini terbentuk, tapi kami memang biasa berkumpul bersama (Yogi, Apla, Tasya, Paris, Dika, dan Agil). Dalam foto ini adalah Apla dan Paris.

Kodak Vision 3 250D
Cartenz 200
Cartenz 200 adalah film lokal yang kubeli di Lab tempat biasa aku mencuci. Warnanya yang keluar cenderung hijau, dalam proses pencuciannya film ini menggunakan proses C41.
Masih teringat jelas, foto ini diambil setelah aku potong rambut, rambut yang tidak pernah dikurangi sejak lulus sekolah, sambil memegang kue ulang tahun dan mengenakan sweater berbordir Mickey Mouse yang kudapatkan di Pasar Senen seharga 35 ribu.

Cartenz 200
Kodak Ultramax 400 (1)
Kodak Ultaramax jadi salah satu film favorit. Harganya terbilang lebih mahal dari Kodak Gold 200 dan Kodak ColorPlus 200. Warna yang keluat benar-benar seimbang, apalagi jika dikombinasikan dengan flash saat malam.
Foto ini diambil tanggal 6 November 2021, hari itu umurku menginjak 19 tahun. Dengan perayaan sederhana yang masih kuingat hingga kini. Terima kasih untuk perayaan-perayaan yang ada, terima kasih untuk Mala dan Santos yang sudah terabadikan di foto ini.

Kodak Ultramax 400
Kodak ColorPlus 200 (2)
Hasil dari gulungan Kodak ColorPlus 200 kali ini lebih baik. Ini adalah film Kodak ColorPlus 200 kedua, melihat tanggal albumnya mengingatkanku pada masa saat baru mengundurkan diri dari pekerjaan.
Foto ini kujepret di bawah flyover Kebayoran. Satu kalimat yang keluar dari mulut Apla sebelum kami sampai di Pasar Kebayoran: “Anterin gue yuk nyari celana, gue nggak ada celana buat sholat.”

Kodak ColorPlus 200
Fujifilm Simple Ace
Agak aneh sih mendapatkan disposable camera dari pasar loak, saat melihat jumlah shotnya baru beberapa kali digunakan. Harga dibawah 50 ribu tidak ada pikiran berulang untuk segera mengamankannya.
Gulungannya habis dalam waktu semalam, hari di saat aku menginjak usia 20 tahun, isinya cuma foto kue dan kue.

Fujifilm Simple Ace
Hoasca 200, Space Invaders
Jadi film eksperimental pertama yang kugunakan. Film ini telah diekspos sebelumnya dengan tema Space Invaders, yang membuatnya unik karena efeknya bervariasi pada setiap gulungan akibat diekspos secara manual.
Film ini juga film pertama yang kubawa ke festival musik. Aku mengabadikan beberapa panggung musisi seperti Hindia, The Upstairs, dan juga Bilal Indrajaya yang waktu itu belum merilis album pertamanya.

Hoasca 200, Space Invaders
Meongsaurus 50D
Ini adalah film dari base Kodak Vision 3 50D fresh, yang saat itu dijual seharga 100 ribu. Harga yang murah untuk sebuah film fresh.
Bangun pagi dengan semangat untuk berolahraga, mengeluarkan sepeda, dan mengayuhnya ke Bintaro, makan nasi uduk dengan guyuran kuah semur yang tidak dapat dilupakan. Dan pulang dengan dipayungi hujan di sepanjang jalan.

Meongsaurus 50D
Kodak Ultramax 400 (2)
Ultaramax kedua, dengan isi foto yang sangat beragam, dari kunjungan ke makam di daerah Menteng Pulo, sampai foto Mika dari The Rang-Rangs yang bermain di Blok M.
Favoritku adalah foto Johan dan Dwiki yang habis menyantap nasi uduk Mpok Nunuy, sehabis kami selesai hadir di tur The Panturas.

Kodak Ultramax 400
Fujifilm QuickSnap FLASH Superia X-TRA 400
Ya mungkin kalo cuman sekali namanya hoki, ini adalah kali keduanya mendapatkan disposable camera dari pasar loak. Dibanding disposable pertama, warna di Fujifilm QuickSnap terasa lebih menyenangkan.
Yang menariknya setelah proses develop, ada hasil jepretan dari pedagang loak yang juga masuk ke email yang ku terima. Dan pada foto ini adalah para buruh pada tanggal 1 Mei 2024 di depan Patung Kuda.

Fujifilm QuickSnap FLASH Superia X-TRA 400
Kodak Ultramax 400 (3)
Ini film terakhir yang kubakar, dan film Kodak Ultramax 400 ke tiga yang kubeli. Kebanyakan isinya menghadiri acara musik pada akhir pekan dan bertemu orang baru setiap saatnya.
Mengabadikan teman-teman Bintaro Fingerboard yang tidak sengaja aku temui pada perhelatan di Bilangan Senayan.

Kodak Ultramax 400
Setengah dekade analog film menemani aku tumbuh. Dari tiga pekerjaan berbeda, dari puluhan orang baru yang ditemui, dari ratusan kilat flash yang menyilaukan, dan dari rezim ke rezim yang sebenarnya sama menyakitkannya. Atau dari “dari” lainnya yang mengambang di kepala, entah lah.
Banyak kenangan yang terabadikan di klise-klise yang tersimpan rapi di kamar. Orang-orang baru dan lama terabadikan di sana, teman dekat, band kesayangan, sampai seorang penjual ikan cupang yang kuabadikan di bawah flyover Ciputat.
Mengunggah cucian lama bisa jadi obat dari penyakit “kangen membakar film”, walaupun keinginan untuk jalan-jalan sambil menghabiskan 36 shot pada satu gulungan yang semakin mahal itu tak bisa tertahankan.
Tapi tetap saja, film kesukaan berwarna keemasan dan kamera di kamar yang sekarang berjumlah ganjil akan terus merekam. Karena pada dasarnya “semua terekam tak pernah mati”.
메타데이터
- post_id
- 40e64338f7e8
- slug
- lima-tahun-membakar-dan-terbakar-40e64338f7e8
- url
- https://medium.com/@yourcatismycat/lima-tahun-membakar-dan-terbakar-40e64338f7e8
- canonical_url
- https://medium.com/@yourcatismycat/lima-tahun-membakar-dan-terbakar-40e64338f7e8
- author_url
- https://medium.com/@yourcatismycat
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-14 11:28:49