← Back to list

kamu maunya gimana?

✨️ · 2025-02-13 13:09 · 0 claps · 6.3 min read
#2-mins
Open on Medium ↗

kamu maunya gimana?

“lepas.”

sagara pura-pura tak mendengar ucapan kalandra dan tetap menarik lelaki itu melewati sepanjang koridor kampus. ada beberapa teman kampus kalandra yang memerhatikannya sambil berbisik-bisik, tapi sagara mencoba untuk tidak peduli.

“lepasin tangan aku, saga.”

sagara masih tak menggubris ucapan kalandra. ia malah semakin mencengkeram pergelangan tangan kalandra dan menarik lelaki itu menjauh dari gedung kampus.

“lepas, saga. tanganku sakit. aku gak suka kamu kasar kayak gini ke aku.”

langkah sagara seketika terhenti, begitu pun dengan cengkeraman tangannya pada kalandra yang perlahan mengendur. kalandra segera menarik tangannya dari sagara dan mengusap pergelangannya yang memerah.

“apa lagi?”

sagara berbalik, berhadapan dengan kalandra yang balas menatapnya dengan tatapan yang tak mudah dibaca. seperti marah tapi bercampur… takut?

“apa lagi yang gak kamu suka dari aku?” sagara memperjelas pertanyaannya. “selain kamu gak suka dikasarin sama aku, selain kamu gak suka naik motor butut aku, apa lagi yang gak kamu suka dari aku? bilang sama aku, kala, biar aku perbaiki.”

alih-alih menjawab, kalandra malah alihkan pandangan sambil mengusap pergelangan tangannya yang baru sagara sadari kalau itu memerah. sagara jadi merasa bersalah karena telah mencengkeramnya terlalu kencang, apalagi ia menariknya terlalu jauh dari dalam kelas sampai luar gedung, pasti itu terasa sakit. tapi ia terpaksa melakukan itu agar kalandra mau berbicara empat mata padanya.

“jawab, kala. apa lagi yang gak kamu suka dari aku?”

kalandra masih diam, pun masih alihkan pandangan darinya. sagara hanya dapat memerhatikan ekspresi lelaki itu dari samping, tapi mau seberapa lama dilihat pun ia masih tak dapat menebak apa yang sedang dipikirkan kalandra.

kalandra itu memang penuh dengan misteri. hampir tiga bulan berpacaran dengannya belum bisa membuat sagara memahami lelaki itu sepenuhnya. pernah ia mencoba, tapi rupanya tak benar-benar bisa.

kalandra seolah selalu memasang tembok tak kasat mata di antara keduanya. seakan tak izinkan sagara untuk menyelam ke dalam matanya, hatinya, dan juga pikirannya untuk mengenal lelaki itu lebih dalam. kehadiran kinandra, sang kakak dari kalandra pun sama sekali tak membantu, malah justru semakin mempersulitnya. sagara juga tak mengerti mengapa waktu itu kalandra menerimanya menjadi pacarnya apabila lelaki itu masih menutup diri darinya.

“aku mau bikin kamu nyaman sama aku, kala. jadi apapun yang kamu gak suka dari aku, tolong bilang ke aku. kasih tau ke aku. biar aku ubah. biar aku perbaiki. biar aku bisa bikin kamu nyaman sama aku. biar aku bisa jadi pacar yang bisa diandalkan buat kamu. biar aku—”

ucapan sagara diinterupsi dengan suara ponsel kalandra yang tiba-tiba saja berbunyi. kalandra merogoh ponsel dari dalam tasnya dan mendapati adanya panggilan masuk dari kinandra.

“jangan angkat,” ucap sagara yang masih dapat melihat siapa yang menelepon kalandra.

tapi kalandra tak mendengarkan. ia hendak menekan tombol hijau pada layar ketika ponselnya tiba-tiba saja dirampas oleh sagara yang segera mematikan panggilan itu.

“saga!”

“aku udah bilang jangan angkat!”

“tapi itu mas kinan!”

“dan aku gak mau mas kinan ganggu pembicaraan kita berdua!” sagara tak sengaja meninggikan suaranya. “kamu gak sadar apa kalau beberapa hari kemarin kamu selalu dimonopoli sama mas kinan? kamu sampe gak pernah bales chat aku, angkat telpon aku, bahkan kamu gak pernah nanyain gimana keadaanku setelah aku ditonjok sama mas kinan waktu itu! kamu tuh sadar gak sih kalau mas kinan udah jadi pengacau di hubungan kita?”

“kamu kenapa sih malah jadi negative thinking kayak gitu sama mas kinan?! ternyata bener ya kata mas kinan kalau makin ke sini kamu emang makin keliatan sifat aslinya. kasar dan kurang ajar.”

“terus?” kalandra terkejut saat melihat perubahan ekspresi sagara yang malah terlihat seperti menantang saat bertanya begitu. “terus apa lagi yang mas kinan omongin tentang aku? apa lagi yang dia bilangin ke kamu tentang aku? bilang semuanya ke aku. biar aku tau udah sejauh mana pikiran kamu dihasut sama masmu itu!”

“aku gak dihasut sama mas kinan!”

“kalau pikiranmu gak dihasut sama mas kinan, kamu gak akan ikut-ikutan bilang aku selingkuh di twitter tadi, kala!”

“tapi kenyataannya kan kamu emang selingkuh sama orang yang pegang bunga di foto yang kamu post itu!”

“aku gak selingkuh, kala! aku kan udah jelasin ke kamu berkali-kali kalau aku gak selingkuh. kemarin kan aku udah bilang kalau aku mau ngasih sesuatu buat kamu pas hari anniv kita nanti. orang yang di foto itu yang bantuin aku. florist itu yang bantu bikinin buket buat kamu. aku mau kasih buket bunga buat kamu di hari anniv kita nanti!”

melihat paras kalandra yang masih tak percaya, sagara merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana dengan tidak sabaran. ia mengggulir layar untuk beberapa saat sebelum menunjukkan layar chatroom pada kalandra dengan wajah emosi.

“liat ini! liat chatnya aku sama dia! mana ada pembahasan kami yang mengarah ke perselingkuhan? isinya cuma bahas buket buat kamu aja kan? liat ini nomor kontaknya! aku gak ngesave nomor dia! bahkan sampe saat ini aja aku gak tau namanya siapa karena emang hubungan aku sama dia cuma sebatas penjual dan pembeli. sampe sini kamu masih gak percaya kalo aku gak selingkuh?”

“mas kinan bilang—”

“mas kinan, mas kinan, mas kinan, mas kinan terus yang kamu omongin!” sagara kembali meninggikan suaranya dengan emosi yang memuncak hingga buat kalandra terkejut dan terdiam seketika.

“kamu tuh apaan sih apa apa disangkutpautinnya sama mas kinan?! bisa gak sih kalo kita lagi berdua gak usah bahas mas kinan?! kamu tuh makin ke sini makin kedoktrin sama ucapannya mas kinan tau gak?! kamu jadi lebih percaya sama ucapannya mas kinan daripada ucapannya aku.”

“ya iyalah, mas kinan kan kakak aku!”

“iya! mas kinan kakak kamu! dan aku cuma pacar kamu yang sama sekali enggak penting dibandingkan mas kinan kamu itu! iya kan?! kalo emang aku gak sepenting itu buat kamu, kenapa kamu mau jadi pacar aku?! kalo emang mas kinan sepenting itu buat kamu, kenapa kamu gak pacaran aja sama mas kinan sekalian?!”

plak.

pipi kiri sagara terasa panas usai tamparan dari kalandra mendarat di sana. saat tatapannya kembali bertemu dengan kalandra dan temukan ekspresi marah bercampur kecewa pada sorot matanya, seketika sagara tersadar kalau ucapannya sudah kelewatan.

“kala...” sagara bergerak maju, tapi kalandra mundur dua langkah, enggan untuk bersentuhan dengan sagara.

“maaf. maaf, kala.”

kalandra kembali membuang muka, tak mau bertatapan dengan sagara. buat sagara kini mengusap wajahnya frustrasi, merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan kalandra karena ucapannya, sekaligus merasa lelah dengan segala pertengkaran mereka yang tak pernah bertemu akhir.

ketegangan di antara mereka kembali terpecah oleh suara dering ponsel kalandra yang masih ada di tangan sagara. sagara melihat nama mas kinan berkerlap-kerlip di layar ponsel kalandra. ia kembali arahkan pandangan pada si pemilik ponsel dan menyerahkannya pada kalandra, membiarkan lelaki itu untuk menjawab panggilan dari kakaknya.

namun alih-alih menjawab panggilan itu, kalandra malah hanya menerima ponsel dari sagara dan membiarkannya berdering hingga akhirnya mati dengan sendirinya.

sagara yang melihat kalandra tidak mengangkat telepon dari kakaknya itu hanya dapat bertanya-tanya dalam hati. tak lama kemudian ponselnya kembali berbunyi, masih panggilan yang sama dari kinandra, tapi kalandra lagi-lagi hanya mendiamkannya sampai kembali mati dengan sendirinya.

hingga kemudian sagara sadari kalau kalandra memang tidak ingin mengangkat panggilan itu, kalau kalandra memang tidak ingin kakaknya mengganggu pembicaraan serius mereka kali ini. entah kenapa sagara merasa sedikit lega walau di dalam hatinya masih penuh dengan keresahan akan keterdiaman kalandra selanjutnya.

“kamu maunya kita gimana sekarang?” sagara kembali keluarkan suaranya setelah beberapa menit hanya diisi keheningan.

tak ada jawaban dari kalandra. lelaki itu kembali membuang muka darinya. tapi sagara masih dapat mendengar napasnya yang terdengar memburu, pertanda emosinya belum berubah stabil.

“jujur, aku capek loh, kala. aku capek ribut kayak gini terus sama kamu. aku capek sama topik berantem kita yang selalu aja gak jauh dari mas kinan. aku gak mau benci sama mas kinan, aku mau tetap menghormati mas kinan sebagai kakak kamu, tapi terus terang aku bener-bener gak suka kalau mas kinan selalu ikut campur hubungan kita berdua. aku juga gak suka kalau kamu apa-apa selalu mas kinan, mas kinan, dan mas kinan. aku pacar kamu, tapi aku berasa ditinggal di belakang, berasa gak dianggep apa-apa sama kamu.

“aku sayang banget sama kamu, kala, beneran sayang banget. aku gak mau hubungan kita jadi kayak gini. kita baru mau tiga bulan loh, besok lusa kita anniv. tapi aku gak yakin akan sanggup sama kamu di bulan-bulan selanjutnya kalau kamu masih aja kayak gini.”

ada beberapa menit keheningan saat sagara tak kembali bersuara. kalandra mencuri pandang sekilas dan menemukan tatapan sagara yang masih mengarah padanya.

“kamu maunya gimana sekarang?” tanya sagara kemudian saat mereka bertatapan.

kalandra masih tak berkata apa-apa, tapi kini ia tak bisa alihkan pandangannya dari mata sagara yang entah kenapa pancarkan emosi yang mampu buat dadanya bergemuruh tak keruan, seperti diingatkan kembali tentang bagaimana ia jatuh cinta pertama kali pada sosok sagara mahardika itu, dan juga tentang bagaimana perasaannya kini pada lelaki itu, apakah benar ia masih cinta atau hanya pernah cinta.

“beberapa hari terakhir ini, aku kacau, kal. dipaksa gak ketemu sama kamu dalam keadaan hubungan kita yang kacau gini, bikin aku makin kacau dan tanpa sadar ngomong kasar ke kamu, bikin keributan di sosmed, dan bahkan aku juga tanpa sadar nyakitin kamu,” ucap sagara sambil menatap pergelangan tangan kalandra yang masih memerah.

sagara arahkan kembali pandangannya pada wajah kalandra sebelum melanjutkan, “aku sadar aku bukan cowok baik-baik. aku sadar kita punya banyak ketidakcocokan. dan aku gak mau egois dengan hanya mikirin diriku sendiri aja tanpa mempertimbangkan keinginan kamu, makanya sekarang aku tanya kamu maunya gimana.”

ditatapnya mata kalandra yang tak lagi berikan tatapan tajam padanya. ditatapnya mata kalandra yang kembali berikan tatapan yang tak mudah dibaca olehnya. ditatapnya mata kalandra yang entah kenapa sekarang malah terlihat berkaca-kaca sama seperti dirinya.

“bilang ke aku, kamu maunya gimana? kamu mau kita gimana sekarang, kala?”

karena faktanya, sagara masih ingin bertahan, tapi apabila memang kalandra tidak tahan, sagara tak akan lagi menahan.


메타데이터
post_id
42e0206e495c
slug
kamu-maunya-gimana-42e0206e495c
url
https://medium.com/@D0MSEUNG/kamu-maunya-gimana-42e0206e495c
canonical_url
https://medium.com/@D0MSEUNG/kamu-maunya-gimana-42e0206e495c
author_url
https://medium.com/@D0MSEUNG
status
ok
fetched_at
2026-07-21 00:12:54