Prime Minister
Kepemimpinan seorang ibu yang berprofesi jadi perdana menteri
Prime Minister
Kepemimpinan seorang ibu yang berprofesi jadi perdana menteri

Bunga “hyacinth”, sumber dari nama “Jacinda”. Foto oleh 8kka ame di Unsplash.
Belum jadi anggota Medium? Klik di sini untuk lanjut membaca secara cuma-cuma. 🔑🔓
Bagaimana rasanya memimpin sebuah negara yang sedang dipenuhi huru-hara, sementara di rumah ada seorang bayi yang menunggu untuk disusui? Bagaimana pula rasanya mengambil keputusan yang memengaruhi jutaan orang pada pagi hari, lalu berganti peran menjadi seorang ibu pada malam harinya? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat film dokumenter Prime Minister begitu menarik bagi saya sejak menit-menit awalnya.
Saya menonton film dokumenter ini di *HBO Max beberapa pekan lalu. Mengisahkan perjalanan Perdana Menteri ke-40 Selandia Baru **Jacinda Ardern**, Prime Minister* tak berfokus pada strategi kekuasaan, kampanye, atau intrik pemerintahan. Film ini justru bergerak ke arah yang lebih personal. Kamera tak hanya merekam seorang pemimpin negara, tetapi juga seorang manusia yang berusaha menjalankan tanggung jawab publik yang luar biasa besar tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya.
Inti sari film ini
Secara garis besar, Prime Minister mendokumentasikan masa jabatan Ardern dari tahun 2017 hingga 2023. Film dokumenter ini menampilkan bagaimana ia naik ke tampuk kekuasaan pada usia yang relatif muda, 37 tahun, lalu menghadapi serangkaian peristiwa yang menguji kapasitas kepemimpinannya. Mulai dari serangan teror terhadap masjid di Christchurch, pandemi COVID-19, hingga gelombang protes dan meningkatnya polarisasi politik, semua menjadi bagian dari narasi film ini.
Yang membuat film ini berbeda adalah tingkat kedekatannya. Banyak potongan rekaman dalam film ini yang berasal dari dokumentasi pribadi yang direkam oleh suami Ardern, Clarke Gayford. Kita tak hanya menonton pidato resmi atau konferensi pers, tetapi juga percakapan keluarga, momen kelelahan, keraguan, bahkan kesunyian setelah menjalani hari-hari yang berat.
Film ini menunjukkan bahwa sangat manusiawi kalau di balik citra pemimpin yang tampak tenang di depan publik, terdapat individu yang terus bergulat dengan tekanan politis dan psikologisnya sendiri.
Film ini menampilkan bagaimana Ardern, perempuan kedua dalam sejarah modern yang melahirkan anak ketika menjabat sebagai kepala pemerintahan yang terpilih secara demokratis, manjalani pengalamannya sebagai seorang ibu. Selain itu, film ini juga memperlihatkan bagaimana situasi ini memengaruhi caranya memandang tanggung jawab, risiko, dan masa depan negaranya.
Yang mungkin perlu digarisbawahi sebelum menonton Prime Minister adalah, film ini tak sepenuhnya berusaha menjadi karya dokumenter investigatif yang menghadirkan segala sisi secara seimbang. Fokusnya memang berada pada pengalaman Ardern sendiri. Bukan dari rekan politiknya; bukan pula dari lawannya.
Alih-alih diajak memahami sejarah masa jabatan politik Ardern dari panel komentator dan pengamat politik Selandia Baru, kita diajak memahami itu semua melalui matanya, ucapannya, dan sikap yang diambilnya.
Kekuatan film ini
Kekuatan terbesar Prime Minister tentu ada pada akses yang luar biasa dekat dengan Ardern. Kalau film-film dokumenter politik lain banyak memperlihatkan ruang rapat, film ini lebih memilih memperlihatkan ruang keluarga. Di sini, karakter Ardern memang tak ditampilkan sebagai simbol politik yang kebetulan perempuan. Dia ditampilkan sebagai seorang manusia, seorang perempuan, dan seorang ibu yang menduduki suatu jabatan politik tertentu.
Pendekatan ini menghasilkan momen-momen yang terasa tulen dan autentik. Saat Ardern menghadapi kritik dan ancaman, misalnya, kamera tak berusaha mengubahnya menjadi adegan-adegan heroik. Sebaliknya, kita diajak menyaksikan kerentanan yang sering kali disembunyikan oleh dunia politik yang penuh intrik.
Kekuatan lainnya adalah kemampuan film ini menjadi semacam kapsul waktu bagi salah satu era yang sangat menentukan dalam sejarah manusia. Banyak dari kita yang masih mengenang pandemi COVID-19 sebagai pengalaman kolektif yang mengubah kehidupan dunia. Film ini memperlihatkan bagaimana pandemi tadi dipandang dari perspektif seorang kepala pemerintahan yang harus mengambil keputusan dalam situasi yang penuh guncangan dan ketidakpastian.
Selain itu, film ini juga berhasil mengangkat tema kepemimpinan tanpa membuat kita terjebak dalam tontonan politik. Bahkan kalau kita memang tak terlalu mengikuti politik Selandia Baru pun, kita bisa tetap terhubung dengan cerita-cerita yang ada. Ini karena Prime Minister memang berpusat pada pengalaman manusia: tentang bagaimana seseorang menghadapi tekanan, bagaimana menjaga nilai-nilai ketika keadaan berubah, dan bagaimana bertahan ketika kritik datang dari berbagai arah.
Relevansinya bagi kehidupan kita
Tak begitu jauh dari tempat tinggal saya dulu, ada silo yang memampang gambar raksasa Jacinda Ardern di sana. Lokasinya tak sampai lima menit berjalan kaki dari Stasiun Anstey. Dari situ saya mulai tahu kalau Ardern jadi sosok yang dikagumi oleh cukup banyak orang Australia, terutama dari kalangan progresif dan yang mendukung Partai Buruh. Setelah menonton sosoknya di Prime Minister, saya makin memahami mengapa.
Ardern tampak begitu piawai dalam mengelola dilema-dilema peran dalam hidupnya. Selama lima tahun masa jabatannya, dirinya sibuk menjadi perdana menteri untuk semua kalangan rakyat Selandia Baru, sekaligus menjadi mesin politik partai pengusungnya, sekaligus menjadi ibu bagi anak perempuannya, sekaligus menjadi istri bagi suaminya, dan sekaligus menjadi manusia untuk dirinya sendiri.
Dilema-dilema peran seperti ini mungkin juga kita hadapi, tetapi dalam skala yang berbeda. Kebanyakan kita memang tak akan pernah memimpin negara. Namun, kita tetap harus menyeimbangkan berbagai peran sekaligus: menjadi pekerja, menjadi orang tua, menjadi pasangan, menjadi anak, dan menjadi anggota masyarakat.
Film ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan mengelola dilema peran sering kali tak lahir dari kemampuan kita dalam menghilangkan konflik-konflik antarperan, tetapi dari kemampuan kita menyamankan diri untuk hidup beriringan bersama konflik-konflik tersebut.
Di sisi lain, film ini juga mendorong kita mempertanyakan definisi kepemimpinan yang saat ini dominan. Dalam budaya kita, pemimpin sering diasosiasikan dengan ketegasan yang agresif dan kemampuan untuk terus mendominasi. Ardern menawarkan model yang berbeda.
Kepemimpinan yang ia sajikan di Selandia Baru senantiasa menggabungkan kompetensi dengan empati. Film ini memang sama sekali tak mengklaim bahwa pendekatan tersebut sempurna, tetapi setidaknya, ia menunjukkan bahwa pendekatan itu bisa begitu efektif dan bermakna.
Menariknya, film ini juga memperlihatkan “sisi lain” dari empati yang Ardern bawa. Menjadi pemimpin yang terbuka terhadap penderitaan orang lain bisa begitu menguras energi emosionalnya. Dalam konteks ini, Prime Minister bisa pula kita nikmati sebagai sebentuk refleksi tentang persimpangan yang tak terhindarkan antara keletihan mental, kelelahan psikis, dan batas-batas kemampuan manusia.
Saat empati Ardern itu kita bawa ke lanskap media sosial kita yang tiap hari dipenuhi interaksi kemarahan, polarisasi opini, dan tendensi untuk selalu terlihat benar, kita juga bisa merenungi satu hal: Apakah empati masih merupakan kekuatan, atau justru dianggap kelemahan? Pertanyaan ini tentu tak punya jawaban tunggal, tetapi film ini berhasil memantik nalar kita untuk memikirkannya kembali.
Refleksi akhir
Prime Minister tak berusaha menjawab segala perdebatan mengenai Jacinda Ardern dan warisan-warisan politiknya. Ia tak memberi ruang yang lapang bagi kritik atas manuver-manuver politik Ardern, tak pula bagi evaluasi atas kebijakan-kebijakan publik yang dia ambil. Ia mencoba menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: Seperti apa rasanya menjadi seorang manusia yang memikul tanggung jawab sebesar itu?
Kalau kita memang bukan kritikus film, Prime Minister malah bisa meninggalkan kesan yang lebih dalam. Film ini mengajak kita memahami bahwa di balik jabatan, gelar, dan sorotan media, terdapat seorang manusia yang juga punya ketakutan, keraguan, kelelahan, dan harapan. Alih-alih mengagungkan kekuasaan, film ini lebih memilih untuk mengingatkan kita pada kemanusiaan.
Sebagaimana hidup Jacinda Ardern yang dibentuk oleh keputusan-keputusan besar yang dia ambil, hidup kita pun dibentuk oleh keputusan-keputusan besar yang kita ambil. Dan setelah menonton film ini, saya makin menyadari kalau keputusan-keputusan besar di dunia ini ternyata selalu diambil oleh manusia-manusia biasa yang sedang berusaha melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Terima kasih telah membaca sejauh ini. Jika menyukainya, mungkin kamu juga akan menyukai tulisan-tulisan saya tentang **buku, [film dan musik](https://ringgo.medium.com/list/music-0d42ebfd8fc4), [linguistika](https://ringgo.medium.com/list/linguistics-b96094909652), [refleksi diri](https://ringgo.medium.com/list/reflections-85ee21d6f0ec), dan yang [lainnya](https://ringgo.medium.com/list/others-cf2bebaa976a)**.

Lukisan Jacinda Ardern di Brunswick silo, oleh seniman Australia Loretta Lizzio.
메타데이터
- post_id
- 414f1a95f5d6
- slug
- prime-minister-414f1a95f5d6
- url
- https://medium.com/maratonton/prime-minister-414f1a95f5d6
- canonical_url
- https://medium.com/maratonton/prime-minister-414f1a95f5d6
- author_url
- https://medium.com/@ringgo
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-08 16:17:31