← Back to list

Menang Lomba Menulis di Saat Aku Hampir Menyerah

Sebuah pengingat bahwa menulis tetap bermakna, bahkan saat kita ragu pada diri sendiri.

Jess Mei · 2025-12-14 07:02 · 426 claps · 3.2 min read paywalled
#menulis100hari #lomba #personal-essay #medium-indonesia #komunitas-blogger-medium
Open on Medium ↗
Wiki topics: RAG · RAG & Retrieval BIZ · Business Strategy ✍️ · Writing & Creative

Menang Lomba Menulis di Saat Aku Hampir Menyerah

Sebuah pengingat bahwa menulis tetap bermakna, bahkan saat kita ragu pada diri sendiri.

TM100H #DAY49

|Belum menjadi member? Baca di sini.

Minggu lalu tepatnya di hari Kamis, aku menerima sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.

Aku tidak sedang berada di fase produktif ketika kabar itu datang. Justru sebaliknya — aku sedang ingin menyerah menulis, tertinggal jauh dari target, dan mulai mempertanyakan kenapa aku masih bertahan di tantangan 100 hari ini.

Photo by Dev Asangbam on Unsplash

Photo by Dev Asangbam on Unsplash

Yang seharusnya sudah memasuki tulisan ke-80-an, aku justru baru akan menginjak hampir tulisan ke-50. Angka itu sering membuatku membandingkan diri dengan penulis lain yang tampak begitu konsisten dan disiplin.

Di tengah kondisi seperti itu, sebuah chat masuk di Kamis siang. Dari Kak DyPa Dinara

Chat tak terduga dari Kak Dypa — sumber pribadi

Chat tak terduga dari Kak Dypa — sumber pribadi

“Kak Mei, dapet hadiah dari publikasi Peran (Perspektif Perempuan). Untuk tantangan menulis Hari Ayah. Kami kirim dalam bentuk e-book ya, Kak Mei. 🙏🏻”

Aku membaca pesan itu berulang kali, memastikan tidak salah paham. Jujur, aku sangat tidak menyangka tulisanku bisa terpilih. Niat awalku menulis hanya satu: berbagi. Sekaligus bernostalgia, mengenang masa kecilku dan relasi dengan ayah — hubungan yang tidak selalu mudah untuk diceritakan, bahkan kepada diri sendiri.

[embed]Ayah, Kini Aku Mengerti Surat Cinta Seorang Anakmedium.com

Beberapa hari setelahnya, Kak Dypa kembali menghubungiku. Ia menanyakan pilihan hadiah: buku motivasi atau novel. Hmm pilihan yang cukup sulit sebab aku menyukai keduanya. Karena sudah lama tidak membaca fiksi, aku memilih novel. Aku merindukan tenggelam dalam cerita, tanpa merasa sedang “belajar” atau “memperbaiki diri”.

Dan Jumat kemarin, buku itu akhirnya sampai.

Hari itu adalah hari shift-ku bekerja. Pulang dari kios yang biasanya terasa melelahkan dan kerap membuatku merana, perasaanku berbeda malam itu. Ada semacam semangat kecil yang membuat langkahku terasa lebih ringan. Aku ingin cepat pulang dan melakukan unboxing paket buku.

Dan saat paket itu kubuka — aku kaget, senang, dan rasanya ingin menjerit bahagia. Buku yang kudapatkan adalah The Midnight Library karya Matt Haig.

Penulis dan novel The Midnight Library — sumber pribadi

Penulis dan novel The Midnight Library — sumber pribadi

Buku ini sempat dibahas di sesi Zoom- Dream Woman Community Book Club pada 7 Desember lalu. Aku bahkan sempat berpikir untuk membelinya sendiri karena alur ceritanya terdengar menarik dan penuh makna. Tak kusangka, aku justru mendapatkannya secara gratis. 🥹💕

Poster Zoom DWC Book Club- Sumber : Grup DWC

Poster Zoom DWC Book Club- Sumber : Grup DWC

Di sesi Zoom tersebut, hampir semua dari kami — para member — belum membaca buku ini. Hanya Kak Yuli selaku pembawa acara yang sudah membacanya. Ia melemparkan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang isi cerita, salah satunya:

“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bisa kembali ke masa lalu?”

Pertanyaan itu masih membekas di kepalaku hingga sekarang. Saat Zoom, aku menjawab dengan jujur: aku ingin melakukan hal-hal yang sejak lama menjadi wishlist-ku. Hal-hal yang sering kutunda karena takut gagal, takut salah, atau sekadar tidak cukup berani mencoba sesuatu yang baru.

Mungkin itulah mengapa aku bisa berjodoh dengan buku ini. Dan ini terasa datang di waktu yang tepat. Seolah mengingatkanku bahwa setiap pilihan, sekecil apa pun, selalu layak untuk dicoba — termasuk memilih untuk tetap menulis meski tertinggal.

Aku berencana segera membaca buku The Midnight Library dan menuliskan ulasannya di Booknotations. Hadiah kecil ini ingin kujadikan pengingat bahwa menulis tetap punya makna, bahkan saat aku merasa ragu pada diri sendiri.

Tantangan menulis 100 hari itu masih belum selesai. Aku pun belum tahu apakah aku akan benar-benar menuntaskannya. Tapi setidaknya, aku ingin terus mencoba. Masih ada waktu sebelum akhir tahun, dan masih ada ruang untuk berproses tanpa harus sempurna.

Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk tim Publikasi Perspektif Perempuan: Kak DyPa Dinara selaku founder, Kak Ainka Vandia yang telah memilihkan dan mengirimkan novel ini, serta para editor: Kak putrimelati_123, Kak Dewi Cahyanti, Kak Cindiana Famelia, Kak Ibrahim Dutinov, dan Kak Baihaqi.

Mungkin aku masih belum sampai di garis akhir tantangan ini, dan mungkin aku masih akan sering merasa tertinggal. Namun hadiah kecil ini mengingatkanku bahwa proses pun layak untuk dirayakan. Bahwa menulis tidak selalu tentang konsistensi yang sempurna, melainkan tentang keberanian untuk tetap jujur pada cerita sendiri. Selama aku masih memilih untuk menulis — meski pelan, meski kadang meragu — aku percaya, kata-kata itu akan selalu menemukan jalannya.


메타데이터
post_id
41fb04830d9b
slug
menang-lomba-menulis-di-saat-aku-hampir-menyerah-41fb04830d9b
url
https://medium.com/@jessmei/menang-lomba-menulis-di-saat-aku-hampir-menyerah-41fb04830d9b
canonical_url
https://medium.com/@jessmei/menang-lomba-menulis-di-saat-aku-hampir-menyerah-41fb04830d9b
author_url
https://medium.com/@jessmei
status
ok
fetched_at
2026-06-14 11:28:49