← Back to list

DUA WAJAH KRITIK

Pengantar Dua Tulisan: “Kritik Etis, Sebuah Disiplin Ilmu yang Dilarang?” Wayne C. Booth dan“Ideologi dan Kritik Etis” Eugene Goodheart

Yohan Fikri · 2026-05-24 07:33 · 1 claps · 3.4 min read
#literary-criticism #sastra-indonesia #puisi #novel #kritik-sastra
Open on Medium ↗
Wiki topics: LIT · Literature & Writing ✍️ · Writing & Creative

DUA WAJAH KRITIK

Pengantar Dua Tulisan: “Kritik Etis, Sebuah Disiplin Ilmu yang Dilarang?” Wayne C. Booth dan“Ideologi dan Kritik Etis” Eugene Goodheart; Keduanya, akan ditayangkan di akun ini secara urut dan berkala.

WAYNE C. Booth menulis risalah kritik setebal lebih dari 500 halaman berjudul The Company We Keep, setelah salah seorang asisten profesor seni “berkulit hitam” di University of Chicago, Paul Moses, menyatakan bahwa ia tidak lagi bisa mengajarkan Huckleberry Finn karya Mark Twain. Usut punya usut, Moses merasa terhina oleh cara Twain menggambarkan sosok “kulit hitam” di dalam karya Twain.

“Buku itu hanyalah pendidikan yang buruk,” katanya kepada Booth dengan geram, “dan fakta bahwa ia ditulis dengan begitu cerdas, justru membuatnya semakin merepotkan bagi saya.”

Demi menghormati Paul Moses, Huckleberry Finn pun akhirnya dihapuskan dari mata kuliah mahasiswa dan digantikan dengan novel lain. Pada masa itu, apa yang dikatakan Moses tentu saja tidak bisa disepakati oleh Booth maupun rekan-rekan sejawatnya. Di samping karena menyalahi “norma objektivitas di dalam kritik” dan mengembalikan “praktik pembacaan kritik” ke masa lalu “kritikus moralis” yang usang, sikap Moses yang demikian, di mata Booth saat itu, merupakan wujud dari “ketidakmampuannya membaca maupun berpikir dengan benar tentang pertanyaan yang relevan untuk menilai kelayakan sebuah novel”.

“Kami telah dilatih memperlakukan sebuah ‘puisi’ sebagai puisi dan bukan hal lain,” kata Booth — senada dengan maksim terkenal T. S. Eliot — “dan percaya bahwa nilai dari sebuah karya fiksi yang hebat adalah sesuatu yang jauh lebih halus daripada ‘ide’ atau ‘proposisi’ apa pun yang diturunkan darinya, atau digunakan untuk memparafrasakan ‘maknanya’.”

Namun, dalam pergulatan teoretisnya di kemudian hari, Booth justru berbalik arah dan menganggap apa yang diutarakan Moses sebagai sebentuk kritik sastra yang sepenuhnya sah. Sikap Moses yang meradang itu, lambat-laun mengusik kenyamanan dan kemapanan teoretis yang selama ini telah dianut Booth selaku kritikus.

Bahwa banyak dari kritik estetis, menurutnya, sering berlindung di balik benteng “otonomi seni” atau “formalisme murni”, dan meyakini bahwa estetika yang adiluhung harus bebas dari urusan moral dan praksis hidup sehari-hari. Bahwa dengan mengisolasi teks dalam ruang kedap nilai, itu berarti kita meninggikan kemurnian seni.

Booth menyadari ada sesuatu yang luput dalam keyakinan kolektif semacam itu. Bagaimana mungkin sebuah karya yang begitu kuat memengaruhi kualitas hidup kita pada momen saat kita menikmatinya, dianggap sama sekali terputus dari tanggung jawab etis?

Melalui proyek pemulihan kritik etis yang mewujud dalam The Company We Keep itulah, Booth mengajak untuk menengok ulang hubungan karib antara cerita dan pembacanya. Tentulah ia tidak sekadar menyodorkan daftar kaku mengenai apa yang “baik” dan “buruk” secara moral. Lebih dari itu, ia membedah bagaimana setiap narasi, misalnya, menawarkan sebuah “dunia alternatif” yang kelak membentuk kebiasaan bertindak, cara pandang, dan karakter (ethos) kita sendiri.

Membaca pengakuan Booth, adalah juga menyaksikan bagaimana seorang kritikus melakukan oto-kritik atas masa lalu, yang di mata pribadinya, telah terlampau memuja kemurnian bentuk. Bahwa “narasi”, misalnya, memiliki kuasa untuk membentuk ulang diri seseorang. Itulah mengapa menolak kritik etis, bagi Booth, adalah juga sebentuk pengingkaran terhadap kekuatan sejati dari sastra itu sendiri.

Usaha Booth, betapa pun saya lebih banyak tak menyetujuinya, tetap patut diapresiasi, sebab kritik etis yang ia tawarkan dan yang dikerjakan dengan amat baiknya itu, jauh berlainan — dan memang harus dibedakan — dengan kritik ideologis yang cenderung menjadikan “karya sastra” sebagai latar belakang bagi agenda-agenda politis belaka.

NAMUN demikian, benteng etika yang dibangun Booth dengan penuh kedermawanan itu, rupa-rupanya juga mengandung kerancuan. Merespons upaya Booth untuk mendamaikan antara yang etis dan estetis, Eugene Goodheart dalam risalah berjudul The Reign of Ideology melembingkan interupsi tajam sekaligus mengelisahkan, bahwa ada batas yang rancu, atau mungkin kompromi yang terlampau reaktif, ketika Booth dengan begitu bersemangat mengubah rasa bersalah masa lalunya menjadi sebuah “Metode Pembacaan” yang terkesan ingin menyenangkan semua pihak.

Di mata Goodheart, proyek kritik etis Booth — yang memperlakukan buku dan kritikus lain sebagai “persemakmuran sahabat” — malah menyembunyikan sebentuk kecemasan akademis; sebuah ketakutan dianggap menyinggung atau melanggar “kesalehan politik (political correctness)”. Dalam pada itulah Goodheart lalu mengajukan pemisahan krusial antara yang “etis” dan yang “ideologis”.

Kritik ideologis, demikian menurut Goodheart, “selalu bekerja dengan bahasa kekuasaan, mewakili kelompok konstituen, dan bergerak dengan agresivitas membongkar kedok penindasan”. Berseberang dengan itu, “kritik etis sejati, seharusnya berbicara demi jiwa individu, sebagai sebuah pencarian kebenaran tanpa pamrih”.

Sekadar sebagai gambaran, ketika Booth mencoba merangkul keberatan kaum feminis terhadap Rabelais atau gugatan rasisme terhadap Mark Twain sebagaimana diutarakan oleh rekannya sendiri, Paul Moses, Goodheart memandang bahwa Booth justru sedang mencampuradukkan kedua wilayah antara yang “ideologis” dan yang “etis” tersebut.

Demikianlah Goodheart sekaligus bermaksud mengingatkan bahwa kesadaran etis yang dipaksakan untuk menanggung beban ideologis, tak terelakkan lagi, berisiko mematikan vitalitas batiniah dari sastra itu sendiri — termasuk kehilangan daya katarsis dari humor yang kejam, atau energi imajinatif yang lahir dari prasangka seorang pengarang.

Membaca keberatan Goodheart atas Booth, bagi saya pribadi, memperlihatkan sebentuk ketegangan yang urung rampung di dalam jantung kritik sastra modern. Di satu pihak, kita mendapati bagaimana Booth dengan anggun mengikhtiarkan negosiasi ulang demi mempertahankan buku-buku kesayangannya di atas fondasi moral baru. Sementara di pihak lain, kita dihadapkan pada peringatan Goodheart bahwa “cinta estetis” kita yang keras kepala pada sebuah teks — terlepas dari segala cacat ideologisnya — adalah perwujudan dari tindakan etis itu sendiri, persis juga ia nyatakan di menjelang pemungkas Bab 6 risalah kritiknya: “..pada saat ideologi berkuasa dan mengenakan kedok etis seperti dewasa ini, tanggapan estetis itu sendiri mungkin merupakan sebuah manifestasi dari hal yang etis”.


메타데이터
post_id
4278bdd202a6
slug
dua-wajah-kritik-4278bdd202a6
url
https://medium.com/@flamboyan11/dua-wajah-kritik-4278bdd202a6
canonical_url
https://medium.com/@flamboyan11/dua-wajah-kritik-4278bdd202a6
author_url
https://medium.com/@flamboyan11
status
ok
fetched_at
2026-06-09 15:37:30