Book Review MADILOG
-Tan Malaka
Book Review MADILOG
-Tan Malaka

Sebuah keputusan besar akhirnya memutuskan untuk membeli dan membaca buku ini, sebuah hadiah dari bunda setelah di jebak Pap Festival Buku di jogja, wkwk.
Kenapa ini menjadi sebuah keputusan besar karena saya tahu buku ini pasti memiliki isi yang berat, secara buku ini berisi tentang pemikiran Tan Malaka seorang tokoh Revolusioner yang pernah di punyai oleh indonesia. Buku ini bukan buku yang asing bagi saya, sering saya jumpai pada rak buku sekret organisasi pergerakan IMM ketika masih aktif di tataran Cabang, juga tidak menjadi asing di telinga karena sering sekali di gaungkan pada forum-forum diskusi baik formal maupun non formal yang biasanya di bahas saat lewat tengah malam hingga adzan subuh oleh para IMMawan dan IMMawati.
Ternyata ekspektasi saya masih kurang tinggi, karena selain isi nya yang berat buku ini juga ditulis menggunakan gaya bahasa lama, sehingga untuk pembaca-pembaca yang terbiasa dengan kalimat dan bahasa sedehana seperti saya kemungkinan besar akan sulit menangkap poinnya dalam lima satu kali baca, tanpa penelaan terlebih dahulu. Namun saya tidak kehabisan akal, maka strategi saya adalah membaca habis tuntas setiap halaman buku ini terlebih dahulu dalam waktu kurang lebih satu bulan yakni dimulai dari 6 April hingga 2 Mei. Kemudian hari ini saya coba untuk kembali membuka lembaran bagian-bagian awal untuk mulai menuliskan review ini, dan saya memutuskan untuk memanfaatkan AI sebagai alat untuk membantu saya mendapatkan point utama dari pembahasannya dan memahami bagian-bagian yang cukup berat di telaah struktur bahasa lamanya.
Awal mula ketertarikan saya untuk membaca buku ini adalah dengan lahirnya Malaka project yang oleh para foundernya mengatakan bahwa project ini adalah salah satu pengejewantahan MADILOG dalam bidang pendidikan, tentunya ketika melihat lahirnya satu gerakan besar yang sangat luar biasa yang berasal dari satu buku, maka saya menjadi tertarik untuk membacanya.
Pada halaman-halaman awal Tan Malaka menguraikan kondisi bagiamana kesusahan kehidupannya ketika sedang menulis ataupun menyusun MADILOG ini, kondisi ketika dia sedang terasingkan atau sedang dalam pelarian dan persembunyian, dengan segala keterbatasan ekonomi sehingga mengalami banyak hambatan dalam proses penulisan buku ini. Kondisi ini memberikan gambaran pada kita bahwa Madilog ini lahir bukan dari pemikiran dengan kondisi kenyamanan akademis, melainkan sebuah pemikiran yang lahir dari proses kesulitan penuh tekanan dan himpitan yang jika ingin menarik hikmah bahwasanya proses pewarisan atau pendokumentasian pengetahuan tidak perlu lahir dengan kondisi yang sempurna melainkan cukup dengan niat teguh untuk tetap mewariskan pengetahun ke generasi selanjutnya.
Pada bagian awal ini juga Tan Malaka menguraikan jika sebelum menulis buku ini ia memilikitiga proyek buku/gagasan besar yang lama ia simpan dalam pikiran dan ingin ia lahirkan, yakni 1. Hukum kaum proletar berpikir, yang sekarang saya namakan “madilog”. 2. Federasi Aslia, yakni potongan Asia — Australia, yakni federasi dari segala negara pada jembatan antara Asia dan Australis dengan kepalanya di Asia dan Australia. 3. Beberpa pengalaman saya yang boleh menjadi pengetahuan dan nasehat buat mereka yang suka menerima. Buku inilah yang terdapat pada poin pertama, yang secara tidak langsung memberikan gambaran awal kita terhadap buku adalah sebagai buku pemikiran yang menitik beratkan pada penggunaan logika yang perlu untuk di ketahui dan dipelajari oleh rakyat kelas bawah yang sedang tertindas agar bisa bangkit dan tidak terus di kuasai dan agar tidak mudah di bodoh-bodohi oleh elit kolonial, atau feodal (seperti Pemerintah kita saat ini).
MADILOG (Materialisme, Dialektika dan Logika), buku ini menjelaskan bagaimana area dari satu persatu poin-poin tersebut di uraikan dan juga kesaling terkaitannya satu sama lain. Pada bagian Peringatan Tan Malaka menguraikan penafsiran dari masing-masing hal tersebut kemudian memberikan penekanan tentang tiga hal ini yang sering kali di salah pahami oleh gagasan lain seperti Materialisme yang sering kali di tafsirkan jika dunia hanya mekanis yang secara mesin mati, yang bisa di maknai jika Materialisme melihat dunia sebagi benda mati, manusia seperti robot, tidak ada nilai hidup dan hanya raga secara fisik tanpa jiwa. Sedangkan menurut Tan Malaka, Materialisme itu adalah bagaimana melihat dunia berdasarkan kondisi nyata, materi, hubungan sosial dan sebab-akibat, dan bukan kegaiban seperti menganggap suatu realitas terjadi karena faktor yang tidak nyata, contoh : Orang Miskin, jika tidak menggunakan Materialisme maka akan menilai nya dari faktor gaib seperti “Karena miskin sudah menjadi takdirnya”, sedangkan dalam materialisme melihat realitas dengan faktor yang mempengaruhi secara nyata seperti “Akses pendidikan rendah”, “Lapangan pekerjaan sempit” dan berbagai faktor nyata lainnya.
Dialektika, dalam buku diuraikan jika Tan Malaka sedang membedakan dua jenis Dialektika yakni Dialektika Idealis (Hegel) Perubahan dunia dianggap berawal dari roh, ide, pikiran abstrak, dan Dialektika Materialis (Marxis) Perubahan dunia berasal dari konflik nyata, kondisi ekonomi, pertentangan sosial, gerak sejarah konkret. Dalam buku Tan Malaka secara satir menyindir para penguasa yang senang sekali bergantung pada dialektika mistika dengan menggunakan filsafat abstrak untuk mempertahankan status quo kemudian mengabaikan kenyataan rakyat yang berada di kelas bawah. Dalam MADILOG yang digunakan adalah Dialektika Materialis yang berarti cara memahami bahwa dunia selalu bergerak, berubah, dan sering berkembang melalui pertentangan. Contoh adanya Kecerdasan Buatan, dari fenomena tersebut lahirlah sebuah konflik baru yakni dua pertentangan antara 1. Teknologi memudahkan kerja dan 2. Teknologi mengancam pekerjaan tertentu, dari pertentangan ini maka akan lahir beberapa perubahan baru seperti 1. Adanya aturan baru terkait penggunaan teknologi, 2. Mengahsilkan skill baru, dan 3. Model kerja baru. Perubahan-perubah yang lahir karena adanya pertentangan inilah yang dinamakan Dialektika Materialis, yang artinya kita bisa mengamati perubahan dengan sesuatu yang benar-benar bisa kita lihat, bisa kita saksikan secara nyata, dibanding kita membawanya pada hal-hal gaib atau mistik.
Kemudian Logika, dalam buku Tan Malaka menguraikan tentang penggunaan Logika sebagai cara berpikir saat ini karena memuncak pada ilmu bukti (ilmu empiris) menjadikannya seolah-olah logika sebagai satu-satunya ilmu cara beripikir dan menganggap semua masalah bisa selesai dengan logika sehingga melupakan kelemahan dan keterbatasan logika itu sendiri, sehingga berpeluang memjadikan kita sesat jika hanya mengandalkan logika semata, sehingga Tan Malaka menyarankan untuk tidak perlu menjadi pemuja logika, karena penggunaan logika tidak bisa sendiri melainkan perlu untuk di kombinasikan. Logika secara sehari-hari kita kenal sebagai cara berpikir yang runtut, masuk akal, dan konsisten agar kesimpulan tidak asal-asalan. Yakni bagaimana kemampuan membaca premis dan menarik kesimpulan yang tepat berdasarkan fakta nyata yang terjadi. Contoh Premis “Punggung Sakit”, Kesimpulan asal-asalanya “Bisa jadi ada Arwah yang sedang melekat di tubuh.” Kesimpulan menggunakan logika “Terjadi Keseleo”, “Terlalu banyak menunduk” dan kemungkinan lain yang merujuk pada kondisi medis secara nyata bisa di analisis dan dipikirkan. Maka dari sini bisa kita lihat bahwa dengan menggunakan Logika memberikan kita kemungkinan selamat dari kesesatan berfikir.
Keterkaitan antara ketiganya : Materialisme, Dialektika dan Logika dapat dilihat dari cara berpikir kita bagaimana memandang suatu realitas sosial yakni dengan menggunakan Materialisme untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi berdasarkan fakta-fakta nyata di lapangan yang terbuka untuk di analisis. Kemudian dapat melihat suatu perubahan yang terjadi akibat adanya dua atau lebih pertentangan sosial yang sedang atau pernah terjadi, dengan menggunakan Dialektika. Sehingga kita bisa menarik kesimpulan yang tepat berdasarkan kondisi realitas apa yang sedang kita analisis atau terjadi di sekitar kita.
Selanjutnya kita beralih pada Bab Science, kurang lebih point yang saya dapatkan pada Bab ini Tan malaka ingin menjelaskan bagaimana science itu bekerja baik secara teori maupun kejadian realitas dan ingin memberitahukan bagaimana peran science dan keterkaitannya dengan berbagai disiplin ilmu yang ada di dunia ini. Dalam Bab ini Tan Malaka menyebutkan “ Tetapi pada ilmu alam & Co (Tata bahasa lama yang di gunakan untuk menuliskan suatu kumpulan bidang ilmu / Ilmu alam dan bagian-bagiannya), teori itu ada berupa Law, ialah hukum yang di peroleh dengan metode deduksi dan selanjutnya dipastikan dengan metode verifikasi. ada tiga pasal yang Tan Malaka sebutkan di Bab ini yakni 1. Bukti, 2. Law (Hukum),3. Metode, Induksi, Deduksi dan Verifikasi.”
Pasal 1 yaitu Bukti, menurut Tan Malaka Science tidak boleh hanya berdasarkan: perasaan, dugaan, mitos dan “katanya” melainkan harus ada bukti nyata. Pasal 2 : Law (Hukum) hukum di sini bukanlah hukum yang berkaitan dengan suatu negara ataupun konstitusi, melainkan yang hukum ilmu pengetahuan seperti Newton I, Archimedes, dan sebagainya. Hukum yang dihasilkan dengan melihat pola pada suatu kejadian real kemudian menarik satu kesimpulan, yang kemudian di verifikasi apakah benar adanya suatu keterkaitan sebab akibat dalam kejadian tersebut. Pasal 3 : Metode (Induksi, Deduksi dan Verifikasi), saya menyebutnya ini sebagai framework berpikir yang dikemukakan oleh Tan Malaka dengan maksud ingin menjelaskan bagaimana manusia berpikir secara ilmiah. Induksi dari fakta kecil menuju kesimpulan umum. Contoh (fakta kecil): 1. besi dipanaskan memuai ; 2. aluminium dipanaskan memuai; 3. tembaga dipanaskan memuai. Kesimpulan umumnya : logam jika dipanaskan memuai. Ini memberikan gambaran bahwasanya Science dimulai dari melakukan observasi kenyataan. Deduksi dari aturan umum menuju kasus khusus. Contoh (aturan umum) semua logam memuai jika dipanaskan, (kasus khusus) besi adalah logam, (kesimpulan) maka besi memuai jika dipanaskan. Setelah punya teori umum, science bisa memprediksi kejadian. Verifikasi mengecek apakah teori benar di dunia nyata. Contoh: “Kalau teori ini benar, harusnya hasilnya begini.” Lalu diuji, kalau cocok: maka teori makin kuat, kalau tidak: maka teori perlu diperbaiki. Pada Bab ini Tan Malaka ingin menunjukkan bahwa science bukan sihir, bukan hafalan, bukan dogma, melainkan Science adalah proses mencari kebenaran melalui bukti dan metode berpikir.
Selanjutnya adalah Logika Mistika, dalam Madilog Tan Malaka berusaha mengkritik cara berpikir masyarakat yang terlalu bergantung pada mistik, tahayul, penjelasan supranatural, maupun otoritas yang diterima tanpa diuji secara rasional. Menurut Tan Malaka, pola pikir seperti ini membuat manusia berhenti mencari sebab nyata dari suatu permasalahan dan cenderung pasrah terhadap keadaan, sehingga masyarakat terutama kelas bawah yang minim akses pendidikan dan metode berpikir ilmiah menjadi lebih mudah dimanipulasi oleh ketakutan, simbol, maupun kepercayaan yang tidak memiliki dasar bukti yang jelas. Melalui kritik tersebut, Tan Malaka sebenarnya ingin mendorong manusia agar berani menggunakan akal, logika, dan pembuktian empiris dalam memahami realitas kehidupan, baik sosial maupun alamiah, tanpa terjebak pada “kabut” penjelasan yang menghalangi proses berpikir kritis. Meski demikian, inti pemikirannya bukan semata menolak spiritualitas atau kehidupan batin manusia, melainkan menolak penggunaan mistik sebagai pengganti nalar dan alat untuk menghentikan manusia berpikir secara merdeka. Melihat relevansi pada kondisi masyarakat saat ini, gagasan ini masih sangat bisa kita lihat keterkaitannya yakni ketika masyarakat sering kali lebih mudah mempercayai hoaks, teori konspirasi, pseudoscience, maupun fanatisme terhadap tokoh tertentu tanpa proses verifikasi dan analisis yang kritis.
Itulah beberapa poin diatas yang coba saya uraikan dan tulis kembali mengenai apa yang saya dapatkan setelah membaca MADILOG, tentunya uraian tersebut tidak mencakup keseluruhan isi buku yang memiliki jumlah halaman 560, karena dalam buku ini Tan Malaka menjabarkan semua teori dan pemikirannya secara mendalam dan detail melibatkan semua bidang ilmu seperti Astronomi, Matematika, Ilmu Alam, Ilmu Sosial Politik dan juga Agama, sehingga membaca review sebenarnya tidak cukup untuk mengetahui dan melihat sebagaimana dalamnya pemikiran Tan Malaka. Namun sekiranya review ataupun resume (entahlah apa namanya) ini setidaknya merangkum poin utama apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh Tan Malaka, sebagai upaya untuk menyelamatkan manusia dari kesesatan berpikir dan mewujudkan masyarakat yang bebas dari penindasan baik secara fisik/materil maupun pola pikir melalui kebijakan para penguasa.
메타데이터
- post_id
- 42fb79f22eb3
- slug
- book-review-madilog-42fb79f22eb3
- url
- https://medium.com/@blqshnt/book-review-madilog-42fb79f22eb3
- canonical_url
- https://medium.com/@blqshnt/book-review-madilog-42fb79f22eb3
- author_url
- https://medium.com/@blqshnt
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-14 12:23:01