← Back to list

Yang Terlalui

Sebuah Jurnal #5

Sara Fiza · 2020-01-01 11:12 · 109 claps · 2.3 min read
#kata-sarah #jurnal #tebing #takut #kehidupan
Open on Medium ↗

Yang Terlalui

Sebuah Jurnal #5

Tepat dibawahnya, tebing itu terlihat jauh lebih tinggi, jauh lebih menantang dari ketika masih melihat dari kejauhan. Hari itu adalah hari pertama saya memanjat tebing. Dulu saya pernah merasakan rappeling (turun tebing) berulang kali di medan papan panjat buatan, tapi tidak pernah memanjat. Karena dulu saya naik melalui tangga, jadi hanya tinggal turun saja. Saya pikir, sepertinya memanjat tidak sesulit itu. Namun ketika tebing batu itu menjulang di hadapan, kepercayaan diri itu berganti ketakutan yang teramat. Saya terus berpikir untuk menyerah berulang-ulang kali.

Sebelum memanjat, saya terlebih dahulu menjadi "Belayer"--seseorang yang bertugas menahan dan mengulur tali untuk mengamankan pemanjat selama proses pemanjatan--dan memerhatikan teman saya dari bawah. Salah sedikit saja, teman saya tidak bisa memanjat atau justru terombang-ambing dan membentur tebing, bahkan terjatuh. Tapi, jika tidak yakin, bagaimana bisa meyakinkan teman saya yang juga pemula itu untuk terus naik? Maka, akhirnya saya yakin saja.

"Belay on!" seru saya sebagai aba-aba siap mengamankan.

Ketika giliran saya untuk memanjat, rasa takut itu semakin menjadi-jadi. Berulang kali saya berkata, "Duh, bisa enggak ya?" "Bisaaa!" Seru pembimbing dan teman-teman saya dengan serempak. "Ayo semangat, Teh!" "Tenang aja"

Hingga ketika saya mengucapkan aba-aba "Climbing" yang berarti saya akan memulai pemanjatan dan Belayer mengucapkan, "Climb on" yang berarti dia siap mengamankan selama pemanjatan, saya masih saja bertanya-tanya dalam diri, "Bisa enggak ya?"

Ketika tangan dan kaki meniti tebing sedikit demi sedikit, rasa ragu dan takut masih betah diam dalam kepala.

Di tengah pemanjatan, saya makin kebingungan mencari celah dan pijakan untuk memanjat. "Susaah" teriak saya pada belayer dan teman-teman. "Bisa!" "Itu tuh di kanan ada celah"

Hingga akhirnya sudah mencapai posisi yang agak nyaman, saya melihat ke bawah, dan melihat teman-teman semakin jauh. Saya sudah setinggi ini. Padahal sepanjang perjalanan saya masih terus bertanya-tanya bisa atau tidak memanjat. Pertanyaan itu diiringi ketakutan kalau-kalau saya terjatuh. Ternyata semua itu dapat terlalui walau ketakutan dan keraguan menemani.

Ketika saya selesai rappeling (turun tebing) dan menginjakkan kaki ke tanah, saya kemudian berkata pada teman-teman, "Mau lagi!" Ternyata, semua bisa terlalui. Meski jika diminta untuk memanjat lagi, saya yakin ketakutan itu akan bangkit lagi.

Hidup nampaknya tidak bisa membuat kita benar-benar terlepas dari rasa takut. Terlebih rasa takut akan masa depan dan ekspektasi-ekspektasi.

Dua tahun terakhir ini, ketakutan-ketakutan pada masa yang akan dihadapi berkali-kali lipat lebih menyeramkan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Sejak awal tahun dua tahun terakhir, saya melihat tebing ketakutan dan masalah di masa depan yang dibangun oleh pikiran sendiri.

Saya awalnya takut memulai menulis karena khawatir tulisan saya tidak berarti, takut memulai podcast yang kini sudah mengudara, takut lulus kuliah, takut menghadapi lingkungan baru, takut mengalami kehidupan tahap selanjutnya, dan ketakutan-ketakutan lainnya.

Masa depan terasa menyeramkan dan kemungkinan-kemungkinan terburuk masih enggan beranjak dari pikiran.

Namun, ketika melihat diri saya pada hari pertama di tahun baru ini, saya sadar bahwa dua tahun ini sudah berlalu.

Ternyata rasa takut, sakit hati, sedih dan rasa-rasa tidak mengenakkan itu berlalu dan datang silih berganti dengan rasa-rasa yang lain. Ternyata semua masalah itu terlalui sedikit demi sedikit meski setiap kali melaluinya ada ragu. Ternyata meski ketakutan tidak lepas begitu saja, selalu ada teman baik yang dikirimkan untuk memeluk dan meyakinkan saya untuk bertahan dengan cara mereka sendiri. Ternyata meski pencapaian orang lain terasa jauh lebih bersinar, pencapaian saya yang terlalui dengan perlahan dan belum seberapa ini juga adalah pencapaian luar biasa yang tidak perlu dibandingkan dengan pencapaian orang lain.

Ternyata ketakutan itu bukan alasan untuk menyerah. Ternyata kita bisa terus maju meski penuh rasa takut.

Ternyata, saya sudah sejauh ini. dan masih ketakutan. dan itu tidak mengapa. saya masih mau berusaha lagi.


메타데이터
post_id
42e10f8a5a4f
slug
yang-terlalui-42e10f8a5a4f
url
https://medium.com/@sarafiza/yang-terlalui-42e10f8a5a4f
canonical_url
https://medium.com/@sarafiza/yang-terlalui-42e10f8a5a4f
author_url
https://medium.com/@sarafiza
status
ok
fetched_at
2026-07-21 14:13:00