← Back to list

Kelana: Serpihan Surga di Gang Yogyakarta

Kisah ini dibuka ketika aku datang pada sebuah tempat yang ditemani dengan rak-rak buku dan bau kopi yang tak pernah tinggal, tempat yang…

Elworldelelfelf · 2025-11-18 10:16 · 0 claps · 3.0 min read
#buku #toko-buku #surga
Open on Medium ↗
Wiki topics: SEO · SEO & SEM

Kelana: Serpihan Surga di Gang Yogyakarta

Kisah ini dibuka ketika aku datang pada sebuah tempat yang ditemani dengan rak-rak buku dan bau kopi yang tak pernah tinggal, tempat yang sudah direncanakan akan aku datangi bersama seseorang yang bisa disapa dengan Ann. Lokasinya berada di Magelang. Sayangnya, tujuan kami justru menutup diri dari keramaian. Ah, barangkali karena ketidaktelitian dalam melihat kapan bangunan itu membuka diri untuk dijelajahi para insan.

Telanjur sudah, perjalanan sudah ditempuh selama dua jam lamanya dan tidak mungkin kembali ke Semarang tanpa apa-apa, setidaknya satu kenangan yang melekat dalam kepala. Setelah berdiskusi dengan cukup lama di pelataran tempat singgah, Yogyakarta menjadi tujuan. Tempat yang selalu kudambakan untuk dikunjungi berkali-kali. Tempat yang ramai dengan seni, jika seni mati di Yogyakarta, justru menjadi tanda tanya besar, apa penyebabnya?

Buku jika diberi napas, ia adalah jantung kehidupanku. Betapa dia mampu memberikan semangat baru untuk perjalanan hidup yang berliku-liku, memberikan isi kepalaku dengan penuh ilmu, melahap gagasan-gagasan dari orang yang tidak pernah kutemui sama sekali, dan memperlihatkan dunia baru dengan segala keunikannya yang selalu singgah. Karenanya, tempat yang dipenuhi buku menjadi tujuan kami selanjutnya.

Dalam setiap perjalananan selalu ada obrolan-obrolan kecil yang menenangkan atau bahkan diam menikmati angin yang berisik, menyapa mendung-mendung di jalanan, hingga tak terasa sudah tiba dengan berbekal peta dari layar kaca. Tempatnya agak masuk ke dalam rumah-rumah warga, pelarian dari Yogyakarta yang berisik dengan bunyi kendaraan.

Bangunan dua lantai itu menyapa dengan pelukan hangat, memberikan kesan agar kami harus segera menjelajahinya setelah memarkirkan motor. Di depannya terdapat bar kecil dengan berbagai macam rasa kopi dikawani tanaman-tanaman hijau yang menyegarkan mata. Kursi-kursi berjejer rapi, barangkali ingin mencari ketenangan, tempat ini dengan tangan terbuka akan menyambut dengan penuh cinta. Kamu bisa mengerjakan tugas-tugasmu yang padat di tengah nuansa sunyi yang membuat kepalamu setidaknya berhenti sejenak dari bising.

Di depan pintu masuk, tampak tatanan sepatu-sepatu agak berantakan karena rak kecil itu tidak muat untuk menampung segalanya. Pintu kami buka, buku-buku mengucapkan selamat datang dan melambaikan diri agar bisa disapa dengan memegang atau membacanya, atau membawanya pada rumah baru. Tempatnya tidak terlalu luas, tetapi ilmu yang tersimpan di ruangan ini lebih luas dari tempat itu sendiri. Hanya ada sedikit orang yang berlalu lalang, entah melihat-lihat buku, membaca buku di atas karpet yang berada di depan rak, melihat-lihat cinderamata yang beragam rupanya, dan tentu saja orang-orang yang sibuk mengabadikan dalam potret kamera layar kaca dengan diselingi obrolan-obrolan kecil yang hangat.

Pada setiap sudutnya berisi buku-buku dengan beragam jenis yang mempunyai pembacanya sendiri. Di depan pintu masuk langsung bisa menjamah tempat membaca yang didesain dengan meja panjang dengan kursi-kursi yang berhadapan, di depannya terdapat kaset-kaset lawas dan piringan hitam yang memutar lagu-lagu klasik, menambah kesan tempat ini seperti surganya para pencinta buku. Kiri kanan sudah jelas rak-rak buku tinggi yang disusun sesuai dengan jenisnya, sastrawan Indonesia, sastrawan dari barat, fiksi Indonesia, hingga buku-buku kiri yang langka di toko buku.

Buku-buku bisa dibaca hingga usai asal memiliki banyak waktu untuk singgah, jika tidak memiliki waktu yang cukup, bisa menukarnya dengan rupiah. Di sana disediakan ruang untuk menenggelamkan diri dalam pikiran penulis dengan iringan lagu-lagu syahdu. Di antara rak-rak buku yang penuh, terselip beragam pernak-pernik lucu. Orang-orang memegangnya dengan mata berbinar, secara sadar membawanya ke kasir.

Barangkali kamu pencinta buku sekaligus kolektor merch, maka tempat ini adalah surga untukmu. Dari stiker-stiker tulisan dan karakter, pembatas buku yang kaya akan seni, pin-pin penulis kiri, gelang dan gantungan warna-warni, dan barang-barang lain yang memadukan fungsi, estetika, dan nilai ekonomis.

Bau-bau buku lawas mampu tercium dengan sempurna seolah mengatakan yang kamu cari bisa didapatkan di sini. Di sudut yang lain, ada bagian khusus untuk karya-karya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan kita yang karyanya melalang buana, yang berkali-kali dibredel pemerintah, pemilik pikiran yang liar yang dapat menumpahkan pikirannya pada rangkaian aksara. Dinding di atasnya menampilkan potret Pram dalam sebuah lukisan yang dibingkai dengan kaca. Pram hidup di tempat ini. Di sampingnya banyak majalah-majalah lawas yang sudah tidak diproduksi lagi, kertas berwarna coklat menandakan ia sudah melahap banyak waktu untuk bertahan.

Inginnya berlama-lama menjalin cinta dengan buku-buku yang berjejer rapi, sayangnya sang waktu mengingatkan agar tidak terlalu terlena karena harus kembali pada dunia yang fana. Ini lebih dari kenangan, ini adalah kehidupan yang kuinginkan. Terima kasih Ann.


메타데이터
post_id
426328c4bd1f
slug
kelana-serpihan-surga-di-gang-yogyakarta-426328c4bd1f
url
https://medium.com/@elworldelelfelf/kelana-serpihan-surga-di-gang-yogyakarta-426328c4bd1f
canonical_url
https://medium.com/@elworldelelfelf/kelana-serpihan-surga-di-gang-yogyakarta-426328c4bd1f
author_url
https://medium.com/@elworldelelfelf
status
ok
fetched_at
2026-07-15 06:59:54