Chapter I: Aku dan Kehilanganku
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi awal dari kehilangan paling panjang dalam hidupku.
Chapter I: Aku dan Kehilanganku
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan malam itu berubah menjadi awal dari kehilangan paling panjang dalam hidupku.
Semuanya terasa biasa. Terlalu biasa, sampai aku tak pernah menyangka bahwa kenangan paling menyakitkan sering lahir dari hal-hal sederhana yang tampak sepele.
“Aku lapar yang, rendang masih ada kan yah?” tanyanya dari dapur dengan suara lembut yang sudah terlalu akrab di telingaku.
Aku menjawab tanpa menoleh dari layar laptop.
“Masih yang, makan sana.”
Di meja makan yang baru beberapa bulan kami beli dengan tabungan yang kami kumpulkan pelan-pelan, ia duduk sendiri.
Lampu dapur memantulkan bayangan wajahnya yang tampak lelah, tetapi tetap hangat.
Ia makan dengan lahap. Sesekali terdengar denting sendok mengenai piring. Tidak banyak suara. Tidak banyak percakapan.
Hanya rumah kecil kami yang malam itu terasa tenang.
Sedikit demi sedikit ia mulai bercerita tentang pertemuannya siang tadi dengan teman-temannya.
Tentang jalanan yang macet. Tentang satu kawan lama yang kini tinggal jauh.
Tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu kuperhatikan.
Aku hanya mendengar sekilas.
Atau mungkin… aku hanya pura-pura mendengar.
Selepas makan, ia berdiri sambil menggenggam ponselnya erat-erat.
“Aku mandi dulu ya. Sekalian mau BAB,” katanya santai.
Aku mengangguk tanpa benar-benar melihatnya pergi.
Dua puluh menit berlalu.
Suara pintu kamar mandi terbuka terdengar pelan. Ia keluar dengan rambut basah yang menjuntai di bahunya.
Handuk merah melingkar di kepalanya, sementara tangannya sibuk mengeringkan sisa air yang menetes di lehernya.
Ia berjalan menuju kamar sebelah.
Beberapa menit kemudian, ia keluar lagi.
Kali ini mengenakan daster putih bermotif bunga yang baru dibelinya dari Purwokerto. Daster murah yang katanya membuatnya merasa cantik meski dipakai di rumah.
Ia berdiri di depan meja kerjaku sambil tersenyum lebar.
“Cantik kan aku sayang?”
Aku masih menatap layar laptop. Jemariku terus mengetik tanpa berhenti.
“Cantiklah istri aku,” jawabku cepat.
Ia diam sebentar.
Mungkin ia tahu jawabanku terdengar seperti formalitas. Seperti kalimat otomatis yang keluar tanpa perasaan.
Karena itu ia mendekat.
Aku masih ingat aroma sabunnya malam itu. Lembut dan menenangkan.
Ia mengecup pipiku pelan.
“Cantik gak?” tanyanya sekali lagi, kali ini dengan suara lebih kecil.
Aku akhirnya menoleh.
Dan di situlah aku melihat matanya.
Mata yang selama ini terlalu sering kuabaikan karena sibuk mengejar hal-hal yang kukira penting.
“Iya… cantik sayang.”
Senyumnya kembali muncul.
Tipis, tapi hangat.
“Aku tunggu di kamar ya sayang,” ucapnya sebelum melangkah pergi meninggalkan meja kerjaku.
Jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul 21.30.
Aku menyelesaikan satu artikel terakhir malam itu. Setelah menekan tombol publish, aku menghela napas panjang lalu mematikan laptop.
Rumah terasa sunyi.
Ketika pintu kamar kubuka perlahan, lampu sudah mati.
Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajah mereka.
Ia berbaring di tengah, sementara dua anak kami berada di sampingnya.
Tiga orang yang selama ini menjadi alasan aku pulang.
Dan entah kenapa, malam itu dadaku tiba-tiba terasa sesak tanpa alasan yang jelas.
메타데이터
- post_id
- 411191854ad9
- slug
- chapter-i-aku-dan-kehilanganku-411191854ad9
- url
- https://medium.com/@prasgalihh/chapter-i-aku-dan-kehilanganku-411191854ad9
- canonical_url
- https://medium.com/@prasgalihh/chapter-i-aku-dan-kehilanganku-411191854ad9
- author_url
- https://medium.com/@prasgalihh
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-06-09 15:37:30