Sebungkus Yupi (dan kenangannya)
Tahu tidak? Ternyata, bingkai sebuah memori tidak hanya dari foto, namun dari hal remeh seperti permen Yupi.
Sebungkus Yupi (dan kenangannya)
Tahu tidak? Ternyata, bingkai sebuah memori tidak hanya dari foto, namun dari hal remeh seperti permen Yupi.
Waktu itu, aku tengah berbelanja kebutuhan bulanan di Mirota Kampus seperti biasanya. Sendirian, dengan catatan digital di ponsel dan dompet merah mudaku yang sudah lusuh. Satu per satu kebutuhan sudah kutandai ceklis, menandakan barangnya sudah berada di keranjang biru yang ku tenteng.
“Apa muter dulu aja ya….” pikirku kala daftar belanjaanku sudah tertandai semua. Oke deh, muter bentar apa salahnya batinku
Tibalah aku di section permen. Mataku langsung tertubruk pada satu merek permen yang cukup mentereng. Yupi Bolicious rasa Blueberry. Entah mengapa, cukup dramatis memang otakku ini, memutar kembali ingatan yang enggan diingat. Dia dan Yupi. Sebuah asosiasi yang sebenarnya tak perlu antara ‘orang itu’ dengan sebuah permen berwarna ungu yang memang enak ini. Apalah daya, pikiranku sudah terlanjur mengafiliasikan dirinya dengan permen lembut itu.
Pikiranku kemudian melanglang buana sepanjang jalan pulang. Menyetel kembali ingatan yang, sebenarnya, cukup manis. Hehe. Dia, yang tiap kali aku bertutur, selalu mendekatkan dirinya agar mendengar lebih jelas. Dia, yang tindak tanduknya selalu ramah tak terkecuali pada siapa. Dia, yang berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan amarahnya. Dia, yang tuturnya selalu halus ketika berbicara. Dia dan humornya yang tak lekang termakan waktu. Dan seterusnya, dan lain-lain.
Waktu terus berjalan. Aku dan motorku, alhamdulillahnya, sampai di kost dengan selamat walau dengan mode autopilot. Setelah merebahkan diriku di kasur, aku masih terngiang-ngiang kenangan akan dirinya. Aduh, dangdut banget ya kedengerannya? Tapi begitulah, aku berusaha menerima ‘emosi’ yang terpicu karena sebuah permen Yupi itu. Karena ya, bagaimana pun, mau sekuat apapun aku menolak emosi dan pikiran ini, tetap tidak bisa. Jadi ya, ya sudahlah, terima saja, dan toh, nanti akan hilang sendiri seiring berlalunya waktu.
Apakah kemudian aku benar-benar merindukannya? Tidak juga. Aku menyadari bahwa otakku hanya memutar kenangan yang menyimpan emosi ‘rasa aman’ dan ‘tenang’ dimana dia kebetulan ada di momen itu. Aku hanya kangen memori yang berisi emosi itu, bukan sosok manusia asli yang ada di momen tersebut. Jadi yah, begitulah. Aku beranjak tidur setelah memetakan apa yang ku rasakan hari itu dan well, esoknya, hari berjalan biasa tanpa bayang-bayang dia. Sekian.
메타데이터
- post_id
- 4367e24d5ec6
- slug
- sebungkus-yupi-dan-kenangannya-4367e24d5ec6
- url
- https://medium.com/@synuril/sebungkus-yupi-dan-kenangannya-4367e24d5ec6
- canonical_url
- https://medium.com/@synuril/sebungkus-yupi-dan-kenangannya-4367e24d5ec6
- author_url
- https://medium.com/@synuril
- status
- ok
- fetched_at
- 2026-07-10 15:36:45